"Akar jati bisa bernilai tinggi sekalipun tak muncul di permukaan.
Daun jati juga tetap rendah hati, tak segan gugur ketika diperlukan"
~Dyah Santoso
Dulu ketika
sekolah atau kuliah pernah nggak kepikiran “kok ada ya anak yang rela bolos
pelajaran demi ikut organisasi?”. Atau sebaliknya “ada ya anak yang jadi singa di kelas, tapi pas keluar kelas
taringnya hilang?”. Ketika di tempat kerja pun demikian, kita mendapati
berbagai karakter yang terkesan bertolak belakang. Ada yang lebih suka bekerja
tanpa banyak aturan karena merasa bisa mengeksplor kemampuannya. Ada yang
justru kebingungan ketika diberi pekerjaan tanpa aturan khusus karena merasa
tidak ada yang bisa jadi acuan. Kalau diperhatikan karakter orang-orang
tersebut memang terlihat bertolak belakang, tapi keduanya justru saling
melengkapi.
Ada
banyak hal yang tidak sama di dunia ini, tapi tetap bisa berjalan beriringan.
Kita butuh orang yang punya loyalitas tinggi dengan organisasinya, sebab organisasi
itu harus tetap hidup dan perannya masih dibutuhkan anggotanya. Kita juga butuh
orang yang rajin masuk kelas selagi sebagian teman berorganisasi, karena guru atau
dosen patut dihargai dedikasinya. Beberapa jenis pekerjaan butuh orang yang kreatif, tanpa banyak
arahan. Tapi di beberapa pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, perlu
orang-orang yang bisa beradaptasi dengan banyak tuntutan profesionalitas.
Masing-masing karakter manusia punya peran, meski terkadang tampak kontras namun saling menjaga keseimbangan.
Dunia
ini dihuni oleh berbagai macam rupa, karakter, latar belakang, maupun pola
pikir. Keberagaman itu yang membuat kita berkembang. Kita jadi tahu bahwa ada
lebih dari satu cara berjalan, melihat, dan bertumbuh. Cara kita tidak selalu
yang paling tepat. Satu cara yang berhasil pada kita, belum tentu berhasil pula
pada orang lain, pun sebaliknya. Keberagaman itu membuat kita terkoneksi satu
sama lain, saling mengisi, dan melengkapi potongan puzzle yang hilang. Kita
punya kekurangan dan prioritas yang membuat kita tidak bisa melakukan banyak
hal secara bersamaan. Kita butuh orang lain, dan oleh karenanya setiap orang memiliki
peran.
Ibarat sebuah pohon, setiap bagian memiliki peran masing-masing. Jika kita melihatnya lebih luas, tidak ada satu bagian yang lebih unggul atau lebih rendah perannya dari yang lain. Akar yang tidak tampak di permukaan, justru adalah penyokong pohon hingga mampu berdiri kokoh. Bahkan daun yang sudah gugurpun bisa menjadi kompos untuk pohon itu sendiri. Kita hanya berbeda tanggung jawab, tapi sama-sama berperan. Yang di atas bukan berarti lebih tinggi, pun sebaliknya. Pada tingkatan orang-orang yang mampu menerapkan hal ini pada dirinya, maka orang-semacam ini tidak mudah terbang ketika disanjung dan tidak patah ketika jatuh.
Sedikit atau banyak, peran kita berdampak untuk orang lain dan sekitar. Jangan dikira bungkus permen yang kita buang sembarangan tidak dapat memicu banjir. Bungkus permen tadi bisa jadi "provokator" bagi orang lain untuk ikut membuang sampah sembarangan. Jika ada sedekah jariyah, bukan tidak mungkin ada dosa jariyah kan? Layaknya sebuah film, ada protagonis dan antagonis. Seorang protagonis bukan yang selalu benar tanpa celah, dia juga bisa salah. Hanya saja dia punya lebih banyak scene cerita baik. Seorang antagonis juga bukan yang selalu salah, dia bisa punya sisi kebajikan sekalipun tidak sebanyak protagonis.
Tulisan ini bukan mengajak kita untuk menilai baik buruknya seseorang, melainkan sebagai reminder untuk diri sendiri (khususnya) dan para pembaca (pada umumnya). Jika saat ini posisi kita sedang di bawah, semoga itu tidak menjadikan kita lemah dan rendah. Kita bisa meyakinkan diri bahwa kita punya peran sekalipun tidak terlihat. Posisi kita yang di bawah juga bukan alasan untuk merasa pantas dikasihani dan dimaklumi. Kita punya kesempatan yang sama seperti mereka selagi ada kemauan untuk tumbuh. Dan jika saat ini posisi kita sedang di atas, semoga itu tidak menjadikan kita sombong dan lalai. Kita tidak mungkin berada di atas kalau tidak ada yang menyokong dari bawah atau menarik dari atas. Artinya posisi kita saat ini juga ada andil dari orang lain. Kita tidak mudah melabeli buruk seseorang hanya karena kita di sisi yang lebih baik. Kita tahu bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi baik maupun menjadi buruk. Ini hanya pengingat untuk menggunakan kacamata yang tepat dalam melihat. Kapan kita menggunakan kacamata "cembung" dan kapan kita menggunakan kacamata "cekung".

0 comments:
Posting Komentar