Seorang sufi pernah berdoa,
“Ya Allah buatlah aku lelah dalam membagi-bagikan harta-Mu,
bukan lelah karena mencari harta-Mu”
Ingat pelajaran Bahasa Indonesia tentang adjektiva yang diperhalus?
Tak dapat melihat bukan disebut buta, melainkan tunanetra. Tak dapat bicara bukan disebut bisu, melainkan tunawicara, tak punya rumah bukan disebut gelandangan, melainkan tunawisma. Lebih sopan dan menjaga perasaan bukan?
Pilihan kata selalu menjadi bagian penting dalam komunikasi. Selanjutnya bagaimana merangkai kata-kata itu menjadi bermakna dan dapat dipahami lawan bicara. Terkadang paham saja belum cukup untuk membuat orang percaya. Ada pilihan kata dan keluwesan bahasa di sana. Ada simpati yang terpanggil oleh hati yang tulus suci.
Jika kepada manusia saja sangat menjaga perasaan, apalagi kepada Penguasa manusia. Jika kepada makhluk saja sangat menjaga etika, apalagi kepada sang Khalik. Lantas bagaimana komunikasi makhluk dengan sang Khalik? Melalui ibadah dan doa tentunya. Sejatinya Allah tak butuh komunikasi, Allah tak butuh pemujaan, pun tak butuh “rasa butuh” makhluk pada-Nya. Kita yang butuh, kita yang lemah, kita bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa.
Berdoa tak ayal adalah rengekan, curhatan, sekaligus proposal multi fungsi kepada sang Khalik. Doa adalah senjata bertenaga iman. Selayaknya sebuah senjata, penggunanya harus mahir menggunakan. Jika tidak, akan berbalik menjadi senjata makan tuan. Karena doa adalah komunikasi, maka disampaikan melalui bahasa, entah dalam bahasa yang sifatnya audio maupun bahasa kalbu. Allah MahaTahu.
Retorika dalam doa menjadi penting dan merupakan etika kepada Allah. Bahkan dalam syi’ir Abu Nawas yang masyhur:
“Ya Tuhanku, aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim. Maka terimalah taubatku, karena sesungguhnya Engkau adalah pengampun dosa yang besar”.
Bagaimana Abu Nawas merayu Tuhan dengan santun, meminta tanpa memaksa, mengiba dengan memuja.
Analoginya mungkin seperti ini.
Ada dua anak kakak beradik dari orang tua yang kaya raya. Si kakak meminta ayahnya membelikan motor gede keluaran terbaru. Kakak berkata “Ayah, aku ingin motor itu agar terlihat keren”. Keesokan harinya ayah memberikan motor yang diinginkannya. Si adik tak ingin kalah, dia mendatangi ayahnya dan berkata, “Ayah, aku juga ingin punya kendaraan keren seperti kakak, tapi aku tak ingin menikmatinya sendiri. Aku ingin ayah dan Bunda juga naik kendaraan keren bersamaku”. Keesokan harinya, ayah memberikan adik mobil sport yang tak kalah keren.
Jika diberi pilihan, mau seperti si kakak atau si adik? :)
Tak ada doa yang tak terdengar, sebab Allah maha mendengar. Perkara kapan dan bagaimana doa itu dibalas, adalah hak prerogatif-Nya. Yang perlu kita yakini, doa yang kita bisikkan ke Bumi, dapat terdengar oleh langit. Kekuatan sinyalnya seimbang dengan sinergisitas tindak tanduk serta tutur.
Salam hangat membumikan literasi.
#muhasabah #selfreminder
0 comments:
Posting Komentar