Rabu, 16 September 2020

Imperfect

 


(Laily Alfath)

 



 

 

“Menerima ketidaksempurnaan akan membuat batinmu lebih lapang dan ringan dalam menjalani kehidupan. –Asfa Assyifa-”

 

Apa yang kamu fikirkan jika membaca atau mendengar kata “perfect” ? Segala sesuatu yang indah secara fisik? Segala hal yang mewah? Segala hal yang membahagiakan? Atau segala hal yang tanpa cacat? Ketika kita melihat sosok wanita cantik, anggun, cerdas, terlahir dari keluarga kaya, bisa jalan-jalan keluar negeri kapanpun ia mau, dan membeli apapun yang ia inginkan, pasti kebanyakan orang menganggap bahwa hidup wanita tersebut adalah hidup yang sempurna. Yap! Wajar jika banyak manusia atau bahkan kita sering mempersepsikan bahwa sempurna adalah tentang indah, mewah, bahagia, tanpa cacat, atau segala hal baik lainnya. Tapi apakah kamu yakin bahwa ukuran kesempurnaan selalu mutlak dengan hal-hal indah, mewah, bahagia dan tanpa cacat?

Pernahkah kamu melihat kesempurnaan dari sudut pandang keseimbangan? Ya! Keseimbangan antara duka dan tawa, keseimbangan antara sempit dan lapang, keseimbangan antara gelap dan terang, serta keseimbangan warna lainnya. Apakah benar bahwa sempurna selalu terlahir dari banyak kemewahan dan keindahan tanpa cacat? Tidak! Mungkinkah kesempurnaan bisa hadir dalam wujud duka? Mungkin! Contoh: ketika seseorang kehilangan orang yang disayangnya maka perasaan duka akan mengidap batinnya. Namun pada waktu yang bersamaan situasi juga mengajarkan tentang makna keberadaan. Seseorang yang pernah mengalami kehilangan, akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan menghargai orang-orang yang masih berada di sekitarnya. Jika orang tersebut bisa berpikiran demikian, maka itu adalah wujud kesempurnaan dalam bentuk keseimbangan berpikir. Namun jika orang tersebut memaknai kesempurnaan tidak pernah lahir dari sebuh duka, maka orang tersebut hanya akan terpaku dan berkubang dalam dukanya, serta berujung melontarkan sumpah serapah pada keadaan.

Tidak ada standard sempurna mutlak dengan indikator fisik yang indah, hal mewah, bahagia yang kasat mata, dan tanpa cacat. Jika seseorang berpikir bahwa indikator sempurna secara mutlak adalah tentang keindahan, kemewahaan, dan tanpa cacat, bisa jadi itu hanya sebatas sempurna versi ego manusia. Jika takaran kesempurnaan adalah tentang fisik yang indah, semestinya seorang wanita (yang dianggap cantik) tidak akan terus memoles dirinya untuk semakin cantik. Karena hakikat sempurna adalah berada pada titik puncak. Jika masih terus mencari maka itu artinya hal tersebut belum sampai pada titik puncak (sempurna). Jika kesempurnaan selalu lekat dengan hal mewah, semestinya seorang milyarder yang sudah memiliki satu mobil mewah (sudah merasa sempurna) tidak perlu membeli mobil mewah yang lainnya. Jika sempurna selalu lekat dengan bahagia yang kasat mata dan tanpa cacat, nyatanya banyak orang yang dihadapkan pada banyak keterbatasan masih bisa merasa cukup dalam batinnya sekalipun secara kasat mata serba dihadapkan pada keterbatasan. Bentuk kesempurnaan berpikir tersebutlah yang lahir dari keterbatasan dengan masih banyak cacat, tapi mampu dijawab dengan melahirkan rasa syukur, bahagia, dan berharga.

“Nothing perfect in this world!” adalah statement yang layak dilontarkan pada seseorang yang hanya memaknai kata sempurna dari bentuk fisiknya dan dari satu kaca mata. Tidak akan pernah kamu temukan hal yang sempurna jika standard yang kamu pakai adalah standard egomu tanpa mencoba melihat dari kaca mata lainnya. Bukankah setiap hal yang tercipta memiliki esensinya? Tidak mengerti alasan di balik Tuhan menciptakan suatu maha karya bukan berarti maha karya tersebut tak bermakna. Atau bahkan bisa jadi ketika kita menilai suatu hal tersebut nampak tidak sempurna, justru pemikiran kita yang tidak sempurna karena keterbatasan kita dalam memahami makna di baliknya.

Imperfect tidak selamanya cacat yang memalukan dan tidak bisa ditoleransi oleh semua orang. Tanpa imperfect seseorang tidak akan pernah belajar banyak hal. Bahkan tanpa imperfect kata perfect tidak akan pernah lahir dan tersemat pada suatu hal. Contoh : seseorang yang bertubuh pendek dan sering menjadi korban bullying (dianggap lemah atau kurang dihargai sekitar) cenderung merasa rendah diri. Namun jika orang tersebut fokus pada pengembangan dirinya, mengggapai serentetan prestasi, maka akan ada banyak orang yang menundukkan topinya (bentuk penghargaan) terhadap orang tersebut. Semua kembali pada bagaimana kita menilai suatu hal. Ketika kita dilahirkan ke dunia, ada beberapa hal yang sudah Tuhan bekalkan pada diri kita. Bekal tersebut ada yang bisa dioptimalkan ada yang bersifat mutlak. Setiap bentuk yang Tuhan titipkan pada kita, adalah bentuk amanah khusus yang tidak diamanahkan kepada orang lain. Tinggal kita mau menyikapinya dengan cara yang seperti apa. Perfect dan imperfect adalah kaca mata semu yang bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing kepala. Jika standard perfect mu hanya menghancurkanmu dari dalam sementara kamu terus berusaha mengikutinya, selamat! Kamu tengah dengan suka rela menenggak racun untuk merusak tubuhmu dari dalam dan mempercepat kematian. Namun jika standardmu justru memacumu untuk terus berkembang sekalipun seolah dihadapkan pada berbagai tembok keterbatasan, percayalah bahwa setiap apa yang kamu lakukan dengan hati dan sungguh-sungguh, Tuhan akan berbelas kasih menunjukkan jalan-Nya.

Semakin banyak permasalahan yang kamu hadapi atau kamu temukan dari orang-orang sekitarmu, maka itu adalah kesempatan besar yang hanya Tuhan suguhkan untuk orang-orang hebat agar menjadi lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Namun jika dengan semakin banyaknya ladang masalah seseorang menjadi tidak semakin bijak atau bahkan semakin mengutuk keadaan, maka ada banyak keserakahan yang masing berasarang dan mendominasi egonya. Sejatinya manusia adalah makhluk yang didesain sempurna. Tuhan membekalkan akal dan perasaan untuk membantu manusia menjadi makhluk bijak dalam menyikapi keadaan. Hanya saja sering kali timpang dalam penggunaaan salah satunya. Alhasil banyak manusia sering menjadi budak logika maupun budak perasaannya. Bukankah besi yang terus ditempa dengan panas, beban berat, dan gesekan bisa berubah menjadi pedang yang dengan gagahn dan mampu diandalkan dalam medan perang? Itulah sama halnya salah satu cara Tuhan menyayangi hamba-Nya.

 

Berhentilah mengutuk keadaan. You’re perfect as your self!

0 comments:

Posting Komentar