Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Agustus 2021

Cinta Pertama Anak Perempuan

 (Dyah Santoso)




Aroma ini menyetel ulang memori silam.

Udara saat itu bahkan terasa nyata di dermis.

Masih terekam jelas gurat wajahmu dalam temaram.

Aroma paling manis tentangmu, jagung rebus di kala gerimis. 


Ah, aku masih hafal betul suara tawamu.

Cerita masa kecilku masih jadi favoritmu.

Sorot matamu tetap hangat meski suhu udara kian turun.

Aku saja yang kurang belajar, terlalu cepat membeku tanpa sempat mengembun.


Dulu,

Aku mungkin pernah tidak menyukaimu, tapi aku tidak pernah membencimu.

Kau masih jadi lelaki pertama.

Dan kini, segala tentangmu tak lagi ada yang kedua.

Kau bukan lagi embun yang bisa kusentuh.

Kau telah menguap, tak lagi bisa kurengkuh.

Tapi kau tetap tersimpan di sini, di hati dan memori.

Kamis, 12 Agustus 2021

Rubuh

 (Laily Alfath)




Semestaku berubah

Sedikit redup dibanding biasanya

Beberapa hal memudar warnanya

Nalar logikaku tak mampu mencerna


Aku tak paham bagaimana cerita selanjutnya

Ribuan harap berguguran di tanah

Ribuan rencana menguap di udara

Seketika padam

Hanya tersisa setitik cahaya reman-remang


Aku kehialangan kompas untuk melanjutkan perjalanan

Perasaan asing masuk tanpa mengetuk

Segudang pertaynaan berseliweran menghantam

Peperangan tanpa suara, namun riuh di dalam


Aku tak punya jawaban

Aku tak bisa menjelaskan

Aku kehilangan dayaku

Aku kalah perang bisu

Minggu, 18 Juli 2021

Bayangmu

Oleh : Laily Alfath





Dunia tumbuh dinamis
Menyuguhkan beragam kisah menggelitik
Dipertemukan beragam tokoh unik
Serta disodorkan sederet pelajaran menarik


Beragam alunan nada sudah kudengar
Namun tawa dan suaramu masih menjadi yang terindah
Beragam tempat telah kujajaki
Tapi kenangan selalu berhasil membuatku berhenti di salah satu kedai kopi


Kedai ini menyuguhkan beragam menu
Tapi cappucino selalu menjadi pilihanku
Karena di setiap kepulan aromanya aku menemukanmu
Musisi kedai ini menyanyikan rentetan playlist terbaru
Tapi lagu just the way you're selalu menjadi lagu wajib yang kupesan setiap di situ


Aku tahu bahwa kita hanya potongan masa lalu
Semestinya aku telah tutup buku
Tapi izinkan aku mengenangmu
Aku hanya butuh waktu untuk mengurai rasaku





Minggu, 27 Juni 2021

Cerita Senja

 (Dyah Santoso)




Lembayung menyepuh angkasa, melukis alam raya dalam balutan selimut jingga.

Hangat, semua sepakat.

Teduh sinarnya melahirkan pujangga dengan diksi yg memikat.


Malam menyapa, mengajak serta kerlip bintang dan cahaya purnama.

Sang surya kembali ke peraduannya, pesona senja mulai sirna.

Suhu kian turun, hangat berubah dingin.

Malam menyapa, cerita senja terkikis angin.


Puisi dan diksi menjelma jadi secangkir kopi.

Pecinta senja, kini juga penikmat kopi.

Senja yang hanya sesaat beralih pada malam yang pekat.

 

Tanpa senja, pujangga tak akan kehilangan kata.

Senja membawa cerita.

Diksi tiada arti tanpa bukti.



Selasa, 22 Juni 2021

Tabir

 

Oleh : Laily Alfath


 

Kamu bersama dirimu 24 jam.

Mereka hanya bersamamu beberapa jam.

Kamu mengerti prosesmu dalam berjuang.

Mereka hanya tahu sepotong perjuangan.

 

 

Kamu mengerti apa yang kamu rasakan.

Mereka tidak akan tahu apa yang tak terlihat.

Kamu mengerti apa yang kamu pikirkan.

Mereka tidak akan pernah paham apa yang tak terucapkan.

 

 

Manusia adalah makhluk berbatas.

Makhluk dinamis tak terduga.

Makhluk penuh tanya.

Makhluk berwujud aneka rupa.

 

 

Manusia bukan Tuhan, mereka tidak mengikutimu 24 jam.

Manusia bukan Tuhan, mereka tidak akan pernah adil memutuskan.

Manusia bukan Tuhan, mereka tidak akan bisa utuh paham.

Manusia bukan Tuhan, mereka hanya punya sekeping penilaian.


 

Minggu, 13 Juni 2021

Aku dan Mereka

 Oleh : Laily Alfath




Anganku jauh
Mereka bilang, itu tidak mungkin
Inginku bertumbuh
Mereka bilang, mustahil


Aku menjadi diriku
Mereka komplain, tidak terima
Aku memutuskan jalan hidupku
Mereka menyimak dan tertawa


Aku berpikir, berusaha menelaah
Aku mencoba mengikuti "kata mereka"
Tapi aku kehilangan arah
Mereka kemana?


Jumat, 21 Mei 2021

Reinkarnasi

 (Laily Alfath)


 
 
 
Semesta sempat menyuguhiku sepotong kecewa
Tatkala kendaliku dirampas paksa
Seketika duniaku disihir, penuh dengan perayaan duka cita
Aku terjerembab tanpa daya, dipecundangi dunia
 
Semesta memusnahkan semua warna 
Hanya disisakan hitam
Aku mengutuk keadaan
Melempar serentetan kemengapaan
Tanpa pernah sekalipun dijawab dan dijelaskan

Sang fajar mencoba menyapaku dengan hangatnya
Tapi dinginku kala itu tak mampu terjamah
Sapa kicauan merdu sang burung pun tak terindahkan
Semesta menatapku iba
Namun ternyata ia tak tinggal diam

Konspirasi semesta mengirimkan hadiah di luar nalar
Hadiah yang sudah kulupa bahwa aku pernah merapalnya dalam doa
Hadiah yang kukira tak pernah didengar
Hadiah yang dikirimkan tatkala aku tak lagi percaya pada semesta

Rumah!
Ia mengutus beberapa orang yang mengenalkan dirinya sebagai rumah
Perlahan menyalakan lentera dalam pekatnya dunia
Entah mantra apa yang mereka rapal
Namun dukaku perlahan terurai
Gelapku perlahan sirna berganti cahaya
Elegi mulai mereda
Semesta menghidupkanku lagi, melalui reinkarnasi

 
 
 
 
 


Senin, 17 Mei 2021

Wingit

(Dyah Santoso)



Ceruk.

Ini lebih dalam dari yang terkira.

Lebih gelap dari yang dapat dilihat mata.

Tampak hening di luar, namun riuh di dalam.

Nyenyat masih lekat menyelimuti lebam.


Sedu.

Tempias itu masih basah,

Jangan berlari jika tak ingin terjatuh.

Luka itu masih menganga,

Jangan coba-coba menggaruknya.


Kama.

Ini bukan akhir, meski ada di simpangan nadir.

Sang Dalang piawai mengalirkan cerita.

Laksana air yang menguap, sejatinya ia tetap ada.

Beralih dari yang berwujud dan dapat disentuh, menjadi yang hanya mampu dirasa.

Kamis, 22 April 2021

Lentera Tuhan

 (Laily Alfath)

 

 
 
Dunia memang tidak selalu menyuguhkan cahaya kebahagiaan setiap hari.
Terkadang gelap nan sepi mengampiri tanpa permisi.
Terkadang kekhawatiran menyergap tanpa izin.
Bahkan seringnya ketidakpastian menjadi bahan bakar atas kepulan asap kekhawatiran yang menghantui.
Tapi Tuhan selalu berhasil mendamaikan hati.
Tuhan menyalakan lentera yang tak pernah padam dalam mengasihi. 

 

Senin, 19 April 2021

Warna Dunia

 

(Dyah Santoso)


Harapan dan pengorbanan didawamkan.

‘Hasil tak menghianati usaha’ jadi semboyan.

Ada cita-cita di ujung penantian.

Mengundi takdir jadi pilihan.

Kamu dan aku sama saja, bahkan semua umat manusia di dunia tak ada bedanya.

 

Kala benih mulai memunculkan tunasnya, kala itulah kerisauan dimulai.

Disemai dari mimpi dan ambisi.

Dirawat dengan doa dan usaha.

Serta dipupuk oleh cinta dan asa.

Tunas kecil menikmati tumbuh-kembangnya, angin tak sampai hati menerpa.

Pohon-pohon besar jadi andalan, akar sigap menyerap genangan, rindang batang nyaman nan aman.

Tunas kecil yang tak lagi kerdil.

 

Kala berlalu.

Aneka warna bersatu, me-ji-ku-hi-bi-ni-u dan hal-hal baru.

Terlalu banyak warna berpadu, sulit membedakan tanpa alat bantu.

Di mataku hanya ada kelabu.

 

Tunas kecil mulai tumbuh, pohon besar tak lagi tangguh dan dunia bersikukuh.

Kubuat pagar membentengi, tapi tunas terlampau cepat tinggi.

Burung-burung mulai tertarik bersarang di dahan, satu-dua hingga gerombolan.

Angin tak lagi santai ketika lajunya terhalangi, daun tua-muda gugur saling mendahului.

Tunas kecil kini berjuang sendiri.

Ku harap akarnya cukup erat memeluk bumi.

 

Kala berlalu.

Meski kelabu adalah abu-abu, hitam bukanlah putih.

Kamu dan aku tak pernah tahu, sehitam apa jelaga itu.

Yang kita tahu, hitam bukanlah putih.

Selama dunia tak dihuni mereka yang tak tahu dan tak mau tahu warna dunia.