Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2022

Bahagia Ada KPI-nya?


(Laily Alfath)



"Jika bahagia harus sama, maka semesta hanyalah panggung monoton tanpa makna." -Laily Alfath-


Apakah Tuhan telah mengetuk palu KPI bahagia untuk semua hamba-Nya? Beberapa hari terakhir, "pemaknaan bahagia" menjadi topik yang sering kami obrolkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Perspektif mengenai makna bahagia bagi masing-masing orang sangat beragam. Ada yang bahagia ketika berhasil mencapai yang diinginkan. Ada yang bahagia ketika bisa mencukupi kebutuhannya sehingga layak untuk sejajar dengan lainnya. Ada yang bahagia ketika bisa membuat orang lain bahagia. Ada yang bahagia dengan mendapatkan hal yang tidak semua orang mampu mendapatkannya. Ada beragam rumus yang manusia ramu dalam mendefinisikan makna bahagia dalam hidup mereka. Menurut kamu, apa definisi bahagia? Apakah definisi bahagia adalah seputar alunan tawa renyah yang tak kunjung reda? Apakah definisi bahagia adalah senyum yang tak pernah pudar? Apakah definisi bahagia adalah tentang mata yang berbinar? Apakah bahagia adalah ketika hati bisa sampai pada titik perasaan puas? Atau tentang hati yang merasakan hangat dan terbit rasa damai? Pernah nggak kamu nanya sama diri kamu sendiri saat "me time" tentang, "sebenernya apa sih yang bisa buat aku bahagia? apa kehidupanku saat ini sudah cukup bahagia? apa yang bisa aku lakuin biar aku bisa bahagia?". 

Malam menjelang pergantian usiaku (dua pekan yang lalu), coach-ku melempar pertanyaan kepada kami, "hal apa yang bisa membuat kamu bahagia?". Pertanyaan sederhana yang membuat kami terdiam  beberapa detik untuk bertanya pada sang hati kecil. Temanku menyeletuk, "bahagia itu di saat aku bisa mengaktualisasikan diri, dan menjadi diriku sendiri". Coach menimpalinya dengan pertanyaan, "apakah jalan yang sudah kamu pilih saat ini adalah keputusan karena kebahagiaanmu atau karena keterbatasanmu?". Pertanyaan itu menampar kami semua dan membuat kami tertegun.

Tiba giliranku menjawab pertanyaan coach tentang makna bahagia. "Menurutku bahagiaku adalah ketika ada orang yang dengan kondisi sedang tidak baik-baik saja datang menghampiriku, kami mengobrol, dan setelah obrolan itu berakhir, sorot matanya mulai ada secerca harapan untuk lebih semangat dalam melanjutkan hidupnya", jawabku. "Kalau kamu punya kesempatan ngobrol sama diri kamu sendiri, nasihat apa yang bakalan kamu kasih ke diri kamu untuk bisa merasakan bahagia?", tanya coach kepadaku. Aku terdiam, mencoba mencari jawaban untuk bisa kusampaikan.

Coach meminta temanku lainnya menjawab makna bahagia menurut perspektif masing-masing. Temanku yang lain menjawab, "bahagia itu ketika kita ngerasa cukup. Ketika kita kekurangan, pasti ada keterbatasan untuk mencapai cukup. Tapi ketika kita sedang berlebih, tabiatnya manusia ngerasa was-was, kurang, dan terus mau nyoba lagi. Proses menyelaraskan sampai di titik ngerasa cukup itu yang susah, karena seringnya semakin dikejar semakin nggak akan ngerasa cukup". Jawabannya membuat semua mata kami kosong, seketika logika kami dihentak. Jawaban itu membuat nalar kami seketika melakukan instropeksi. Benakku dalam hati, "apakah selama ini aku terlalu serakah sehingga kurang bisa memaknai kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana?". Kalau kamu gimana? Apa hal mendasar yang bisa buat kamu bahagia?

Kemarin aku sempat nonton salah satu video YouTube yang narasumbernya (Dedy Vansophi alias Romo) bilang, "menjadi bahagia itu SOP-nya sangat sederhana, menjadi orang baik juga nggak perlu ngelakuin kebaikan-kebaikan yang luar biasa, cukup hal-hal sederhana aja". Statement ini selaras dengan salah satu wejangan Aristoteles (salah satu tokoh filsuf terkenal Yunani), "happiness depends on ourselves (kebahagiaan ditentukan oleh diri kita sendiri)". Rentetan perespektif mengenai makna bahagia itu membuatku tertegun, kembali menyelami pikiranku sendiri. Aku mencoba merangkai ulang makna bahagia yang bisa terasa lebih ringan untuk kuimani agar lebih ringan dalam mendefinisikan makna bahagia pada setiap hal yang aku temui ke depannya.

Seketika ingatan membawaku ke salah satu teori William Irvine yang dibahas dalam Buku Filosofi Teras mengenai "dichotomy of control" yang pernah kubaca. Pada kehidupan ini ada hal-hal yang ada di dalam kontrol (kendali) kita, dan ada hal-hal yang di luar kontrol. Jika kebahagiaan kita gantungkan pada hal-hal di luar kontrol, maka kita tidak akan menemukan makna bahagia yang sesungguhnya. Karena kita menggantungkan kebahagiaan pada hal yang tidak bisa kita kendalikan (bergantung pada orang lain). Ternyata selama ini perspektif definisi bahagiaku butuh diralat. Awalnya aku mendefinisikan bahwa bahagiaku adalah ketika aku bisa membuat orang yang hopeless jadi bisa berbinar matanya dan bersemangat menjalani hari berikutnya, hanya karena setelah kami ngobrol. Padahal tanggungjawab perasaan seseorang adalah urusan masing-masing orang yang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Kita mungkin bisa mengupayakan yang terbaik untuk bisa memberikan support pada orang lain, tapi kita sama sekali nggak punya kuasa atas perubahaan perasaan orang lain maupun aksi apapun yang akan dilakukan orang lain. Karena kita hanya menyumbangkan perspektif, bukan mengendalikan nalar dan perasaan orang lain.

Begitu pula dengan sikap orang lain terhadap kita, perasaan orang lain terhadap kita, perspektif orang lain terhadap kita, dan semua hal yang ada di luar tubuh kita adalah hal-hal absolut di luar kendali. Bukankah waktu kita di duna terbatas? Jika perumusan bahagia harus diambil dari hal-hal di luar kendali, lantas kapan kita bisa menyicip bahagia di tengah keterbatasan waktu yang kita miliki? Ada bahagia yang lebih ringan untuk didapatkan dan lebih dalam untuk dirasakan : "hal-hal yang bisa kamu upayakan tanpa mengharap balasan selain dari Tuhan". Banyak orang kecewa terhadap orang lain karena orang lain tidak mampu bersikap sesuai harapannya. Padahal tidak ada orang di dunia ini yang berkewajiban untuk membahagiakannya. Karena setiap kebahagiaan menjadi tanggungjawab masing-masing orang. Jika perspektif kita masih tanpa sadar menuntut orang lain membalas baik atas hal (yang menurut kita baik) yang telah kita berikan, jangan-jangan kebaikan yang kita  berikan itu sejatinya bukan kebaikan. Namun sebatas media pemuas nafsu, hanya untuk dipandang baik, dan mendapat balikan perhatian.

Berdasarkan Teori Hierarki Kebutuhan (Abraham Maslow) maupun Teori Realita (William Glasser), mendapatkan kasih sayang atau penerimaan dari sekitar memang menjadi salah satu kebutuhan manusia. Namun pilihlah dengan jalan dan lingkungan yang tepat. Karena hanya dengan bersama orang-orang yang tepatlah, kita akan mampu bertumbuh secara lebih damai dalam menjalani kehidupan. Bahkan sebaik apapun orang-orang di lingkungan sekitar kita, semestinya hal itu bukan menjadi satu-satunya KPI kebahagiaan kita. Karena setiap manusia akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada kalanya akan habis waktunya mereka membersamai langkah kita. Lantas jika hal itu terjadi, bukankah hidup kita akan seketika hancur jika satu-satunya KPI kebahagiaan kita adalah orang lain? Kalau kata Romo, "orang sekarang itu menjadi sulit bahagia karena KPI-nya terlalu panjang. Mereka memasukkan standard orang lain dalam perumusan SOP-nya". Sekarang coba kita refleksi ke diri kita masing-masing, "apakah porsi kebahagiaan kita masih banyak kita gantungkan pada orang lain?".

Sang jagat memang tak selamanya baik-baik saja. Adakalanya ia memihak, ada kalanya berseberangan. Ada kalanya secerah mentari pagi, ada kalanya badai petir silih berganti. Seburuk dan seberat apapun hari yang tengah kita hadapi, setiap pagi akan bertemu malam, setiap badai akan berganti reda, dan setiap tangis kelak akan berjumpa dengan tawa. It's okay to not be okay! Tapi hidup harus terus berjalan, sebagaimana mentari akan tetap terbit dan tenggelam tanpa pernah bertanya "apa kabarmu hari ini?". Tuhan senantiasa siap memelukmu kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kondisimu. Karena ia adalah rumah tempat terbaik untuk pulang mengadukan seberapa lelahnya menghadapi semesta dengan segala isinya.

Jumat, 05 November 2021

Harmoni


(Dyah Santoso)



"Akar jati bisa bernilai tinggi sekalipun tak muncul di permukaan.

Daun jati juga tetap rendah hati, tak segan gugur ketika diperlukan"

~Dyah Santoso


Dulu ketika sekolah atau kuliah pernah nggak kepikiran “kok ada ya anak yang rela bolos pelajaran demi ikut organisasi?”. Atau sebaliknya “ada ya anak yang jadi singa di kelas, tapi pas keluar kelas taringnya hilang?”. Ketika di tempat kerja pun demikian, kita mendapati berbagai karakter yang terkesan bertolak belakang. Ada yang lebih suka bekerja tanpa banyak aturan karena merasa bisa mengeksplor kemampuannya. Ada yang justru kebingungan ketika diberi pekerjaan tanpa aturan khusus karena merasa tidak ada yang bisa jadi acuan. Kalau diperhatikan karakter orang-orang tersebut memang terlihat bertolak belakang, tapi keduanya justru saling melengkapi.

Ada banyak hal yang tidak sama di dunia ini, tapi tetap bisa berjalan beriringan. Kita butuh orang yang punya loyalitas tinggi dengan organisasinya, sebab organisasi itu harus tetap hidup dan perannya masih dibutuhkan anggotanya. Kita juga butuh orang yang rajin masuk kelas selagi sebagian teman berorganisasi, karena guru atau dosen patut dihargai dedikasinya. Beberapa jenis pekerjaan butuh orang yang kreatif, tanpa banyak arahan. Tapi di beberapa pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, perlu orang-orang yang bisa beradaptasi dengan banyak tuntutan profesionalitas. Masing-masing karakter manusia punya peran, meski terkadang tampak kontras namun saling menjaga keseimbangan.

Dunia ini dihuni oleh berbagai macam rupa, karakter, latar belakang, maupun pola pikir. Keberagaman itu yang membuat kita berkembang. Kita jadi tahu bahwa ada lebih dari satu cara berjalan, melihat, dan bertumbuh. Cara kita tidak selalu yang paling tepat. Satu cara yang berhasil pada kita, belum tentu berhasil pula pada orang lain, pun sebaliknya. Keberagaman itu membuat kita terkoneksi satu sama lain, saling mengisi, dan melengkapi potongan puzzle yang hilang. Kita punya kekurangan dan prioritas yang membuat kita tidak bisa melakukan banyak hal secara bersamaan. Kita butuh orang lain, dan oleh karenanya setiap orang memiliki peran.

Ibarat sebuah pohon, setiap bagian memiliki peran masing-masing. Jika kita melihatnya lebih luas, tidak ada satu bagian yang lebih unggul atau lebih rendah perannya dari yang lain. Akar yang tidak tampak di permukaan, justru adalah penyokong pohon hingga mampu berdiri kokoh. Bahkan daun yang sudah gugurpun bisa menjadi kompos untuk pohon itu sendiri. Kita hanya berbeda tanggung jawab, tapi sama-sama berperan. Yang di atas bukan berarti lebih tinggi, pun sebaliknya. Pada tingkatan orang-orang yang mampu menerapkan hal ini pada dirinya, maka orang-semacam ini tidak mudah terbang ketika disanjung dan tidak patah ketika jatuh.

Sedikit atau banyak, peran kita berdampak untuk orang lain dan sekitar. Jangan dikira bungkus permen yang kita buang sembarangan tidak dapat memicu banjir. Bungkus permen tadi bisa jadi "provokator" bagi orang lain untuk ikut membuang sampah sembarangan. Jika ada sedekah jariyah, bukan tidak mungkin ada dosa jariyah kan? Layaknya sebuah film, ada protagonis dan antagonis. Seorang protagonis bukan yang selalu benar tanpa celah, dia juga bisa salah. Hanya saja dia punya lebih banyak scene cerita baik. Seorang antagonis juga bukan yang selalu salah, dia bisa punya sisi kebajikan sekalipun tidak sebanyak protagonis. 

Tulisan ini bukan mengajak kita untuk menilai baik buruknya seseorang, melainkan sebagai reminder untuk diri sendiri (khususnya) dan para pembaca (pada umumnya). Jika saat ini posisi kita sedang di bawah, semoga itu tidak menjadikan kita lemah dan rendah. Kita bisa meyakinkan diri bahwa kita punya peran sekalipun tidak terlihat. Posisi kita yang di bawah juga bukan alasan untuk merasa pantas dikasihani dan dimaklumi. Kita punya kesempatan yang sama seperti mereka selagi ada kemauan untuk tumbuh. Dan jika saat ini posisi kita sedang di atas, semoga itu tidak menjadikan kita sombong dan lalai. Kita tidak mungkin berada di atas kalau tidak ada yang menyokong dari bawah atau menarik dari atas. Artinya posisi kita saat ini juga ada andil dari orang lain. Kita tidak mudah melabeli buruk seseorang hanya karena kita di sisi yang lebih baik. Kita tahu bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi baik maupun menjadi buruk. Ini hanya pengingat untuk menggunakan kacamata yang tepat dalam melihat. Kapan kita menggunakan kacamata "cembung" dan kapan kita menggunakan kacamata "cekung".





Sabtu, 16 Oktober 2021

Amah

Oleh : Laily Alfath

 


"Jadilah pelayan Tuhan dengan sepenuh hati. Maka hadiah dari Tuhan akan datang tanpa henti. -Laily- Alfath-


      Sehebat apapun manusia, ada kalanya dia mempertanyakan pada dirinya sendiri lewat jouska. Berkontemplasi terkait : Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah jalan yang ditempuh sudah benar? Ke depannya mau gimana? Dan banyak pertanyaan random lain yang berkelebatan. Pernah atau sering nih kaya gitu? Hehehe... Kalau kamu pernah, nggak apa-apa itu normal kok. Bahkan menurutku semua manusia pernah mengalami jouska dengan topik mempertanyakan kapasitas dirinya. Apalagi setelah tersulut konten sosial media tentang pencapaian orang-orang yang ada di kontak WhatsApp atau following instagramnya 😂.

      Hidup ini laksana panggung parodi. Betapa hampir semua orang sibuk membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaiannya. Mungkin awalnya sebatas lihat untuk cambuk bertumbuh. Eh ternyata tanpa sadar perlahan menghakimi diri karena tidak bisa berdiri di titik yang orang lain capai. Padahal badai yang dilalui berbeda, peta yang dibawa berbeda, arah yang diambil berbeda, dan pulau yang hendak dituju juga berbeda. Lantas apa alasan menyamakannya? Setidak adil itukah kita pada sosok yang selalu menjadi support system terbaik pada kondisi apapun? Sosok yang berjuang sejauh ini melewati banyak badai, bangkit lagi setiap kali jatuh, memeluk diri sendiri tatkala dunia menutup mata dan telinga. Kita boleh terinspirasi dari jejak orang lain, tapi skenario yang mereka dapatkan dari Tuhan belum tentu sama dengan skenario yang bakalan Tuhan kasih ke kita.

      Setiap kita berharga dan layak bahagia sebagaimana orang di luar sana. Tapi bahagia versi Tuhan untuk mereka, belum tentu sama dengan versi Tuhan yang bakalan dikasih ke kita. Bahagia tidak selalu dikemas senyum merekah dari fajar hingga lahirnya malam. Bahkan bahagia bisa dikemas dengan air mata haru tanpa bisa berkata-kata. Bahagia bukan selalu tentang siapa yang tersenyum lebih awal atau lebih lama. Karena orang yang terluka hatinya juga bisa berpura-pura tersenyum ceria lebih lama untuk terlihat bahagia. Tapi bahagia adalah tentang pemaknaan amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sudahkah kita amanah dalam menjalankan tugas yang diberikan-Nya? Iya amanah dari Tuhan. Kamu nggak lagi salah baca kok. Maksud aku gini : kamu ditakdirkan untuk bertumbuh menjadi sosok anak dalam keluargamu, kamu ditakdirkan bekerja di salah satu instansi, kamu ditakdirkan bertumbuh di lingkunganmu sekarang, dan segala aspek kehidupanmu itu adalah bentuk "amanah" yang Tuhan titipkan hanya ke kamu. Karena Tuhan memilihmu, bukan orang lain. Sudahkah menunaikannya dengan sepenuh hati? Atau justru pingin komplain sama Tuhan karena ngerasa Tuhan nggak adil? Atau kita yang nggak kuat?

      Manusia itu berbatas, saking berbatasnya seringnya keburu menghakimi situasi yang barusan ia alami. Padahal bisa saja Tuhan menyelipkan hadiah besar dengan syarat kita harus mencecap duka di awal cerita. Tatkala manusia tengah dirundung duka, seringnya yang muncul adalah nasihat "sabar ya". Bagi beberapa orang nasihat "sabar ya" terdengar klise, tak berguna, tidak menyelesaikan masalah. Padahal bisa jadi dengan "sabar" Tuhan akan menggantinya dengan hadiah yang lebih mewah untuk kita. Who knows? Toh juga merutuki keadaan tidak akan bisa mengubah takdir. Hanya menghabiskan energi dan waktu yang nggak bisa diambil lagi kalau habis. 

      Ketika kehidupan kita tidak berubah, bukan berarti merutuki keadaan menjadi diwajarkan. Semua bergantung pada "bagaimana kita mempersepsi" segala takdir yang Tuhan berikan. Seseorang yang hidup dengan serba berkekurangan tapi syukurnya terhadap berkah sehat melangit ke angkasa, akan tetap bisa mencecap makna "bahagia". Orang yang bergelimang harta namun masih rakus menginginkan banyak hal tanpa mau berbagi, akan mengecap perasaan "was-was", merasa khawatir tersaingi oleh lainnya.

      Pada takdir yang tengah kamu jalani saat ini, sudahkah mengoptimalkan pesan Tuhan untuk bertumbuh dan bekal kembali? Kecewa itu wajar, tapi solusi butuh aksi. Manusia adalah pelayan Tuhan. Hiduplah berbekal apa yang Tuhan suka dan tidak suka, bukan berbekal apa yang kamu suka dan tidak suka. Selayaknya pelayan, tahu diri dalam mengemban tugas adalah bekal utama. Tapi tenang, Tuhan tidak sekejam jaman kerja romusha yang menewaskan dan menyengsarakan banyak orang. Karena setiap yang kita lakukan demi kebaikan di jalan Tuhan, bakalan diganjar berlipat lipat oleh Tuhan. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Eitssss tapi begitu pula sebaliknya.


Minggu, 19 September 2021

Ragam

Oleh : Laily Alfath



"Dunia akan selalu menyuguhkan ketidakjelasan. Tugasmu bukan memperjelas, tapi belajar bijak dalam memaknai semesta dengan keanehannya. -Laily- Alfath-"


      Jika dalam rumus matematika 1 + 1 = 2, maka tidak dengan rumus dunia. Nalar manusia tidak selamanya dinilai benar oleh semesta. Hal yang awalnya menurut kita buruk, belum tentu ujungnya buruk. Hal yang awalnya indah, belum tentu ujungnya bahagia. Kenapa? Karena dunia memang menyuguhkan banyak hal dengan ketidakjelasannya. Kenapa tidak jelas? Karena nalar manusia serba berbatas dalam memaknainya. Namun sayangnya, makhluk berlabel "manusia" ini sering terlalu percaya diri berbekal akal dan perasaanya sehingga menuhankan Maha Benar persepsinya.

      Tidak suka bukan berarti tidak bisa. Tidak suka bukan berarti hal itu dinilai absolut salah. Tidak suka bukan berarti ujungnya akan selalu buram. Tidak suka versimu belum tentu sama dengan versi mereka. Setiap orang punya kacamatanya masing-masing. Kacamata yang dibentuk berbekal pola asuh dari orang tua, lingkungan sekitar, dan pengalaman yang telah dicicipinya.

      Dunia memang hadir dengan segala ketidakjelasannya. Ketidakjelasan itulah  seringnya melahirkan khawatir yang menghantui makhluk berlabel "manusia". Padahal khawatir itu mahal. Setiap khawatir yang dilahirkan, dibayar mahal dengan atau tanpa sadar. Kenapa? Karena setiap kekhawatiran akan menyita banyak energi untuk memikirkannya, menyita banyak waktu yang tidak bisa ditarik lagi, menyita emosi yang mampu mengurasnya hingga habis tak tersisa, dan bahkan bisa juga turut membayar dengan uang saking khawatirnya. Khawatir itu wajar jika tidak berlebihan.


      Seringnya tatkala khawatir mengelabuhi, ekspektasi berjarak jauh dari realita, ujungnya kecewa dan marah. Setiap manusia boleh marah. Karena itu adalah salah satu bentuk perasaan yang lahir dalam merespon keadaan. Tapi label "wajar " tidak lantas membenarkan "tindakan marah yang berlebihan". Setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah. Marah berlebihan yang dituruti, hanya akan menghancurkan dan bisa berujung penyesalan.


      Manusia itu lucu. Ia paham bahwa makhluk Allah yang bernama "Hati" adalah makhluk yang mudah dibolak-balikkan oleh Sang Pencipta. Akal adalah makhluk penyeimbang (hati) yang dititipkan Allah pada manusia. Semengecewakan apapun dunia terhadap kita, cobalah menyimak kode semesta secara lebih luas. Karena Allah tidak pernah ingin menghancurkan hamba-Nya. Semua manusia memang dibekalkan hati dan akal. Tapi persepsi "benar dan salah" bisa dimaknai subjektif bagi setiap manusia. 


      Setiap hal yang kamu lakukan, akan bisa dimaknai dengan ragam warna oleh manusia. Penilaian itu adalah hak mereka. Kamu tidak bertanggung jawab pada pemikiran mereka. Tanggung jawabmu hanyalah pada Tuhan mengenai hal yang sudah kamu lakukan. Setiap orang berhak berpendapat. Sementara kita juga berhak untuk mengabaikannya. Selain Tuhan, kamu adalah satu-satunya sosok yang membersamai prosesmu, mengerti niatmu, dan memahami perasaanmu. Sementara persepsi orang lain adalah kacamata tambahan dalam memandang dunia. Kamu boleh memakainya, juga boleh mengabaikannya. Hal yang penting adalah, bijaklah dalam menentukan kacamata yang hendak kamu pakai. Karena persepsi yang telah kamu pilih, akan berimbas pada perasaan dan keputusan yang akan kamu putuskan selanjutnya.

Rabu, 08 September 2021

Terra

Oleh : Laily Alfath




"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-


      Hay Terra! Terima kasih sudah kuat menjadi tempat berpijak ribuan keturunan anak Adam yang sering tidak tahu diri ini. Kami tahu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sangat luas. Bahkan sangat luas, hingga tidak semua manusia saling mengenal, padahal nenek moyang mereka sama. Bahkan sangat luas, hingga munculah ragam adat dan norma yang turut mewarnai pertumbuhan mereka. Bahkan sangat luas, hingga semua manusia mendapatkan kelas kehidupan beragam yang tak satupun sama persis. Bahkan sangat luas, hingga masih mampu menampung rentetan bualan dan keegoisan manusia. Hay Terra, luasmu seolah hendak mengajarkan manusia betapa keluasan hati itu menunjukkan level sesungguhnya kapasitas manusia. Namun tidak semua manusia paham dan berkenan. 


      Terra diciptakan dengan sangat luas, hingga menyuguhkan beragam pelajaran untuk Adam dan keturunannya. Pelajaran yang tanpa sadar membentuk kapasitas setiap manusia. Entah itu hanya seluas cangkir kecil, mug, botol minum, ember, bak, kolam, danau, hingga samudera. Pada pelajaran di sekolah kita diajarkan dulu konsepnya barulah kita menghadapai ujian. Sementara pada pelajaran kehidupan, kita diuji dulu barulah kita paham konsep kehidupan. Pada ujian itulah kita bertumbuh dan dibentuk secara perlahan. Setiap ujian memang tidak pernah mudah, dan akan terus naik level kesulitannya. Tapi di sanalah kapasitas kita dibentuk semakin luas.


      Kapasitas kita dalam menghadapai ujian sangatlah berperan penting. Anggaplah ujian ini berwujud dua buah jeruk lemon. Masing-masing lemon diperas dan dikucurkan ke cangkir kecil dan samudera. Menurutmu lebih pekat mana rasa lemonnya antara air lemon di cangkir kecil atau di dalam samudera? Yap! Tentu rasa lemon itu lebih pekat yang berada di dalam cangkir kecil. Hal ini sama dengan kapasitas kita. Tatkala hati kita tetap kita pertahankan dengan kapasitas yang kecil, apapun masalah yang hadir akan terasa asam seperti air lemon di dalam cangkir. Namun tatkala hati kita seluas samudera, seberapapun air lemon yang dimasukkan tidak akan mampu mendominasi air di samudera.


      Semua butuh proses. Setiap manusia tengah berjuang pada track nya masing-masing. Kapasitas setiap orang memang berbeda. Beruntunglah tatkala kamu merasa kapasitasmu kian hari semakin luas. Tapi itu bukan berarti menjadi ajang pamer untuk merasa paling hebat karena merasa sudah lulus ujian dengan kapasitas yang semakin luas. Setiap orang tentu ingin menjadi versi terbaik dirinya. Sementara versi terbaik mereka belum tentu sama dengan versi terbaikmu. Mereka yang berbeda denganmu tidak selamanya salah dan kalah.  Proses kalian berbeda. Jika kamu terjebak pada ajang pamer dan merasa mulai menuhankan kapasitasmu yang paling luas, hati-hati! Justru saat itulah menunjukkan bahwa kamu hanya haus apresiasi dan sedang ditipu oleh dirimu sendiri (kapasitasmu tidak seluas yang kamu pikirkan). Laut tidak perlu menjelaskan seberapa dalam ia. Langit tidak perlu menjelaskan seberapa tinggi ia. Bintang tidak perlu menjelaskan seberapa bercahayanya ia. Apresiasi memang salah 1 kebutuhan manusia. Tapi jangan jadikan dirimu menjadi budak apresiasi orang lain. Karena perihal apresiasi orang lain adalah hal di luar kontrol kita. Semakin banyak kita berharap pada hal-hal di luar kontrol kita. Semakin banyak benih kecewa yang kita tanam dan berujung panen. 



      Kamu adalah sosok yang hanya satu di dunia. Prosesmu menentukan level kapasitasmu. Tidak akan ada ujian yang mudah. Setiap ujian sangat mungkin untuk menyuguhkan kecewa, air mata, bahkan duka. Hancur atau bertumbuh adalah dua pilihan yang disuguhkan dalam menghadapinya. Keputusanmu itulah yang akan menentukan kapasitasmu selanjutnya. Tuhan tak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya selagi ia masih mau datang. Setiap doamu akan dijawab dengan cara-Nya, sekalipun menurutmu tidak seketika.

Kamis, 02 September 2021

Jouska

 

(Dyah Santoso)


"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"

 

Entah sudah berapa kali tangan ini bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah, ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?

'Memulai' adalah langkah awal, akan ada banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai. Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai. Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.

Setelah kita memulai, lantas bagaimana menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin, maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat, yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")

Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri, apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab (butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track menuju apa yang mau kita capai.

Flashback ketika memutuskan untuk menulis di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful. Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi kenyataan".


#selfreminder 

Kamis, 26 Agustus 2021

Skenario Manusia

Oleh : Laily Alfath

"Mereka belum tentu salah, bisa jadi kacamatamu yang berdebu dalam memandangnya. -Laily Alfath"

 

      Bumi ini bukan surga. Setiap yang kita inginkan tidak seketika disuguhkan di depan mata. Bumi ini bukan surga, tempat di mana ego tidak pernah bersaing untuk saling mengenyangkan. Bumi ini bukan surga, tempat di mana dosa tak pernah diterima. Bumi ini bukan surga, tempat di mana semuanya serba mewah dan indah. Kita adalah manusia yang masih singgah di rumah sementara. Sebuah planet biru yang Tuhan utus sebagai rumah singgah semua manusia yang mendapatkan surat izin kehidupan. Sebuah planet yang penuh dengan suguhan hanya untuk manusia. Sebuah planet indah yang sudah dilengkapi dengan beragam fasilitas untuk kenyamanan manusia. Sebuah planet yang patuh terhadap titah Tuhannya. Sayang, tak semua manusia cukup tahu diri atas posisinya. Mereka berlaga bak seorang raja pada wilayahnya. Andai bumi ini bisa berteriak, mungkin ia akan berteriak mengeluh sesak. Sesak dengan beragam karakter manusia yang sering berseberangan. Sesak dipenuhi rentetan keinginan manusia tanpa batas. Sesak dengan rentetan ego yang terus dikenangkan, dan berakhir menyakiti sesama manusia. Bumi ini memang bukan surga!

      Sepanjang usiamu sampai saat ini sudah berapa macam karakter manusia yang telah kamu temukan?Apakah semuanya menyenangkan? Atau ada juga yang menyebalkan? Jika kamu perah bertemu dengan sosok yang menyebalkan, menjengkelkan, mengecewakan atau hal yang menurutmu tidak menyenangkan, tinggal ingat saja bahwa "bumi ini memang bukan surga!". Hahahaha.... Setiap perantau akan selalu merindukan rumahnya. Karena sesederhana apapun sebuah rumah, ia adalah tempat terindah untuk pulang dan mengurai lelah. Bumi bukanlah rumah abadi yang menjadi tujuan. Tapi surga adalah rumah abadi untuk berpulang. Tempat yang hanya dipenuhi oleh sukacita, dan tempat segala pengharapan pasti dikabulkan.

      Tapi mari kita kembali sadar pada kehidupan sekarang. Kita adalah manusi yang telah mendapatkan surat izin untuk mencicipi kehidupan sepanjang ini, sebelum kelak akhirnya berpulang. Pada proses kehidupan kita tentu ada banyak hal yang telah diajarkan oleh Tuhan melalui lingkungan sekitar. Entah itu dari orang tua, saudara, sahabat, teman, guru, maupun oleh orang-orang yang belum pernah kita kenal secara langsung. Secara sadar maupun tidak sadar, rentetan pelajaran kehidupan itulah yang ahirnya terakumulasi dan membentuk karakter kita dalam bersikap. Entah itu sikap yang ramah, cuek, bertanggung jawab, abai, mandiri, manja, jujur, bohong, maupun sikap lainnya. Pada kehidupan ini memang setiap orang akan menanggung resiko atas sikap yang ia tunjukkan. Misal : jika si A adalah orang yang ramah, maka si A harus siap menerima resiko jika banyak orang yang akan menyita waktunya untuk mengajaknya berkomunikasi. Sementara si B adalah orang yang cuek, maka si B harus siap menerima resiko bahwa ia tidak akan mempunyai banyak teman.

      Namun naasnya kehidupan di bumi ini cukup lucu. Betapa hampir semua orang hanya memandang suatu kejadian hanya dari satu sudut kacamata. Aku yakin sepanjang usiamu tentu kamu pernah menemukan seseorang yang bersikap kasar. Entah itu secara langsung, mendapat cerita dari orang lain tentang sikap kasar seseorang, atau mendapati netizen kasar di media sosial. Jika menemui orang yang seperti itu, apa yang kamu lakukan? Ngedumel dalam hati? Frontal membalas mereka dengan sikap yang menyebalkan juga? Bersikap bodo amat dan meninggalkan mereka? Atau bagaimana? Tapi apapun responmu, percayalah bahwa hal itu akan sangat berpengaruh terhadap psikismu dan orang yang tengah kamu hadapi. Seseorang yang pada kesehariannya terdengar dengan lontaran kalimat-kalimat kasar, secara singkat akan langsung dilabeli sebagai orang yang "tidak terpelajar", "menyebalkan", kasar", dan serangkaian label buruk lainnya. Secara norma, kalimat kasar memang tidak bisa dibenarkan. Tapi pernahkah kita berpikir panjang tentang "kelas keidupan seperti apa yang telah ia dapatkan sehingga ia bisa bersikap demikian?".

      Seringnya ketka kita sebal dengan seseorang, kita hanya memepedulikan "perasaan" kita, dan auto judgment atas hal yang mereka lakukan ‒tanpa tahu penyebab dari sikap yang mereka munculkan‒. Padahal sikap yang dimunculkan oleh manusia adalah manifestasi dari jiwanya. Setiap orang selalu punya pemicu kuat atas setiap sikap yang ia munculkan. Entah hal itu dibentuk dari masa lalunya, pola didikan, orang tuanya, kebiasaannya, maupun doktrin yang kurang tepat yang tanpa sengaja ia dapatkan. Seseorang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter, cenderung akan tumbuh menjadi orang yang otoriter juga. Seseorang yang terbiasa segalanya serba disiapkan, maka akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang bergantung pada orang lain ‒tidak mandiri. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan kasar, juga akan cenderung bertumbuh menjadi pribadi yang kasar. Hasil pembelajaran itulah yang akhirnya terakumulasi dan membentuk suatu sikap yang tumbuh dalam dirinya. Seringnya kita tidak tahu atau bahkan tidak peduli atas badai panjang yang telah mereka lalui sehingga mereka bertumbuh dengan sikap seperti itu. Kita hanya peduli atas ‒perasaan kita. 

      Aku percaya bahwa Tuhan sejatinya mecipatakan semua manusia berhati baik tanpa ingin saling menyakiti. Tapi tidak semua manusia berksemepatan mendapatkan kelas kehidupan yang baik dan benar. Tidak semua manusia berkesempatan bertumbuh pada lingkungan yang tepat. Ketika mereka tidak mendapatkan kesempatan itu, apakah cukup bijak jika serta-merta menuntut mereka berperilau pada hal yang tidak pernah diajarkan dengan baik kepada mereka? Misal: seorang anak SD yang tidak pernah diajarkan pidato, bijakkah kita jika kita menuntutnya pandai berpidato? Tidak! Namun sayangnya perihal kehidupan ini menjadi hal yang cukup pelik untuk ditoleransi. Kita boleh tidak sepakat dengan sikap orang lain. Tapi bukan berarti kita merendahkannya. Setiap orang berkesempatan sama untuk bertumbuh di bumi ini. Jika menurutmu itu salah, pikirkanlah: hal apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu memperbaikinya? Bukankah kita semua hanyalah kumpulan tamu di bumi ini? Lantas kenapa tidak saling membantu? Bukankah kita semua ini sama-sama tamu? Lantas kenapa harus saling membandingkan merasa lebih tinggi? Manusia hanyalah seonggok daging yang diberi kesempatan nyawa untuk mencicipi dunia sementara. Tatkala nyawa itu dicabut, segala kehendak tidak akan pernah sampai.


Inspiring By :

Syahid, Muhammad. 2018. Egosentris.Yogyakarta : Gradien Mediatama.

Sabtu, 31 Juli 2021

Sabotase Diri

( Laily Alfath)





"Pikiran kita adalah musuh terbesar diri sendiri. -Laily Alfath-"


            Pada masa pandemi ini, banyak kabar duka yang disebarkan lewat media. Semua orang tengah berjuang pada track masing-masing. Aku yakin, begitu juga dengan kamu. Apapun yang tengah kamu usahakan sekarang, semoga bahumu senantiasa kuat untuk terus bangkit setiap kali terjatuh. Apapun impianmu, itu layak untuk diwujudkan asalkan tidak merugikan orang lain. Karena setiap orang berhak untuk hidup layak sesuai impian yang dia harapkan. Tuhan tidak pernah pandang bulu dalam mengabulkan doa-doa yang dilayangkan. Itu artinya setiap manusia berkesempatan untuk dikabulkan doanya oleh Tuhan.

            Tapi impian tidak akan pernah menjadi nyata tatkala hal yang kita lakukan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan. Pernahkah kamu menginginkan sesuatu namun hal yang sedang kamu usahakan berlawanan arah atau bahkan mengurai jarak yang semakin jauh dari impian? Maksudku usaha ini berkaitan dengan hal yang ada di bawah kontrol diri. Misal : kamu ingin mendapatkan beasiswa S2, tapi kamu tidak berjuang maksimal untuk persiapan tes TOEFL. Sesederhana itu misalnya, pernah? Atau pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi justru lebih banyak warning kata "tapi" yang mengisi kepalamu? Misal : "aku pingin ngerjain tugas, tapi masih lama waktunya, tapi sulit, tapi lainnya juga belum ngerjain, tapi males dan alasan tapi lainnya". Akhirnya karena ada banyak "alasan tapi" yang terpikirkan, kamu nggak jadi bertindak dan mengurungkan impianmu, pernah? Atau bahkan karena rentetan pemikiran "tapi" tersebut, akhirnya kamu tidak optimal dalam proses dan  berujung kecewa, pernah?

              Kalau kamu pernah, maka kamu tidak sendirian. Akupun juga pernah. Akhirnya aku terjebak dengan pikiranku sendiri dan berakhir stuck. Parahnya sekalipun stuck, tenaga, waktu, dan pikiranku  tetap habis karena lelah memikirkan rentetan "alasan tapi" yang meracuni isi kepala. Bertindak memang butuh rencana yang harus ditimbang, tapi bukan berarti melakukan sabotase kepada diri sendiri tanpa sadar. Menurut pengalaman aku nih, kita tidak akan pernah tahu limit kita sebelum kita berjuang mati-matian. Bahkan seorang Dokter Spesialis Jiwa, dr. Jiemie Ardian, S.pKJ menyatakan bahwa self sabotage atau yang lebih dikenal dengan mental block adalah upaya seseorang menghalangi keberhasilan diri sendiri dengan berbagai macam mekanisme pertahanan diri (Ardian, 2021). Logikanya dalam kerangka nalar yang sadar, setiap orang tentu tidak ingin menghalangi hal yang menjadi keinginannya. Namun dalam pemikiran mode tidak sadar, sering kali kita menghambat upaya kita menuju hal yang kita inginkan (mensabotase diri sendiri). Parahnya diri kita adalah sosok yang sangat mengerti kurang dan lebihnya diri ini. Imbasnya adalah tatkala diri kita yang melakukan sabotase terhadap hal yang kita inginkan, seringnya efeknya akan jauh lebih manjur dibandingkan jika dilakukan oleh orang lain. 

                   Kata penghubung "tapi" adalah kata penghubung yang melahirkan makna kontradiktif dari kalimat sebelumnya. Parahnya kalimat yang disampaikan setelah kata "tapi", bisa secara tidak sadar menggugurkan kalimat sebelum kata "tapi". Bahkan kesan dominan lebih terasa pada kalimat setelah kata "tapi" (Ardian, 2021). Misal : aku ingin jadi juara kelas, tapi pelajarannya susah. Pada kalimat tersebut seolah-olah poin penting yang ingin disampaikan adalah "pelajarannya susah". Pada kalimat tersebut dijelaskan seolah-olah sifat "aku ingin jadi juara kelas" menjadi tidak penting atau kehilangan kekuatannya, atau bahkan mustahil karena "pelajarannya susah". Hal inilah yang membahayakan. Pikiran kita hanya fokus ke rentetan alasan dan lupa mengenai hal yang sebenarnya ingin kita capai. Sehingga kebanyakan dari kita juga berakhir stuck.

              Imbas dari "pemikiran tapi" yang dituruti, selain stuck juga ada yang berimbas pada penundaan pekerjaan dalam melakukan suatu hal. Pernahkan kamu ingin melakukan sesuatu namun karena banyak "pemikiran tapi" yang berseliweran di kepala, akhirnya kamu menunda untuk melakukan hal yang semestinya kamu lakukan? Jika pernah juga, maka kita sama. Hahaha. Aku rasa hampir semua orang di dunia ini pernah menjadi seorang prokrastinator dengan berbagai alasan. Prokrastinator adalah orang yang menunda-nunda pekerjaannya. Sementara prokrastinasi adalah istilah untuk menjelaskan sifat menunda-nunda pekerjaan. Sebagian orang berpikir bahwa prokrastinasi terjadi karena seseorang malas dalam melakukan aktifitas tersebut. Namun ternyata berdasarkan informasi pada channel Satu Persen menyatakan bahwa ada dua alasan seseorang melakukan prokrastinasi, yaitu  manajemen pengelolaan emosi yang kurang baik dan manajemen waktu yang kurang baik (Satu Persen, 2021).

              Pikiran ibarat raja dalam tubuh kita. Hal yang kita pikirkan akan sangat mempengaruhi, bahkan menggiring kita dalam melakukan suatu hal. Tatkala pemikiran-pemikiran toxic yang kita masukkan, maka tindakan yang akan keluar juga tidak akan jauh berbeda dan begitu pula sebaliknya. Manusia punya waktu 24 jam dalam satu hari. Tapi manusia juga memiliki serentetan kegiatan yang harus dilakukan. Setiap orang punya 24 jam yang sama dalam satu hari. Tapi tidak semua orang mampu mengoptimalkannya dengan baik. Jika kita menyadari bahwa suatu hal harus dikerjakan namun kita memilih untuk menundanya, itu tidak akan menghilangkannya dari kenyataan bahwa ia akan tetap harus kita kerjakan. Semakin kita menunda, maka kesempatan waktu untuk menyelesaikannya akan semakin sempit. Aku tidak akan membandingkan antara orang SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan orang yang tanggap langsung menyelesaikan pekerjaannya setelah mendapatkan tugas. Tapi poin penting di sini adalah tentang bagaimana kita mengelola emosi kita dalam menghadapi rentetan tugas apapun. Ketika kita berpikir sebuah tugas adalah beban, maka itu akan sangat membebankan dan otomatis telah menyedot banyak energi kita sebelum kita mencicipi untuk mengerjakannya, Namun tatkala kita mempersepsikan bahwa sebuah tugas adalah bentuk pelajaran baru yang akan membuat kita semakin bertumbuh, hal itu akan secara otomatis meningkatkan stock semangat kita berlipat-lipat sehingga pekerjaan akan lekas selesai.

           Pada dasarnya di dunia ini tidak semua hal dapat diwakilkan. Salah satunya adalah tentang prosesmu. Semenyakitkan apapun itu, kamu adalah orang yang akan menjalaninya sendiri. Orang lain mungkin bisa menyemangatimu, tapi perihal selesai atau tidaknya dalam proses itu bergantung pada diri kita masing-masing. Sama halnya dengan seorang balita yang tengah belajar berjalan. Ibunya hanya bisa melatihnya, menyemangatinya, dan berusaha menopangnya tatkala ia hendak terjatuh, Tapi perihal untuk bisa kokoh berjalan sendiri, semua ada pada keinginan dan usaha sang balita. Takdir memang milik Tuhan, namun usaha dan doa adalah milik manusia.


Daftar Rujukan

Ardian, Jiemi. 2021. Self Sabotage, Ternyata Saya Mensabotase Keberhasilan Saya Sendiri! Kenali Mental Blockmu! (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=72sqTlxxmg8)


Satu Persen. 2021. Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan?(Hubungan Antara Kerja Otak dan Prokrastinasi). (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=CWGHpFEX1ss)




Minggu, 09 Mei 2021

Sarwa

(Laily Alfath)

 


"Jantung dari segala pengharapan akan bermuara pada satu titik, yaitu Tuhan. -Laily Alfath-."

 

       Pernahkah kamu memiliki harapan yang sangat ingin kamu wujudkan? Entah itu sesederhana harapan menikmati ice cream kesukaanmu sembari menikmati senja di balkon rumah, harapan untuk bisa menghabiskan weekend bersama orang-orang yang kamu rindukan, atau bahkan sampai harapan yang menurutmu jauh dari pencapaianmu namun kamu sangat ingin itu menjadi kenyataan. Jika pernah, maka aku yakin keinginanmu untuk menjadikannya nyata adalah energi yang mendorongmu untuk berjuang. Apa yang kamu pikirkan ketika aku menyampaikan kata "berjuang"? Proses? Lelah? Kerja keras? Atau apa menurutmu? Menurutku berjuang lekat berkawan dengan pengorbanan. Entah itu pengorbanan usaha, waktu, tenaga, materi, atau bentuk pengorbanan lainnya. Kamu beruntung tatkala kamu masih memiliki "harapan". Itu artinya, ada hal yang akan membuatmu hidup dalam menjalani serentetan episode yang akan disuguhkan oleh Tuhan. Pada kondisimu saat ini, apa harapan terbesarmu? Apakah kamu benar-benar menginginkannya untuk menjadi kenyataan? Apa saja pengorbananmu untuk mewujudkannya?

        Setiap manusia yang masih memiliki stok harapan di dalam kantongnya, tentu ingin menjadikan serentetan harapannya menjadi kenyataan. Namun kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tidak semua yang kita harapkan berjalan sesuai dengan realita. Tatkala harapan berbeda dengan realita, bagaimana responmu terhadap Tuhan? Pasrah? Mengumpat karena tidak terima? Atau bagaimana? Tatkala harapan berbeda dengan realita, ada beberapa manusia yang putus asa atau bahkan merasa Tuhan telah mengambil hak yang ia punya. Padahal tidakkah kita sadar bahwa kita tidak pernah memiliki apa-apa? Sementara Tuhan adalah Maha Pemilik Segalanya yang telah mengizinkan kita mengecap serentetan kesenangan tanpa meminta imbalan. Hal inilah yang sering membuat manusia patah, tatkala kita memaksakan diri untuk mengerjakan hal yang sebenarnya bukan tugas kita1 dan memaksakan kehendak harus senantiasa seirama dengan keadaan. Bukankah manusia berbatas dalam menafsirkan serentetan kode semesta? Pantaskah kita menuntut harapan untuk dikabulkan dengan dalih kebaikan? Sementara kita tidak bisa menjamin kebaikan itu datang setelah dikabulkannya harapan. Sudahkah kita cukup tahu diri kepada Tuhan? Tatkala kita percaya pada Tuhan dan menyadari secara utuh bahwa urusan penentu hasil usaha kita ada pada tangan Tuhan, semestinya kita tidak perlu kecewa. Karena Tuhan senantiasa memberikan keputusan terbaik dan tidak berniat membuat hamba-Nya terluka. Hal yang sekarang patut kita pertanyakan adalah, sudahkah kita sedemikian percaya pada Tuhan dalam menjalani kehidupan?

       Pada perjalanan kehidupan, apapun perasaan yang datang seringnya berawal dari terburu-buru menafsirkan keputusan Tuhan berbekal prediksi kita yang terbatas. Ketika keadaan terasa sangat menghimpit, seringnya manusia terburu putus asa berbekal potongan peristiwa yang dirasa menyakitkan. Jika sudah demikian, seringnya manusia terlanjur mengikuti hatinya. Padahal semestinya kitalah yang membimbing hati kita, bukan mengikuti kata hati kita2. Seringnya manusia terburu-buru memberi titik, tanpa tahu bahwa Tuhan masih memberi koma. Bahkan terkadang banyak orang matidemotivasi bukan karena Tuhan. Tapi naasnya karena kita terburu memberi titik pada peristiwa yang kita alami. Kunci dari semua kekhawatiran dan keputusasaan adalah, "seberapa besar usaha kita? dan seberapa besar kita percaya pada Tuhan?". Kita hanya harus mengoptimalkan pada setiap hari yang masih Tuhan titipkan. Kita hanya perlu belajar selangkah demi selangkah untuk percaya pada Tuhan3, dan komitmen untuk senantiasa berjalan di jalan Tuhan.

    Pada serentetan peristiwa yang kita alami, seringnya ada manusia yang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Naasnya tatkala ia merasa posisinya inferior, ia merasa tidak beruntung dan merasa Tuhan tidak menyayanginya. Padahal bentuk kasih sayang Tuhan tidak sesempit yang ia pikirkan. Apapun konten pencapaian atau kebahagiaan yang dibagikan oleh teman kita di media sosial, tidak semestinya menjadi standar kebahagiaan kita1. Tuhan menyayangi kita dengan cara unik dan berbeda bagi setiap hamba-Nya. Hal menyakitkan yang mengunjungimu, tidak selamanya bentuk ketidakpedulian Tuhan terhadapmu. Bukankah pedang besi yang terus diasah justru menjadi pedang yang sangat tajam dan sangat diandalkan dalam peperangan? Pada setiap proses kita, Tuhan telah menyuguhkan hadiah. Namun semua bergantung pada kadar kepercayaan kita terhadap-Nya. Tidak semua usaha kita akan berjalan sesuai harapan, maka fokuslah pada proses pertumbuhan diri yang telah kamu rasakan bukan pada hasil standar yang kita tetapkan. Segala pengharapan kita ada pada satu jalan, yaitu Tuhan. Sama halnya jika kita naik kereta, kemanapun tujuannya hanya ada satu rel untuk  menujunya. Jika pola pemikiran kita sudah benar, maka menjalani kehidupan pasti akan lebih tenang1.

 

Daftar Rujukan

1Yandi, Fardi. 2021. Hal yang Sebaiknya Dilupakan dalam Hidup. Online (https://www.instagram.com/p/COaDszVjWcB/), diakses 8 Mei 2021.

2Loan, Raditya. 2021. Online (https://www.instagram.com/p/CNPx3-kAJZo/), diakses 8 Mei 2021.

3Loan, Raditya. 2021. Online (https://www.instagram.com/p/CNFoqKdgNgi/), diakses 8 Mei 2021.