(Dyah Santoso)
Logam, belenggu rasa ini hingga rindu tak lagi menyapanya. Udara,
bumbungkan rasa ini hingga rindu tak lagi menggapainya. Air, tenggelamkan rasa
ini hingga rindu tak lagi memancingnya. Namun cinta, kau enggan bersekutu. Tulusmu
melelehkan logam, memuaikan udara dan merapatkan kisi air. Ketika rindu bersua
cinta, hanya hati tulus yang mampu menyambut kehadirannya.
***
Ratna memainkan sedotan di gelas smoothies-nya dengan malas. Membiarkan dirinya berkontemplasi,
duduk sendirian di kafe karena Mas Adhi sudah pulang duluan. Ya, ini bukan salah Mas Adhi. Siapa juga yang mau
ayahnya masuk rumah sakit? Tapi tetap saja rasa kecewa tidak bisa dihindari. Apalagi
melihat usahanya yang memperhatikan setiap detil penampilannya hari ini. Ratna yang biasa memakai atasan berbahan
kaos dan celana jeans kini memilih memakai terusan ungu muda bermotif bunga
dengan cardigan putih polos. Tak lupa OOTD senada, sepatu kets dan tas
selempang putih. Casual dan tampak anggun. Bahkan pagi tadi dia sempat menghias
kukunya dengan kutek ungu pastel, warna kesukaannya.
Matahari
mulai menuju peraduannya. Ratna yang berada di area outdoor bisa melihat
jelas sepuhan langit jingga. Kafe ini memutar lagu "lantas" Juicy Luicy. Lagu
yang mengingatkannya pada seseorang, lagu yang mewakili perasaannya yang
temaram seperti suasana sore ini. Rasa kecewanya perlahan membaik, mungkin
memang tidak seharusnya dia pergi dengan Mas Adhi sedangkan pikirannya tertuju
pada orang lain. Mas Adhi tidak pantas menjadi pelampiasan perasaannya. Temaram
itu harus disudahi, beralih pada yang lebih terang. Terkadang temaram
melindungi ketidakpercayaan diri kita. Tapi jika ini terus berlanjut, kita jadi
sulit melihat mana yang tulus dan mana yang sekadar ambisius. Anehnya, meskipun
Ratna tahu bahwa temaram ini menyiksa, dia tetap enggan beranjak.
“Sendirian aja?” tanya seseorang yang
mengembalikan kesadaran Ratna. Ratna sedikit gugup mendapati orang di
hadapannya.
“Boleh gabung?” Irwan menarik dan
menduduki kursi di hadapan Ratna tanpa menunggu jawaban.
Irwan menyapu pandangan ke sekeliling,
memastikan kemungkinan Ratna bersama sahabat atau rekan kantornya. Sedangkan
Ratna masih mencerna momen ini, Irwan seperti bayangan yang tiba-tiba keluar
dari pikirannya.
“Kamu kok bisa di sini?” pertanyaan yang
akhirnya keluar dari mulut Ratna.
“Tadi habis nganterin tante fitting
baju pengantin. Setelah itu malah ditinggal jalan-jalan sama keluarga calonnya.
Iseng mampir sini deh daripada gabut. Kasihan banget ya aku?” kelakar Irwan.
“Kamu sendiri ngapain?” Irwan balik
bertanya.
“Ah, aku sebenernya pergi sama Mas Adhi
tadi. Tapi Mas Adhi balik duluan karena ayahnya masuk rumah sakit”.
Ekspresi Irwan seketika berubah, entah
disadari Ratna atau tidak. Pandangan Irwan beralih pada terusan yang Ratna kenakan
hingga membuat yang dipandang tidak nyaman.
“Kenapa ngelihatin kayak gitu?”
“Tumben pake dress?”
“Pengen aja. Nggak boleh?”.
“Kamu ngedate ya sama Mas Adhi?”
“Apaan sih” Ratna kembali sibuk
mengaduk-aduk smoothies-nya.
Irwan tersenyum. “Nggak nyangka gue,
ternyata lo udah nggak jomblo”.
Ratna melempar Irwan dengan tissue di
genggamannya. “Siapa juga yang jadian? Awas ya kalau di kantor kesebar gosip
nggak bener!”. Irwan justru semakin tertawa.
Ratna jadi kesal sendiri dengan kelakuan Irwan. Padahal Irwanlah alasan Ratna tidak bisa menerima Mas Adhi. Ya, Mas Adhi sudah pernah menyataan perasaannya, tapi Ratna tidak memberi respon apa-apa. Mas Adhi cukup dewasa menyikapi itu, dia tidak menuntut jawaban. Gelagat Ratna sudah cukup menjawab. Selain itu, yang membuat Ratna semakin kesal adalah Irwan kembali menggunakan kata ‘lo-gue’. Ini pertama kalinya setelah perkenalan pertama mereka dulu. Ratna satu-satunya teman perempuan yang dipanggil ‘aku-kamu’ oleh Irwan, bukan karena spesial, melainkan segan. Ratna yang masih terbawa asal daerahnya memanggil semua temannya dengan ‘aku-kamu’, tidak peduli perempuan ataupun laki-laki. Alhasil beberapa teman menjadi segan dan ikut menyebut demikian, termasuk Irwan.
“Jadi masih jomblo? Syukur deh” Irwan tidak
bisa menahan tawanya.
***
Ungkapan
‘biarkan waktu yang menjawab’ kini sangat tepat digunakan, pasalnya rumor yang
beredar beberapa minggu terakhir tentang Irwan yang akan menjadi menantu bos
menemui titik terang. Lebih tepatnya, Irwan adalah calon keponakan pak Rinaldi,
bosnya. Tante yang diantar Irwan fitting baju ternyata calon mama
sambung Rania. Itu artinya kedekatan Rania dan Irwan selama ini sebatas kedekatan sebagai sepupu. Kenyataan ini sedikit membuat Ratna lega.
Malam ini pesta pernikahan pak Rinaldi digelar, cukup meriah dengan dihadiri kerabat dan kolega. Beberapa karyawan juga mendapat undangan, termasuk Ratna. Mas Adhi menawarkan diri untuk menjemput Ratna, tapi Ratna memilih pergi bersama teman sedivisinya. Ratna memadukan blouse hijau pastel dengan rok batik berwarna senada. Awalnya Ratna sempat mempertimbangkan pesan Irwan untuk mengenakan bolero batik pemberiannya, tapi dia tidak menemukan dress yang cocok untuk dipadukan. Ratna bukan seseorang yang fashionable, tapi keserasian adalah detil yang sangat dia perhatikan.
Ratna dan teman-temannya tiba di lokasi pesta. Tidak butuh waktu lama untuk membaur dengan tamu yang lain, karena pak Rinaldi sengaja mengatur jam undangan sesuai relasinya. Ratna menyapu pandang, hingga netranya mendapati Mas Adhi yang melambaikan tangan ke arahnya. Jika saja saat itu Mas Adhi sedang tidak bersama pak Rinaldi, Ratna akan memilih untuk tidak menghampirinya. Irwan yang juga berada di sana memperhatikan Ratna dan Mas Adhi bergantian.
“Jadi udah resmi sekarang?” Irwan mengucapkannya lirih, cenderung berbisik tepat di sebelah Ratna.
Ratna menoleh memastikan bahwa yang diajak
bicara adalah dirinya. Irwan mengisyaratkan dagunya pada Mas Adhi. Ratna masih
belum paham apa yang dimaksud Irwan sampai kemudian Rania menyeletuk “Mbak
Ratna sama Mas Adhi couple-an ya bajunya!”. Sontak segerombolan
orang yang ada di situ memandang dua orang yang disebut Rania tadi. Ratna dan Mas Adhi saling melempar pandang, suatu ketidaksengajaan mereka memakai baju
dengan warna senada. Suasana berubah canggung bagi mereka berdua.
“Iya ya, kebetulan samaan. Padahal nggak
janjian” Mas Adhi menjelaskan.
“Iya, kebetulan aja” Ratna menimpali sambil
melirik ke arah Irwan. Alangkah terkejutnya Ratna ketika sadar bahwa batik yang
dikenakan Irwan saat ini sama persis motifnya dengan hadiah bolero yang dia terima.
Irwan yang sadar diperhatikan Ratna, hanya
melempar senyum tipis. Sedangkan Ratna bingung mengartikan senyuman itu, tapi yang
lebih membuat Rania bingung adalah batik yang dikenakan Irwan. ‘Kenapa kemarin
Irwan menyarankannya untuk mengenakan bolero pemberiannya? Apa Irwan berniat couple-an
dengannya?’ pertanyaan-pertanyaan itu kini berkelebat di benak Ratna.
Bersambung.


