Senin, 19 April 2021

Warna Dunia

 

(Dyah Santoso)


Harapan dan pengorbanan didawamkan.

‘Hasil tak menghianati usaha’ jadi semboyan.

Ada cita-cita di ujung penantian.

Mengundi takdir jadi pilihan.

Kamu dan aku sama saja, bahkan semua umat manusia di dunia tak ada bedanya.

 

Kala benih mulai memunculkan tunasnya, kala itulah kerisauan dimulai.

Disemai dari mimpi dan ambisi.

Dirawat dengan doa dan usaha.

Serta dipupuk oleh cinta dan asa.

Tunas kecil menikmati tumbuh-kembangnya, angin tak sampai hati menerpa.

Pohon-pohon besar jadi andalan, akar sigap menyerap genangan, rindang batang nyaman nan aman.

Tunas kecil yang tak lagi kerdil.

 

Kala berlalu.

Aneka warna bersatu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u dan hal-hal baru.

Terlalu banyak warna berpadu, sulit membedakan tanpa alat bantu.

Di mataku hanya ada kelabu.

 

Tunas kecil mulai tumbuh, pohon besar tak lagi tangguh dan dunia bersikukuh.

Kubuat pagar membentengi, tapi tunas terlampau cepat tinggi.

Burung-burung mulai tertarik bersarang di dahan, satu-dua hingga gerombolan.

Angin tak lagi santai ketika lajunya terhalangi, daun tua-muda gugur saling mendahului.

Tunas kecil kini berjuang sendiri.

Ku harap akarnya cukup erat memeluk bumi.

 

Kala berlalu.

Meski kelabu adalah abu-abu, hitam bukanlah putih.

Kamu dan aku tak pernah tahu, sehitam apa jelaga itu.

Yang kita tahu, hitam bukanlah putih.

Selama dunia tak dihuni mereka yang tak tahu dan tak mau tahu warna dunia.



0 comments:

Posting Komentar