(Dyah Santoso)
Penulis : Hati
Suhita
Penulis : Khilma
Anis
Editor :
Akhiriyati Sundari
Penyunting :Asfi Diyah
Penerbit : Telaga
Aksara Ft Mazaya Media
Terbit : Maret
2019
Tebal : 406 halaman
Genre : Fiksi,
romance religy
ISBN : 978-602-51017-4-8
Pertama kali saya
tahu cerita Gus Birru dan Ning Alina serta perempuan cerdas berparas menawan
bernama Ratna Rengganis dari laman facebook Khilma Anis. Cerita dikemas seperti
cerbung yang diunggah di facebook. Konon, cerita ini lahir dari aktivitas kelas
menulis online yang diikuti oleh Ning Khilma (sapaan beliau). Di luar dugaan antusiasme
pembaca sangat luar biasa, banyak yang tak sabar menanti kelanjutan kisahnya. Cerita
yang diunggah di facebook hanya sampai episode 13 kemudian digarap lebih serius
dalam sebuah novel. Hal ini cukup membuat pembaca penasaran dan gemas
membayangkan perjalanan cinta tokoh-tokohnya.
Novel ini terbilang kelas novel dewasa karena bercerita tentang
bahtera rumah tangga seorang Gus dan Ning di Pesantren. Meskipun bertema
dewasa, namun pesan moral yang disisipkan oleh Ning Khilma dalam novel ini
sangat patut diterapkan oleh semua kalangan usia. Yang menarik dari novel ini
adalah tidak ada tokoh antagonis yang dibangun penulis untuk menciptakan
konflik. Novel ini memaparkan pergulatan hati tokoh-tokohnya. Perang batin
adalah klimaks dari cerita ini. Diawali dengan ratapan Alina Suhita karena
suaminya, Gus Birru belum bisa menerima dirinya sebagai seorang istri meskipun
usia pernikahan mereka sudah menginjak bulan ke-tujuh. Kesedihannya hanya dia
simpan sendiri, sebab di hadapan banyak orang, di depan orang tua dan keluarga
besarnya mereka selalu berperan sebagai pasangan pengantin baru yang bahagia.
Ujian batinnya tak berhenti di situ, Gus Birru sering kedapatan berhubungan
dengan Ratna Rengganis, mantan kekasihnya melalui telefon dan pesan whatsaap. Prahara
rumah tangga kian memilukan karena Alina Suhita harus memenangkan hati suami
dengan bayang-bayang mantannya.
Alur cerita secara umum tidak jauh berbeda dengan kisah cinta lain
yang sulit ‘move on’, namun penyampaian konflik dan diksi-diksi yang
digunakan dalam novel ini membuat pembaca tak menyadari sedang dididik oleh
pengetahuan penulis. Novel ini sering menggunakan analogi pewanyangan dalam
menyampaikan hikmah. Wayang, budaya Jawa dan tradisi pesantren yang sangat
kental dalam alur cerita tak bisa dipungkiri karena kecintaan dan latar
belakang penulis. Ning Khilma menyampaikan bahwa wayang tidak hanya dipahami
secara historis, namun lebih kepada simbolis. Ini juga bisa diterapkan untuk
berbagai hal dan secara tidak langsung mengingatkan bahwa segala sesuatu dapat
diambil pelajarannya jika dilihat dari sudut pandang yang tepat. Bahwasanya semesta
tak pernah segan mengajari manusia membaca makna dari segala fenomena.
Karakter-karakter dalam novel ini dibangun dengan sangat kuat. Tampak
masing-masing tokoh memiliki sifat dan prinsip yang melekat baik dari setiap
tindakan maupun dialog yang tercipta. Gus Birru ditampilkan sebagai pribadi
yang cerdas, berkarisma dan memiliki jiwa leadership yang tinggi.
Karakter dua wanita yang berkelindan dengannya juga tak kalah menawan. Alina
Suhita merepresentasikan wanita Jawa yang taat agama, seorang hafidzah yang
pandai menempatkan diri dan penuh dedikasi. Sedangkan Ratna Rengganis
menggambarkan wanita modern yang berwawasan luas dan tetap menjunjung tinggi
etika dan kemanusiaan. Kecerdasan masing-masing tokoh ditampilkan secara
cerdik. Penulis melebur data dengan unsur intriksik sastra, membiarkan pembaca
menyifati sendiri masing-masing tokoh melalui konflik dan cara menyikapinya.
Di awal cerita pembaca digiring berspekulasi dengan monolog batin
Alina Suhita. Kemudian diajak melihat sudut pandang Gus Birru hingga suara hati
Ratna Rengganis membuka tabir kesalahpahaman. Kesalahpahaman lahir dari
komunikasi yang lemah, kesalahpahaman terjadi karena tak ada yang meluruskan
pemahaman yang salah. Namun dari kesalahpahaman ada pelajaran dan penguatan
karakter. Gus Birru memahami dua wanita yang dicintainya adalah wanita-wanita
tangguh. Alina Suhita semakin bersinar dengan kesabarannya. Ratna Rengganis
semakin harum dengan kedewasaannya. Keindahan mereka semakin terpancar seiring
dengan kemelut jiwa yang kian meyiksa.
Banyak ajaran Jawa tentang wanita yang disuguhkan dalam novel ini,
seperti seorang wanita seharusnya wani tapa (berani bertapa), mikul
duwur mendem jero (menunjukkan kelebihan, menutupi kekurangan), dan mruput
katri (berbakti dan berhati-hati) serta pesan luhur lainnya. Membaca novel
ini selain untuk relaksasi hiburan juga sebagai merefleksi diri yang kaya
khasanah. Alina Suhita dan Ratna Rengganis dengan pesona masing-masing mampu
menaklukkan Gus Birru sebagai simbol keberhasilan (tampan; cerdas; terpandang
dan kaya), meskipun dalam wilayah yang berbeda. Ada permata dalam diri Alina
Suhita yang tidak dimiliki wanita lain, dan sebaliknya ada intan yang hanya
dipunyai oleh Ratna Rengganis. Mereka tangguh dengan senjata masing-masing. Dua
wanita ini seolah mengirim pesan kepada para wanita untuk berdamai dengan hati
dan mengoptimalkan potensi diri.
Karakter wanita dalam novel Hati Suhita melemahkan stereotip
tentang wanita yang mengedepankan perasaan. Jika prinsip mereka kuat, logika
tetap akan mengimbangi tanpa tereduksi oleh perasaan. Wanita menjadi madrasah
pertama bagi para tunas bangsa, wanita juga merupakan tiang negara. Agar tiang
bertahan dan tak mudah rapuh, maka harus ada pondasi yang kokoh dan atap yang
memayungi. Sistem yang baik adalah yang saling mendukung. Sekuat apapun wanita,
tetap butuh pelindung. Hati Suhita mengajarkan untuk menjadi tangguh tanpa
mengeluh. Sesekali terjatuh, namun kembali bangkit dengan pesona yang lebih
ampuh.
Seenak-enaknya masakan yang disajikan, tetap akan ada yang tidak
meyukai. Tidak suka bukan berarti membenci. Sama halnya dengan karya, selezat
apapun penulis meracik kata, tetap akan ada yang tidak bisa menerima. Ning
Khilma mengulas sisi lain sosok Gus yang lebih manusiawi, terlepas dari latar
belakang keluarganya. Tak terkecuali merasakan cinta dan berpacaran, selayaknya
pemuda seusianya. Gus Birru dengan pemikiran-pemikirannya termasuk produk langka,
yang bagi sebagian kalangan menimbulkan pro-kontra. Namun tak ada yang salah
dengan karya, jika tidak suka berarti buka selera kita. Mari menikmati dan
saling menghargai. Tak suka tak jadi soal, selama tak saling mencaci. Salam
literasi.




