Rabu, 29 April 2020

Garis Tangan Tuhan



(Laily Alfath)



Mulailah menerima dengan lapang hati apapun yang terjadi. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Karena takdir tidak pernah bertanya tentang: Bagaimana perasaan kita? Apakah kita bahagia? Apakah kita tidak suka?” –Tere Liye-

Apa pendapatmu pertama kali jika membaca “garis tangan Tuhan”? Takdir! Yap betul. Pada seluruh sektor kehidupan kita, akan selalu lekat dengan campur tangan Tuhan. Karena setuju atau pun tidak, kita adalah produk dari Tuhan yang setiap ketentuannya kalau kata ajaran Islam udah ditulis di Lauhul Mahfudz sebelum semua makhluk diciptakan. Garis tangan Tuhan lebih umum disebut “takdir” oleh masyarakat, atau simpelnya bisa juga disebut ketetapan Tuhan. Contoh beberapa takdir : dari ibu yang mana kita dilahirkan, jenis kelamin yang kita dapatkan, usia, jodoh, dan banyak hal lainnya.
Pernah nggak kalian ngerasa sulit menerima takdir? Pernah melakukan semacam protes, entah dalam hati atau bahkan mengumpat Tuhan beserta takdir-Nya dengan sumpah serapah karena kalian saking kecewanya? Hehehe... Kalau pernah, ya itu artinya kalian manusia. Karena manusia biasa tidak akan pernah luput dari yang namanya salah dan kecewa. Pada proses kehidupan ini, terkadang ada banyak hal yang belum kita mengerti maksud dari keputusan Tuhan saat ini maupun oada beberapa hari kemarin. Bahkan karena kita belum paham maksud dari keputusan Tuhan, beberapa kali pertanyaan kita lemparkan ke langit tapi seolah tanpa jawaban.
Kadang kita udah usaha maksimal, udah meminta berkali-kali, tapi seolah tak didengar karena realita tak sesuai dengan keinginan. Menyakitkan? Ya, terkadang! Tapi kalau kalian masih ngerasa sakit, kecewa, sedih itu artinya kalian belum percaya sama kuasa Tuhan. Kalau kita sakit, kita periksa ke dokter dan percaya bakalan sembuh. Sekelas dokter, yang tarafnya adalah makhluk Tuhan aja bisa kita percaya segitunya. Gimana dengan Sang Pencipta Alam? Masih meragukan? Hey, coba simak ini baik-baik! Coba lihat salah satu telapak tanganmu. Kemudian, coba genggam atau kepalkan. Apakah semua garis tangan yang ada di telapak tanganmu itu semuanya turut tergenggam? Aku yakin tidak. Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu atau bisa kita sebut itu hak Tuhan yang menentukan. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan, sisanya apa yang menjadi di luar kendalimu adalah urusan Tuhan.
Ada yang bilang padaku bahwa, "menjalani hidup adalah soal menentukan pilihan, sementara takdir hanyalah hasil akhir dari kecermatanmu menentukan pilihan-pilihan". Aku sepakat dengannya, karena manusia adalah makhluk yang berdaya dan bisa berusaha. Ingat! Kita masih tetap dianggap makhluk yang sempurna oleh seluruh alam dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya, sekalipun kita masih ngerasa punya banyak kekurangan. Kalau katanya Bang Agus Fitriandi salah satu orang hebat dari ITB, "hidup itu pilihan, dan takdir adalah ketika engkau tak memiliki pilihan atau tak bisa menghindar dari suatu pilihan". Aku sepakat dengan hal itu, tapi bukan berarti ketika kita tidak bisa menghindar dari suatu takdir yang dirasa kurang menguntungkan, lantas kita tersungkur dan menyalahan keadaan. Ingat! Datangnya masalah justru akan menunjukkan jati diri seseorang. Karena ketika seseorang didera badai masalah atau takdir yang dirasa kurang menyenangkan, hanya akan ada dua tipe manusia: menguat berkat masalah, atau justru terkapar dan mengenaskan.
Takdir memang tak selamanya sepakat dengan ingin yang sempat kau panjatkan. Takdir memang tak selamanya menyambut hangat, atas setiap pinta yang kau langitkan. Takdir pun juga terkadang seolah tak berpihak, akan setiap kondisi yang semakin carut marut tak karuan. Tapi ingat, Tuhan tak pernah salah memperhitungkan. Tuhan tak pernah abai atas setiap proposal keinginan yang kau ajukan. Tuhan pun tak pernah absen dari memberikan limpahan sayang-Nya pada semua umat. Tuhan tak pernah berhutang atas setiap proses yang kau kerjakan. Semua hanya perihal waktu, dan esensi dari permintaan yang kau langitkan.  

1 komentar:

  1. Baguuus 😄
    Inti yang disampaikan oke. Analogi yg digunakan juga bagus. Semangat berkarya!!

    BalasHapus