(Laily Alfath)
“Ketika kita melakukan yang terbaik yang
kita bisa, kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang terjadi dalam kehidupan
kita atau dalam kehidupan orang lain” –Hellen Keler-
Pilihan. Hidup selalu lekat dengan “pilihan”. Baik itu
pilihan-pilihan sederhana maupun merumitkan. Hidup selalu menyuguhkan pilihan
tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak sampai pada orang dewasa. Ya!
Seorang anak-anak yang belum sekolah pun juga dihadapkan pada pilihan-pilihan.
Pilihan antara membeli susu Strawberry atau Cokelat, pilihan dalam membeli
mainan, baju, dan sebagainya. Sementara orang dewasa, dihadapkan pada
pilihan-pilihan yang lebih kompleks tentunya. Karena memang tidak bisa
dipungkiri kalau semakin dewasa usia kita, kita akan semakin sering dihadapkan
pada pilihan-pilihan yang memaksa kita untuk berpikir matang agar bisa bijak
dalam memutuskan. Tak jarang proses dalam membuat keputusan besar itu bisa
berimbas pada mood swing yang kita
alami, karena saking bingungnya dalam mengambil keputusan dengan berbagai
pertimbangan. Bahkan hidup menyuguhkan pilihan tanpa peduli yang kita rasakan. Terkadang
situasi membuat kita mengambil keputusan yang tidak sesuai. Tapi apapun itu
alasannya ketika pilihan sudah kita putuskan, maka menyelesaikan sebaik mungkin
adalah hal yang dilakukan oleh para pejuang. Sementara pecundang akan terus
membuat bualan, mencari alasan untuk membenarkan, dan berjuang yang seolah-olah
sampai pada batas kemampuannya padahal sebenarnya hanya sebatas apa yang dia
inginkan.
Ketika kita udah ngambil pilihan, hal
yang akan kita hadapi selanjutnya adalah proses yang akan selalu diiringi
dengan resiko. Nah ngomongin soal proses nih, pernah nggak kamu ngerasa ada di
batas dimana kamu ngerasa udah nggak kuat dan akhirnya nyerah karena udah usaha
maksimal? Atau pernah nggak kamu ngerasa ada pada jalan yang nggak pingin
berjuang, tapi karena satu atau dua hal kamu berjuang sebatas yang kamu
inginkan terus nyerah karena udah ngerasa maksimal? Atau sebelum berjuang malah
udah kalah dengan menyatakan keterbatasan? Hayoo ngakuuu... Manusia memang
makhluk terbatas, tapi bukan berarti keterbatasan bisa dijadikan alasan untuk
enggan berjuang sampai titik darah penghabisan. Banyak orang yang membuat alibi
tentang prosesnya yang dianggap optimal, tapi akhirnya tak ada hasil bermakna
yang didapatkan. Banyak juga orang yang membuat alibi dengan mengkambinghitamkan
orang lain sebagai penyebab dari kegagalannya. Padahal jika pada suatu proses
kita merangkak, berjalan, berlari, belok ke kanan, maupun belok ke kiri, semua
itu adalah pilihan. Apa yang kita usahakan, itu juga yang akan kita tuai.
Pernah nggak kamu dengar kisah nyata seorang Hellen Keller? Ya! Seseorang yang
buta dan tuli, tapi bisa menjadi seorang penulis, aktivis, konselor, bahkan
dosen di Amerika dan lihai dalam Bahasa Perancis, Jerman, Yunani, dan Latin.
Hellen Keller menyadari kekurangannya, tapi ia tidak membangun tembok-tembok
keterbatasannya dalam berjuang untuk bisa bermakna bagi banyak orang. Hellen
Keller bisa karena ia berjuang optimal dalam prosesnya. Pada suatu proses, kita
hanya butuh kerja keras untuk bisa sampai pada kesuksesan.
Pernah nggak kamu denger konsep titik
mastatho’tum? Jadi, titik mastatho’tum itu adalah titik dimana kita udah usaha
maksimal sampai akhirnya Allah yang nyuruh kita berhenti. Kita berhenti bukan
karena keinginan kita sendiri. Ada kisah seorang ulama besar bernama Syaikh
Abdullah Azzam. Suatu muridnya bertanya tentang makna mastatho’tum. Kemudian
beliau mengajak muridnya menuju lapangan dan meminta mereka berlari
mengililingi lapangan. Beliau juga ikut berlari bersama murid-muridnya. Sampai
pada titik murid-muridnya lelah dan berhenti berlari. Namun sang guru terus
berlari hingga bercucuran peluh keringatnya dan mulai memerah wajahnya.
Murid-muridnya mulai mengkhawatirkan gurunya, namun sang guru tetap berlari
sampai pada akhirnya beliau tidak kuat dan jatuh pingsan. Ketika beliau siuman,
muridnya mulai menanyakan apa yang hendak dijelaskan oleh sang guru. Beliau menyampaikan,
“titik mastatho’tum itu adalah ketika kalian berusaha sekuat kalian sampai
akhirnya Allah yang meminta kalian berhenti, sama halnya dengan pingsanku tadi”.
Jadi bukan mastatho’tum namanya jika kita berhenti mengerjakan tugas dengan
alasan, “ngantuk, besok lagi aja”. Banyak proses yang tidak optimal karena
manusia tidak berjuang sampai pada titik mastatho’tum. Bahkan ada juga yang
terlalu memberi batas rendah pada titik mastatho’tumnya, padahal ia bisa
melampauinya. Diri kita sendirilah yang bisa benar-benar mengukur apakah usaha
kita sudah sampai pada titik mastatho’tum atau belum.
Pada beberapa kesempatan, terkadang kita
melihat banyak ketidakmampuan diri untuk bisa menuntaskan. Tapi semua memang
akan tampak tidak mungkin, dan akan menjadi mungkin setelah kita berhasil
menuntaskannya dengan kerja keras. Bahkan seorang pengusaha dari Amerika, Henry
Ford menyampaikan, “setelah kita melaju dalam hidup, kita mempelajari batas
kemampuan kita”. Tuhan membekali kelebihan dan kekurangan ketika manusia
dilahirkan. Kita tidak akan pernah tau batas kemampuan kita sebelum kita mencoba
dan berproses optimal di dalamnya. Jika ketidakyakinan akan sukses dan
ketakutan akan kegagalan selalu digaungkan di awal langkah, maka itu artinya
kita sudah membatasi kemampuan kita sejak awal. Karena tidak ada pengganti
kerja keras untuk mencapai kesuksesan.

