Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Agustus 2024

Titip Rindu (3)

 (Dyah Santoso)




Sebelumnya Titip Rindu (2).


Logam, belenggu rasa ini hingga rindu tak lagi menyapanya. Udara, bumbungkan rasa ini hingga rindu tak lagi menggapainya. Air, tenggelamkan rasa ini hingga rindu tak lagi memancingnya. Namun cinta, kau enggan bersekutu. Tulusmu melelehkan logam, memuaikan udara dan merapatkan kisi air. Ketika rindu bersua cinta, hanya hati tulus yang mampu menyambut kehadirannya.

***

 

Ratna memainkan sedotan di gelas smoothies-nya dengan malas. Membiarkan dirinya berkontemplasi, duduk sendirian di kafe karena Mas Adhi sudah pulang duluan. Ya, ini bukan salah Mas Adhi. Siapa juga yang mau ayahnya masuk rumah sakit? Tapi tetap saja rasa kecewa tidak bisa dihindari. Apalagi melihat usahanya yang memperhatikan setiap detil penampilannya hari ini. Ratna yang biasa memakai atasan berbahan kaos dan celana jeans kini memilih memakai terusan ungu muda bermotif bunga dengan cardigan putih polos. Tak lupa OOTD senada, sepatu kets dan tas selempang putih. Casual dan tampak anggun. Bahkan pagi tadi dia sempat menghias kukunya dengan kutek ungu pastel, warna kesukaannya.

 Matahari mulai menuju peraduannya. Ratna yang berada di area outdoor bisa melihat jelas sepuhan langit jingga. Kafe ini memutar lagu "lantas" Juicy Luicy. Lagu yang mengingatkannya pada seseorang, lagu yang mewakili perasaannya yang temaram seperti suasana sore ini. Rasa kecewanya perlahan membaik, mungkin memang tidak seharusnya dia pergi dengan Mas Adhi sedangkan pikirannya tertuju pada orang lain. Mas Adhi tidak pantas menjadi pelampiasan perasaannya. Temaram itu harus disudahi, beralih pada yang lebih terang. Terkadang temaram melindungi ketidakpercayaan diri kita. Tapi jika ini terus berlanjut, kita jadi sulit melihat mana yang tulus dan mana yang sekadar ambisius. Anehnya, meskipun Ratna tahu bahwa temaram ini menyiksa, dia tetap enggan beranjak.

“Sendirian aja?” tanya seseorang yang mengembalikan kesadaran Ratna. Ratna sedikit gugup mendapati orang di hadapannya.

“Boleh gabung?” Irwan menarik dan menduduki kursi di hadapan Ratna tanpa menunggu jawaban.

Irwan menyapu pandangan ke sekeliling, memastikan kemungkinan Ratna bersama sahabat atau rekan kantornya. Sedangkan Ratna masih mencerna momen ini, Irwan seperti bayangan yang tiba-tiba keluar dari pikirannya.

“Kamu kok bisa di sini?” pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulut Ratna.

“Tadi habis nganterin tante fitting baju pengantin. Setelah itu malah ditinggal jalan-jalan sama keluarga calonnya. Iseng mampir sini deh daripada gabut. Kasihan banget ya aku?” kelakar Irwan.

“Kamu sendiri ngapain?” Irwan balik bertanya.

“Ah, aku sebenernya pergi sama Mas Adhi tadi. Tapi Mas Adhi balik duluan karena ayahnya masuk rumah sakit”.

Ekspresi Irwan seketika berubah, entah disadari Ratna atau tidak. Pandangan Irwan beralih pada terusan yang Ratna kenakan hingga membuat yang dipandang tidak nyaman.

“Kenapa ngelihatin kayak gitu?”

“Tumben pake dress?”

“Pengen aja. Nggak boleh?”.

“Kamu ngedate ya sama Mas Adhi?”

“Apaan sih” Ratna kembali sibuk mengaduk-aduk smoothies-nya.

Irwan tersenyum. “Nggak nyangka gue, ternyata lo udah nggak jomblo”.

Ratna melempar Irwan dengan tissue di genggamannya. “Siapa juga yang jadian? Awas ya kalau di kantor kesebar gosip nggak bener!”. Irwan justru semakin tertawa.

Ratna jadi kesal sendiri dengan kelakuan Irwan. Padahal Irwanlah alasan Ratna tidak bisa menerima Mas Adhi. Ya, Mas Adhi sudah pernah menyataan perasaannya, tapi Ratna tidak memberi respon apa-apa. Mas Adhi cukup dewasa menyikapi itu, dia tidak menuntut jawaban. Gelagat Ratna sudah cukup menjawab. Selain itu, yang membuat Ratna semakin kesal adalah Irwan kembali menggunakan kata ‘lo-gue’. Ini pertama kalinya setelah perkenalan pertama mereka dulu.  Ratna satu-satunya teman perempuan yang dipanggil ‘aku-kamu’ oleh Irwan, bukan karena spesial, melainkan segan. Ratna yang masih terbawa asal daerahnya memanggil semua temannya dengan ‘aku-kamu’, tidak peduli perempuan ataupun laki-laki. Alhasil beberapa teman menjadi segan dan ikut menyebut demikian, termasuk Irwan.

“Jadi masih jomblo? Syukur deh” Irwan tidak bisa menahan tawanya.

 

***

     Ungkapan ‘biarkan waktu yang menjawab’ kini sangat tepat digunakan, pasalnya rumor yang beredar beberapa minggu terakhir tentang Irwan yang akan menjadi menantu bos menemui titik terang. Lebih tepatnya, Irwan adalah calon keponakan pak Rinaldi, bosnya. Tante yang diantar Irwan fitting baju ternyata calon mama sambung Rania. Itu artinya kedekatan Rania dan Irwan selama ini sebatas kedekatan sebagai sepupu. Kenyataan ini sedikit membuat Ratna lega.

      Malam ini pesta pernikahan pak Rinaldi digelar, cukup meriah dengan dihadiri kerabat dan kolega. Beberapa karyawan juga mendapat undangan, termasuk Ratna. Mas Adhi menawarkan diri untuk menjemput Ratna, tapi Ratna memilih pergi bersama teman sedivisinya. Ratna memadukan blouse hijau pastel dengan rok batik berwarna senada. Awalnya Ratna sempat mempertimbangkan pesan Irwan untuk mengenakan bolero batik pemberiannya, tapi dia tidak menemukan dress yang cocok untuk dipadukan. Ratna bukan seseorang yang fashionable, tapi keserasian adalah detil yang sangat dia perhatikan.

       Ratna dan teman-temannya tiba di lokasi pesta. Tidak butuh waktu lama untuk membaur dengan tamu yang lain, karena pak Rinaldi sengaja mengatur jam undangan sesuai relasinya. Ratna menyapu pandang, hingga netranya mendapati Mas Adhi yang melambaikan tangan ke arahnya. Jika saja saat itu Mas Adhi sedang tidak bersama pak Rinaldi, Ratna akan memilih untuk tidak menghampirinya. Irwan yang juga berada di sana memperhatikan Ratna dan Mas Adhi bergantian.

    “Jadi udah resmi sekarang?” Irwan mengucapkannya lirih, cenderung berbisik tepat di sebelah Ratna.

Ratna menoleh memastikan bahwa yang diajak bicara adalah dirinya. Irwan mengisyaratkan dagunya pada Mas Adhi. Ratna masih belum paham apa yang dimaksud Irwan sampai kemudian Rania menyeletuk “Mbak Ratna sama Mas Adhi couple-an ya bajunya!”. Sontak segerombolan orang yang ada di situ memandang dua orang yang disebut Rania tadi. Ratna dan Mas Adhi saling melempar pandang, suatu ketidaksengajaan mereka memakai baju dengan warna senada. Suasana berubah canggung bagi mereka berdua.

“Iya ya, kebetulan samaan. Padahal nggak janjian” Mas Adhi menjelaskan.

“Iya, kebetulan aja” Ratna menimpali sambil melirik ke arah Irwan. Alangkah terkejutnya Ratna ketika sadar bahwa batik yang dikenakan Irwan saat ini sama persis motifnya dengan hadiah bolero yang dia terima.

Irwan yang sadar diperhatikan Ratna, hanya melempar senyum tipis. Sedangkan Ratna bingung mengartikan senyuman itu, tapi yang lebih membuat Rania bingung adalah batik yang dikenakan Irwan. ‘Kenapa kemarin Irwan menyarankannya untuk mengenakan bolero pemberiannya? Apa Irwan berniat couple-an dengannya?’ pertanyaan-pertanyaan itu kini berkelebat di benak Ratna.

 

Bersambung.


Rabu, 08 November 2023

Titip Rindu (2)


(Dyah Santoso)



Sebelumnya Titip Rindu (1)


Jika rasa ini dapat dititipkan, biarkan angin membawanya berkelana tanpa muara. Biarkan ombak menghempasnya hingga hancur. Biarkan sang surya membakarnya hingga lebur. Namun rindu ini telah mengakar, tumbuh semakin kuat terpupuk seulas senyum simpulnya. Irwan, laki-laki yang disukai Ratna sejak di bangku kuliah telah kembali dari Bandung. Kepulangan Irwan justru membuat hatinya semakin terluka. Pasalnya, putri bosnya itu semakin sering mengunjunginya di kantor. Ratna berusaha biasa, namun kenyataan dan rumor yang beredar tak sanggup lagi dia tampikan.

 

Mentari begitu terik, seolah mampu memanggang apa saja yang terkena radiasinya. Ratna menggerutu dan berulang kali melirik jam tangannya, ojek online yang dipesannya tak kunjung datang. Ujung heelsnya terus mengetuk-ngetuk trotoar dengan gusar. Satu jam lagi dia harus bertemu klien. Desain yang dibuatnya berhari-hari bisa tak ada harganya jika terlambat.

Sebuah motor berhenti di depan Ratna. Si pengendara membuka kaca helmnya, menampakkan wajah yang Ratna kenali.

“Mau kemana siang-siang begini?” tanya Irwan.

“Ketemu klien” Jawab Ratna singkat.

“Di mana?” Irwan bertanya kembali.

Cempaka Residence” Ratna mengira Irwan akan memberinya tumpangan, tapi dugaannya keliru. Irwan hanya mengeluarkan ponsel di sakunya dan mengetik sesuatu.

Ratna tak mau terlalu berharap, dia mengalihkan pandangannya dari Irwan. Dari kejauhan tampak taksi melaju ke arahnya. Ratna memberikan tanda. Ratna kecewa mendapati ada penumpang di dalamnya. Tapi taksi itu mundur kembali, berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Kaca mobilnya terbuka.

“Butuh tumpangan?” tanya penumpang taksi sedikit mengeluarkan kepalanya.

“Mas Adhi?” kata Ratna setelah mengenalinya.

“Butuh tumpangan?” Mas Adhi mengulang pertanyaannya.

“Eh? Emang Mas Adhi nggak lagi buru-buru?”

Udah, ayo! Kasihan tuh udah ditunggu” Mas Adhi menunjuk drafting tube di punggung Ratna.

Tanpa pikir panjang Ratna menerima tawaran itu.

“Aku duluan ya!” Ratna melambaikan tangan kepada Irwan.

 

***

Pagi ini Ratna merasa sangat bahagia. Desainnya disukai klien. Meski itu berarti dia akan sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi itulah pekerjaannya. Dia membawa dua kotak muffin brownies. Satu kotak besar untuk rekan kantornya dan satu kotak kecil untuk Mas Adhi. Ratna tak tahu apa jadinya jika kemarin Mas Adhi tak memberinya tumpangan.

Pintu lift yang Ratna naiki hampir saja merapat, namun terbuka kembali. Seseorang masuk ke dalam.

“Pagi” sapanya.

Ratna hanya membalas dengan senyuman. Memorinya masih merekam jelas kejadian kemarin siang.

Eits, tunggupintu lift terbuka kembali. Seorang gadis berseragam SMA masuk.

Ratna menghela napas. ‘Mengapa harus bertemu dengan dua orang ini? Mengacaukan suasana hati saja’ pikir Ratna.

“Oh iya, makasih Mas. Hadiahnya lucu, Rania suka” Rania mengeluarkan liontin dari kerah seragam sekolahnya.                                 

Ratna melihatnya sekilas, liontin dengan huruf ‘R’.

Irwan melirik Ratna, Ratna cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Ting. Mereka telah sampai di lantai lima. Pintu lift terbuka. Ratna ingin segera keluar dari situasi ini. “Mari, duluan ya!” Ratna mempercepat langkahnya meninggalkan mereka berdua.

‘Huft’. Sampai kapan Ratna akan lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa Irwan tak pernah melihatnya. Kenyataan bahwa hanya ada Rania. Kenyataan bahwa mereka.... Ratna tercekat. Matanya memanas. Ratna mengatur napasnya. Menata ulang kepingan hatinya yang tersisa. Dia melangkahkan kaki ke dalam ruang kerjanya.

“Pagi semuanya” sapanya kepada semua rekan kerjanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Wah wah, ada yang mau traktiran nih” Ari berdiri dari mejanya.

“Makan malam di mana ya nanti?” sahut Karin.

Nggak ada makan malam. Sekarang sarapan aja dulu” Ratna mengangkat kotak di tangannya. “Eh” Ratna terkejut. Seseorang dari belakang menyambar kotaknya.

“Lumayanlah, daripada nggak dapat apa-apa” rekan-rekannya mendekat ke Irwan, lebih tepatnya ke kotak makan yang baru saja direbut dari tangan Ratna.

“Eh, jangan yang itu!” Ratna menunjuk kotak kecil yang akan dibuka Irwan.

“Kenapa?”

“Itu buat Mas Adhi” jawab Ratna lirih.

Ratna mengambil kotak dari Irwan dan meletakkannya di kubikel miliknya.

Selamat makan!kata Ratna sebelum berlalu meninggalkan rekan-rekannya.

Entah apa yang membuatnya ingin keluar dari ruangan itu. Yang jelas untuk saat ini dia enggan melihat Irwan ataupun Rania.

“Ratna tunggu!”

‘Oh Tuhan. Apa lagi ini’. Ratna berbalik menghadap sumber suara.

“Iya?”.

“Emm, soal kemarin siang. Aku bukannya nggak mau ngasih tumpangan, tapi....”

“Santai aja! Aku nggak masalah. Lagian kemarin udah ada Mas Adhi” Ratna tak ingin mendengarkan penjelasan yang nantinya akan membuatnya semakin sakit.

“Soal Mas Adhi, apa kalian punya hubungan?”

“Hmm?” 

“Apa kalian pacaran atau semacamnya?”

“Hah?”

Ratna benar-benar tak habis pikir dengan Irwan. Peduli apa dia dengannya? Selama ini juga Ratna tak pernah mempertanyakan hubungan Irwan dengan siapapun.

Cuma nanya aja, soalnya kalian kelihatan akrab. Kalau itu privasi, nggak perlu dijawab” Irwan menahan diri meski sebenarnya penasaran.

“Oiya, hadiah kemarin udah dibuka?Irwan mengalihkan topik pembicaraan karena melihat raut muka Rania tak nyaman dengan pertanyaannya tadi.

“Ya ampun, hadiah itu” Ratna menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Sebelumnya makasih banget ya, tapi maaf aku kelupaan, jadi belum sempet buka. Sorry banget ya” Ratna benar-benar tidak enak dengan Irwan.

“Oke, nggak masalah. Aku harap kamu suka”

Ternyata Mas Irwan di sini sama mbak Ratna” Rania muncul dari arah ruangan Bos.

Rania menghampiri Irwan dan membisikkan sesuatu.

“Mas, Papa minta kita buat test food

“Mas mana ngerti soal makanan. Buat Mas makanan itu cuma ada enak sama enak banget. Standar rasa Mas buruk”

“Ih, parah banget. Ya udah anterin aku aja”

Karena jarak mereka yang cukup dekat, Ratna bisa mendengar pembicaaran mereka dengan pikiran penuh pertanyaan. Test food untuk acara apa?

Ratna berdehem, merasa tak nyaman mendengarkan obrolan mereka.

“Mbak Ratna tolong rahasiain ini dulu ya sampai undangannya tersebar” Rania meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.

Deg. Kalimat Rania benar-benar menghantam tajam ulu hatinya.

“Oke” Ratna memberi isyarat dengan telunjuk dan ibu jarinya. “Semoga acaranya lancar”

Ratna berusaha memasang senyum termanisnya, meninggalkan mereka berdua yang masih asyik ngobrol.

 

***

Ratna teringat oleh-oleh dari Irwan yang belum sempat dia buka tiga hari lalu. Dia menarik laci meja riasnya, mengambil tas ungu itu. ‘Teruntuk perempuan termanis yang pernah ku kenal’ itu yang tertera di kartu ucapannya. Ratna tersenyum kecut.

Ratna menarik napas panjang, membuka tas itu dan melihat isinya. ‘Bolero batik’ batinnya. Ratna mendengus kesal mengingat liontin berbentuk huruf R yang diberikan Irwan ke Rania. ‘Cukup Ratna, lupakan! Kamu berhak bahagia’ Ratna menyemangati dirinya.

Bip. Pesan masuk pada ponselnya.

‘Jadikan kita nonton sore ini?’

’Jadi dong, Mas Adhi’ Ratna menekan tombol kirim pada layar HPnya sebelum merapikan meja dan bersiap-siap mandi.

 

Bersambung.


Berikutnya Titip Rindu 3.

 

 

Rabu, 07 September 2022

Titip Rindu (1)


(Dyah Santoso)



Oksigen seperti lenyap dari muka bumi, begitu sesak. Hati menjadi beku. Tak tahu apa yang harus dirasa. Harus bahagiakah? Tapi bibir tak mampu melawan gravitasi. Harus marahkah? Tapi rindu dan cemas bersinergi keluar dari belenggu kegundahan, meledak dan akhirnya menguap menyisakan ketenangan dalam sosoknya. Dia. Orang yang selalu mampu meruntuhkan pertahanannya hanya dengan seulas senyum. Orang yang selalu membuat logikanya mati rasa.

***

Tak banyak orang di dunia ini yang mendapat pekerjaan sesuai gelarnya dan memiliki karir semulus Ratna. Desainer muda yang bekerja di kantor tempatnya Praktik Kerja Lapangan (PKL) semasa kuliah dulu.

Siang ini seperti biasa Ratna menghabiskan jam makan siangnya di ruang baca yang ada di kantornya. Bekal yang dibawanya dari kos sudah cukup untuk sekadar mengganjal perut. Ratna membuka kotak makannya, risol isi jagung-sosis lengkap dengan saos dan mayones.

Kelihatannya enak” seorang gadis berseragam SMA mengambil posisi duduk di sampingnya.

“Mau?” Ratna menyodorkan kotak makannya.

Gadis itu mengangguk dan mengambil sebuah. Ratna cepat-cepat mengeluarkan tissu dalam tasnya.

Nggak perlu mbak, begini lebih nikmat” gadis itu menunjukkan rapatan giginya dan melahap risol di tangannya.

Ratna tersenyum mengamati tingkah putri semata wayang bosnya. Rania. Gadis kepang kuda yang dulu sering merengek kepada Irwan sekarang menjelma menjadi gadis jelita yang pandai dan menyenangkan. Ratna menerawang peristiwa lima tahun silam saat dia dan Irwan PKL di kantor tempat mereka bekerja sekarang.

 

Ratna memandangi undangan pesta ulang tahun Rania. Tak tahu apa yang pantas diberikan sebagai kado ulang tahun anak 12 tahun. Dia tak pernah merayakan pesta ulang tahun, juga tak pernah mendapat kado yang lebih baik dari barang kebutuhan sekolah yang dihadiahkan orang tuanya. Tapi ini Rania. Rasanya mustahil Rania tak memiliki barang-barang itu, bahkan mungkin dia memiliki yang lebih baik.

“Rania bukan anak matrealistis kok” Ratna menoleh ke sumber suara yang mampu membaca pikirannya, suara yang sangat dia kenal. Irwan mengamati di balik kubikel yang berhadapan dengan Ratna.

Kamu mau ngasih apa ke Rania?” Ratna balik bertanya.

Irwan menerawang sejenak “Mungkin buku”

“Buku apa?”

“Mmm. Apa aja bisa”

“Rania suka baca buku?”

Irwan menggangguk mantap. “Dia punya rasa ingin tahu yang besar” jawab Irwan dengan senyum lebar.

‘Begitukah?’ Apa Irwan begitu memahami Rania? Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Rasa tak nyaman ketika ada yang lebih menarik perhatian Irwan. Namun dia bisa apa? Mereka hanya teman. Dadanya selalu sesak setiap memikirkannya.

“Jadi?” Irwan memecah keheningan.

“Entahlah.” jawab Ratna lesu sambil meletakkan kepalanya di atas meja.

“Tak perlu dibuat pusing” Irwan tersenyum geli, dia beranjak dari mejanya.

“Kamu tahu, Rania sering cerita tentang kamu” Irwan menarik kursinya, mengambil posisi duduk di depan Ratna.

Ratna tersigap. Bukan kerena apa yang dikatakan Irwan, tapi karena posisi duduk mereka. Ratna membenahi posisi duduknya, menutupi kegugupan.

“Rania pernah bilang kalau mbak Ratna itu ramah, pintar, desainnya selalu disukai papa, jago masak lagi”.

Ratna berusaha tetap tenang. Meskipun itu pujian Rania, tapi keluar dari mulut Irwan cukup membuat jantungnya berdebar tak karuan.

“Anak itu” Ratna tertawa hambar. “Padahal dia punya apa yang diinginkan perempuan lain”

“Apa?” tanya Irwan.

“Eh? Mmm. Ratna panik sendiri.

“Rania kan cantik, pintar, punya papa penyayang. Pasti menyenangkan kan?” Kalimat itu lolos tanpa pikir panjang. Kiranya itu yang terpikir oleh Ratna ketika melihat anak bosnya.

“Yaah, itulah manusia, nggak pernah merasa cukup. Termasuk orang di depanmu ini” Irwan menatap Ratna dengan memamerkan rapatan gigi putihnya. Ah, Ratna mendadak lemah, begitu saja sudah mampu meluluhlantahkan semesta hatinya.

Dengan apa yang dipunyai Rania, pasti banyak orang yang suka” lanjut Irwan.

Termasuk kamu?” pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa kendali. Ratna merutuk dirinya yang tak bisa menahan diri.

Irwan tertawa. “Kelihatannya?” nadanya menggoda. “Laki-laki nornal pasti bilang iya” lanjutnya sambil menerawang.

 

“Mbak Ratna tahu mas Irwan akan balik dari Bandung?” pertanyaan Rania mengembalikannya ke dunia nyata.

“Hmm” Ratna mengangguk.

***

Sejak kembalinya Irwan ke kantor, ada yang mengusik hati dan pikiran Ratna. Dia senang bertemu Irwan kembali, tapi di sisi lain hatinya harus menahan sesak yang setiap saat datang. Rania semakin sering berkunjung ke kantor. Mereka memang sudah saling mengenal sejak Irwan masih kuliah. Awalnya Irwan hanya guru privat Rania, namun sekarang menjadi orang kepercayaan bos. Kenyataan itu membuat hati Ratna semakin kecil. Meskipun mereka berteman sejak di bangku kuliah, tak ada sesuatu yang istimewa dari hubungan mereka. Ratna hanya mengaguminya dalam sunyi.

 

Siang di Kafetaria.

“Kamu nggak berubah ya Irwan mengamati kebiasaan perempuan di depannya.

“Emang aku Ranger?” jawab Ratna sekenanya sambil tetap sibuk menyisihkan daun bawang pada menu makan siangnya.

Irwan tertawa. ‘Tolong, jangan tertawa!’ batin Ratna.

Ratna!” Irwan mendekatkan wajahnya.

“Eh!” sontak Ratna memundurkan badannya dan hampir terjatuh dari kursinya.

“Eh, maaf!” Irwan tampak menyesal.

Nggak apa. Aku kaget aja” Ratna berusaha tampak biasa.

Irwan berdehem. “Oke, sebagai permintaan maaf, aku punya hadiah”

Irwan menyodorkan tas ungu kecil dengan senyum khasnya.

“Apa ini?”

“Oleh-oleh dari Bogor. Semoga suka” jawab Irwan dengan bibir yang tetap tersungging ke atas.

“Bogor?” Ratna tampak berpikir.

Irwan menggangguk. “Buka aja!”

Ratna meraih tas ungu itu dan siap membukannya, namun tangannya terhenti karena sebuah teriakan.

“Mas Irwaaan!”

Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Rania tampak terengah-engah berdiri di hadapan mereka sambil membawa tas pink yang tampak sama dengan miliknya. Rania menarik Irwan menjauhi Ratna. Ratna tak paham apa yang mereka bicarakan, tapi Irwan tampak sedang berusaha meyakinkan Rania. Setelah selesai, mereka menghampiri Ratna kembali.

“Ratna maaf, aku nganter Rania pulang dulu ya. Oleh-olehnya jangan lupa dibuka! Semoga kamu suka.” kata Irwan sebelum berlalu bersama Rania, meninggalkan Ratna yang hanya diam terpaku.

Sakit, kecewa, marah, itu yang saat ini dirasakan Ratna. ‘Apa-apaan ini?’. Perempuan 25 tahun bersaing hati seorang laki-laki dengan anak SMA yang bahkan belum genap 17 tahun. Bersaing?. Rasanya kata itu juga tak pantas. Ratna sudah kalah telak, bahkan sebelum bertanding. Perasaannya tak karuan. Hanya Tuhan yang tahu kondisi hatinya saat ini. Ratna tak bermaksud menuntut Tuhan, tapi bayangan Irwan masih belum pergi dari hati dan pikirannya.

 

Bersambung.

Selanjutnya Titip Rindu 2.