(Laily Alfath)
“Kesedihan adalah salah satu wujud dari
luka, dan terluka itu wajar. Hal itu menjadi tidak wajar jika membiarkan luka
itu terus menganga dan terinfeksi parah. –Anonymous-”
Luka adalah salah satu warna kehidupan
manusia. Luka semacam ombak bagi setiap nahkoda ketika berada di laut lepas. Tidak
ada nahkoda yang tak menjumpai ombaknya, sama halnya dengan tidak ada manusia
di bumi ini yang tak menjumpai lukanya. Setiap orang tentu pernah mengecap
lukanya masing-masing. Jika bagi anak-anak luka lahir setelah sibuk berlari,
jatuh, lecet, atau bahkan hingga lutut berdarah, maka bagi orang dewasa makna
luka bukan hanya perihal cedera fisik semata. Namun juga merujuk pada lebamnya batin yang tak kasat mata. Ya! Luka orang dewasa lekat dengan kecewa. Kecewa adalah
perihal rasa yang mampu merisaukan manusia. Entah itu kecewa berkat harapan
yang tak sesuai dengan realita, kecewa berkat rusaknya percaya, terlebih kecewa
akibat kehilangan orang yang sempat kau anggap rumah, atau bahkan beragam
kecewa akibat faktor lainnya.
Kehilangan adalah hal yang hampir semua
orang pernah merasakan. Kehilangan apa yang pernah kamu rasakan? Apa yang pertama
kali kamu pikirkan saat mendengar kata
“kehilangan”? Entah kehilangan moment, kehilangan barang, atau mungkin
kehilangan orang yang tersayang. Perasaan seperti apa
yang kamu rasakan saat merasa kehilangan? kecewa? marah? menyakitkan? menyedihkan?
pingin nangis? hampa? atau apa? Pada beberapa kehilangan banyak orang jatuh
tersungkur, terjerembab dalam lubang duka, terombang-ambing tak tau arah, dan
lupa caranya bangkit keluar mencari cahaya. Bahkan ada pula yang menghujat takdir
dengan sumpah serapah. Tapi ada juga orang-orang yang justru tumbuh mendewasa.
Kehilangan punya wajah yang beragam. :
perihal nyaman yang terusik oleh kepergian, kepercayaan yang dihancurkan, atau
mungkin lebam tak kasat mata setelah bertarung melawan duka dalam perjuangan.
Kehilangan orang-orang yang sempat kau anggap rumah, “bukan”
suatu hal yang mudah. Pekatnya kehilangan mampu membanting seseorang hingga
pada titik nadir kehidupan. Bahkan luka yang terlahir dari kehilangan,
terkadang butuh waktu lama untuk disembuhkan. Berkat kehilangan pula tak jarang
seseorang menjadi halu untuk bisa menembus dimensi waktu, dan memberhentikannya
seketika agar bisa lebih lama di sana. Hey, tapi bukankah semua hal dalam hidup
ini hanya perihal waktu untuk bertahan? Secara sadar maupun tidak, setiap hal
yang ada di dunia ini terus bergerak menuju kerusakan dan berujung pada hilang.
Baik itu barang yang kau miliki maupun orang-orang yang kau sayangi.
Seseorang pernah mengatakan kepadaku
bahwa, “kehilangan adalah cara Tuhan menguji hamba-Nya, karena tidak semestinya
ada nama lain dalam hatimu selain Dia”. Banyak manusia yang ketika dimabuk
asmara, hati dan pikirannya penuh dengan nama orang tersayangnya. Banyak manusia
yang berharap, meminta pada Tuhan dengan berdoa sungguh-sungguh untuk bisa
dipersatukan bersama orang pilihannya di masa depan. Namun ketika Tuhan tidak
berkenan, dan menakdirkan “kehilangan” datang untuk dirasakan, di saat itulah
banyak manusia putus harapan. Padahal bukankah Tuhan lebih mengetahui segalanya
dibanding hamba-Nya? Bukankah selama ini Tuhan sudah sangat baik dengan
memberikan banyak hal? Bukankah selama ini Tuhan sangat sayang kepada
hamba-Nya? Bukankah Tuhan pernah berjanji bahwa Ia tidak pernah mengambil
apapun dari hamba-Nya, kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik? Apa yang
masih kau khawatirkan? Ketika kamu sakit, hampir sekarat, akhirnya kamu sudah
ditangai oleh dokter dan merasa membaik. Berkat hal tersebut kamu merasa aman karena
percaya pada orang yang tepat. Padahal dokter hanyalah satu dari milyaran hamba
Tuhan. Sementara Tuhan adalah dzat yang maha mengetahui segalanya, maha bisa,
dan tak pernah ingkar janji untuk setiap ucapan-Nya.
Seseorang yang lain pernah mengatakan padaku
bahwa, “kehilangan adalah perkara melepaskan dan mengikhlaskan, karena
sejatinya tidak ada yang benar-benar kita miliki di dunia”. Aku sepakat, karena
kehilangan tidak akan pernah menjadi mudah jika “ikhlas” belum tersemat dan
mengalir dalam jiwa. Sementara ikhlas tidak akan pernah menjadi mudah jika kita
belum mampu memaknai kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan sesungguhnya
mengenai : siapa kita? Untuk apa kita diciptakan? Sudahkah kita tuntaskan
tanggung jawab kita sebagai hamba? Atau sebatas mengenyangkan perut dengan
urusan dunia? Menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba, bukan berarti tidak
menyalurkan hasrat dunia. Tuhan sudah mengatur sedemikian rupa semua lini
kehidupan kita.
Hidup memang tidak selamanya menyuguhkan
manis untuk dikecap. Tapi matahari berputar tak pernah menunggumu siap. Apapun
badai yang kamu alami, ingatlah nahkoda handal tak pernah lahir dari laut yang
tenang. Apapun kepahitan yang harus kau telan, ingatlah obat itu pahit tapi
menyembuhkan. Serumit apapun kehidupanmu, semenyakitkan apapun kehilangan yang
kamu rasakan, kamu berhak bahagia begitupula dengannya. Tuhan lebih mengetahui
hal-hal di luar batas kemampuan kita. Percayalah, bahwa percaya pada Tuhan
dengan mengatasanamakan “ikhlas” akan memperingan langkah untuk akhir yang
bahagia.

0 comments:
Posting Komentar