Sabtu, 16 Oktober 2021

Amah

Oleh : Laily Alfath

 


"Jadilah pelayan Tuhan dengan sepenuh hati. Maka hadiah dari Tuhan akan datang tanpa henti. -Laily- Alfath-


      Sehebat apapun manusia, ada kalanya dia mempertanyakan pada dirinya sendiri lewat jouska. Berkontemplasi terkait : Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah jalan yang ditempuh sudah benar? Ke depannya mau gimana? Dan banyak pertanyaan random lain yang berkelebatan. Pernah atau sering nih kaya gitu? Hehehe... Kalau kamu pernah, nggak apa-apa itu normal kok. Bahkan menurutku semua manusia pernah mengalami jouska dengan topik mempertanyakan kapasitas dirinya. Apalagi setelah tersulut konten sosial media tentang pencapaian orang-orang yang ada di kontak WhatsApp atau following instagramnya 😂.

      Hidup ini laksana panggung parodi. Betapa hampir semua orang sibuk membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaiannya. Mungkin awalnya sebatas lihat untuk cambuk bertumbuh. Eh ternyata tanpa sadar perlahan menghakimi diri karena tidak bisa berdiri di titik yang orang lain capai. Padahal badai yang dilalui berbeda, peta yang dibawa berbeda, arah yang diambil berbeda, dan pulau yang hendak dituju juga berbeda. Lantas apa alasan menyamakannya? Setidak adil itukah kita pada sosok yang selalu menjadi support system terbaik pada kondisi apapun? Sosok yang berjuang sejauh ini melewati banyak badai, bangkit lagi setiap kali jatuh, memeluk diri sendiri tatkala dunia menutup mata dan telinga. Kita boleh terinspirasi dari jejak orang lain, tapi skenario yang mereka dapatkan dari Tuhan belum tentu sama dengan skenario yang bakalan Tuhan kasih ke kita.

      Setiap kita berharga dan layak bahagia sebagaimana orang di luar sana. Tapi bahagia versi Tuhan untuk mereka, belum tentu sama dengan versi Tuhan yang bakalan dikasih ke kita. Bahagia tidak selalu dikemas senyum merekah dari fajar hingga lahirnya malam. Bahkan bahagia bisa dikemas dengan air mata haru tanpa bisa berkata-kata. Bahagia bukan selalu tentang siapa yang tersenyum lebih awal atau lebih lama. Karena orang yang terluka hatinya juga bisa berpura-pura tersenyum ceria lebih lama untuk terlihat bahagia. Tapi bahagia adalah tentang pemaknaan amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sudahkah kita amanah dalam menjalankan tugas yang diberikan-Nya? Iya amanah dari Tuhan. Kamu nggak lagi salah baca kok. Maksud aku gini : kamu ditakdirkan untuk bertumbuh menjadi sosok anak dalam keluargamu, kamu ditakdirkan bekerja di salah satu instansi, kamu ditakdirkan bertumbuh di lingkunganmu sekarang, dan segala aspek kehidupanmu itu adalah bentuk "amanah" yang Tuhan titipkan hanya ke kamu. Karena Tuhan memilihmu, bukan orang lain. Sudahkah menunaikannya dengan sepenuh hati? Atau justru pingin komplain sama Tuhan karena ngerasa Tuhan nggak adil? Atau kita yang nggak kuat?

      Manusia itu berbatas, saking berbatasnya seringnya keburu menghakimi situasi yang barusan ia alami. Padahal bisa saja Tuhan menyelipkan hadiah besar dengan syarat kita harus mencecap duka di awal cerita. Tatkala manusia tengah dirundung duka, seringnya yang muncul adalah nasihat "sabar ya". Bagi beberapa orang nasihat "sabar ya" terdengar klise, tak berguna, tidak menyelesaikan masalah. Padahal bisa jadi dengan "sabar" Tuhan akan menggantinya dengan hadiah yang lebih mewah untuk kita. Who knows? Toh juga merutuki keadaan tidak akan bisa mengubah takdir. Hanya menghabiskan energi dan waktu yang nggak bisa diambil lagi kalau habis. 

      Ketika kehidupan kita tidak berubah, bukan berarti merutuki keadaan menjadi diwajarkan. Semua bergantung pada "bagaimana kita mempersepsi" segala takdir yang Tuhan berikan. Seseorang yang hidup dengan serba berkekurangan tapi syukurnya terhadap berkah sehat melangit ke angkasa, akan tetap bisa mencecap makna "bahagia". Orang yang bergelimang harta namun masih rakus menginginkan banyak hal tanpa mau berbagi, akan mengecap perasaan "was-was", merasa khawatir tersaingi oleh lainnya.

      Pada takdir yang tengah kamu jalani saat ini, sudahkah mengoptimalkan pesan Tuhan untuk bertumbuh dan bekal kembali? Kecewa itu wajar, tapi solusi butuh aksi. Manusia adalah pelayan Tuhan. Hiduplah berbekal apa yang Tuhan suka dan tidak suka, bukan berbekal apa yang kamu suka dan tidak suka. Selayaknya pelayan, tahu diri dalam mengemban tugas adalah bekal utama. Tapi tenang, Tuhan tidak sekejam jaman kerja romusha yang menewaskan dan menyengsarakan banyak orang. Karena setiap yang kita lakukan demi kebaikan di jalan Tuhan, bakalan diganjar berlipat lipat oleh Tuhan. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Eitssss tapi begitu pula sebaliknya.