Rabu, 07 September 2022

Titip Rindu (1)


(Dyah Santoso)



Oksigen seperti lenyap dari muka bumi, begitu sesak. Hati menjadi beku. Tak tahu apa yang harus dirasa. Harus bahagiakah? Tapi bibir tak mampu melawan gravitasi. Harus marahkah? Tapi rindu dan cemas bersinergi keluar dari belenggu kegundahan, meledak dan akhirnya menguap menyisakan ketenangan dalam sosoknya. Dia. Orang yang selalu mampu meruntuhkan pertahanannya hanya dengan seulas senyum. Orang yang selalu membuat logikanya mati rasa.

***

Tak banyak orang di dunia ini yang mendapat pekerjaan sesuai gelarnya dan memiliki karir semulus Ratna. Desainer muda yang bekerja di kantor tempatnya Praktik Kerja Lapangan (PKL) semasa kuliah dulu.

Siang ini seperti biasa Ratna menghabiskan jam makan siangnya di ruang baca yang ada di kantornya. Bekal yang dibawanya dari kos sudah cukup untuk sekadar mengganjal perut. Ratna membuka kotak makannya, risol isi jagung-sosis lengkap dengan saos dan mayones.

Kelihatannya enak” seorang gadis berseragam SMA mengambil posisi duduk di sampingnya.

“Mau?” Ratna menyodorkan kotak makannya.

Gadis itu mengangguk dan mengambil sebuah. Ratna cepat-cepat mengeluarkan tissu dalam tasnya.

Nggak perlu mbak, begini lebih nikmat” gadis itu menunjukkan rapatan giginya dan melahap risol di tangannya.

Ratna tersenyum mengamati tingkah putri semata wayang bosnya. Rania. Gadis kepang kuda yang dulu sering merengek kepada Irwan sekarang menjelma menjadi gadis jelita yang pandai dan menyenangkan. Ratna menerawang peristiwa lima tahun silam saat dia dan Irwan PKL di kantor tempat mereka bekerja sekarang.

 

Ratna memandangi undangan pesta ulang tahun Rania. Tak tahu apa yang pantas diberikan sebagai kado ulang tahun anak 12 tahun. Dia tak pernah merayakan pesta ulang tahun, juga tak pernah mendapat kado yang lebih baik dari barang kebutuhan sekolah yang dihadiahkan orang tuanya. Tapi ini Rania. Rasanya mustahil Rania tak memiliki barang-barang itu, bahkan mungkin dia memiliki yang lebih baik.

“Rania bukan anak matrealistis kok” Ratna menoleh ke sumber suara yang mampu membaca pikirannya, suara yang sangat dia kenal. Irwan mengamati di balik kubikel yang berhadapan dengan Ratna.

Kamu mau ngasih apa ke Rania?” Ratna balik bertanya.

Irwan menerawang sejenak “Mungkin buku”

“Buku apa?”

“Mmm. Apa aja bisa”

“Rania suka baca buku?”

Irwan menggangguk mantap. “Dia punya rasa ingin tahu yang besar” jawab Irwan dengan senyum lebar.

‘Begitukah?’ Apa Irwan begitu memahami Rania? Entah sejak kapan perasaan ini muncul. Rasa tak nyaman ketika ada yang lebih menarik perhatian Irwan. Namun dia bisa apa? Mereka hanya teman. Dadanya selalu sesak setiap memikirkannya.

“Jadi?” Irwan memecah keheningan.

“Entahlah.” jawab Ratna lesu sambil meletakkan kepalanya di atas meja.

“Tak perlu dibuat pusing” Irwan tersenyum geli, dia beranjak dari mejanya.

“Kamu tahu, Rania sering cerita tentang kamu” Irwan menarik kursinya, mengambil posisi duduk di depan Ratna.

Ratna tersigap. Bukan kerena apa yang dikatakan Irwan, tapi karena posisi duduk mereka. Ratna membenahi posisi duduknya, menutupi kegugupan.

“Rania pernah bilang kalau mbak Ratna itu ramah, pintar, desainnya selalu disukai papa, jago masak lagi”.

Ratna berusaha tetap tenang. Meskipun itu pujian Rania, tapi keluar dari mulut Irwan cukup membuat jantungnya berdebar tak karuan.

“Anak itu” Ratna tertawa hambar. “Padahal dia punya apa yang diinginkan perempuan lain”

“Apa?” tanya Irwan.

“Eh? Mmm. Ratna panik sendiri.

“Rania kan cantik, pintar, punya papa penyayang. Pasti menyenangkan kan?” Kalimat itu lolos tanpa pikir panjang. Kiranya itu yang terpikir oleh Ratna ketika melihat anak bosnya.

“Yaah, itulah manusia, nggak pernah merasa cukup. Termasuk orang di depanmu ini” Irwan menatap Ratna dengan memamerkan rapatan gigi putihnya. Ah, Ratna mendadak lemah, begitu saja sudah mampu meluluhlantahkan semesta hatinya.

Dengan apa yang dipunyai Rania, pasti banyak orang yang suka” lanjut Irwan.

Termasuk kamu?” pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa kendali. Ratna merutuk dirinya yang tak bisa menahan diri.

Irwan tertawa. “Kelihatannya?” nadanya menggoda. “Laki-laki nornal pasti bilang iya” lanjutnya sambil menerawang.

 

“Mbak Ratna tahu mas Irwan akan balik dari Bandung?” pertanyaan Rania mengembalikannya ke dunia nyata.

“Hmm” Ratna mengangguk.

***

Sejak kembalinya Irwan ke kantor, ada yang mengusik hati dan pikiran Ratna. Dia senang bertemu Irwan kembali, tapi di sisi lain hatinya harus menahan sesak yang setiap saat datang. Rania semakin sering berkunjung ke kantor. Mereka memang sudah saling mengenal sejak Irwan masih kuliah. Awalnya Irwan hanya guru privat Rania, namun sekarang menjadi orang kepercayaan bos. Kenyataan itu membuat hati Ratna semakin kecil. Meskipun mereka berteman sejak di bangku kuliah, tak ada sesuatu yang istimewa dari hubungan mereka. Ratna hanya mengaguminya dalam sunyi.

 

Siang di Kafetaria.

“Kamu nggak berubah ya Irwan mengamati kebiasaan perempuan di depannya.

“Emang aku Ranger?” jawab Ratna sekenanya sambil tetap sibuk menyisihkan daun bawang pada menu makan siangnya.

Irwan tertawa. ‘Tolong, jangan tertawa!’ batin Ratna.

Ratna!” Irwan mendekatkan wajahnya.

“Eh!” sontak Ratna memundurkan badannya dan hampir terjatuh dari kursinya.

“Eh, maaf!” Irwan tampak menyesal.

Nggak apa. Aku kaget aja” Ratna berusaha tampak biasa.

Irwan berdehem. “Oke, sebagai permintaan maaf, aku punya hadiah”

Irwan menyodorkan tas ungu kecil dengan senyum khasnya.

“Apa ini?”

“Oleh-oleh dari Bogor. Semoga suka” jawab Irwan dengan bibir yang tetap tersungging ke atas.

“Bogor?” Ratna tampak berpikir.

Irwan menggangguk. “Buka aja!”

Ratna meraih tas ungu itu dan siap membukannya, namun tangannya terhenti karena sebuah teriakan.

“Mas Irwaaan!”

Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Rania tampak terengah-engah berdiri di hadapan mereka sambil membawa tas pink yang tampak sama dengan miliknya. Rania menarik Irwan menjauhi Ratna. Ratna tak paham apa yang mereka bicarakan, tapi Irwan tampak sedang berusaha meyakinkan Rania. Setelah selesai, mereka menghampiri Ratna kembali.

“Ratna maaf, aku nganter Rania pulang dulu ya. Oleh-olehnya jangan lupa dibuka! Semoga kamu suka.” kata Irwan sebelum berlalu bersama Rania, meninggalkan Ratna yang hanya diam terpaku.

Sakit, kecewa, marah, itu yang saat ini dirasakan Ratna. ‘Apa-apaan ini?’. Perempuan 25 tahun bersaing hati seorang laki-laki dengan anak SMA yang bahkan belum genap 17 tahun. Bersaing?. Rasanya kata itu juga tak pantas. Ratna sudah kalah telak, bahkan sebelum bertanding. Perasaannya tak karuan. Hanya Tuhan yang tahu kondisi hatinya saat ini. Ratna tak bermaksud menuntut Tuhan, tapi bayangan Irwan masih belum pergi dari hati dan pikirannya.

 

Bersambung.

Selanjutnya Titip Rindu 2.

 

 

 

0 comments:

Posting Komentar