(Dyah Santoso)
Oksigen seperti lenyap dari muka bumi, begitu sesak. Hati menjadi beku. Tak
tahu apa yang harus dirasa. Harus bahagiakah? Tapi bibir tak mampu melawan
gravitasi. Harus marahkah? Tapi rindu dan cemas bersinergi keluar dari belenggu
kegundahan, meledak dan akhirnya menguap menyisakan ketenangan dalam sosoknya.
Dia. Orang yang selalu mampu meruntuhkan pertahanannya hanya dengan
seulas senyum. Orang yang selalu
membuat logikanya mati
rasa.
***
Tak banyak orang di dunia
ini yang mendapat pekerjaan
sesuai gelarnya dan memiliki
karir semulus Ratna. Desainer
muda yang bekerja di
kantor tempatnya Praktik Kerja Lapangan (PKL) semasa kuliah dulu.
Siang ini seperti biasa Ratna menghabiskan jam makan siangnya di ruang baca
yang ada di kantornya. Bekal yang dibawanya dari kos sudah cukup untuk sekadar
mengganjal perut. Ratna membuka kotak makannya, risol isi jagung-sosis lengkap
dengan saos dan mayones.
“Kelihatannya enak”
seorang gadis berseragam SMA mengambil posisi duduk di sampingnya.
“Mau?” Ratna menyodorkan kotak makannya.
Gadis itu mengangguk dan mengambil sebuah. Ratna cepat-cepat mengeluarkan
tissu dalam tasnya.
“Nggak perlu mbak, begini
lebih nikmat” gadis itu menunjukkan rapatan giginya dan melahap risol di
tangannya.
Ratna tersenyum mengamati tingkah putri semata wayang bosnya. Rania. Gadis
kepang kuda yang dulu sering merengek kepada Irwan sekarang menjelma menjadi
gadis jelita yang pandai dan menyenangkan. Ratna menerawang peristiwa lima
tahun silam saat dia dan Irwan PKL di kantor tempat mereka bekerja sekarang.
Ratna memandangi undangan pesta ulang tahun Rania. Tak tahu apa yang pantas
diberikan sebagai kado ulang tahun anak 12 tahun. Dia tak pernah merayakan
pesta ulang tahun, juga tak pernah mendapat kado yang lebih baik dari barang
kebutuhan sekolah yang dihadiahkan orang tuanya. Tapi ini Rania. Rasanya
mustahil Rania tak memiliki barang-barang itu, bahkan mungkin dia memiliki yang
lebih baik.
“Rania bukan anak matrealistis kok” Ratna menoleh ke sumber suara yang mampu membaca pikirannya, suara yang
sangat dia kenal. Irwan mengamati di balik kubikel yang berhadapan dengan Ratna.
“Kamu mau ngasih apa ke
Rania?” Ratna balik bertanya.
Irwan menerawang sejenak “Mungkin buku”
“Buku apa?”
“Mmm. Apa aja bisa”
“Rania suka baca buku?”
Irwan menggangguk mantap. “Dia punya rasa ingin tahu yang besar” jawab
Irwan dengan senyum lebar.
‘Begitukah?’ Apa Irwan begitu memahami Rania? Entah sejak kapan perasaan
ini muncul. Rasa tak nyaman ketika ada yang lebih menarik perhatian Irwan. Namun
dia bisa apa? Mereka hanya teman. Dadanya selalu sesak setiap memikirkannya.
“Jadi?” Irwan memecah keheningan.
“Entahlah.” jawab Ratna lesu sambil meletakkan kepalanya di atas meja.
“Tak perlu dibuat pusing” Irwan tersenyum geli, dia beranjak dari mejanya.
“Kamu tahu, Rania sering cerita
tentang kamu” Irwan menarik
kursinya, mengambil posisi duduk di
depan Ratna.
Ratna tersigap. Bukan kerena apa yang dikatakan Irwan, tapi karena posisi
duduk mereka. Ratna membenahi posisi duduknya, menutupi kegugupan.
“Rania pernah bilang kalau mbak Ratna itu ramah, pintar, desainnya selalu disukai papa, jago
masak lagi”.
Ratna berusaha tetap tenang. Meskipun itu pujian Rania, tapi keluar dari
mulut Irwan cukup membuat jantungnya berdebar tak karuan.
“Anak itu” Ratna tertawa hambar. “Padahal dia punya apa yang diinginkan
perempuan lain”
“Apa?” tanya Irwan.
“Eh? Mmm”. Ratna panik sendiri.
“Rania kan cantik, pintar, punya papa penyayang. Pasti menyenangkan kan?” Kalimat itu lolos tanpa pikir panjang. Kiranya itu yang terpikir oleh Ratna ketika melihat anak bosnya.
“Yaah, itulah manusia, nggak pernah merasa cukup. Termasuk orang di depanmu
ini” Irwan menatap Ratna dengan
memamerkan rapatan gigi putihnya. Ah, Ratna mendadak lemah, begitu saja sudah mampu meluluhlantahkan
semesta hatinya.
“Dengan apa yang dipunyai Rania, pasti banyak orang yang suka” lanjut Irwan.
“Termasuk kamu?” pertanyaan
itu terlontar begitu saja tanpa kendali. Ratna merutuk dirinya yang tak bisa menahan diri.
Irwan tertawa. “Kelihatannya?” nadanya menggoda. “Laki-laki nornal pasti
bilang iya” lanjutnya sambil menerawang.
“Mbak Ratna tahu mas Irwan akan balik dari Bandung?” pertanyaan Rania
mengembalikannya ke dunia nyata.
“Hmm” Ratna mengangguk.
***
Sejak kembalinya Irwan ke kantor, ada yang mengusik hati dan pikiran Ratna.
Dia senang bertemu Irwan kembali, tapi di sisi lain hatinya harus menahan sesak
yang setiap saat datang. Rania semakin sering berkunjung ke kantor. Mereka
memang sudah saling mengenal sejak Irwan masih kuliah. Awalnya Irwan hanya guru
privat Rania, namun sekarang menjadi orang kepercayaan bos. Kenyataan itu
membuat hati Ratna semakin
kecil. Meskipun mereka berteman sejak di bangku kuliah, tak ada sesuatu yang
istimewa dari hubungan mereka. Ratna hanya mengaguminya dalam sunyi.
Siang di Kafetaria.
“Kamu nggak berubah ya”
Irwan mengamati kebiasaan perempuan di depannya.
“Emang aku Ranger?” jawab Ratna sekenanya sambil tetap sibuk menyisihkan
daun bawang pada menu makan siangnya.
Irwan tertawa. ‘Tolong, jangan tertawa!’ batin Ratna.
“Ratna!” Irwan
mendekatkan wajahnya.
“Eh!” sontak Ratna memundurkan badannya dan hampir terjatuh dari kursinya.
“Eh, maaf!” Irwan tampak menyesal.
“Nggak apa. Aku kaget aja” Ratna berusaha tampak biasa.
Irwan berdehem. “Oke, sebagai permintaan maaf, aku punya hadiah”
Irwan menyodorkan tas ungu kecil dengan senyum khasnya.
“Apa ini?”
“Oleh-oleh dari Bogor. Semoga suka” jawab Irwan dengan bibir yang tetap tersungging ke atas.
“Bogor?” Ratna tampak berpikir.
Irwan menggangguk. “Buka aja!”
Ratna meraih tas ungu itu dan siap membukannya, namun tangannya terhenti
karena sebuah teriakan.
“Mas Irwaaan!”
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. Rania tampak terengah-engah berdiri
di hadapan mereka sambil membawa tas pink yang tampak sama dengan miliknya. Rania menarik Irwan
menjauhi Ratna. Ratna tak paham apa yang mereka bicarakan, tapi Irwan tampak
sedang berusaha meyakinkan Rania. Setelah selesai, mereka menghampiri Ratna
kembali.
“Ratna maaf, aku nganter
Rania pulang dulu ya.
Oleh-olehnya jangan lupa dibuka! Semoga kamu suka.” kata Irwan sebelum berlalu bersama Rania, meninggalkan Ratna yang hanya diam terpaku.
Sakit, kecewa, marah, itu yang saat ini dirasakan Ratna. ‘Apa-apaan ini?’.
Perempuan 25 tahun bersaing hati seorang laki-laki dengan anak SMA yang bahkan
belum genap 17 tahun. Bersaing?. Rasanya kata itu juga tak pantas. Ratna sudah
kalah telak, bahkan sebelum bertanding. Perasaannya tak karuan. Hanya Tuhan yang tahu kondisi hatinya saat ini. Ratna tak bermaksud menuntut Tuhan, tapi bayangan Irwan masih belum pergi dari
hati dan pikirannya.
Bersambung.
Selanjutnya Titip Rindu 2.

0 comments:
Posting Komentar