(Dyah Santoso)
“Mereka yang hadirnya menguatkanmu, yang netranya mampu melihat bias hatimu, adalah salah satu karunia terindah yang Tuhan titipkan padamu.”
Setiap orang tidak luput dari mendapati masalah. Ketika idealitas berbenturan
dengan realitas, itu adalah masalah. Sejak kecil kita dihadapkan dengan situasi
yang─sering kali─tidak terduga. Situasi ini memunculkan beragam reaksi dari
masing-masing individu, dan normalnya seseorang akan bereaksi ketika
kenyamanannya terusik. Reaksi dan respon yang kita berikan terhadap suatu
masalah sebanding dengan impuls yang kita terima. Semakin berat masalah yang
dihadapi, tentunya membutuhkan energi, pikiran, dan waktu yang tidak kalah
besar untuk menyelesaikannya. Semakin kita dewasa dan terlibat dalam banyak
hal, semakin membuat kita sadar bahwa masalah tidak pernah absen menyapa.
Masalah akan selalu ada dalam setiap peristiwa dan masa, karena masalah adalah
bagian dari kita. Manusia tumbuh dan berkembang bersama masalah. Peradaban dan
perkembangan teknologi saat ini adalah produk dari permasalahan orang-orang
terdahulu, bahkan solusi dari suatu masalah─pada perkembangannya─juga tetap
memunculkan masalah lain.
Kesadaran bahwa masalah selalu menyertai kehidupan manusia tidak
lantas membuat kita kebal dan siap untuk menghadapinya. Nyatanya masih banyak
kasus depresi yang berujung pada hilangnya nyawa. Diri kita yang memilih bagaimana
berinteraksi dengan masalah, apakah tidak melakukan apa-apa? apakah
menghadapinya sembari mencari solusi? atau menghindari satu masalah untuk
bertemu masalah yang lain?. Saya teringat kisah garam, gelas, dan danau. Masalah
diibaratkan sebagai garam sementara kelapangan hati kita adalah gelas dan
danau. Segenggam garam yang dimasukkan ke dalam segelas air tentu terasa asin.
Sedangkan segenggam garam yang ditabur di danau tidak serta-merta mengubah rasa
airnya menjadi asin. Mereka yang dikalahkan oleh masalah mungkin saja hatinya
tidak selapang danau. Tapi menyiapkan hati seluas danau bukanlah perkara mudah,
perlu latihan dan proses yang tidak singkat. Lingkungan juga ikut andil dalam
pembentukan danau ini. Bagaimana danau luas bisa terbentuk jika masyarakat
sekitarnya terus-menerus membuat urugan?. Bagaimana hati bisa lapang
jika orang-orang sekeliling terus-menerus mengerdilkan mental?.
Bukan tidak mungkin jika masih ada orang yang tetap tenang, tetap berusaha
tegak, dan berusaha menurunkan sensitivitas terhadap pengaruh-pengaruh negatif
yang mengikis mentalnya. Memang masih ada orang kuat seperti ini, tapi berapa
jumlahnya jika dibandingkan dengan populasi orang di muka bumi?. Sebagian besar
dari kita adalah orang-orang yang hatinya seluas gelas, mungkin ada juga yang
lebih luas─dari gelas, tapi tidak seluas danau. Hati kita adalah hati seperti
kebanyakan orang. Sebagian dari kita ada yang reaktif dan sangat impulsif.
Sebagian yang lain perlu waktu mengendapkan emosinya untuk kembali jernih.
Sedangkan sebagian lainnya terpaksa mengakumulasi semua perasaan karena tidak
tahu bagaimana menanganinya. Kita tentu ingin punya hati yang lapang dan tetap
bisa tenang menjalani beragam putaran kehidupan. Namun proses ini perlu banyak
latihan dan pembiasaan. Sembari belajar melapangkan hati, kita bisa berbagi.
Berbagi tidak hanya tentang materi, melainkan juga berbagi rasa─suka, duka,
ataupun kecewa.
Seberat apapun masalah kita, ketika kita punya sandaran untuk sekadar
meratap atau mengutarakan isi hati, itu akan sangat membantu. Kita tidak bisa
menganggap sama orang-orang, hanya karena mereka punya punya masalah yang sama.
Kembali pada fakta bahwa masing-masing individu berbeda. Ada yang cukup
mengadukan keresahannya kepada Tuhan dan sudah merasa mengisi ulang energinya.
Namun tidak sedikit orang yang butuh bantuan orang lain untuk bisa bangkit.
Kita sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi dan dukungan sosial. Kita
butuh teman untuk menegaskan bahwa kita tidak sendiri. Mereka yang depresi
umumnya karena orang-orang di sekitar mereka tidak bisa memberikan rasa aman
dan nyaman baginya. Mereka merasa tertekan dengan lingkungan mereka sendiri.
Segelas air yang berisi garam tadi, ketika dapat membagi garamnya dengan gelas
yang lain, bukankah rasa asinnya bisa sedikit berkurang?. Sama halnya dengan
permasalahan kita, ketika kita punya teman untuk berbagi cerita─sekalipun dia
hanya mendengarkan tanpa memberi saran─setidaknya itu sedikit meringankan beban
psikis yang kita alami.
Bagi penggemar serial Harry Potter, tentu tidak asing dengan
istilah “pensieve”, cawan yang biasa digunakan Albus Dumbledore
untuk menyimpan dan melihat memori. Febriani Eka Puteri[1]
menyatakan bahwa pensieve merupakan kebutuhan dasar manusia. Ada unsur
melepaskan─memori, ada unsur kepercayaan bahwa memori tersebut akan terjaga
dengan baik─kerahasiaannya, dan ada unsur kembali (memori dapat dilacak ulang)─dengan
memasukkan kepala ke dalam cawan. Peran pensieve dalam dunia nyata ini
dapat dilakukan oleh orang-orang sekitar kita. Mereka yang memandang derita
kita juga bagian dari mereka dan menganggap senyum kita adalah bagian dari
kebahagiaan mereka. Mereka yang bersedia mendengarkan cerita kita tanpa
menghakimi, yang kita percayai bahwa cerita kita aman bersama mereka, termasuk
yang dapat kita mintai nasihat ketika kita membutuhkan. Mereka adalah
orang-orang istimewa yang Tuhan titipkan kepada kita. Bersyukurlah jika kita
punya mereka, kita akan mendapat energi tambahan untuk menghadapi masalah pelik
sekalipun. Ada perasaan yang menenangkan, bahkan jika kita terjatuh, ada mereka
yang bersedia mengobati luka kita.
Ada banyak cara orang merespon masalah, cara kita adalah pilihan
kita. Kita yang lebih berhak memilih dan menentukan mana yang termasuk masalah
bagi kita dan mana yang bukan (ulasan lengkapnya di Color Palette). Namun tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan turut mewarnai
hidup kita. Masalah dan pilihan akan selalu menyertai setiap langkah. Berbagi
merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk melepaskan sedikit
emosi, kepenatan, atau masalah yang
membebani psikis. Jika kita punya seseorang yang mampu berperan sebagai pensieve,
ucapkan terima kasih dan lakukan hal yang sama. Kita telah menemukan support
system yang merupakan modal penting untuk bisa survive di dunia yang
penuh hal tak terduga ini. Seberat dan sepelik apapun masalah yang kita hadapi,
ketika kita punya pensieve, pikiran kita menstimulus untuk mengatakan
‘masalah tidak sesulit itu jika dilalui bersama’.

