(Laily Alfath)
“Menerima ketidaksempurnaan akan membuat
batinmu lebih lapang dan ringan dalam menjalani kehidupan. –Asfa Assyifa-”
Apa yang kamu fikirkan jika membaca atau
mendengar kata “perfect” ? Segala
sesuatu yang indah secara fisik? Segala hal yang mewah? Segala hal yang
membahagiakan? Atau segala hal yang tanpa cacat? Ketika kita melihat sosok
wanita cantik, anggun, cerdas, terlahir dari keluarga kaya, bisa jalan-jalan
keluar negeri kapanpun ia mau, dan membeli apapun yang ia inginkan, pasti
kebanyakan orang menganggap bahwa hidup wanita tersebut adalah hidup yang
sempurna. Yap! Wajar jika banyak manusia atau bahkan kita sering mempersepsikan
bahwa sempurna adalah tentang indah, mewah, bahagia, tanpa cacat, atau segala
hal baik lainnya. Tapi apakah kamu yakin bahwa ukuran kesempurnaan selalu
mutlak dengan hal-hal indah, mewah, bahagia dan tanpa cacat?
Pernahkah kamu melihat kesempurnaan dari
sudut pandang keseimbangan? Ya! Keseimbangan antara duka dan tawa, keseimbangan
antara sempit dan lapang, keseimbangan antara gelap dan terang, serta
keseimbangan warna lainnya. Apakah benar bahwa sempurna selalu terlahir dari banyak
kemewahan dan keindahan tanpa cacat? Tidak! Mungkinkah kesempurnaan bisa hadir
dalam wujud duka? Mungkin! Contoh: ketika seseorang kehilangan orang yang
disayangnya maka perasaan duka akan mengidap batinnya. Namun pada waktu yang
bersamaan situasi juga mengajarkan tentang makna keberadaan. Seseorang yang
pernah mengalami kehilangan, akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan
menghargai orang-orang yang masih berada di sekitarnya. Jika orang tersebut
bisa berpikiran demikian, maka itu adalah wujud kesempurnaan dalam bentuk
keseimbangan berpikir. Namun jika orang tersebut memaknai kesempurnaan tidak
pernah lahir dari sebuh duka, maka orang tersebut hanya akan terpaku dan
berkubang dalam dukanya, serta berujung melontarkan sumpah serapah pada
keadaan.
Tidak ada standard sempurna mutlak
dengan indikator fisik yang indah, hal mewah, bahagia yang kasat mata, dan
tanpa cacat. Jika seseorang berpikir bahwa indikator sempurna secara mutlak
adalah tentang keindahan, kemewahaan, dan tanpa cacat, bisa jadi itu hanya
sebatas sempurna versi ego manusia. Jika takaran kesempurnaan adalah tentang
fisik yang indah, semestinya seorang wanita (yang dianggap cantik) tidak akan
terus memoles dirinya untuk semakin cantik. Karena hakikat sempurna adalah berada
pada titik puncak. Jika masih terus mencari maka itu artinya hal tersebut belum
sampai pada titik puncak (sempurna). Jika kesempurnaan selalu lekat dengan hal
mewah, semestinya seorang milyarder yang sudah memiliki satu mobil mewah (sudah
merasa sempurna) tidak perlu membeli mobil mewah yang lainnya. Jika sempurna
selalu lekat dengan bahagia yang kasat mata dan tanpa cacat, nyatanya banyak
orang yang dihadapkan pada banyak keterbatasan masih bisa merasa cukup dalam
batinnya sekalipun secara kasat mata serba dihadapkan pada keterbatasan. Bentuk
kesempurnaan berpikir tersebutlah yang lahir dari keterbatasan dengan masih
banyak cacat, tapi mampu dijawab dengan melahirkan rasa syukur, bahagia, dan
berharga.
“Nothing
perfect in this world!” adalah statement yang layak dilontarkan pada
seseorang yang hanya memaknai kata sempurna
dari bentuk fisiknya dan dari satu kaca mata. Tidak akan pernah kamu
temukan hal yang sempurna jika standard yang kamu pakai adalah standard egomu
tanpa mencoba melihat dari kaca mata lainnya. Bukankah setiap hal yang tercipta
memiliki esensinya? Tidak mengerti alasan di balik Tuhan menciptakan suatu maha
karya bukan berarti maha karya tersebut tak bermakna. Atau bahkan bisa jadi
ketika kita menilai suatu hal tersebut nampak tidak sempurna, justru pemikiran
kita yang tidak sempurna karena keterbatasan kita dalam memahami makna di baliknya.
Imperfect
tidak selamanya cacat yang
memalukan dan tidak bisa ditoleransi oleh semua orang. Tanpa imperfect seseorang tidak akan pernah
belajar banyak hal. Bahkan tanpa imperfect
kata perfect tidak akan pernah
lahir dan tersemat pada suatu hal. Contoh : seseorang yang bertubuh pendek dan
sering menjadi korban bullying
(dianggap lemah atau kurang dihargai sekitar) cenderung merasa rendah diri.
Namun jika orang tersebut fokus pada pengembangan dirinya, mengggapai
serentetan prestasi, maka akan ada banyak orang yang menundukkan topinya (bentuk
penghargaan) terhadap orang tersebut. Semua kembali pada bagaimana kita menilai
suatu hal. Ketika kita dilahirkan ke dunia, ada beberapa hal yang sudah Tuhan
bekalkan pada diri kita. Bekal tersebut ada yang bisa dioptimalkan ada yang
bersifat mutlak. Setiap bentuk yang Tuhan titipkan pada kita, adalah bentuk
amanah khusus yang tidak diamanahkan kepada orang lain. Tinggal kita mau
menyikapinya dengan cara yang seperti apa. Perfect
dan imperfect adalah kaca mata
semu yang bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing kepala. Jika standard perfect mu hanya menghancurkanmu dari
dalam sementara kamu terus berusaha mengikutinya, selamat! Kamu tengah dengan
suka rela menenggak racun untuk merusak tubuhmu dari dalam dan mempercepat
kematian. Namun jika standardmu justru memacumu untuk terus berkembang sekalipun
seolah dihadapkan pada berbagai tembok keterbatasan, percayalah bahwa setiap
apa yang kamu lakukan dengan hati dan sungguh-sungguh, Tuhan akan berbelas
kasih menunjukkan jalan-Nya.
Semakin banyak permasalahan yang kamu
hadapi atau kamu temukan dari orang-orang sekitarmu, maka itu adalah kesempatan
besar yang hanya Tuhan suguhkan untuk orang-orang hebat agar menjadi lebih
bijak dalam menyikapi kehidupan. Namun jika dengan semakin banyaknya ladang
masalah seseorang menjadi tidak semakin bijak atau bahkan semakin mengutuk
keadaan, maka ada banyak keserakahan yang masing berasarang dan mendominasi
egonya. Sejatinya manusia adalah makhluk yang didesain sempurna. Tuhan
membekalkan akal dan perasaan untuk membantu manusia menjadi makhluk bijak
dalam menyikapi keadaan. Hanya saja sering kali timpang dalam penggunaaan salah
satunya. Alhasil banyak manusia sering menjadi budak logika maupun budak
perasaannya. Bukankah besi yang terus ditempa dengan panas, beban berat, dan gesekan
bisa berubah menjadi pedang yang dengan gagahn dan mampu diandalkan dalam medan
perang? Itulah sama halnya salah satu cara Tuhan menyayangi hamba-Nya.
Berhentilah mengutuk
keadaan. You’re perfect as your self!

0 comments:
Posting Komentar