(Laily Alfath)
(Laily Alfath)
(Dyah Santoso)
Harapan dan
pengorbanan didawamkan.
‘Hasil tak
menghianati usaha’ jadi semboyan.
Ada cita-cita
di ujung penantian.
Mengundi takdir
jadi pilihan.
Kamu dan aku
sama saja, bahkan semua umat manusia di dunia tak ada bedanya.
Kala benih mulai memunculkan
tunasnya, kala itulah kerisauan dimulai.
Disemai dari mimpi dan ambisi.
Dirawat dengan
doa dan usaha.
Serta dipupuk
oleh cinta dan asa.
Tunas kecil
menikmati tumbuh-kembangnya, angin tak sampai hati menerpa.
Pohon-pohon
besar jadi andalan, akar sigap menyerap genangan, rindang batang nyaman nan
aman.
Tunas kecil yang tak lagi kerdil.
Kala berlalu.
Aneka warna
bersatu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u dan hal-hal baru.
Terlalu banyak
warna berpadu, sulit membedakan tanpa alat bantu.
Di mataku hanya
ada kelabu.
Tunas kecil
mulai tumbuh, pohon besar tak lagi tangguh dan dunia bersikukuh.
Kubuat pagar
membentengi, tapi tunas terlampau cepat tinggi.
Burung-burung
mulai tertarik bersarang di dahan, satu-dua hingga gerombolan.
Angin tak lagi
santai ketika lajunya terhalangi, daun tua-muda gugur saling mendahului.
Tunas kecil
kini berjuang sendiri.
Ku harap akarnya
cukup erat memeluk bumi.
Kala berlalu.
Meski kelabu
adalah abu-abu, hitam bukanlah putih.
Kamu dan aku
tak pernah tahu, sehitam apa jelaga itu.
Yang kita tahu,
hitam bukanlah putih.
Selama dunia tak
dihuni mereka yang tak tahu dan tak mau tahu warna dunia.
(Laily Alfath)
""Pemaknaan sederhana dalam kehidupan akan melahirkan kebahagiaan yang mahal. -Laily Alfath-"
Setiap makhluk hidup membutuhkan air. Tanpa air kehidupan tidak akan dapat berlangsung lama. Sama halnya dengan "kebahagiaan". Setiap makhluk hidup membutuhkan "kebahagiaan", tak terkecuali manusia. Setiap tingkah laku manusia berujung pada keinginan pemenuhan kebahagiaan. Namun sayangnya tidak semua orang berpikir mengambil jalan yang tepat untuk memenuhi kebahagiaannya. Setiap orang punya caranya tersendiri untuk bahagia. Ada yang bahagia cukup dengan berkumpul bersama orang-orang yang disayang, ada yang bahagia dengan cara travelling, ada yang bahagia dengan cara nge-game, ada yang bahagia dengan cara makan ice cream, ada yang bahagia dengan cara menikmati senja di atap atau balkon rumah, dan masih banyak lainnya. Kalau kamu terbiasa melakukan hal apa untuk bahagia?
Setiap orang punya cara bahagia yang berbeda, mulai dari cara bahagia seorang presiden, pejabat negara, CEO , rakyat biasa, bahkan seorang filsuf terkenal. Kamu pernah dengar Aristoteles? Yap benar! Aristoteles filsuf Romawi yang sangat terkenal. Aristoteles juga punya cara tersendiri untuk bahagia. Bagi Aristoteles, hakikat kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri. Karena menurutnya sumber kebahagiaan yang didapatkan dari luar dirinya, tidak akan memberikan makna kebahagiaan itu tersendiri. Bahkan tatkala kita mengharapkan kebahagiaan yang bersumber dari luar, hal itu hanya akan menuai kekecewaan atau bahkan penderitaan. Aristoteles menyebut konsep itu dengan sebutan "Eudaimonia". Eudaimonia berasal dari Bahasa Yunani yang berarti kebahagiaan atau kesejahteraan1. Eudaimonia dapat diartikan sebagai tindakan rasional untuk mendapatkan hal yang membuat kita "bahagia". Salah satu tindakan rasional untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan melakukan suatu kebaikan. Proses dalam melakukan kebaikan ini dilandaskan berdasarkan landasan moral. Pada konsep Eudiamologi ini, Aristoteles memperkenalkan adanya 5 prinsip untuk mencapai kebahagiaan di antaranya: 1) perkembangan diri, 2) penerimaan diri (self acceptance), 3) tujuan hidup, 4) penguasaan kita terhadap sesuatu, dan 5) hubungan yang positif dengan diri kita. Jika kita mengejar standar sosial untuk menjadikan barometer kebahagiaan kita, itu bukanlah suatu kebahagiaan namun bisa jadi itu adalah penderitaan. Jalani kehidupan kita sesuai dengan jalan pemikiran kita. Selain ke-lima prinsip tersebut, Aristoteles juga menjelaskan ada tiga cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan diantaranya: 1) kenalilah diri kita secara mendalam, 2) kembangkan potensi unik yang ada pada diri kita, dan 3) gunakan potensi unik yang kita miliki untuk mencapai tujuan hidup kita. Berdasarkan konsep Eudiamologi tersebut point penting dari suatu kebahagiaan adalah bersumber dari dalam diri kita sendiri.
Sejalan dengan konsep Eudiamologi yang diciptakan oleh Aristoteles, pernah kah kamu mendengar salah satu kisah pewayangan tentang perjalanan Bima mencari air kehidupan? Yap, betul banget Bima si pangeran kedua dari Pandhawa atau sering juga disebut dengan nama Werkudara. Pada kisah pewayangan tersebut dikisahkan bahwa Bima diutus oleh Guru Drona untuk mencari air kehidupan ke dasar samudra. Sang guru menyampaikan bahwa jika Bima berhasil mendapatkan air kehidupan itu, Bima akan mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan di kehidupannya. Keempat saudaranya sebenarnya telah melarang Bima untuk pergi ke dasar samudra. Namun karena ketakdziman seorang Bima terhadap gurunya, ia tetap pergi demi memenuhi titah sang guru. Padahal titah itu hanyalah kamuflase dari sang guru dengan niat untuk melenyapkan Bima. Bima pun berangkat menuju samudra, sesampainya di sana Bima dililit oleh seekor naga. Pertarungan keduanya tak terelakkan, hingga akhirnya berkat aji-aji kuku Pancanaka Bima berhasil mengalahkan naga tersebut dan akhirnya sang naga tewas di tangan Bima. Setelah tewasnya sang naga, Bima bertemu dengan seorang Dewa yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari telapak tangan Bima. Dewa tersebut adalah Dewa Ruci. Dewa Ruci mengutus Bima untuk masuk ke dalam telinganya. Berkat kesaktian sang dewa, Bima bisa masuk ke dalam telinga sang dewa. Ketika Bima berada di dalam telinga sang dewa, ia melihat kehidupan yang sangat luas. Tak berselang lama munculah suara yang mengatakan, "air kehidupan yang kau cari itu tidak akan kau temukan di manapun. Kebahagiaan itu terletak dari dalam dirimu sendiri"2.
Berdasarkan prinsip Eudiamologi
dan petuah dari Dewa Ruci, kita seolah kembali diingatkan bahwa
kebahagiaan bukan untuk dicari tapi diciptakan dari dalam diri sendiri.
Setiap kita berhak untuk bahagia tanpa mengusik kehidupan orang lain.
Setiap kita mampu untuk menciptakan kebahagiaan dari dan untuk diri kita
sendiri. Semua bergantung pada penyusunan mindset kita dalam memaknai
kebahagiaan dalam hidup. Standar kebahagiaan kita bukan terletak pada
standar orang lain. Kita adalah penentu kebahagiaan kita sendiri.
Daftar Rujukan
1Satu Persen-Indonesian Life School. (2021, 7 April). Cara Bahagia Ala Tokoh Filsafat Aristoteles (Apa itu Eudaimonia?). Diakses 10 April 2021, dari https://www.youtube.com/watch?v=bbzqC5jL-I0
2https://id.wikipedia.org/wiki/Dewa_Ruci
(Dyah Santoso)
“Bom waktu siap meledak kapan saja, meleburkan jiwa-jiwa yang tak mampu menjinakkannya. Waktu siap menghunuskan mata pedangnya, menyayat jiwa-jiwa yang tak mampu menggunakannya.”
Pernah punya rencana menyelesaikan tugas di akhir pekan, tapi kemudian menghabiskan akhir pekan dengan tidak melakukan apa-apa? Atau sudah bangun tidur, tapi masih rebahan─sambil main gawai─dan baru benar-benar beranjak dari kasur setengah jam kemudian? Ini persoalan klise yang sering dialami banyak orang. Malas dan menunda sesuatu untuk alasan yang sebenarnya tidak perlu. Jika ini terjadi sekali atau dua kali, mungkin mood kita memang sedang tidak dalam kondisi baik. Tapi jika kondisi ini terus berlanjut─bahkan seperti siklus yang tidak diketahui ujung pangkalnya─akan sulit untuk memperbaikinya. Aktivitas jadi keteteran, pekerjaan terbengkalai, yang lama-lama kesuksesan kita juga ikut tertunda. Kita memang tidak seharusnya membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, tapi menjadi suatu keharusan jika dalam kebaikan. Setidaknya sebagai cermin untuk melihat posisi kita saat ini.
Perasaan malas, fokus yang teralihkan, menunda pekerjaan─dikenal dengan istilah prokrastinasi─termasuk situasi yang umum terjadi. Ini menjadi bumerang ketika kita membiarkan dan menuruti rasa malas tersebut mendikte hidup kita. Tahu-tahu jadwal kegiatan berantakan dan banyak rencana tertunda. Akibat seriusnya tidak hanya pada aktivitas saja, namun juga pada nilai diri dan kesehatan. Kita jadi terbiasa lamban dan terlambat, jam biologis juga tidak teratur. Di waktu yang sama, dunia terus bergerak, orang-orang berpacu untuk bisa mengimbangi percepatan dunia. Jika kita lengah, kita yang akan kalah. Persoalan malas dan kebiasaan prokrastinasi ini menjadi topik yang banyak dikaji oleh para ahli. Ada banyak teori dan pendekatan untuk mengantisipasi kondisi ini, salah satunya adalah melalui filosofi Stoic atau filosofi teras[1]. Filosofi ini menekankan pada kontrol emosi dan ketenangan dalam berbagai situasi dan kondisi. Ajaran Stoic mengajak kita untuk mengelola emosi dengan bijak agar pandangan kita terhadap sesuatu terarah ke sesuatu yang positif─sekalipun dalam situasi yang sebenarnya tidak menyenangkan.
Jika emosi dan cara pandang kita terhadap sesuatu itu positif, kita jadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi. Misalnya ketika kita diberikan tugas atau pekerjaan yang kurang kita kuasai, kita akan lebih memilih untuk menyelesaikannya sebisa dan semampu kita daripada menghindarinya karena kita menganggap itu sebagai tantangan dan ilmu baru. Atau ketika alarm kita sudah berbunyi, kita akan berusaha untuk segera beranjak dari kasur karena tidak ingin terlambat ke kantor. Kontrol emosi yang baik, membantu kita meminimalisir kebiasaan prokrastinasi, malas yang berkepanjangan, atau terdistraksi sesuatu yang tidak perlu. Epictetus[2], seorang filsuf Stoic, mengatakan bahwa orang terdistraksi bukan oleh benda-benda atau objek sekitarnya, melainkan oleh prinsip dan gagasan yang mereka bentuk. Bukan gawai yang membuat kita tidak kunjung beranjak dari kasur, melainkan pikiran kita yang membiarkan tubuh tetap dalam posisi rebahan.
Pikiran kita menentukan bagaimana hidup yang akan kita jalani. Perasaan malas dan kebiasaan prokrastinasi sumbernya tidak lain dari diri kita sendiri. Jika pekerjaan itu adalah tanggung jawab kita, mau sekarang atau besok, kita tetap harus menyelesaikannya. Anggapan bahwa ‘besok kita masih punya waktu’ terkadang malah membuat kita lalai. Tidak ada jaminan orang yang punya banyak waktu luang, akan lebih maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Kebanyakan mereka justru terjebak dalam kata ‘nanti’─yang berujung pada penundaan. Prokrastinasi hanya akan menumpuk satu tanggung jawab dengan tanggung jawab lain, kemudian membebani kita di akhir. Sebenarnya kita tahu ini tidak baik, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi konsintensi kita yang masih sering goyah, kita butuh banyak latihan dan pembiasaan. Sesuatu yang dilakukan berulang, akan jadi kebiasaan. Tinggal kita mau mengulang sesuatu yang baik atau tidak.
Jepang adalah salah satu negara yang dikenal memiliki disiplin dan etos kerja tinggi. Label yang disematkan untuk negeri Sakura ini ternyata sudah ditanamkan oleh pemerintah sejak lama. Kekacauan yang diakibatkan perang dunia pertama tidak bisa dipungkiri juga berdampak pada banyak negara, termasuk Jepang. Pemerintah Jepang mencoba menyiasati kekacauan sosial di negaranya dengan melakukan kampanye reformasi pola hidup. Masyarakat Jepang diajarkan untuk efisien dalam memanfaatkan uang dan waktu. Harapannya dengan kampanye ini kesulitan hidup dapat diatasi, tindakan radikal dapat dicegah, dan kerukunan masyarakat dapat dicapai. Masyarakat Jepang menyambut baik usaha ini hingga kemudian terbentuk perkumpulan untuk kehidupan yang lebih baik atau yang dikenal dengan Better Life Union (BLU)[3]. Salah satu prinsip dasar yang diajarkan masyarakar Jepang secara turun-temurun sampai menjadi budaya adalah kaizen.
Kaizen merupakan langkah pelan tapi pasti untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam kaizen kita dibiasakan untuk melakukan hal positif secara terus-menerus. Konsep kaizen dikenal juga dengan prinsip satu menit, yaitu melakukan satu aktivitas positif selama satu menit secara konsisten setiap hari[4]. Asumsinya jika aktivitas itu dilakukan terus-menerus maka akan menjadi kebiasaan. Kenapa hanya satu menit? Apakah itu cukup untuk membentuk kebiasaan baik dengan waktu satu menit? Jika kita bisa konsisten melakukan aktivitas selama satu menit dengan fokus, tanpa terdistraksi hal lain, lama-kelamaan satu menit itu bisa bertambah menjadi tiga menit, lima menit, sepuluh menit, bahkan satu jam. Kuncinya adalah konsisten dan punya tekad kuat untuk melakukan prinsip kaizen. Dalam Islam prinsip kaizen ini dikenal sebagai istiqomah. Salah satu maqolah terkenal menyebutkan bahwa “istiqomah lebih baik daripada seribu karomah (kemuliaan)”.
Perasaan malas dan kebiasaan prokrastinasi merupakan persoalan yang sering dialami banyak orang, bahkan 1 dari 5 orang adalah prokrastinator (orang yang sering menunda). Kita sadar bahwa untuk mengatasi rasa malas adalah dengan tidak membiarkannya terlalu lama. Jangan sampai rasa malas itu menjadi kebiasaan yang kita sendiri kesulitan menanganinya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, karena waktu berlalu begitu saja. Sekarang atau nanti, tidak akan mengubah keadaan bahwa pekerjaan itu tetap tanggung jawab kita. Kita sudah tahu teorinya, kita sudah paham caranya, tinggal tindakannya. Prinsip kaizen yang diterapkan pemerintah Jepang sukses menciptakan budaya masyarakat disiplin yang dampaknya bisa dirasakan hingga sekarang. Kita perlu tekad─pola pikir─yang kuat serta pembiasaan. Mungkin awalnya terasa berat, oleh karena itu prinsip kaizen mengatakan satu menit, karena satu menit dirasa tidak terlalu membebani. Pelan tapi pasti. Kita sama-sama belajar mengoptimalkan waktu yang kita miliki.
[1] Satu Persen. (2020, 23 Agustus). Filosofi Teras: Mindset Produktif ala Stoic (Anti Prokrastinasi dengan Stoicism). Diakses pada 8 April 2021 dari https://www.youtube.com/watch?v=4omp2fL84q8&t=389s
[2] Manampiring, Henry. 2018. Filosofi Teras. Jakarta: Kompas.
[3] Musman, Asti. 2019. Kaizen For Life: Kunci Sukses Continuous Improvement di Era 4.0. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.
[4] Satu Persen. (2019, 4 November). Mengatasi Sifat Malas (Metode Disiplin Orang Jepang). Diakses pada 8 April 2021 dari https://www.youtube.com/watch?v=vVqRPy2jrmY&t=78s
(Laily Alfath)
"Balon yang ditiup jumantara melebihi kapasitasnya, hanya akan membuatnya meletus. Sementara balon yang ditiup jumantara sesuai kapasitasnya, akan nampak indah disandingkan dengan bumantara. -Laily Alfath-"
Hallo! Apa kabar kamu sekarang? Apa kabar harimu hari
ini? Udah baca Artikel Dumbledore's Pensieve yang rilis minggu lalu?
Kalau kamu belum baca, wajib banget baca artikel itu sebelum kamu melanjutkan
menyimak artikel ini. "Mereka yang hadirnya menguatkanmu, yang netranya
mampu melihat bias hatimu, adalah salah satu karunia terindah yang Tuhan
titipkan padamu1" (re: Dumbledore's
Pensieve). Tidak semua orang diamanahkan Tuhan dengan
sosok-sosok pensieve yang mau menerima segala sampah yang ada di kepala
kita. Tidak semua orang diamanahkan sosok-sosok pensieve yang masih mau
menerima serentetan kekurangan kita sekalipun sudah sangat paham semenyebalkan
apapun kita. Bagi kita sosok-sosok pensieve tersebut laksana jumantara.
Konteks jumantara yang scangkirteh maksud di sini adalah udara5. Setiap
manusia butuh jumantara untuk bernafas. Sama halnya untuk berkembang dan
menghadapi kehidupan, setiap manusia membutuhkan sosok-sosok pensieve mereka.
Sosok-sosok pensieve adalah mereka yang
hubungannya dengan kita senantiasa ingin kita jaga. Karena tidak semua orang
yang kita jumpai bisa bermakna di hati. Tidak semua orang bisa menerima kita
apa adanya dan begitu pula sebaliknya. Sehingga tidak semua orang yang kita
jumpai di dunia ini bisa masuk ke dalam lingkaran orang-orang terdekat kita.
Hubungan antar manusia yang sudah dilandaskan perasaan saling menyayangi,
mengasihi, dan peduli seringnya melibatkan perasaan yang lebih dominan. Baik
itu hubungan persahabatan, hubungan antar kekasih, hubungan antara anak dan
orang tua, maupun jenis ubungan kedekatan lainnya. Kita akan cenderung
mengalirkan serentetan perhatian dan kasih sayang yang kita punya terhadap
mereka. Bahkan serentetan hal kita lakukan agar mereka senantiasa merasakan
kebahagiaan, entah itu berupa support nasihat tatakla mereka
membutuhkan, sebuah jokes untuk menghibur mereka, sebuah kado sederhana
untuk membuat mereka bahagia, atau bahkan ada pula yang menegur tatkala orang
yang disayangi melakukan hal yang tidak semestinya. Tapi sekalipun itu adalah
suatu teguran, teguran itu disampaikan atas dasar rasa sayang. Setiap orang
punya caranya tersendiri dalam mengemas wujud sayang terhadap orang-orang yang
bermakna dalam hidupnya. Kalau kamu biasanya mengemas wujud sayang dalam wujud
apa?
Hubungan terhadap manusia yang berlandaskan rasa
sayang, nyatanya tidak menjadi perisai untuk menghindarkan mereka dari
perselisihan. Pada suatu hubungan kedekatan ang seringnya dilandaskan
menggunakan perasaan yang lebih dominan, seringnya beberapa ekspektasi muncul
tanpa sadar. Dua orang sahabat yang saling menyayangi bukan berarti mereka
senantiasa memiliki pendapat yang sama dalam memotret suatu kejadian.
Adakalanya mereka berbeda pendapat, adu mulut, atau bahkan saling diam karena
tak ingin saling menyakiti perasaan sahabatnya. Beberapa perselisihan sering
tejadi akibat adanya ekspektasi yang tidak sesuai dengan realita. Tatkala kita
memiliki seorang sahabat, salah satu ekspektasi yang sering tanpa sengaja
dirasakan muncul adalah "semestinya dia sependapat denganku, semestinya
dia support aku". Namun ternyata ada masanya sahabat kita tengah
berada pada pendapat yang berseberangan dengan kita karena alasan lainnya.
Alhasil perasaan kecewalah yang muncul.
Ekspektasi dibutuhkan untuk mempengaruhi proses dan
hasil yang akan kita dapatkan. Namun ekspektasi juga harus diimbangi dengan
sikap dewasa4. Ekspektasi yang berlebihan, terutama ekspektasi
terhadap orang lain, hanya akan menghancurkan sesama. Sama halnya dengan balon
dan jumantara. Balon butuh jumantara untuk bisa mengembang, dan nampak indah
dipandang oleh netra. Tapi jumantara yang berlebihan, hanya akan memebuat balon
meletus tak berdaya. Semua dimulai karena ekspektasi. Setiap kita relate dengan
orang lain, seringnya kita langsung punya ekspektasi terhadapnya2.
Namun ketika ekspektasi tersebut tidak seusia realita, ujungnya kita merasa
kecewa, terluka, menyalahkan orang lain, bahkan tak jarang beberapa dari kita
ada yang tanpa sengaja menuntut orang tersebut untuk memenuhi ekspektasi yang
telah kita bangun sendiri. Padahal "kita bertanggung jawab atas
perasaan diri kita sendiri" (re: Kompas Impresi).
Hal yang cukup rumit dalam pengendalian perasaan
tatkala kita tengah merasakan kecewa adalah, ketika kita tidak bisa mengerti
dan tidak mau memahami keterbatasan seseorang. Hal itu bisa saja terjadi
tatkala ekspektasi kita yang terkadang tidak masuk akal (tidak sanggup) menurutnya,
atau memang karena orang tersebut tidak berkenan mengabulkan ekspektasi kita.
Sahabat, pacar, orang tua, atau siapapun orang terdekat yang kamu sayangi,
tetaplah memiliki kehidupan di dunianya sendiri dan dunianya bersama orang
lain. Ketika kita menyayangi seseorang, bukan berarti kita berhak
memenjarakannya dengan mengharuskan fokusnya hanya tertuju untuk kita. Ketika
seseorang menyayangi kita bukan berarti kita berhak membebankan ekspektasi di
pundaknya, lantas menuntutnya untuk senantiasa bisa menjadi hero bagi
kita dengan selalu bisa mengabulkan segala ekspektasi kita. Mereka tetaplah
manusia yang memiliki keterbatasan. Ketika kita menyayangi seseorang, juga
tidak semestinya memaksakan ia menjadi orang yang setiap detiknya menjadi orang
yang kita inginkan. Bukankah kita juga tidak suka dibebankan untuk dituntut
melakukan suatu hal di luar batas yang bisa kita lakukan dan yang tidak kita
inginkan? Ketika ekspektasi dipaksakan terhadap orang yang sudah jelas tidak
sanggup atau tidak ingin melakukannya, hal itu hanya akan mersak hubungan, dan
membuat stres pihak yang memaksa dan yang dipaksa. Jika kita bisa saling
memahami keterbatasan masing-masing, menjaga ekspektasi pada tempatnya, saling
berbicara dengan dewasa untuk menemukan titik tengah ekspektasi yang make
sense bagi kedua belah pihak, maka hubungan antar sesama akan menjadi
sesuatu yang paling indah dan pernah kita miliki sebagai manusia2.
Daftar
Rujukan
1Santoso, Dyah. 2021. Dumbledore's
Pensieve. https://scangkirteh.blogspot.com/2021/03/dumbledores-pensieve.html
2Wahyudi, Josua Iwan. 2020. Kenapa
Sih Hubungan Antar Manusia Ribet Banget?.
https://www.instagram.com/p/CGg0zFZhtB3/
3Alfath, Laily. 2021. Kompas
Impresi. https://scangkirteh.blogspot.com/2021/02/kompas-impresi.html
4Riana, Merry. 2021. Ketika
Ekspektasi Tidak Sesuai Realita. https://www.youtube.com/watch?v=JPbOTMYXkeM
5Https://kbbi.web.id/jumantara