Minggu, 19 April 2020

Mengeja Luka



(Laily Alfath)



“Kesedihan adalah salah satu wujud dari luka, dan terluka itu wajar. Hal itu menjadi tidak wajar jika membiarkan luka itu terus menganga dan terinfeksi parah. –Anonymous-”

Luka adalah salah satu warna kehidupan manusia. Luka semacam ombak bagi setiap nahkoda ketika berada di laut lepas. Tidak ada nahkoda yang tak menjumpai ombaknya, sama halnya dengan tidak ada manusia di bumi ini yang tak menjumpai lukanya. Setiap orang tentu pernah mengecap lukanya masing-masing. Jika bagi anak-anak luka lahir setelah sibuk berlari, jatuh, lecet, atau bahkan hingga lutut berdarah, maka bagi orang dewasa makna luka bukan hanya perihal cedera fisik semata. Namun juga merujuk pada lebamnya batin yang tak kasat mata. Ya! Luka orang dewasa lekat dengan kecewa. Kecewa adalah perihal rasa yang mampu merisaukan manusia. Entah itu kecewa berkat harapan yang tak sesuai dengan realita, kecewa berkat rusaknya percaya, terlebih kecewa akibat kehilangan orang yang sempat kau anggap rumah, atau bahkan beragam kecewa akibat faktor lainnya.
Kehilangan adalah hal yang hampir semua orang pernah merasakan. Kehilangan apa yang pernah kamu rasakan? Apa yang pertama kali kamu pikirkan saat mendengar kata “kehilangan”? Entah kehilangan moment, kehilangan barang, atau mungkin kehilangan orang yang tersayang. Perasaan seperti apa yang kamu rasakan saat merasa kehilangan? kecewa? marah? menyakitkan? menyedihkan? pingin nangis? hampa? atau apa? Pada beberapa kehilangan banyak orang jatuh tersungkur, terjerembab dalam lubang duka, terombang-ambing tak tau arah, dan lupa caranya bangkit keluar mencari cahaya. Bahkan ada pula yang menghujat takdir dengan sumpah serapah. Tapi ada juga orang-orang yang justru tumbuh mendewasa.
Kehilangan punya wajah yang beragam. : perihal nyaman yang terusik oleh kepergian, kepercayaan yang dihancurkan, atau mungkin lebam tak kasat mata setelah bertarung melawan duka dalam perjuangan. Kehilangan orang-orang yang sempat kau anggap rumah, “bukan” suatu hal yang mudah. Pekatnya kehilangan mampu membanting seseorang hingga pada titik nadir kehidupan. Bahkan luka yang terlahir dari kehilangan, terkadang butuh waktu lama untuk disembuhkan. Berkat kehilangan pula tak jarang seseorang menjadi halu untuk bisa menembus dimensi waktu, dan memberhentikannya seketika agar bisa lebih lama di sana. Hey, tapi bukankah semua hal dalam hidup ini hanya perihal waktu untuk bertahan? Secara sadar maupun tidak, setiap hal yang ada di dunia ini terus bergerak menuju kerusakan dan berujung pada hilang. Baik itu barang yang kau miliki maupun orang-orang yang kau sayangi.
Seseorang pernah mengatakan kepadaku bahwa, “kehilangan adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya, karena tidak semestinya ada nama lain dalam hatimu selain Dia”. Banyak manusia yang ketika dimabuk asmara, hati dan pikirannya penuh dengan nama orang tersayangnya. Banyak manusia yang berharap, meminta pada Tuhan dengan berdoa sungguh-sungguh untuk bisa dipersatukan bersama orang pilihannya di masa depan. Namun ketika Tuhan tidak berkenan, dan menakdirkan “kehilangan” datang untuk dirasakan, di saat itulah banyak manusia putus harapan. Padahal bukankah Tuhan lebih mengetahui segalanya dibanding hamba-Nya? Bukankah selama ini Tuhan sudah sangat baik dengan memberikan banyak hal? Bukankah selama ini Tuhan sangat sayang kepada hamba-Nya? Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Ia tidak pernah mengambil apapun dari hamba-Nya, kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik? Apa yang masih kau khawatirkan? Ketika kamu sakit, hampir sekarat, akhirnya kamu  sudah ditangai oleh dokter dan merasa membaik. Berkat hal tersebut kamu merasa aman karena percaya pada orang yang tepat. Padahal dokter hanyalah satu dari milyaran hamba Tuhan. Sementara Tuhan adalah dzat yang maha mengetahui segalanya, maha bisa, dan tak pernah ingkar janji untuk setiap ucapan-Nya.
Seseorang yang lain pernah mengatakan padaku bahwa, “kehilangan adalah perkara melepaskan dan mengikhlaskan, karena sejatinya tidak ada yang benar-benar kita miliki di dunia”. Aku sepakat, karena kehilangan tidak akan pernah menjadi mudah jika “ikhlas” belum tersemat dan mengalir dalam jiwa. Sementara ikhlas tidak akan pernah menjadi mudah jika kita belum mampu memaknai kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan sesungguhnya mengenai : siapa kita? Untuk apa kita diciptakan? Sudahkah kita tuntaskan tanggung jawab kita sebagai hamba? Atau sebatas mengenyangkan perut dengan urusan dunia? Menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, bukan berarti tidak menyalurkan hasrat dunia. Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa semua lini kehidupan kita.
Hidup memang tidak selamanya menyuguhkan manis untuk dikecap. Tapi matahari berputar tak pernah menunggumu siap. Apapun badai yang kamu alami, ingatlah nahkoda handal tak pernah lahir dari laut yang tenang. Apapun kepahitan yang harus kau telan, ingatlah obat itu pahit tapi menyembuhkan. Serumit apapun kehidupanmu, semenyakitkan apapun kehilangan yang kamu rasakan, kamu berhak bahagia begitupula dengannya. Tuhan lebih mengetahui hal-hal di luar batas kemampuan kita. Percayalah, bahwa percaya pada Tuhan dengan mengatasanamakan “ikhlas” akan memperingan langkah untuk akhir yang bahagia.

0 comments:

Posting Komentar