Minggu, 20 September 2020

Pesona Wanita dan Pesan Luhur dalam Novel Hati Suhita Karya Khilma Anis


(Dyah Santoso)


Penulis             : Hati Suhita

Penulis             : Khilma Anis

Editor              : Akhiriyati Sundari

Penyunting      :Asfi Diyah

Penerbit           : Telaga Aksara Ft Mazaya Media

Terbit               : Maret 2019

Tebal               : 406 halaman

Genre              : Fiksi, romance religy

ISBN               : 978-602-51017-4-8

            Pertama kali saya tahu cerita Gus Birru dan Ning Alina serta perempuan cerdas berparas menawan bernama Ratna Rengganis dari laman facebook Khilma Anis. Cerita dikemas seperti cerbung yang diunggah di facebook. Konon, cerita ini lahir dari aktivitas kelas menulis online yang diikuti oleh Ning Khilma (sapaan beliau). Di luar dugaan antusiasme pembaca sangat luar biasa, banyak yang tak sabar menanti kelanjutan kisahnya. Cerita yang diunggah di facebook hanya sampai episode 13 kemudian digarap lebih serius dalam sebuah novel. Hal ini cukup membuat pembaca penasaran dan gemas membayangkan perjalanan cinta tokoh-tokohnya.

Novel ini terbilang kelas novel dewasa karena bercerita tentang bahtera rumah tangga seorang Gus dan Ning di Pesantren. Meskipun bertema dewasa, namun pesan moral yang disisipkan oleh Ning Khilma dalam novel ini sangat patut diterapkan oleh semua kalangan usia. Yang menarik dari novel ini adalah tidak ada tokoh antagonis yang dibangun penulis untuk menciptakan konflik. Novel ini memaparkan pergulatan hati tokoh-tokohnya. Perang batin adalah klimaks dari cerita ini. Diawali dengan ratapan Alina Suhita karena suaminya, Gus Birru belum bisa menerima dirinya sebagai seorang istri meskipun usia pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke-tujuh. Kesedihannya hanya dia simpan sendiri, sebab di hadapan banyak orang, di depan orang tua dan keluarga besarnya mereka selalu berperan sebagai pasangan pengantin baru yang bahagia. Ujian batinnya tak berhenti di situ, Gus Birru sering kedapatan berhubungan dengan Ratna Rengganis, mantan kekasihnya melalui telefon dan pesan whatsaap. Prahara rumah tangga kian memilukan karena Alina Suhita harus memenangkan hati suami dengan bayang-bayang mantannya.

Alur cerita secara umum tidak jauh berbeda dengan kisah cinta lain yang sulit ‘move on’, namun penyampaian konflik dan diksi-diksi yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca tak menyadari sedang dididik oleh pengetahuan penulis. Novel ini sering menggunakan analogi pewanyangan dalam menyampaikan hikmah. Wayang, budaya Jawa dan tradisi pesantren yang sangat kental dalam alur cerita tak bisa dipungkiri karena kecintaan dan latar belakang penulis. Ning Khilma menyampaikan bahwa wayang tidak hanya dipahami secara historis, namun lebih kepada simbolis. Ini juga bisa diterapkan untuk berbagai hal dan secara tidak langsung mengingatkan bahwa segala sesuatu dapat diambil pelajarannya jika dilihat dari sudut pandang yang tepat. Bahwasanya semesta tak pernah segan mengajari manusia membaca makna dari segala fenomena.

Karakter-karakter dalam novel ini dibangun dengan sangat kuat. Tampak masing-masing tokoh memiliki sifat dan prinsip yang melekat baik dari setiap tindakan maupun dialog yang tercipta. Gus Birru ditampilkan sebagai pribadi yang cerdas, berkarisma dan memiliki jiwa leadership yang tinggi. Karakter dua wanita yang berkelindan dengannya juga tak kalah menawan. Alina Suhita merepresentasikan wanita Jawa yang taat agama, seorang hafidzah yang pandai menempatkan diri dan penuh dedikasi. Sedangkan Ratna Rengganis menggambarkan wanita modern yang berwawasan luas dan tetap menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan. Kecerdasan masing-masing tokoh ditampilkan secara cerdik. Penulis melebur data dengan unsur intriksik sastra, membiarkan pembaca menyifati sendiri masing-masing tokoh melalui konflik dan cara menyikapinya.

Di awal cerita pembaca digiring berspekulasi dengan monolog batin Alina Suhita. Kemudian diajak melihat sudut pandang Gus Birru hingga suara hati Ratna Rengganis membuka tabir kesalahpahaman. Kesalahpahaman lahir dari komunikasi yang lemah, kesalahpahaman terjadi karena tak ada yang meluruskan pemahaman yang salah. Namun dari kesalahpahaman ada pelajaran dan penguatan karakter. Gus Birru memahami dua wanita yang dicintainya adalah wanita-wanita tangguh. Alina Suhita semakin bersinar dengan kesabarannya. Ratna Rengganis semakin harum dengan kedewasaannya. Keindahan mereka semakin terpancar seiring dengan kemelut jiwa yang kian meyiksa.

Banyak ajaran Jawa tentang wanita yang disuguhkan dalam novel ini, seperti seorang wanita seharusnya wani tapa (berani bertapa), mikul duwur mendem jero (menunjukkan kelebihan, menutupi kekurangan), dan mruput katri (berbakti dan berhati-hati) serta pesan luhur lainnya. Membaca novel ini selain untuk relaksasi hiburan juga sebagai merefleksi diri yang kaya khasanah. Alina Suhita dan Ratna Rengganis dengan pesona masing-masing mampu menaklukkan Gus Birru sebagai simbol keberhasilan (tampan; cerdas; terpandang dan kaya), meskipun dalam wilayah yang berbeda. Ada permata dalam diri Alina Suhita yang tidak dimiliki wanita lain, dan sebaliknya ada intan yang hanya dipunyai oleh Ratna Rengganis. Mereka tangguh dengan senjata masing-masing. Dua wanita ini seolah mengirim pesan kepada para wanita untuk berdamai dengan hati dan mengoptimalkan potensi diri.

Karakter wanita dalam novel Hati Suhita melemahkan stereotip tentang wanita yang mengedepankan perasaan. Jika prinsip mereka kuat, logika tetap akan mengimbangi tanpa tereduksi oleh perasaan. Wanita menjadi madrasah pertama bagi para tunas bangsa, wanita juga merupakan tiang negara. Agar tiang bertahan dan tak mudah rapuh, maka harus ada pondasi yang kokoh dan atap yang memayungi. Sistem yang baik adalah yang saling mendukung. Sekuat apapun wanita, tetap butuh pelindung. Hati Suhita mengajarkan untuk menjadi tangguh tanpa mengeluh. Sesekali terjatuh, namun kembali bangkit dengan pesona yang lebih ampuh.

Seenak-enaknya masakan yang disajikan, tetap akan ada yang tidak meyukai. Tidak suka bukan berarti membenci. Sama halnya dengan karya, selezat apapun penulis meracik kata, tetap akan ada yang tidak bisa menerima. Ning Khilma mengulas sisi lain sosok Gus yang lebih manusiawi, terlepas dari latar belakang keluarganya. Tak terkecuali merasakan cinta dan berpacaran, selayaknya pemuda seusianya. Gus Birru dengan pemikiran-pemikirannya termasuk produk langka, yang bagi sebagian kalangan menimbulkan pro-kontra. Namun tak ada yang salah dengan karya, jika tidak suka berarti buka selera kita. Mari menikmati dan saling menghargai. Tak suka tak jadi soal, selama tak saling mencaci. Salam literasi.

Rabu, 16 September 2020

Imperfect

 


(Laily Alfath)

 



 

 

“Menerima ketidaksempurnaan akan membuat batinmu lebih lapang dan ringan dalam menjalani kehidupan. –Asfa Assyifa-”

 

Apa yang kamu fikirkan jika membaca atau mendengar kata “perfect” ? Segala sesuatu yang indah secara fisik? Segala hal yang mewah? Segala hal yang membahagiakan? Atau segala hal yang tanpa cacat? Ketika kita melihat sosok wanita cantik, anggun, cerdas, terlahir dari keluarga kaya, bisa jalan-jalan keluar negeri kapanpun ia mau, dan membeli apapun yang ia inginkan, pasti kebanyakan orang menganggap bahwa hidup wanita tersebut adalah hidup yang sempurna. Yap! Wajar jika banyak manusia atau bahkan kita sering mempersepsikan bahwa sempurna adalah tentang indah, mewah, bahagia, tanpa cacat, atau segala hal baik lainnya. Tapi apakah kamu yakin bahwa ukuran kesempurnaan selalu mutlak dengan hal-hal indah, mewah, bahagia dan tanpa cacat?

Pernahkah kamu melihat kesempurnaan dari sudut pandang keseimbangan? Ya! Keseimbangan antara duka dan tawa, keseimbangan antara sempit dan lapang, keseimbangan antara gelap dan terang, serta keseimbangan warna lainnya. Apakah benar bahwa sempurna selalu terlahir dari banyak kemewahan dan keindahan tanpa cacat? Tidak! Mungkinkah kesempurnaan bisa hadir dalam wujud duka? Mungkin! Contoh: ketika seseorang kehilangan orang yang disayangnya maka perasaan duka akan mengidap batinnya. Namun pada waktu yang bersamaan situasi juga mengajarkan tentang makna keberadaan. Seseorang yang pernah mengalami kehilangan, akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan menghargai orang-orang yang masih berada di sekitarnya. Jika orang tersebut bisa berpikiran demikian, maka itu adalah wujud kesempurnaan dalam bentuk keseimbangan berpikir. Namun jika orang tersebut memaknai kesempurnaan tidak pernah lahir dari sebuh duka, maka orang tersebut hanya akan terpaku dan berkubang dalam dukanya, serta berujung melontarkan sumpah serapah pada keadaan.

Tidak ada standard sempurna mutlak dengan indikator fisik yang indah, hal mewah, bahagia yang kasat mata, dan tanpa cacat. Jika seseorang berpikir bahwa indikator sempurna secara mutlak adalah tentang keindahan, kemewahaan, dan tanpa cacat, bisa jadi itu hanya sebatas sempurna versi ego manusia. Jika takaran kesempurnaan adalah tentang fisik yang indah, semestinya seorang wanita (yang dianggap cantik) tidak akan terus memoles dirinya untuk semakin cantik. Karena hakikat sempurna adalah berada pada titik puncak. Jika masih terus mencari maka itu artinya hal tersebut belum sampai pada titik puncak (sempurna). Jika kesempurnaan selalu lekat dengan hal mewah, semestinya seorang milyarder yang sudah memiliki satu mobil mewah (sudah merasa sempurna) tidak perlu membeli mobil mewah yang lainnya. Jika sempurna selalu lekat dengan bahagia yang kasat mata dan tanpa cacat, nyatanya banyak orang yang dihadapkan pada banyak keterbatasan masih bisa merasa cukup dalam batinnya sekalipun secara kasat mata serba dihadapkan pada keterbatasan. Bentuk kesempurnaan berpikir tersebutlah yang lahir dari keterbatasan dengan masih banyak cacat, tapi mampu dijawab dengan melahirkan rasa syukur, bahagia, dan berharga.

“Nothing perfect in this world!” adalah statement yang layak dilontarkan pada seseorang yang hanya memaknai kata sempurna dari bentuk fisiknya dan dari satu kaca mata. Tidak akan pernah kamu temukan hal yang sempurna jika standard yang kamu pakai adalah standard egomu tanpa mencoba melihat dari kaca mata lainnya. Bukankah setiap hal yang tercipta memiliki esensinya? Tidak mengerti alasan di balik Tuhan menciptakan suatu maha karya bukan berarti maha karya tersebut tak bermakna. Atau bahkan bisa jadi ketika kita menilai suatu hal tersebut nampak tidak sempurna, justru pemikiran kita yang tidak sempurna karena keterbatasan kita dalam memahami makna di baliknya.

Imperfect tidak selamanya cacat yang memalukan dan tidak bisa ditoleransi oleh semua orang. Tanpa imperfect seseorang tidak akan pernah belajar banyak hal. Bahkan tanpa imperfect kata perfect tidak akan pernah lahir dan tersemat pada suatu hal. Contoh : seseorang yang bertubuh pendek dan sering menjadi korban bullying (dianggap lemah atau kurang dihargai sekitar) cenderung merasa rendah diri. Namun jika orang tersebut fokus pada pengembangan dirinya, mengggapai serentetan prestasi, maka akan ada banyak orang yang menundukkan topinya (bentuk penghargaan) terhadap orang tersebut. Semua kembali pada bagaimana kita menilai suatu hal. Ketika kita dilahirkan ke dunia, ada beberapa hal yang sudah Tuhan bekalkan pada diri kita. Bekal tersebut ada yang bisa dioptimalkan ada yang bersifat mutlak. Setiap bentuk yang Tuhan titipkan pada kita, adalah bentuk amanah khusus yang tidak diamanahkan kepada orang lain. Tinggal kita mau menyikapinya dengan cara yang seperti apa. Perfect dan imperfect adalah kaca mata semu yang bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing kepala. Jika standard perfect mu hanya menghancurkanmu dari dalam sementara kamu terus berusaha mengikutinya, selamat! Kamu tengah dengan suka rela menenggak racun untuk merusak tubuhmu dari dalam dan mempercepat kematian. Namun jika standardmu justru memacumu untuk terus berkembang sekalipun seolah dihadapkan pada berbagai tembok keterbatasan, percayalah bahwa setiap apa yang kamu lakukan dengan hati dan sungguh-sungguh, Tuhan akan berbelas kasih menunjukkan jalan-Nya.

Semakin banyak permasalahan yang kamu hadapi atau kamu temukan dari orang-orang sekitarmu, maka itu adalah kesempatan besar yang hanya Tuhan suguhkan untuk orang-orang hebat agar menjadi lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Namun jika dengan semakin banyaknya ladang masalah seseorang menjadi tidak semakin bijak atau bahkan semakin mengutuk keadaan, maka ada banyak keserakahan yang masing berasarang dan mendominasi egonya. Sejatinya manusia adalah makhluk yang didesain sempurna. Tuhan membekalkan akal dan perasaan untuk membantu manusia menjadi makhluk bijak dalam menyikapi keadaan. Hanya saja sering kali timpang dalam penggunaaan salah satunya. Alhasil banyak manusia sering menjadi budak logika maupun budak perasaannya. Bukankah besi yang terus ditempa dengan panas, beban berat, dan gesekan bisa berubah menjadi pedang yang dengan gagahn dan mampu diandalkan dalam medan perang? Itulah sama halnya salah satu cara Tuhan menyayangi hamba-Nya.

 

Berhentilah mengutuk keadaan. You’re perfect as your self!