Senin, 11 Mei 2020

Yakin Udah Maksimal?



(Laily Alfath)



“Ketika kita melakukan yang terbaik yang kita bisa, kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang terjadi dalam kehidupan kita atau dalam kehidupan orang lain” –Hellen Keler-

Pilihan. Hidup selalu lekat dengan “pilihan”. Baik itu pilihan-pilihan sederhana maupun merumitkan. Hidup selalu menyuguhkan pilihan tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak sampai pada orang dewasa. Ya! Seorang anak-anak yang belum sekolah pun juga dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan antara membeli susu Strawberry atau Cokelat, pilihan dalam membeli mainan, baju, dan sebagainya. Sementara orang dewasa, dihadapkan pada pilihan-pilihan yang lebih kompleks tentunya. Karena memang tidak bisa dipungkiri kalau semakin dewasa usia kita, kita akan semakin sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memaksa kita untuk berpikir matang agar bisa bijak dalam memutuskan. Tak jarang proses dalam membuat keputusan besar itu bisa berimbas pada mood swing yang kita alami, karena saking bingungnya dalam mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan. Bahkan hidup menyuguhkan pilihan tanpa peduli yang kita rasakan. Terkadang situasi membuat kita mengambil keputusan yang tidak sesuai. Tapi apapun itu alasannya ketika pilihan sudah kita putuskan, maka menyelesaikan sebaik mungkin adalah hal yang dilakukan oleh para pejuang. Sementara pecundang akan terus membuat bualan, mencari alasan untuk membenarkan, dan berjuang yang seolah-olah sampai pada batas kemampuannya padahal sebenarnya hanya sebatas apa yang dia inginkan.
Ketika kita udah ngambil pilihan, hal yang akan kita hadapi selanjutnya adalah proses yang akan selalu diiringi dengan resiko. Nah ngomongin soal proses nih, pernah nggak kamu ngerasa ada di batas dimana kamu ngerasa udah nggak kuat dan akhirnya nyerah karena udah usaha maksimal? Atau pernah nggak kamu ngerasa ada pada jalan yang nggak pingin berjuang, tapi karena satu atau dua hal kamu berjuang sebatas yang kamu inginkan terus nyerah karena udah ngerasa maksimal? Atau sebelum berjuang malah udah kalah dengan menyatakan keterbatasan? Hayoo ngakuuu... Manusia memang makhluk terbatas, tapi bukan berarti keterbatasan bisa dijadikan alasan untuk enggan berjuang sampai titik darah penghabisan. Banyak orang yang membuat alibi tentang prosesnya yang dianggap optimal, tapi akhirnya tak ada hasil bermakna yang didapatkan. Banyak juga orang yang membuat alibi dengan mengkambinghitamkan orang lain sebagai penyebab dari kegagalannya. Padahal jika pada suatu proses kita merangkak, berjalan, berlari, belok ke kanan, maupun belok ke kiri, semua itu adalah pilihan. Apa yang kita usahakan, itu juga yang akan kita tuai. Pernah nggak kamu dengar kisah nyata seorang Hellen Keller? Ya! Seseorang yang buta dan tuli, tapi bisa menjadi seorang penulis, aktivis, konselor, bahkan dosen di Amerika dan lihai dalam Bahasa Perancis, Jerman, Yunani, dan Latin. Hellen Keller menyadari kekurangannya, tapi ia tidak membangun tembok-tembok keterbatasannya dalam berjuang untuk bisa bermakna bagi banyak orang. Hellen Keller bisa karena ia berjuang optimal dalam prosesnya. Pada suatu proses, kita hanya butuh kerja keras untuk bisa sampai pada kesuksesan.
Pernah nggak kamu denger konsep titik mastatho’tum? Jadi, titik mastatho’tum itu adalah titik dimana kita udah usaha maksimal sampai akhirnya Allah yang nyuruh kita berhenti. Kita berhenti bukan karena keinginan kita sendiri. Ada kisah seorang ulama besar bernama Syaikh Abdullah Azzam. Suatu muridnya bertanya tentang makna mastatho’tum. Kemudian beliau mengajak muridnya menuju lapangan dan meminta mereka berlari mengililingi lapangan. Beliau juga ikut berlari bersama murid-muridnya. Sampai pada titik murid-muridnya lelah dan berhenti berlari. Namun sang guru terus berlari hingga bercucuran peluh keringatnya dan mulai memerah wajahnya. Murid-muridnya mulai mengkhawatirkan gurunya, namun sang guru tetap berlari sampai pada akhirnya beliau tidak kuat dan jatuh pingsan. Ketika beliau siuman, muridnya mulai menanyakan apa yang hendak dijelaskan oleh sang guru. Beliau menyampaikan, “titik mastatho’tum itu adalah ketika kalian berusaha sekuat kalian sampai akhirnya Allah yang meminta kalian berhenti, sama halnya dengan pingsanku tadi”. Jadi bukan mastatho’tum namanya jika kita berhenti mengerjakan tugas dengan alasan, “ngantuk, besok lagi aja”. Banyak proses yang tidak optimal karena manusia tidak berjuang sampai pada titik mastatho’tum. Bahkan ada juga yang terlalu memberi batas rendah pada titik mastatho’tumnya, padahal ia bisa melampauinya. Diri kita sendirilah yang bisa benar-benar mengukur apakah usaha kita sudah sampai pada titik mastatho’tum atau belum.
Pada beberapa kesempatan, terkadang kita melihat banyak ketidakmampuan diri untuk bisa menuntaskan. Tapi semua memang akan tampak tidak mungkin, dan akan menjadi mungkin setelah kita berhasil menuntaskannya dengan kerja keras. Bahkan seorang pengusaha dari Amerika, Henry Ford menyampaikan, “setelah kita melaju dalam hidup, kita mempelajari batas kemampuan kita”. Tuhan membekali kelebihan dan kekurangan ketika manusia dilahirkan. Kita tidak akan pernah tau batas kemampuan kita sebelum kita mencoba dan berproses optimal di dalamnya. Jika ketidakyakinan akan sukses dan ketakutan akan kegagalan selalu digaungkan di awal langkah, maka itu artinya kita sudah membatasi kemampuan kita sejak awal. Karena tidak ada pengganti kerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Senin, 04 Mei 2020

Harapan atau Tuntutan Belaka


(Dyah Santoso)


Manusia dapat bertahan hidup 40 hari tanpa makan, 
sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, 
tapi bisa mati hanya 1 detik tanpa harapan. 
~Hal Lindsey

Sewaktu kecil ada yang pernah memaksakan diri makan sayuran yang tidak disukai, sebagai imbalannya orang tua memberikan barang atau mainan yang diinginkan. Kemudian ketika remaja, ada yang pernah menahan keinginan jalan-jalan supaya bisa menabung, hasilnya untuk tambahan beli gawai baru. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak tindakan yang dipaksakan dan ego yang ditekan. Mengapa demikian? Karena ada harapan. Seorang petarung tak akan giat berlatih tanpa ada harapan menang. Seorang pekerja tak akan giat bekerja tanpa harapan sukses. Pun seorang pemimpi tak akan bangun dari tidurnya tanpa harapan.

Merujuk pada ucapan Hal Lindsey, benarkah manusia tak bisa bertahan hidup tanpa harapan?. Sejatinya hidup bukan hanya perkara lahiriyah, namun juga bathiniyah. Bukan hanya perkara bernapas, bergerak atau berkembang biak, namun bagaimana menghargai setiap tarikan dan hembusan napas yang tersisa, bagaimana menciptakan pergerakan yang bermakna, dan bagaimana melahirkan keturunan yang digdaya akan muslihat semesta. Hidup begitu kompleks untuk dipahami secara komprehensif. Manusia mungkin bisa tetap hidup tanpa harapan, tapi dia tak punya kehidupan.

Harapan adalah memantik api kehidupan. Selayaknya api, hidup tak akan menyala tanpa harapan dan tak akan membara tanpa semangat. Jika kita tak punya harapan, kita tak akan tergerak melakukan atau mencapai sesuatu. Ketika harapan sudah tak ditemukan di jiwa seseorang, sangat mungkin orang itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin ini maksud dari pernyataan Hal Lindsey. Tak heran jika ada istilah mayat hidup. Gabungan kata yang kontradiktif, disebut hidup karena masih memiliki ciri makhluk hidup, tapi tak ada aktivitas kehidupan yang dilakukan. 

Sejauh ini, benarkan yang menggerakkan kita adalah harapan? Apakah kita benar-benar giat belajar agar pintar? Bukan karena khawatir dianggap bodoh oleh masyarakat karena tak lulus sekolah? Apakah kita benar-benar beribadah untuk mencari ridho-Nya? Bukan karena takut Dia murka dan memasukkan kita ke neraka? Jangan-jangan selama ini kita menjalani kehidupan bukan karena harapan yang sesungguhnya, melainkan karena tuntutan belaka. Melakukan A karena tak mau dianggap B, melakukan C karena tak mampu melakukan D, atau bahkan melakukan harapan tetangga?.

Apapun alasan kita bergerak, entah karena dorongan hati nurani, himpitan ekonomi, atau keinginan orang yang disayangi, sama saja. Kita sedang menorehkan cat pada kanvas kehidupan. Walaupun tidak semua lukisan diapresiasi baik, setidaknya kita menjadikan kanvas yang semula hampa menjadi lebih menarik. Kanvas yang tadinya kosong, menjadi lebih berwarna. Selayaknya hidup yang lebih bermakna. Apapun alasan kita bergerak, harapan itu harus ada. Manusia hanya sebatas menanam asa, memupuknya dengan doa serta menyiraminya dengan usaha. Hasilnya kita serahkan pada yang maha kuasa. Biarkan pupuk dan air siraman itu bekerja.