Minggu, 20 September 2020

Pesona Wanita dan Pesan Luhur dalam Novel Hati Suhita Karya Khilma Anis


(Dyah Santoso)


Penulis             : Hati Suhita

Penulis             : Khilma Anis

Editor              : Akhiriyati Sundari

Penyunting      :Asfi Diyah

Penerbit           : Telaga Aksara Ft Mazaya Media

Terbit               : Maret 2019

Tebal               : 406 halaman

Genre              : Fiksi, romance religy

ISBN               : 978-602-51017-4-8

            Pertama kali saya tahu cerita Gus Birru dan Ning Alina serta perempuan cerdas berparas menawan bernama Ratna Rengganis dari laman facebook Khilma Anis. Cerita dikemas seperti cerbung yang diunggah di facebook. Konon, cerita ini lahir dari aktivitas kelas menulis online yang diikuti oleh Ning Khilma (sapaan beliau). Di luar dugaan antusiasme pembaca sangat luar biasa, banyak yang tak sabar menanti kelanjutan kisahnya. Cerita yang diunggah di facebook hanya sampai episode 13 kemudian digarap lebih serius dalam sebuah novel. Hal ini cukup membuat pembaca penasaran dan gemas membayangkan perjalanan cinta tokoh-tokohnya.

Novel ini terbilang kelas novel dewasa karena bercerita tentang bahtera rumah tangga seorang Gus dan Ning di Pesantren. Meskipun bertema dewasa, namun pesan moral yang disisipkan oleh Ning Khilma dalam novel ini sangat patut diterapkan oleh semua kalangan usia. Yang menarik dari novel ini adalah tidak ada tokoh antagonis yang dibangun penulis untuk menciptakan konflik. Novel ini memaparkan pergulatan hati tokoh-tokohnya. Perang batin adalah klimaks dari cerita ini. Diawali dengan ratapan Alina Suhita karena suaminya, Gus Birru belum bisa menerima dirinya sebagai seorang istri meskipun usia pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke-tujuh. Kesedihannya hanya dia simpan sendiri, sebab di hadapan banyak orang, di depan orang tua dan keluarga besarnya mereka selalu berperan sebagai pasangan pengantin baru yang bahagia. Ujian batinnya tak berhenti di situ, Gus Birru sering kedapatan berhubungan dengan Ratna Rengganis, mantan kekasihnya melalui telefon dan pesan whatsaap. Prahara rumah tangga kian memilukan karena Alina Suhita harus memenangkan hati suami dengan bayang-bayang mantannya.

Alur cerita secara umum tidak jauh berbeda dengan kisah cinta lain yang sulit ‘move on’, namun penyampaian konflik dan diksi-diksi yang digunakan dalam novel ini membuat pembaca tak menyadari sedang dididik oleh pengetahuan penulis. Novel ini sering menggunakan analogi pewanyangan dalam menyampaikan hikmah. Wayang, budaya Jawa dan tradisi pesantren yang sangat kental dalam alur cerita tak bisa dipungkiri karena kecintaan dan latar belakang penulis. Ning Khilma menyampaikan bahwa wayang tidak hanya dipahami secara historis, namun lebih kepada simbolis. Ini juga bisa diterapkan untuk berbagai hal dan secara tidak langsung mengingatkan bahwa segala sesuatu dapat diambil pelajarannya jika dilihat dari sudut pandang yang tepat. Bahwasanya semesta tak pernah segan mengajari manusia membaca makna dari segala fenomena.

Karakter-karakter dalam novel ini dibangun dengan sangat kuat. Tampak masing-masing tokoh memiliki sifat dan prinsip yang melekat baik dari setiap tindakan maupun dialog yang tercipta. Gus Birru ditampilkan sebagai pribadi yang cerdas, berkarisma dan memiliki jiwa leadership yang tinggi. Karakter dua wanita yang berkelindan dengannya juga tak kalah menawan. Alina Suhita merepresentasikan wanita Jawa yang taat agama, seorang hafidzah yang pandai menempatkan diri dan penuh dedikasi. Sedangkan Ratna Rengganis menggambarkan wanita modern yang berwawasan luas dan tetap menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan. Kecerdasan masing-masing tokoh ditampilkan secara cerdik. Penulis melebur data dengan unsur intriksik sastra, membiarkan pembaca menyifati sendiri masing-masing tokoh melalui konflik dan cara menyikapinya.

Di awal cerita pembaca digiring berspekulasi dengan monolog batin Alina Suhita. Kemudian diajak melihat sudut pandang Gus Birru hingga suara hati Ratna Rengganis membuka tabir kesalahpahaman. Kesalahpahaman lahir dari komunikasi yang lemah, kesalahpahaman terjadi karena tak ada yang meluruskan pemahaman yang salah. Namun dari kesalahpahaman ada pelajaran dan penguatan karakter. Gus Birru memahami dua wanita yang dicintainya adalah wanita-wanita tangguh. Alina Suhita semakin bersinar dengan kesabarannya. Ratna Rengganis semakin harum dengan kedewasaannya. Keindahan mereka semakin terpancar seiring dengan kemelut jiwa yang kian meyiksa.

Banyak ajaran Jawa tentang wanita yang disuguhkan dalam novel ini, seperti seorang wanita seharusnya wani tapa (berani bertapa), mikul duwur mendem jero (menunjukkan kelebihan, menutupi kekurangan), dan mruput katri (berbakti dan berhati-hati) serta pesan luhur lainnya. Membaca novel ini selain untuk relaksasi hiburan juga sebagai merefleksi diri yang kaya khasanah. Alina Suhita dan Ratna Rengganis dengan pesona masing-masing mampu menaklukkan Gus Birru sebagai simbol keberhasilan (tampan; cerdas; terpandang dan kaya), meskipun dalam wilayah yang berbeda. Ada permata dalam diri Alina Suhita yang tidak dimiliki wanita lain, dan sebaliknya ada intan yang hanya dipunyai oleh Ratna Rengganis. Mereka tangguh dengan senjata masing-masing. Dua wanita ini seolah mengirim pesan kepada para wanita untuk berdamai dengan hati dan mengoptimalkan potensi diri.

Karakter wanita dalam novel Hati Suhita melemahkan stereotip tentang wanita yang mengedepankan perasaan. Jika prinsip mereka kuat, logika tetap akan mengimbangi tanpa tereduksi oleh perasaan. Wanita menjadi madrasah pertama bagi para tunas bangsa, wanita juga merupakan tiang negara. Agar tiang bertahan dan tak mudah rapuh, maka harus ada pondasi yang kokoh dan atap yang memayungi. Sistem yang baik adalah yang saling mendukung. Sekuat apapun wanita, tetap butuh pelindung. Hati Suhita mengajarkan untuk menjadi tangguh tanpa mengeluh. Sesekali terjatuh, namun kembali bangkit dengan pesona yang lebih ampuh.

Seenak-enaknya masakan yang disajikan, tetap akan ada yang tidak meyukai. Tidak suka bukan berarti membenci. Sama halnya dengan karya, selezat apapun penulis meracik kata, tetap akan ada yang tidak bisa menerima. Ning Khilma mengulas sisi lain sosok Gus yang lebih manusiawi, terlepas dari latar belakang keluarganya. Tak terkecuali merasakan cinta dan berpacaran, selayaknya pemuda seusianya. Gus Birru dengan pemikiran-pemikirannya termasuk produk langka, yang bagi sebagian kalangan menimbulkan pro-kontra. Namun tak ada yang salah dengan karya, jika tidak suka berarti buka selera kita. Mari menikmati dan saling menghargai. Tak suka tak jadi soal, selama tak saling mencaci. Salam literasi.

Rabu, 16 September 2020

Imperfect

 


(Laily Alfath)

 



 

 

“Menerima ketidaksempurnaan akan membuat batinmu lebih lapang dan ringan dalam menjalani kehidupan. –Asfa Assyifa-”

 

Apa yang kamu fikirkan jika membaca atau mendengar kata “perfect” ? Segala sesuatu yang indah secara fisik? Segala hal yang mewah? Segala hal yang membahagiakan? Atau segala hal yang tanpa cacat? Ketika kita melihat sosok wanita cantik, anggun, cerdas, terlahir dari keluarga kaya, bisa jalan-jalan keluar negeri kapanpun ia mau, dan membeli apapun yang ia inginkan, pasti kebanyakan orang menganggap bahwa hidup wanita tersebut adalah hidup yang sempurna. Yap! Wajar jika banyak manusia atau bahkan kita sering mempersepsikan bahwa sempurna adalah tentang indah, mewah, bahagia, tanpa cacat, atau segala hal baik lainnya. Tapi apakah kamu yakin bahwa ukuran kesempurnaan selalu mutlak dengan hal-hal indah, mewah, bahagia dan tanpa cacat?

Pernahkah kamu melihat kesempurnaan dari sudut pandang keseimbangan? Ya! Keseimbangan antara duka dan tawa, keseimbangan antara sempit dan lapang, keseimbangan antara gelap dan terang, serta keseimbangan warna lainnya. Apakah benar bahwa sempurna selalu terlahir dari banyak kemewahan dan keindahan tanpa cacat? Tidak! Mungkinkah kesempurnaan bisa hadir dalam wujud duka? Mungkin! Contoh: ketika seseorang kehilangan orang yang disayangnya maka perasaan duka akan mengidap batinnya. Namun pada waktu yang bersamaan situasi juga mengajarkan tentang makna keberadaan. Seseorang yang pernah mengalami kehilangan, akan menjadi orang yang lebih bersyukur dan menghargai orang-orang yang masih berada di sekitarnya. Jika orang tersebut bisa berpikiran demikian, maka itu adalah wujud kesempurnaan dalam bentuk keseimbangan berpikir. Namun jika orang tersebut memaknai kesempurnaan tidak pernah lahir dari sebuh duka, maka orang tersebut hanya akan terpaku dan berkubang dalam dukanya, serta berujung melontarkan sumpah serapah pada keadaan.

Tidak ada standard sempurna mutlak dengan indikator fisik yang indah, hal mewah, bahagia yang kasat mata, dan tanpa cacat. Jika seseorang berpikir bahwa indikator sempurna secara mutlak adalah tentang keindahan, kemewahaan, dan tanpa cacat, bisa jadi itu hanya sebatas sempurna versi ego manusia. Jika takaran kesempurnaan adalah tentang fisik yang indah, semestinya seorang wanita (yang dianggap cantik) tidak akan terus memoles dirinya untuk semakin cantik. Karena hakikat sempurna adalah berada pada titik puncak. Jika masih terus mencari maka itu artinya hal tersebut belum sampai pada titik puncak (sempurna). Jika kesempurnaan selalu lekat dengan hal mewah, semestinya seorang milyarder yang sudah memiliki satu mobil mewah (sudah merasa sempurna) tidak perlu membeli mobil mewah yang lainnya. Jika sempurna selalu lekat dengan bahagia yang kasat mata dan tanpa cacat, nyatanya banyak orang yang dihadapkan pada banyak keterbatasan masih bisa merasa cukup dalam batinnya sekalipun secara kasat mata serba dihadapkan pada keterbatasan. Bentuk kesempurnaan berpikir tersebutlah yang lahir dari keterbatasan dengan masih banyak cacat, tapi mampu dijawab dengan melahirkan rasa syukur, bahagia, dan berharga.

“Nothing perfect in this world!” adalah statement yang layak dilontarkan pada seseorang yang hanya memaknai kata sempurna dari bentuk fisiknya dan dari satu kaca mata. Tidak akan pernah kamu temukan hal yang sempurna jika standard yang kamu pakai adalah standard egomu tanpa mencoba melihat dari kaca mata lainnya. Bukankah setiap hal yang tercipta memiliki esensinya? Tidak mengerti alasan di balik Tuhan menciptakan suatu maha karya bukan berarti maha karya tersebut tak bermakna. Atau bahkan bisa jadi ketika kita menilai suatu hal tersebut nampak tidak sempurna, justru pemikiran kita yang tidak sempurna karena keterbatasan kita dalam memahami makna di baliknya.

Imperfect tidak selamanya cacat yang memalukan dan tidak bisa ditoleransi oleh semua orang. Tanpa imperfect seseorang tidak akan pernah belajar banyak hal. Bahkan tanpa imperfect kata perfect tidak akan pernah lahir dan tersemat pada suatu hal. Contoh : seseorang yang bertubuh pendek dan sering menjadi korban bullying (dianggap lemah atau kurang dihargai sekitar) cenderung merasa rendah diri. Namun jika orang tersebut fokus pada pengembangan dirinya, mengggapai serentetan prestasi, maka akan ada banyak orang yang menundukkan topinya (bentuk penghargaan) terhadap orang tersebut. Semua kembali pada bagaimana kita menilai suatu hal. Ketika kita dilahirkan ke dunia, ada beberapa hal yang sudah Tuhan bekalkan pada diri kita. Bekal tersebut ada yang bisa dioptimalkan ada yang bersifat mutlak. Setiap bentuk yang Tuhan titipkan pada kita, adalah bentuk amanah khusus yang tidak diamanahkan kepada orang lain. Tinggal kita mau menyikapinya dengan cara yang seperti apa. Perfect dan imperfect adalah kaca mata semu yang bisa dimaknai berbeda oleh masing-masing kepala. Jika standard perfect mu hanya menghancurkanmu dari dalam sementara kamu terus berusaha mengikutinya, selamat! Kamu tengah dengan suka rela menenggak racun untuk merusak tubuhmu dari dalam dan mempercepat kematian. Namun jika standardmu justru memacumu untuk terus berkembang sekalipun seolah dihadapkan pada berbagai tembok keterbatasan, percayalah bahwa setiap apa yang kamu lakukan dengan hati dan sungguh-sungguh, Tuhan akan berbelas kasih menunjukkan jalan-Nya.

Semakin banyak permasalahan yang kamu hadapi atau kamu temukan dari orang-orang sekitarmu, maka itu adalah kesempatan besar yang hanya Tuhan suguhkan untuk orang-orang hebat agar menjadi lebih bijak dalam menyikapi kehidupan. Namun jika dengan semakin banyaknya ladang masalah seseorang menjadi tidak semakin bijak atau bahkan semakin mengutuk keadaan, maka ada banyak keserakahan yang masing berasarang dan mendominasi egonya. Sejatinya manusia adalah makhluk yang didesain sempurna. Tuhan membekalkan akal dan perasaan untuk membantu manusia menjadi makhluk bijak dalam menyikapi keadaan. Hanya saja sering kali timpang dalam penggunaaan salah satunya. Alhasil banyak manusia sering menjadi budak logika maupun budak perasaannya. Bukankah besi yang terus ditempa dengan panas, beban berat, dan gesekan bisa berubah menjadi pedang yang dengan gagahn dan mampu diandalkan dalam medan perang? Itulah sama halnya salah satu cara Tuhan menyayangi hamba-Nya.

 

Berhentilah mengutuk keadaan. You’re perfect as your self!

Senin, 11 Mei 2020

Yakin Udah Maksimal?



(Laily Alfath)



“Ketika kita melakukan yang terbaik yang kita bisa, kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang terjadi dalam kehidupan kita atau dalam kehidupan orang lain” –Hellen Keler-

Pilihan. Hidup selalu lekat dengan “pilihan”. Baik itu pilihan-pilihan sederhana maupun merumitkan. Hidup selalu menyuguhkan pilihan tanpa memandang usia, mulai dari anak-anak sampai pada orang dewasa. Ya! Seorang anak-anak yang belum sekolah pun juga dihadapkan pada pilihan-pilihan. Pilihan antara membeli susu Strawberry atau Cokelat, pilihan dalam membeli mainan, baju, dan sebagainya. Sementara orang dewasa, dihadapkan pada pilihan-pilihan yang lebih kompleks tentunya. Karena memang tidak bisa dipungkiri kalau semakin dewasa usia kita, kita akan semakin sering dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memaksa kita untuk berpikir matang agar bisa bijak dalam memutuskan. Tak jarang proses dalam membuat keputusan besar itu bisa berimbas pada mood swing yang kita alami, karena saking bingungnya dalam mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan. Bahkan hidup menyuguhkan pilihan tanpa peduli yang kita rasakan. Terkadang situasi membuat kita mengambil keputusan yang tidak sesuai. Tapi apapun itu alasannya ketika pilihan sudah kita putuskan, maka menyelesaikan sebaik mungkin adalah hal yang dilakukan oleh para pejuang. Sementara pecundang akan terus membuat bualan, mencari alasan untuk membenarkan, dan berjuang yang seolah-olah sampai pada batas kemampuannya padahal sebenarnya hanya sebatas apa yang dia inginkan.
Ketika kita udah ngambil pilihan, hal yang akan kita hadapi selanjutnya adalah proses yang akan selalu diiringi dengan resiko. Nah ngomongin soal proses nih, pernah nggak kamu ngerasa ada di batas dimana kamu ngerasa udah nggak kuat dan akhirnya nyerah karena udah usaha maksimal? Atau pernah nggak kamu ngerasa ada pada jalan yang nggak pingin berjuang, tapi karena satu atau dua hal kamu berjuang sebatas yang kamu inginkan terus nyerah karena udah ngerasa maksimal? Atau sebelum berjuang malah udah kalah dengan menyatakan keterbatasan? Hayoo ngakuuu... Manusia memang makhluk terbatas, tapi bukan berarti keterbatasan bisa dijadikan alasan untuk enggan berjuang sampai titik darah penghabisan. Banyak orang yang membuat alibi tentang prosesnya yang dianggap optimal, tapi akhirnya tak ada hasil bermakna yang didapatkan. Banyak juga orang yang membuat alibi dengan mengkambinghitamkan orang lain sebagai penyebab dari kegagalannya. Padahal jika pada suatu proses kita merangkak, berjalan, berlari, belok ke kanan, maupun belok ke kiri, semua itu adalah pilihan. Apa yang kita usahakan, itu juga yang akan kita tuai. Pernah nggak kamu dengar kisah nyata seorang Hellen Keller? Ya! Seseorang yang buta dan tuli, tapi bisa menjadi seorang penulis, aktivis, konselor, bahkan dosen di Amerika dan lihai dalam Bahasa Perancis, Jerman, Yunani, dan Latin. Hellen Keller menyadari kekurangannya, tapi ia tidak membangun tembok-tembok keterbatasannya dalam berjuang untuk bisa bermakna bagi banyak orang. Hellen Keller bisa karena ia berjuang optimal dalam prosesnya. Pada suatu proses, kita hanya butuh kerja keras untuk bisa sampai pada kesuksesan.
Pernah nggak kamu denger konsep titik mastatho’tum? Jadi, titik mastatho’tum itu adalah titik dimana kita udah usaha maksimal sampai akhirnya Allah yang nyuruh kita berhenti. Kita berhenti bukan karena keinginan kita sendiri. Ada kisah seorang ulama besar bernama Syaikh Abdullah Azzam. Suatu muridnya bertanya tentang makna mastatho’tum. Kemudian beliau mengajak muridnya menuju lapangan dan meminta mereka berlari mengililingi lapangan. Beliau juga ikut berlari bersama murid-muridnya. Sampai pada titik murid-muridnya lelah dan berhenti berlari. Namun sang guru terus berlari hingga bercucuran peluh keringatnya dan mulai memerah wajahnya. Murid-muridnya mulai mengkhawatirkan gurunya, namun sang guru tetap berlari sampai pada akhirnya beliau tidak kuat dan jatuh pingsan. Ketika beliau siuman, muridnya mulai menanyakan apa yang hendak dijelaskan oleh sang guru. Beliau menyampaikan, “titik mastatho’tum itu adalah ketika kalian berusaha sekuat kalian sampai akhirnya Allah yang meminta kalian berhenti, sama halnya dengan pingsanku tadi”. Jadi bukan mastatho’tum namanya jika kita berhenti mengerjakan tugas dengan alasan, “ngantuk, besok lagi aja”. Banyak proses yang tidak optimal karena manusia tidak berjuang sampai pada titik mastatho’tum. Bahkan ada juga yang terlalu memberi batas rendah pada titik mastatho’tumnya, padahal ia bisa melampauinya. Diri kita sendirilah yang bisa benar-benar mengukur apakah usaha kita sudah sampai pada titik mastatho’tum atau belum.
Pada beberapa kesempatan, terkadang kita melihat banyak ketidakmampuan diri untuk bisa menuntaskan. Tapi semua memang akan tampak tidak mungkin, dan akan menjadi mungkin setelah kita berhasil menuntaskannya dengan kerja keras. Bahkan seorang pengusaha dari Amerika, Henry Ford menyampaikan, “setelah kita melaju dalam hidup, kita mempelajari batas kemampuan kita”. Tuhan membekali kelebihan dan kekurangan ketika manusia dilahirkan. Kita tidak akan pernah tau batas kemampuan kita sebelum kita mencoba dan berproses optimal di dalamnya. Jika ketidakyakinan akan sukses dan ketakutan akan kegagalan selalu digaungkan di awal langkah, maka itu artinya kita sudah membatasi kemampuan kita sejak awal. Karena tidak ada pengganti kerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Senin, 04 Mei 2020

Harapan atau Tuntutan Belaka


(Dyah Santoso)


Manusia dapat bertahan hidup 40 hari tanpa makan, 
sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, 
tapi bisa mati hanya 1 detik tanpa harapan. 
~Hal Lindsey

Sewaktu kecil ada yang pernah memaksakan diri makan sayuran yang tidak disukai, sebagai imbalannya orang tua memberikan barang atau mainan yang diinginkan. Kemudian ketika remaja, ada yang pernah menahan keinginan jalan-jalan supaya bisa menabung, hasilnya untuk tambahan beli gawai baru. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak tindakan yang dipaksakan dan ego yang ditekan. Mengapa demikian? Karena ada harapan. Seorang petarung tak akan giat berlatih tanpa ada harapan menang. Seorang pekerja tak akan giat bekerja tanpa harapan sukses. Pun seorang pemimpi tak akan bangun dari tidurnya tanpa harapan.

Merujuk pada ucapan Hal Lindsey, benarkah manusia tak bisa bertahan hidup tanpa harapan?. Sejatinya hidup bukan hanya perkara lahiriyah, namun juga bathiniyah. Bukan hanya perkara bernapas, bergerak atau berkembang biak, namun bagaimana menghargai setiap tarikan dan hembusan napas yang tersisa, bagaimana menciptakan pergerakan yang bermakna, dan bagaimana melahirkan keturunan yang digdaya akan muslihat semesta. Hidup begitu kompleks untuk dipahami secara komprehensif. Manusia mungkin bisa tetap hidup tanpa harapan, tapi dia tak punya kehidupan.

Harapan adalah memantik api kehidupan. Selayaknya api, hidup tak akan menyala tanpa harapan dan tak akan membara tanpa semangat. Jika kita tak punya harapan, kita tak akan tergerak melakukan atau mencapai sesuatu. Ketika harapan sudah tak ditemukan di jiwa seseorang, sangat mungkin orang itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin ini maksud dari pernyataan Hal Lindsey. Tak heran jika ada istilah mayat hidup. Gabungan kata yang kontradiktif, disebut hidup karena masih memiliki ciri makhluk hidup, tapi tak ada aktivitas kehidupan yang dilakukan. 

Sejauh ini, benarkan yang menggerakkan kita adalah harapan? Apakah kita benar-benar giat belajar agar pintar? Bukan karena khawatir dianggap bodoh oleh masyarakat karena tak lulus sekolah? Apakah kita benar-benar beribadah untuk mencari ridho-Nya? Bukan karena takut Dia murka dan memasukkan kita ke neraka? Jangan-jangan selama ini kita menjalani kehidupan bukan karena harapan yang sesungguhnya, melainkan karena tuntutan belaka. Melakukan A karena tak mau dianggap B, melakukan C karena tak mampu melakukan D, atau bahkan melakukan harapan tetangga?.

Apapun alasan kita bergerak, entah karena dorongan hati nurani, himpitan ekonomi, atau keinginan orang yang disayangi, sama saja. Kita sedang menorehkan cat pada kanvas kehidupan. Walaupun tidak semua lukisan diapresiasi baik, setidaknya kita menjadikan kanvas yang semula hampa menjadi lebih menarik. Kanvas yang tadinya kosong, menjadi lebih berwarna. Selayaknya hidup yang lebih bermakna. Apapun alasan kita bergerak, harapan itu harus ada. Manusia hanya sebatas menanam asa, memupuknya dengan doa serta menyiraminya dengan usaha. Hasilnya kita serahkan pada yang maha kuasa. Biarkan pupuk dan air siraman itu bekerja. 

Rabu, 29 April 2020

Garis Tangan Tuhan



(Laily Alfath)



Mulailah menerima dengan lapang hati apapun yang terjadi. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Karena takdir tidak pernah bertanya tentang: Bagaimana perasaan kita? Apakah kita bahagia? Apakah kita tidak suka?” –Tere Liye-

Apa pendapatmu pertama kali jika membaca “garis tangan Tuhan”? Takdir! Yap betul. Pada seluruh sektor kehidupan kita, akan selalu lekat dengan campur tangan Tuhan. Karena setuju atau pun tidak, kita adalah produk dari Tuhan yang setiap ketentuannya kalau kata ajaran Islam udah ditulis di Lauhul Mahfudz sebelum semua makhluk diciptakan. Garis tangan Tuhan lebih umum disebut “takdir” oleh masyarakat, atau simpelnya bisa juga disebut ketetapan Tuhan. Contoh beberapa takdir : dari ibu yang mana kita dilahirkan, jenis kelamin yang kita dapatkan, usia, jodoh, dan banyak hal lainnya.
Pernah nggak kalian ngerasa sulit menerima takdir? Pernah melakukan semacam protes, entah dalam hati atau bahkan mengumpat Tuhan beserta takdir-Nya dengan sumpah serapah karena kalian saking kecewanya? Hehehe... Kalau pernah, ya itu artinya kalian manusia. Karena manusia biasa tidak akan pernah luput dari yang namanya salah dan kecewa. Pada proses kehidupan ini, terkadang ada banyak hal yang belum kita mengerti maksud dari keputusan Tuhan saat ini maupun oada beberapa hari kemarin. Bahkan karena kita belum paham maksud dari keputusan Tuhan, beberapa kali pertanyaan kita lemparkan ke langit tapi seolah tanpa jawaban.
Kadang kita udah usaha maksimal, udah meminta berkali-kali, tapi seolah tak didengar karena realita tak sesuai dengan keinginan. Menyakitkan? Ya, terkadang! Tapi kalau kalian masih ngerasa sakit, kecewa, sedih itu artinya kalian belum percaya sama kuasa Tuhan. Kalau kita sakit, kita periksa ke dokter dan percaya bakalan sembuh. Sekelas dokter, yang tarafnya adalah makhluk Tuhan aja bisa kita percaya segitunya. Gimana dengan Sang Pencipta Alam? Masih meragukan? Hey, coba simak ini baik-baik! Coba lihat salah satu telapak tanganmu. Kemudian, coba genggam atau kepalkan. Apakah semua garis tangan yang ada di telapak tanganmu itu semuanya turut tergenggam? Aku yakin tidak. Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu atau bisa kita sebut itu hak Tuhan yang menentukan. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, sisanya apa yang menjadi di luar kendalimu adalah urusan Tuhan.
Ada yang bilang padaku bahwa, "menjalani hidup adalah soal menentukan pilihan, sementara takdir hanyalah hasil akhir dari kecermatanmu menentukan pilihan-pilihan". Aku sepakat dengannya, karena manusia adalah makhluk yang berdaya dan bisa berusaha. Ingat! Kita masih tetap dianggap makhluk yang sempurna oleh seluruh alam dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya, sekalipun kita masih ngerasa punya banyak kekurangan. Kalau katanya Bang Agus Fitriandi salah satu orang hebat dari ITB, "hidup itu pilihan, dan takdir adalah ketika engkau tak memiliki pilihan atau tak bisa menghindar dari suatu pilihan". Aku sepakat dengan hal itu, tapi bukan berarti ketika kita tidak bisa menghindar dari suatu takdir yang dirasa kurang menguntungkan, lantas kita tersungkur dan menyalahan keadaan. Ingat! Datangnya masalah justru akan menunjukkan jati diri seseorang. Karena ketika seseorang didera badai masalah atau takdir yang dirasa kurang menyenangkan, hanya akan ada dua tipe manusia: menguat berkat masalah, atau justru terkapar dan mengenaskan.
Takdir memang tak selamanya sepakat dengan ingin yang sempat kau panjatkan. Takdir memang tak selamanya menyambut hangat, atas setiap pinta yang kau langitkan. Takdir pun juga terkadang seolah tak berpihak, akan setiap kondisi yang semakin carut marut tak karuan. Tapi ingat, Tuhan tak pernah salah memperhitungkan. Tuhan tak pernah abai atas setiap proposal keinginan yang kau ajukan. Tuhan pun tak pernah absen dari memberikan limpahan sayang-Nya pada semua umat. Tuhan tak pernah berhutang atas setiap proses yang kau kerjakan. Semua hanya perihal waktu, dan esensi dari permintaan yang kau langitkan.  

Senin, 27 April 2020

Retorika Doa



(Dyah Santoso)




Seorang sufi pernah berdoa, 
“Ya Allah buatlah aku lelah  dalam membagi-bagikan harta-Mu, 
bukan lelah karena mencari harta-Mu”


Ingat pelajaran Bahasa Indonesia tentang adjektiva yang diperhalus? 
Tak dapat melihat bukan disebut buta, melainkan tunanetra. Tak dapat bicara bukan disebut bisu, melainkan tunawicara, tak punya rumah bukan disebut gelandangan, melainkan tunawisma. Lebih sopan dan menjaga perasaan bukan?

Pilihan kata selalu menjadi bagian penting dalam komunikasi. Selanjutnya bagaimana merangkai kata-kata itu menjadi bermakna dan dapat dipahami lawan bicara. Terkadang paham saja belum cukup untuk membuat orang percaya. Ada pilihan kata dan keluwesan bahasa di sana. Ada simpati yang terpanggil oleh hati yang tulus suci.

Jika kepada manusia saja sangat menjaga perasaan, apalagi kepada Penguasa manusia. Jika kepada makhluk saja sangat menjaga etika, apalagi kepada sang Khalik. Lantas bagaimana komunikasi makhluk dengan sang Khalik? Melalui ibadah dan doa tentunya. Sejatinya Allah tak butuh komunikasi, Allah tak butuh pemujaan, pun tak butuh “rasa butuh” makhluk pada-Nya. Kita yang butuh, kita yang lemah, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. 

Berdoa tak ayal adalah rengekan, curhatan, sekaligus proposal multi fungsi kepada sang Khalik. Doa adalah senjata bertenaga iman. Selayaknya sebuah senjata, penggunanya harus mahir menggunakan. Jika tidak, akan berbalik menjadi senjata makan tuan. Karena doa adalah komunikasi, maka disampaikan melalui bahasa, entah dalam bahasa yang sifatnya audio maupun bahasa kalbu. Allah MahaTahu. 

Retorika dalam doa menjadi penting dan merupakan etika kepada Allah. Bahkan dalam syi’ir Abu Nawas yang masyhur: 
“Ya Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim. Maka terimalah taubatku, karena sesungguhnya Engkau adalah pengampun dosa yang besar”. 
Bagaimana Abu Nawas merayu Tuhan dengan santun, meminta tanpa memaksa, mengiba dengan memuja. 

Analoginya mungkin seperti ini.
Ada dua anak kakak beradik dari orang tua yang kaya raya. Si kakak meminta ayahnya membelikan motor gede keluaran terbaru. Kakak berkata “Ayah, aku ingin motor itu agar terlihat keren”. Keesokan harinya ayah memberikan motor yang diinginkannya. Si adik tak ingin kalah, dia mendatangi ayahnya dan berkata, “Ayah, aku juga ingin punya kendaraan keren seperti kakak, tapi aku tak ingin menikmatinya sendiri. Aku ingin ayah dan Bunda juga naik kendaraan keren bersamaku”. Keesokan harinya, ayah memberikan adik mobil sport yang tak kalah keren.
Jika diberi pilihan, mau seperti si kakak atau si adik? :)

Tak ada doa yang tak terdengar, sebab Allah maha mendengar. Perkara kapan dan bagaimana doa itu dibalas, adalah hak prerogatif-Nya. Yang perlu kita yakini, doa yang kita bisikkan ke Bumi, dapat terdengar oleh langit. Kekuatan sinyalnya seimbang dengan sinergisitas tindak tanduk serta tutur. 

Salam hangat membumikan literasi. 
#muhasabah #selfreminder

Minggu, 19 April 2020

Mengeja Luka



(Laily Alfath)



“Kesedihan adalah salah satu wujud dari luka, dan terluka itu wajar. Hal itu menjadi tidak wajar jika membiarkan luka itu terus menganga dan terinfeksi parah. –Anonymous-”

Luka adalah salah satu warna kehidupan manusia. Luka semacam ombak bagi setiap nahkoda ketika berada di laut lepas. Tidak ada nahkoda yang tak menjumpai ombaknya, sama halnya dengan tidak ada manusia di bumi ini yang tak menjumpai lukanya. Setiap orang tentu pernah mengecap lukanya masing-masing. Jika bagi anak-anak luka lahir setelah sibuk berlari, jatuh, lecet, atau bahkan hingga lutut berdarah, maka bagi orang dewasa makna luka bukan hanya perihal cedera fisik semata. Namun juga merujuk pada lebamnya batin yang tak kasat mata. Ya! Luka orang dewasa lekat dengan kecewa. Kecewa adalah perihal rasa yang mampu merisaukan manusia. Entah itu kecewa berkat harapan yang tak sesuai dengan realita, kecewa berkat rusaknya percaya, terlebih kecewa akibat kehilangan orang yang sempat kau anggap rumah, atau bahkan beragam kecewa akibat faktor lainnya.
Kehilangan adalah hal yang hampir semua orang pernah merasakan. Kehilangan apa yang pernah kamu rasakan? Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata “kehilangan”? Entah kehilangan moment, kehilangan barang, atau mungkin kehilangan orang yang tersayang. Perasaan seperti apa yang kamu rasakan saat merasa kehilangan? kecewa? marah? menyakitkan? menyedihkan? pingin nangis? hampa? atau apa? Pada beberapa kehilangan banyak orang jatuh tersungkur, terjerembab dalam lubang duka, terombang-ambing tak tau arah, dan lupa caranya bangkit keluar mencari cahaya. Bahkan ada pula yang menghujat takdir dengan sumpah serapah. Tapi ada juga orang-orang yang justru tumbuh mendewasa.
Kehilangan punya wajah yang beragam. : perihal nyaman yang terusik oleh kepergian, kepercayaan yang dihancurkan, atau mungkin lebam tak kasat mata setelah bertarung melawan duka dalam perjuangan. Kehilangan orang-orang yang sempat kau anggap rumah, “bukan” suatu hal yang mudah. Pekatnya kehilangan mampu membanting seseorang hingga pada titik nadir kehidupan. Bahkan luka yang terlahir dari kehilangan, terkadang butuh waktu lama untuk disembuhkan. Berkat kehilangan pula tak jarang seseorang menjadi halu untuk bisa menembus dimensi waktu, dan memberhentikannya seketika agar bisa lebih lama di sana. Hey, tapi bukankah semua hal dalam hidup ini hanya perihal waktu untuk bertahan? Secara sadar maupun tidak, setiap hal yang ada di dunia ini terus bergerak menuju kerusakan dan berujung pada hilang. Baik itu barang yang kau miliki maupun orang-orang yang kau sayangi.
Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa, “kehilangan adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya, karena tidak semestinya ada nama lain dalam hatimu selain Dia”. Banyak manusia yang ketika dimabuk asmara, hati dan pikirannya penuh dengan nama orang tersayangnya. Banyak manusia yang berharap, meminta pada Tuhan dengan berdoa sungguh-sungguh untuk bisa dipersatukan bersama orang pilihannya di masa depan. Namun ketika Tuhan tidak berkenan, dan menakdirkan “kehilangan” datang untuk dirasakan, di saat itulah banyak manusia putus harapan. Padahal bukankah Tuhan lebih mengetahui segalanya dibanding hamba-Nya? Bukankah selama ini Tuhan sudah sangat baik dengan memberikan banyak hal? Bukankah selama ini Tuhan sangat sayang kepada hamba-Nya? Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Ia tidak pernah mengambil apapun dari hamba-Nya, kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik? Apa yang masih kau khawatirkan? Ketika kamu sakit, hampir sekarat, akhirnya kamu  sudah ditangai oleh dokter dan merasa membaik. Berkat hal tersebut kamu merasa aman karena percaya pada orang yang tepat. Padahal dokter hanyalah satu dari milyaran hamba Tuhan. Sementara Tuhan adalah dzat yang maha mengetahui segalanya, maha bisa, dan tak pernah ingkar janji untuk setiap ucapan-Nya.
Seseorang yang lain pernah mengatakan padaku bahwa, “kehilangan adalah perkara melepaskan dan mengikhlaskan, karena sejatinya tidak ada yang benar-benar kita miliki di dunia”. Aku sepakat, karena kehilangan tidak akan pernah menjadi mudah jika “ikhlas” belum tersemat dan mengalir dalam jiwa. Sementara ikhlas tidak akan pernah menjadi mudah jika kita belum mampu memaknai kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan sesungguhnya mengenai : siapa kita? Untuk apa kita diciptakan? Sudahkah kita tuntaskan tanggung jawab kita sebagai hamba? Atau sebatas mengenyangkan perut dengan urusan dunia? Menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, bukan berarti tidak menyalurkan hasrat dunia. Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa semua lini kehidupan kita.
Hidup memang tidak selamanya menyuguhkan manis untuk dikecap. Tapi matahari berputar tak pernah menunggumu siap. Apapun badai yang kamu alami, ingatlah nahkoda handal tak pernah lahir dari laut yang tenang. Apapun kepahitan yang harus kau telan, ingatlah obat itu pahit tapi menyembuhkan. Serumit apapun kehidupanmu, semenyakitkan apapun kehilangan yang kamu rasakan, kamu berhak bahagia begitupula dengannya. Tuhan lebih mengetahui hal-hal di luar batas kemampuan kita. Percayalah, bahwa percaya pada Tuhan dengan mengatasanamakan “ikhlas” akan memperingan langkah untuk akhir yang bahagia.