(Dyah Santoso)
Sebelumnya Titip Rindu (1)
Jika rasa ini dapat dititipkan,
biarkan angin membawanya berkelana tanpa muara. Biarkan ombak menghempasnya
hingga hancur. Biarkan sang surya membakarnya hingga lebur. Namun rindu ini
telah mengakar, tumbuh semakin kuat terpupuk seulas senyum simpulnya. Irwan,
laki-laki yang disukai Ratna sejak di bangku kuliah telah kembali dari Bandung.
Kepulangan Irwan justru membuat hatinya semakin terluka. Pasalnya, putri bosnya
itu semakin sering mengunjunginya di kantor. Ratna berusaha biasa, namun
kenyataan dan rumor yang beredar tak sanggup lagi dia tampikan.
Mentari begitu terik, seolah mampu memanggang
apa saja yang terkena radiasinya. Ratna menggerutu dan berulang kali melirik
jam tangannya, ojek online yang dipesannya tak kunjung datang. Ujung heelsnya terus mengetuk-ngetuk
trotoar dengan gusar. Satu jam lagi dia harus bertemu klien.
Desain yang dibuatnya berhari-hari bisa tak ada harganya jika terlambat.
Sebuah motor berhenti di depan
Ratna. Si pengendara membuka kaca helmnya, menampakkan wajah yang Ratna kenali.
“Mau kemana siang-siang begini?”
tanya Irwan.
“Ketemu klien” Jawab Ratna
singkat.
“Di mana?” Irwan bertanya
kembali.
“Cempaka Residence” Ratna mengira Irwan akan memberinya tumpangan, tapi dugaannya keliru. Irwan hanya mengeluarkan ponsel di sakunya dan mengetik sesuatu.
Ratna
tak mau terlalu berharap, dia mengalihkan pandangannya dari Irwan. Dari kejauhan tampak
taksi melaju ke arahnya. Ratna memberikan tanda. Ratna kecewa mendapati ada penumpang
di dalamnya. Tapi taksi itu mundur kembali, berhenti tak jauh dari posisinya
berdiri. Kaca mobilnya terbuka.
“Butuh
tumpangan?” tanya penumpang taksi sedikit mengeluarkan kepalanya.
“Mas
Adhi?” kata Ratna setelah mengenalinya.
“Butuh
tumpangan?” Mas Adhi mengulang pertanyaannya.
“Eh? Emang Mas Adhi nggak lagi
buru-buru?”
“Udah, ayo! Kasihan tuh udah ditunggu” Mas Adhi menunjuk drafting tube di punggung Ratna.
Tanpa
pikir panjang Ratna menerima tawaran itu.
“Aku
duluan ya!” Ratna melambaikan tangan kepada Irwan.
***
Pagi
ini Ratna merasa sangat bahagia. Desainnya disukai klien. Meski itu berarti dia
akan sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi itulah pekerjaannya. Dia membawa dua
kotak muffin
brownies. Satu kotak besar untuk rekan kantornya dan satu
kotak kecil untuk Mas Adhi. Ratna tak tahu apa jadinya jika
kemarin Mas Adhi tak memberinya tumpangan.
Pintu
lift yang Ratna naiki hampir saja merapat, namun terbuka kembali. Seseorang
masuk ke dalam.
“Pagi”
sapanya.
Ratna
hanya membalas dengan senyuman. Memorinya masih merekam jelas kejadian kemarin
siang.
“Eits, tunggu” pintu
lift terbuka kembali. Seorang gadis berseragam SMA masuk.
Ratna menghela napas. ‘Mengapa
harus bertemu dengan dua orang ini? Mengacaukan suasana hati saja’ pikir Ratna.
“Oh iya, makasih Mas. Hadiahnya lucu, Rania suka” Rania mengeluarkan liontin dari kerah
seragam sekolahnya.
Ratna
melihatnya sekilas, liontin dengan huruf ‘R’.
Irwan
melirik Ratna, Ratna cepat-cepat mengalihkan pandangan.
‘Ting’. Mereka telah sampai di lantai lima. Pintu
lift terbuka. Ratna ingin segera keluar dari situasi ini. “Mari, duluan
ya!” Ratna mempercepat langkahnya meninggalkan mereka berdua.
‘Huft’.
Sampai kapan Ratna akan lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa Irwan tak pernah
melihatnya. Kenyataan bahwa hanya ada Rania. Kenyataan bahwa mereka.... Ratna
tercekat. Matanya
memanas. Ratna mengatur napasnya. Menata ulang kepingan hatinya
yang tersisa. Dia melangkahkan kaki ke dalam ruang kerjanya.
“Pagi
semuanya” sapanya kepada semua rekan kerjanya dengan senyum yang sedikit
dipaksakan.
“Wah
wah, ada yang mau traktiran nih” Ari berdiri dari mejanya.
“Makan
malam di mana ya nanti?” sahut Karin.
“Nggak ada
makan malam. Sekarang sarapan aja dulu” Ratna mengangkat kotak di tangannya.
“Eh” Ratna terkejut. Seseorang dari belakang menyambar kotaknya.
“Lumayanlah,
daripada nggak dapat apa-apa” rekan-rekannya mendekat ke Irwan, lebih tepatnya
ke kotak makan yang baru saja direbut dari tangan Ratna.
“Eh,
jangan yang itu!” Ratna menunjuk kotak kecil yang akan dibuka Irwan.
“Kenapa?”
“Itu
buat Mas Adhi” jawab Ratna lirih.
Ratna
mengambil kotak dari Irwan dan meletakkannya di kubikel miliknya.
“Selamat makan!” kata Ratna sebelum berlalu meninggalkan rekan-rekannya.
Entah
apa yang membuatnya ingin keluar dari ruangan itu. Yang jelas untuk saat ini
dia enggan melihat Irwan ataupun Rania.
“Ratna
tunggu!”
‘Oh
Tuhan. Apa lagi ini’. Ratna berbalik menghadap sumber suara.
“Iya?”.
“Emm,
soal kemarin siang. Aku bukannya nggak mau ngasih tumpangan, tapi....”
“Santai
aja! Aku nggak masalah. Lagian kemarin udah ada Mas Adhi” Ratna tak ingin
mendengarkan penjelasan yang nantinya akan membuatnya semakin sakit.
“Soal Mas Adhi, apa kalian punya hubungan?”
“Hmm?”
“Apa
kalian pacaran atau semacamnya?”
“Hah?”
Ratna
benar-benar tak habis pikir dengan Irwan. Peduli apa dia dengannya? Selama ini juga
Ratna tak pernah mempertanyakan hubungan Irwan dengan
siapapun.
“Cuma nanya aja, soalnya
kalian kelihatan akrab. Kalau itu privasi, nggak perlu dijawab” Irwan menahan diri
meski sebenarnya penasaran.
“Oiya, hadiah kemarin udah dibuka?” Irwan
mengalihkan topik pembicaraan karena melihat raut muka Rania tak nyaman dengan
pertanyaannya tadi.
“Ya ampun, hadiah itu” Ratna menggaruk kepalanya yang
tidak gatal “Sebelumnya makasih banget ya, tapi maaf aku kelupaan, jadi belum
sempet buka. Sorry banget ya” Ratna benar-benar tidak enak dengan Irwan.
“Oke, nggak masalah. Aku harap kamu suka”
“Ternyata Mas Irwan di sini
sama mbak Ratna” Rania muncul dari arah ruangan Bos.
Rania menghampiri Irwan dan membisikkan sesuatu.
“Mas, Papa minta kita buat test food”
“Mas mana ngerti soal makanan. Buat Mas makanan itu
cuma ada enak sama enak banget. Standar rasa Mas buruk”
“Ih, parah banget. Ya udah anterin aku aja”
Karena jarak mereka yang cukup dekat, Ratna bisa
mendengar pembicaaran mereka dengan pikiran penuh pertanyaan. Test food
untuk acara apa?
Ratna berdehem, merasa tak nyaman mendengarkan obrolan
mereka.
“Mbak Ratna tolong rahasiain ini dulu ya sampai
undangannya tersebar” Rania meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.
Deg. Kalimat Rania benar-benar menghantam tajam ulu
hatinya.
“Oke” Ratna memberi isyarat dengan telunjuk dan ibu
jarinya. “Semoga acaranya lancar”
Ratna berusaha memasang senyum termanisnya, meninggalkan
mereka berdua yang masih asyik ngobrol.
***
Ratna teringat oleh-oleh dari Irwan yang belum sempat dia buka tiga hari
lalu. Dia menarik laci meja riasnya, mengambil tas ungu itu. ‘Teruntuk
perempuan termanis yang pernah ku kenal’ itu yang tertera di kartu
ucapannya. Ratna tersenyum kecut.
Ratna menarik napas panjang, membuka tas itu dan
melihat isinya. ‘Bolero batik’ batinnya. Ratna mendengus kesal mengingat liontin berbentuk huruf
R yang diberikan Irwan ke Rania.
‘Cukup Ratna, lupakan! Kamu berhak bahagia’ Ratna menyemangati dirinya.
Bip. Pesan masuk pada ponselnya.
‘Jadikan kita nonton sore ini?’
’Jadi dong, Mas Adhi’ Ratna menekan tombol kirim pada layar HPnya sebelum merapikan meja dan
bersiap-siap mandi.
Bersambung.
Berikutnya Titip Rindu 3.
