Jumat, 26 Februari 2021

Kompas Impresi


(Laily Alfath)

 



 “Ketika seseorang mengingkari janjinya terhadapmu,

ia tetap tidak bertanggung jawab atas perasaanmu.–Laily Alfath-“

 

Seorang petualang selalu menggenggam kompas tatkala ia kurang mengenal medan yang tengah ia tempuh. Pada perjalanan yang tengah ia tempuh, seluruh panca inderanya tentu digunakan dengan optimal dengan harapan tidak salah dalam mengambil keputusan. Bahkan tak jarang akal dan perasaannya turut beradu dalam memaknai kode alam yang telah disuguhkan. Sama halnya dalam menjalani kehidupan, setiap makhluk selalu butuh kompas untuk menuntun langkahnya. Ketika pada suatu perjalanan seorang manusia lebih mengandalkan perasaannya tanpa mempertimbangkan akalnya, seringnya yang akan terjadi adalah penyesalan dan begitu pula sebaliknya. Menyeimbangkan antara akal dan perasaan memang bukanlah hal yang mudah dalam merespon keadaan yang terjadi di luar kendali kita. Tapi kompas ibarat akal, ia hanya akan memaparkan hal-hal (rasionalitas) yang diketahui. Hal ini berbeda dengan impresi, impresi muncul berkat dugaan manusia itu sendiri. Pada impresi inilah seringnya perasaan menjadi pewarna utama dalam proses pembentukannya, padahal bisa jadi fakta yang ia ketahui kurang luas dalam memotret keadaan.

Pada suatu kondisi sepanjang kehidupanmu sampai saat ini, pernahkah kamu sebal akibat perkataan atau sikap orang lain? Pasti pernah kan? Kalau kamu belum pernah, scangkirteh salut banget deh sama kamu sebagai “makhluk tersabar” di dunia ini. Hehehe… Kalau misal kamu belum pernah sebal akibat ulah orang lain, pasti pernah melihat orang yang sebal akibat ulah orang lain kan? Entah itu ulah yang disengaja maupun tidak disengaja. Gimana respon yang kamu tahu ketika seseorang sebal dengan orang lain? Bad mood, rada uring-uringan, mendadak diem, atau bahkan ngegas. Hehehe…. Wajar kok. Tapi temen-temen sadar nggak sih ketika kita sebal ke orang, sampai kita jadi marah-marah atau bad mood bahkan hari kita jadi ikutan hancur, itu artinya kita membiarkan seseorang mengambil kendali dalam diri kita. Do you know remote? Ketika seorang anak kecil memegang remote untuk mengendalikan robot mainannya, ia memegang kendali penuh atas hal yang dilakukan robotnya. Ia bisa memencet tombol yang membuat robotnya berjalan maju, memukul, duduk, atau tindakan lainnya. Hal itu sama dengan ketika kita merespon tindakan orang lain yang berniat membuat kita marah. Kita memakan dengan baik umpan yang ia berikan, sehingga kita merasa ia menyebalkan, kemudian kita jadi bad mood. Kita mengikuti instruksinya untuk menjadi kacau. Bukan cuma marah, begitu juga dengan perasaan galau, kecewa, maupun bentuk perasaan lainnya.

Eitssss, tapi bukan berarti scangkirteh ngajarin kamu emotional numbness (mati rasa) ya. Bukan gitu juga konsepnya. Karena kalau kamu malah emotional numbness di setiap datangnya suatu masalah, mungkin serentetan pekerjaan kamu selesai dengan baik, tapi berbeda dengan hatimu. Hal itu hanya akan menimbulkan unfinish business (luka perasaan yang bisa kembali muncul jika suatu hari terpicu oleh suatu hal). Ketika kita mampu merasakan (sensitif) atas kejadian yang datang, itu juga anugerah kok. Tapi kalau terlalu sensitif juga jadinya nggak baik. Karena setiap emosi yang muncul punya pesan. Sekalipun peristiwanya berlalu dengan emosi yang berhasil kita tekan, bukan berarti emosi itu turut tuntas. Dia akan mengendap di sana, dan seperti bom waktu yang tinggal menunggu momentnya saja, maka “boooommm!” ia akan meledak. Ketika suatu hal yang mengusik perasaanmu datang dan mungkin membuatmu tertekan, coba dengarkan apa yang ingin disampaikan oleh perasaan kita. Tidak akan menjadi buruk tatkala kita merasakan lelah, kecewa, marah. Asalkan tidak dibersamai dengan tindakan-tindakan yang merugikan. Setelahnya coba berikan ruang untuk refleksi atas hal yang telah terjadi.

Kita memang tidak bisa mengontrol sikap maupun perkataan orang lain terhadap diri kita. Tapi kita bertanggung jawab penuh untuk bisa mengontrol perasaan kita, dan cara kita merespon atas setiap kejadian yang datang. Ketika kita menyalahkan orang lain atas hal yang kita anggap musibah dan menjadikan diri kita sedih atau kehilangan, atau perasaan buruk lainnya, itu artinya kita melemparkan tanggung jawab kepada orang lain atas perasaan kita. Padahal tidak ada seorangpun di dunia ini yang bertanggung jawab atas perasaanmu. Perasaanmu adalah mutlak tanggung jawabmu, bukan orang lain! Begitu pula dengan perasaan mereka masing-masing. Sekencang apapun badaimu, kamu hanya butuh bersabar untuk menghadapinya dan menunggunya usai. Bersabar bukan berarti memaksakan diri membuang perasaan marah, kecewa, dan perasaan lainnya yang kamu rasa itu hanya membuatmu semakin terpuruk. Kamu boleh merasakannya. Selesaikan hingga tuntas. Tapi bukan berarti ketika kamu menggurat setiap detail perasaan itu, kamu jadi menyalahkan keadaan, orang lain, atau bahkan dirimu sendiri. Hey, setiap yang terjadi di dunia ini ini hanyalah suatu fase. Fase itu akan usia tatkala masanya harus berganti. Ketika kamu berpikir, “kenapa harus aku yang mendapatkan  musibah ini?” semestinya kamu lantas berpikir “pelajaran apa yang akan Tuhan kasih dari hal yang terjadi ini?”. Pada kondisi yang dirasa buruk seseorang sering termakan oleh egonya sendiri, dan melakukan hal-hal bodoh tanpa berpikir panjang. Akhirnya setelah ia sadar, ia menyesal karena itu hanya menghancurkannya. Pilihan ada di tanganmu : memberikan remote emosimu untuk dikendalikan orang lain, atau kamu yang mengambil alih. Tapi apapun pilihanmu ingatlah bahwa kabar buruknya adalah, setiap waktu yang berlalu tidak pernah bisa diulang. Sehingga ketika kita tidak bijak merespon suatu keadaan, waktu tidak akan bisa ditarik mundur untuk memperbaikinya.

Jumat, 19 Februari 2021

Kisah Sebongkah Intan

 

(Dyah Santoso)

 


“Jika diberi pilihan antara sebongkah intan atau sebongkah arang? Mana yang kamu pilih?”.

Sebagian orang akan langsung memilih tanpa pikir panjang,  sebagian yang lain mungkin malah mempertanyakan ‘pertanyaan’ tersebut. Ya, pertanyaan macam apa yang membandingkan intan dan arang. Dua benda yang secara fisik maupun kegunaan sangat berbeda. Beberapa bongkah arang memang berguna bagi penjual sate atau jagung bakar, tapi apa yang bisa dilakukan dengan sebongkah arang?.

Pertanyaan di atas terdengar aneh secara umum, tapi coba kita lihat dengan pendekatan lain. Ternyata intan dan arang termasuk alotrop karbon, di mana material penyusunnya sama-sama dari atom karbon tetapi bentuk struktur atau kerangkanya berbeda. Perbedaan struktur ini terjadi karena proses pembentukan yang berbeda pula. Intan terbentuk di kedalaman bumi dengan tekanan dan temperatur tinggi serta waktu yang cukup lama, sedangkan arang seperti yang kita ketahui terbentuk dari proses yang jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan intan. Kita dapat melihat sudut pandang yang berbeda dari sebongkah intan dan arang, tidak hanya secara nilai fisik saja tapi juga secara historis. Semesta adalah sekolah terbesar sepanjang masa yang menyimpan banyak rahasia dan kisah penuh makna. Tinggal kita yang mau atau tidak menyibak rahasia dan memaknai kisah tersebut.

Tuhan menciptakan manusia dengan potensi yang sama. Proses yang kita jalanilah yang menentukan hasil akhirnya. Sering kali kita hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses. Kita melihat Cristiano Ronaldo sebagai pesepak bola hebat, tanpa tahu berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk berlatih. Kita melihat J.K. Rowling sebagai penulis sukses tanpa memahami kesulitannya di awal karir kepenulisan. Bahkan mungkin, kita hanya melihat dan iri pada prestasi teman tanpa mau tahu apa yang sudah dia alami sehingga sampai pada titik itu. Kita ingin seindah intan, tetapi usaha kita masih sebatas arang. Ini persoalan klise banyak orang, tak terkecuali mereka yang kita anggap hebat sekalipun. Bedanya, mereka segera bergerak ketika sadar bahwa proses seperti arang tidak akan menghasilkan intan.

Lalu sebagian dari kita menyangkal “Kita tahu kok, bahwa untuk sukses harus dibarengi usaha dan kerja keras. Kita sudah berusaha, tapi tetap tidak seindah intan, tidak sehebat Cristiano Ronaldo, tidak sesukses J.K. Rowling dan bahkan tidak lebih baik dari anak tetangga sebelah”. Kerja bagus kawan, kamu hebat. Tidak banyak orang yang sadar kemudian tergugah untuk berusaha. Ragamu pasti lelah karena telah bekerja keras, tapi jangan biarkan hati dan pikiranmu juga ikut lelah. Prosesmu, kamu yang menjalaninya. Hasilmu, kamu yang akan menikmatinya. Yang perlu disaingi adalah egomu, bukan mereka ataupun anak tetangga. Tentukan standar yang tepat. Kamu adalah kamu. Kamu bisa sukses dengan cara dan standarmu sendiri. Membandingkan kesuksesan dengan standar orang lain hanya akan menyiksa diri sendiri. Kamu tidak akan punya waktu istirahat, sebab kamu tidak tahu berapa banyak bintang yang bersinar di langit.

            Kamu bisa menjadi salah satu bintang yang bersinar tanpa harus berusaha lebih terang dari yang lain. Setiap orang punya potensi dan pesonanya masing-masing. Gelar dan penghargaan yang diberikan masyarakat adalah bonus. Jika kamu sudah berusaha dan bekerja dengan baik, hasilnya juga akan baik. Tidak harus berpengaruh besar pada masyarakat luas, bisa dari orang-orang sekitar, atau setidaknya diri sendiri yang merasakan nilai positif itu. Mungkin terdengar kontradiktif, bahwa manusia punya potensi yang sama, tetapi kapasitas yang berbeda. Kita analogikan dengan kerja bakti pembangunan mushalla. Setiap warga memiliki potensi untuk membantu dengan kapasitasnya masing-masing. Ada yang berdonasi untuk bahan material, ada yang bersedia tenaga, ada yang suka rela menyiapkan konsumsi untuk para pekerja. Setiap peran memiliki kontribusi yang sama-sama baik. Ketika mushalla itu rampung dibangun, setiap peran tadi merasakan kesan dan pengalaman batin yang berbeda tentunya.

Itu artinya tidak semua orang bisa menjadi intan?. Tentu saja, bahkan arang yang diperlakukan sama seperti intan belum tentu menjadi intan. Kita melihat intan sebagai permata yang indah, kita tahu bahwa untuk menjadi indah ada proses yang tidak mudah. Kita sering mendengar kalimat bijak “Man jadda wajada”, “temen tinemu”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan (keberhasilan). Itu mempertegas bahwa dunia ini penuh tantangan dan yang tak memiliki daya juang akan tertinggal. Intan kita asumsikan sebagai simbol keindahan, kesuksesan, dan keberhasilan atas usaha dan kerja keras. Tetapi menjadi seperti intan bukanlah standar pencapaian. Kita memang harus berusaha, sebisa dan semampu kita tanpa harus menyamakan pencapaian dengan orang lain. Fokus pada tujuan adalah baik, tetapi menikmati setiap proses akan jauh lebih menarik. Tetap berusaha dan yakin bahwa Tuhan menilai proses dan perjuangan.