Minggu, 09 Mei 2021

Sarwa

(Laily Alfath)

 


"Jantung dari segala pengharapan akan bermuara pada satu titik, yaitu Tuhan. -Laily Alfath-."

 

       Pernahkah kamu memiliki harapan yang sangat ingin kamu wujudkan? Entah itu sesederhana harapan menikmati ice cream kesukaanmu sembari menikmati senja di balkon rumah, harapan untuk bisa menghabiskan weekend bersama orang-orang yang kamu rindukan, atau bahkan sampai harapan yang menurutmu jauh dari pencapaianmu namun kamu sangat ingin itu menjadi kenyataan. Jika pernah, maka aku yakin keinginanmu untuk menjadikannya nyata adalah energi yang mendorongmu untuk berjuang. Apa yang kamu pikirkan ketika aku menyampaikan kata "berjuang"? Proses? Lelah? Kerja keras? Atau apa menurutmu? Menurutku berjuang lekat berkawan dengan pengorbanan. Entah itu pengorbanan usaha, waktu, tenaga, materi, atau bentuk pengorbanan lainnya. Kamu beruntung tatkala kamu masih memiliki "harapan". Itu artinya, ada hal yang akan membuatmu hidup dalam menjalani serentetan episode yang akan disuguhkan oleh Tuhan. Pada kondisimu saat ini, apa harapan terbesarmu? Apakah kamu benar-benar menginginkannya untuk menjadi kenyataan? Apa saja pengorbananmu untuk mewujudkannya?

        Setiap manusia yang masih memiliki stok harapan di dalam kantongnya, tentu ingin menjadikan serentetan harapannya menjadi kenyataan. Namun kita juga tidak bisa memungkiri bahwa tidak semua yang kita harapkan berjalan sesuai dengan realita. Tatkala harapan berbeda dengan realita, bagaimana responmu terhadap Tuhan? Pasrah? Mengumpat karena tidak terima? Atau bagaimana? Tatkala harapan berbeda dengan realita, ada beberapa manusia yang putus asa atau bahkan merasa Tuhan telah mengambil hak yang ia punya. Padahal tidakkah kita sadar bahwa kita tidak pernah memiliki apa-apa? Sementara Tuhan adalah Maha Pemilik Segalanya yang telah mengizinkan kita mengecap serentetan kesenangan tanpa meminta imbalan. Hal inilah yang sering membuat manusia patah, tatkala kita memaksakan diri untuk mengerjakan hal yang sebenarnya bukan tugas kita1 dan memaksakan kehendak harus senantiasa seirama dengan keadaan. Bukankah manusia berbatas dalam menafsirkan serentetan kode semesta? Pantaskah kita menuntut harapan untuk dikabulkan dengan dalih kebaikan? Sementara kita tidak bisa menjamin kebaikan itu datang setelah dikabulkannya harapan. Sudahkah kita cukup tahu diri kepada Tuhan? Tatkala kita percaya pada Tuhan dan menyadari secara utuh bahwa urusan penentu hasil usaha kita ada pada tangan Tuhan, semestinya kita tidak perlu kecewa. Karena Tuhan senantiasa memberikan keputusan terbaik dan tidak berniat membuat hamba-Nya terluka. Hal yang sekarang patut kita pertanyakan adalah, sudahkah kita sedemikian percaya pada Tuhan dalam menjalani kehidupan?

       Pada perjalanan kehidupan, apapun perasaan yang datang seringnya berawal dari terburu-buru menafsirkan keputusan Tuhan berbekal prediksi kita yang terbatas. Ketika keadaan terasa sangat menghimpit, seringnya manusia terburu putus asa berbekal potongan peristiwa yang dirasa menyakitkan. Jika sudah demikian, seringnya manusia terlanjur mengikuti hatinya. Padahal semestinya kitalah yang membimbing hati kita, bukan mengikuti kata hati kita2. Seringnya manusia terburu-buru memberi titik, tanpa tahu bahwa Tuhan masih memberi koma. Bahkan terkadang banyak orang matidemotivasi bukan karena Tuhan. Tapi naasnya karena kita terburu memberi titik pada peristiwa yang kita alami. Kunci dari semua kekhawatiran dan keputusasaan adalah, "seberapa besar usaha kita? dan seberapa besar kita percaya pada Tuhan?". Kita hanya harus mengoptimalkan pada setiap hari yang masih Tuhan titipkan. Kita hanya perlu belajar selangkah demi selangkah untuk percaya pada Tuhan3, dan komitmen untuk senantiasa berjalan di jalan Tuhan.

    Pada serentetan peristiwa yang kita alami, seringnya ada manusia yang membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Naasnya tatkala ia merasa posisinya inferior, ia merasa tidak beruntung dan merasa Tuhan tidak menyayanginya. Padahal bentuk kasih sayang Tuhan tidak sesempit yang ia pikirkan. Apapun konten pencapaian atau kebahagiaan yang dibagikan oleh teman kita di media sosial, tidak semestinya menjadi standar kebahagiaan kita1. Tuhan menyayangi kita dengan cara unik dan berbeda bagi setiap hamba-Nya. Hal menyakitkan yang mengunjungimu, tidak selamanya bentuk ketidakpedulian Tuhan terhadapmu. Bukankah pedang besi yang terus diasah justru menjadi pedang yang sangat tajam dan sangat diandalkan dalam peperangan? Pada setiap proses kita, Tuhan telah menyuguhkan hadiah. Namun semua bergantung pada kadar kepercayaan kita terhadap-Nya. Tidak semua usaha kita akan berjalan sesuai harapan, maka fokuslah pada proses pertumbuhan diri yang telah kamu rasakan bukan pada hasil standar yang kita tetapkan. Segala pengharapan kita ada pada satu jalan, yaitu Tuhan. Sama halnya jika kita naik kereta, kemanapun tujuannya hanya ada satu rel untuk  menujunya. Jika pola pemikiran kita sudah benar, maka menjalani kehidupan pasti akan lebih tenang1.

 

Daftar Rujukan

1Yandi, Fardi. 2021. Hal yang Sebaiknya Dilupakan dalam Hidup. Online (https://www.instagram.com/p/COaDszVjWcB/), diakses 8 Mei 2021.

2Loan, Raditya. 2021. Online (https://www.instagram.com/p/CNPx3-kAJZo/), diakses 8 Mei 2021.

3Loan, Raditya. 2021. Online (https://www.instagram.com/p/CNFoqKdgNgi/), diakses 8 Mei 2021.






0 comments:

Posting Komentar