(Dyah Santoso)

Aroma ini menyetel ulang memori silam.
Udara saat itu bahkan terasa nyata di dermis.
Masih terekam jelas gurat wajahmu dalam temaram.
Aroma paling manis tentangmu, jagung rebus di kala gerimis.
Ah, aku masih hafal betul suara tawamu.
Cerita masa kecilku masih jadi favoritmu.
Sorot matamu tetap hangat meski suhu udara kian turun.
Aku saja yang kurang belajar, terlalu cepat membeku tanpa sempat mengembun.
Dulu,
Aku mungkin pernah tidak menyukaimu, tapi aku tidak pernah membencimu.
Kau masih jadi lelaki pertama.
Dan kini, segala tentangmu tak lagi ada yang kedua.
Kau bukan lagi embun yang bisa kusentuh.
Kau telah menguap, tak lagi bisa kurengkuh.
Tapi kau tetap tersimpan di sini, di hati dan memori.






