(Dyah Santoso)
Harapan dan
pengorbanan didawamkan.
‘Hasil tak
menghianati usaha’ jadi semboyan.
Ada cita-cita
di ujung penantian.
Mengundi takdir
jadi pilihan.
Kamu dan aku
sama saja, bahkan semua umat manusia di dunia tak ada bedanya.
Kala benih mulai memunculkan
tunasnya, kala itulah kerisauan dimulai.
Disemai dari mimpi dan ambisi.
Dirawat dengan
doa dan usaha.
Serta dipupuk
oleh cinta dan asa.
Tunas kecil
menikmati tumbuh-kembangnya, angin tak sampai hati menerpa.
Pohon-pohon
besar jadi andalan, akar sigap menyerap genangan, rindang batang nyaman nan
aman.
Tunas kecil yang tak lagi kerdil.
Kala berlalu.
Aneka warna
bersatu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u dan hal-hal baru.
Terlalu banyak
warna berpadu, sulit membedakan tanpa alat bantu.
Di mataku hanya
ada kelabu.
Tunas kecil
mulai tumbuh, pohon besar tak lagi tangguh dan dunia bersikukuh.
Kubuat pagar
membentengi, tapi tunas terlampau cepat tinggi.
Burung-burung
mulai tertarik bersarang di dahan, satu-dua hingga gerombolan.
Angin tak lagi
santai ketika lajunya terhalangi, daun tua-muda gugur saling mendahului.
Tunas kecil
kini berjuang sendiri.
Ku harap akarnya
cukup erat memeluk bumi.
Kala berlalu.
Meski kelabu
adalah abu-abu, hitam bukanlah putih.
Kamu dan aku
tak pernah tahu, sehitam apa jelaga itu.
Yang kita tahu,
hitam bukanlah putih.
Selama dunia tak
dihuni mereka yang tak tahu dan tak mau tahu warna dunia.

0 comments:
Posting Komentar