Kamis, 26 Mei 2022

Panggu

Oleh : Laily Alfath




"Andai semua hal diperbolehkan untuk memaksa Tuhan, maka alam semesta akan kacau balau karena ulah manusia. -Laily Alfath-


          Kita paham bahwa Tuhan memegang andil setiap lini kehidupan manusia. Kita paham bahwa selain dari tangan kita, ada kekuasaan Tuhan yang lebih agung dalam menentukan. Kita paham bahwa Tuhan maha mengetahui dibanding manusia sekalipun sekelas sosok professor terkenal di dunia. Kita juga paham bahwa ada ranah yang tidak bisa terjamah oleh manusia.

          Setiap manusia bertumbuh, melangkah maju menuju arah kematiannya. Setiap manusia belajar, untuk mengais bekal sebelum menghadap Tuhannya. Setiap manusia tanpa sengaja terpeleset, ada yang setelahnya sadar, ada juga yang terlena. Setiap manusia punya catatannya masing-masing, namun banyak juga yang menginginkan bahkan sampai usil pada cerita orang lain. Berawal dari saudara, meluaslah menjadi miliaran orang asing dengan nasab masing-masing. Berawal dari purba, katanya menuju modernisasi dengan segala kecanggihan yang pongah. 

          Setiap bayi yang terlahir akan menjadi korban percobaan pola asuh orang tuanya. Bahkan hal ini didukung dengan statement, "Setiap anak tidak bisa memilih orang tuanya. Tapi sosok ibu bisa memilihkan sosok ayah yang baik untuk anaknya". Statement serupa sering berseliweran di beranda sosial media. Tapi pernah nggak kamu kepikiran bahwa, "sepasang orang tua juga nggak bisa milih anak-anak yang dilahirkannya". Sekalipun setiap orang tua sudah mengupayakan dengan segala jerih payahnya dengan mencoba melengkapi kebutuhan secara materi dan kasih sayang ala mereka masing-masing, nyatanya itu nggak menjamin setiap anak yang dibesarkannya dengan banting tulang bisa jadi anak yang minimal berbakti kepada mereka.

          Kata John Lock anak ibarat kertas putih dan yang mewarnainya adalah orang tua. Apakah ketika seorang anak tumbuh beringas, maka itu murni kesalahan orang tua? Jika setiap orang tua membesarkan anaknya dengan balutan kasih sayang, bukankah semestinya tidak pernah ada seorang bajinganpun yang tersebar di dunia? Namun nyatanya yang terjadi adalah setiap orang tua membesarkan putra putrinya penuh dengan kasih sayang tapi ketika mereka sudah tumbuh dewasa, hal yang telah ditanam oleh orang tuanya belum tentu dapat dipanen oleh mereka.


          Setiap orang tua punya pola asuhnya masing-masing. Sekalipun tidak semua orang tua berkesempatan mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, tapi naluri orang tua selalu mengupayakan yang terbaik untuk anaknya. Sekalipun orang tua tidak 100% benar dalam segala hal, tapi orang tua memberikan hasil evaluasi kehidupan agar manisnya dapat dinikmati anaknya. Sekalipun tidak semua orang tua mampu mengeluarkan kata-kata bijak untuk mendamaikan batin anaknya, tapi setiap kehadirannya berharap mampu bisa menguatkan putra-putrinya.


          Setiap detak jantungnya tidak akan lepas dari memikiran putra putrinya. Setiap tarikan nafas hanya untuk putra putrinya. Andai urusan usia ini bisa dinego, mungkin tidak ada orang tua yang menginginkan wafat ketika putra-putrinya belum tumbuh dewasa dan siap menghadapi kehidupan. Andai urusan anak bisa di-request, belum tentu sosok mereka akan menginginkan kita menjadi putra-putrinya. Andai segala kepayahan dan rasa sakit bisa dialihkan, mungkin semua orang tua akan meminta semua itu ditimpakan kepadanya agar anaknya bisa menjalani hari tanpa duka.


          Orang tua tetaplah manusia. Sekalipun usia dan pengalamannya jauh lebih banyak, mereka bukan Tuhan yang Maha Benar. Begitu pula dengan seorang anak. Mereka juga manusia. Sekalipun usia dan pengalaman jauh dari orang tua, tapi mereka juga terus belajar dari sekitar yang ia lihat. Setiap manusia ingin dipahami, tapi tidak semua manusia mau mencoba saling memahami. Tatkala lagi bejo ketemu orang yang enggan memahami, hal itu justru menjadi kelas belajar untuk lebih legowo dalam urusan sesama manusia. Bahkan tidak hanya tentang urusan sesama manusia, tapi juga menjadi ujian dan penilaian oleh Tuhan.

0 comments:

Posting Komentar