Rabu, 14 April 2021

Sangkala

 (Dyah Santoso)

Bom waktu siap meledak kapan saja, meleburkan jiwa-jiwa yang tak mampu menjinakkannya. Waktu siap menghunuskan mata pedangnya, menyayat jiwa-jiwa yang tak mampu menggunakannya.”

 

Pernah punya rencana menyelesaikan tugas di akhir pekan, tapi kemudian menghabiskan akhir pekan dengan tidak melakukan apa-apa? Atau sudah bangun tidur, tapi masih rebahan─sambil main gawai─dan baru benar-benar beranjak dari kasur setengah jam kemudian? Ini persoalan klise yang sering dialami banyak orang. Malas dan menunda sesuatu untuk alasan yang sebenarnya tidak perlu. Jika ini terjadi sekali atau dua kali, mungkin mood kita memang sedang tidak dalam kondisi baik. Tapi jika kondisi ini terus berlanjut─bahkan seperti siklus yang tidak diketahui ujung pangkalnya─akan sulit untuk memperbaikinya. Aktivitas jadi keteteran, pekerjaan terbengkalai, yang lama-lama kesuksesan kita juga ikut tertunda. Kita memang tidak seharusnya membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, tapi menjadi suatu keharusan jika dalam kebaikan. Setidaknya sebagai cermin untuk melihat posisi kita saat ini.

Perasaan malas, fokus yang teralihkan, menunda pekerjaan─dikenal dengan istilah prokrastinasi─termasuk situasi yang umum terjadi. Ini menjadi bumerang ketika kita membiarkan dan menuruti rasa malas tersebut mendikte hidup kita. Tahu-tahu jadwal kegiatan berantakan dan banyak rencana tertunda. Akibat seriusnya tidak hanya pada aktivitas saja, namun juga pada nilai diri dan kesehatan. Kita jadi terbiasa lamban dan terlambat, jam biologis juga tidak teratur. Di waktu yang sama, dunia terus bergerak, orang-orang berpacu untuk bisa mengimbangi percepatan dunia. Jika kita lengah, kita yang akan kalah. Persoalan malas dan kebiasaan prokrastinasi ini menjadi topik yang banyak dikaji oleh para ahli. Ada banyak teori dan pendekatan untuk mengantisipasi kondisi ini, salah satunya adalah melalui filosofi Stoic atau filosofi teras[1]. Filosofi ini menekankan pada kontrol emosi dan ketenangan dalam berbagai situasi dan kondisi. Ajaran Stoic mengajak kita untuk mengelola emosi dengan bijak agar pandangan kita terhadap sesuatu terarah ke sesuatu yang positif─sekalipun dalam situasi yang sebenarnya tidak menyenangkan.

Jika emosi dan cara pandang kita terhadap sesuatu itu positif, kita jadi lebih tenang dalam menghadapi berbagai situasi. Misalnya ketika kita diberikan tugas atau pekerjaan yang kurang kita kuasai, kita akan lebih memilih untuk menyelesaikannya sebisa dan semampu kita daripada menghindarinya karena kita menganggap itu sebagai tantangan dan ilmu baru. Atau ketika alarm kita sudah berbunyi, kita akan berusaha untuk segera beranjak dari kasur karena tidak ingin terlambat ke kantor. Kontrol emosi yang baik, membantu kita meminimalisir kebiasaan prokrastinasi, malas yang berkepanjangan, atau terdistraksi sesuatu yang tidak perlu. Epictetus[2], seorang filsuf Stoic, mengatakan bahwa orang terdistraksi bukan oleh benda-benda atau objek sekitarnya, melainkan oleh prinsip dan gagasan yang mereka bentuk. Bukan gawai yang membuat kita tidak kunjung beranjak dari kasur, melainkan pikiran kita yang membiarkan tubuh tetap dalam posisi rebahan.

Pikiran kita menentukan bagaimana hidup yang akan kita jalani. Perasaan malas dan kebiasaan prokrastinasi sumbernya tidak lain dari diri kita sendiri. Jika pekerjaan itu adalah tanggung jawab kita, mau sekarang atau besok, kita tetap harus menyelesaikannya. Anggapan bahwa ‘besok kita masih punya waktu’ terkadang malah membuat kita lalai. Tidak ada jaminan orang yang punya banyak waktu luang, akan lebih maksimal dalam mengerjakan sesuatu. Kebanyakan mereka justru terjebak dalam kata ‘nanti’─yang berujung pada penundaan. Prokrastinasi hanya akan menumpuk satu tanggung jawab dengan tanggung jawab lain, kemudian membebani kita di akhir. Sebenarnya kita tahu ini tidak baik, kita tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tapi konsintensi kita yang masih sering goyah, kita butuh banyak latihan dan pembiasaan. Sesuatu yang dilakukan berulang, akan jadi kebiasaan. Tinggal kita mau mengulang sesuatu yang baik atau tidak.

Jepang adalah salah satu negara yang dikenal memiliki disiplin dan etos kerja tinggi. Label yang disematkan untuk negeri Sakura ini ternyata sudah ditanamkan oleh pemerintah sejak lama. Kekacauan yang diakibatkan perang dunia pertama tidak bisa dipungkiri juga berdampak pada banyak negara, termasuk Jepang. Pemerintah Jepang mencoba menyiasati kekacauan sosial di negaranya dengan melakukan kampanye reformasi pola hidup. Masyarakat Jepang diajarkan untuk efisien dalam memanfaatkan uang dan waktu. Harapannya dengan kampanye ini kesulitan hidup dapat diatasi, tindakan radikal dapat dicegah, dan kerukunan masyarakat dapat dicapai. Masyarakat Jepang menyambut baik usaha ini hingga kemudian terbentuk perkumpulan untuk kehidupan yang lebih baik atau yang dikenal dengan Better Life Union (BLU)[3]Salah satu prinsip dasar yang diajarkan masyarakar Jepang secara turun-temurun sampai menjadi budaya adalah kaizen.

Kaizen merupakan langkah pelan tapi pasti untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam kaizen kita dibiasakan untuk melakukan hal positif secara terus-menerus. Konsep kaizen dikenal juga dengan prinsip satu menit, yaitu melakukan satu aktivitas positif selama satu menit secara konsisten setiap hari[4]. Asumsinya jika aktivitas itu dilakukan terus-menerus maka akan menjadi kebiasaan. Kenapa hanya satu menit? Apakah itu cukup untuk membentuk kebiasaan baik dengan waktu satu menit? Jika kita bisa konsisten melakukan aktivitas selama satu menit dengan fokus, tanpa terdistraksi hal lain, lama-kelamaan satu menit itu bisa bertambah menjadi tiga menit, lima menit, sepuluh menit, bahkan satu jam. Kuncinya adalah konsisten dan punya tekad kuat untuk melakukan prinsip kaizen.  Dalam Islam prinsip kaizen ini dikenal sebagai istiqomah. Salah satu maqolah terkenal menyebutkan bahwa “istiqomah lebih baik daripada seribu karomah (kemuliaan)”.

Perasaan malas dan kebiasaan prokrastinasi merupakan persoalan yang sering dialami banyak orang, bahkan 1 dari 5 orang adalah prokrastinator (orang yang sering menunda). Kita sadar bahwa untuk mengatasi rasa malas adalah dengan tidak membiarkannya terlalu lama. Jangan sampai rasa malas itu menjadi kebiasaan yang kita sendiri kesulitan menanganinya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, karena waktu berlalu begitu saja. Sekarang atau nanti, tidak akan mengubah keadaan bahwa pekerjaan itu tetap tanggung jawab kita. Kita sudah tahu teorinya, kita sudah paham caranya, tinggal tindakannya. Prinsip kaizen yang diterapkan pemerintah Jepang sukses menciptakan budaya masyarakat disiplin yang dampaknya bisa dirasakan hingga sekarang. Kita perlu tekad─pola pikir─yang kuat serta pembiasaan. Mungkin awalnya terasa berat, oleh karena itu prinsip kaizen mengatakan satu menit, karena satu menit dirasa tidak terlalu membebani. Pelan tapi pasti. Kita sama-sama belajar mengoptimalkan waktu yang kita miliki.

 



Daftar Rujukan :

[1] Satu Persen. (2020, 23 Agustus). Filosofi Teras: Mindset Produktif ala Stoic (Anti Prokrastinasi dengan Stoicism). Diakses pada 8 April 2021 dari https://www.youtube.com/watch?v=4omp2fL84q8&t=389s

[2] Manampiring, Henry. 2018. Filosofi Teras. Jakarta: Kompas.

[3] Musman, Asti. 2019. Kaizen For Life: Kunci Sukses Continuous Improvement di Era 4.0. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia.

[4] Satu Persen. (2019, 4 November). Mengatasi Sifat Malas (Metode Disiplin Orang Jepang).  Diakses pada 8 April 2021 dari https://www.youtube.com/watch?v=vVqRPy2jrmY&t=78s

 

0 comments:

Posting Komentar