( Laily Alfath)
"Pikiran kita adalah musuh terbesar diri sendiri. -Laily Alfath-"
Pada masa pandemi ini, banyak kabar duka yang disebarkan lewat media. Semua orang tengah berjuang pada track masing-masing. Aku yakin, begitu juga dengan kamu. Apapun yang tengah kamu usahakan sekarang, semoga bahumu senantiasa kuat untuk terus bangkit setiap kali terjatuh. Apapun impianmu, itu layak untuk diwujudkan asalkan tidak merugikan orang lain. Karena setiap orang berhak untuk hidup layak sesuai impian yang dia harapkan. Tuhan tidak pernah pandang bulu dalam mengabulkan doa-doa yang dilayangkan. Itu artinya setiap manusia berkesempatan untuk dikabulkan doanya oleh Tuhan.
Tapi impian tidak akan pernah menjadi nyata tatkala hal yang kita lakukan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan. Pernahkah kamu menginginkan sesuatu namun hal yang sedang kamu usahakan berlawanan arah atau bahkan mengurai jarak yang semakin jauh dari impian? Maksudku usaha ini berkaitan dengan hal yang ada di bawah kontrol diri. Misal : kamu ingin mendapatkan beasiswa S2, tapi kamu tidak berjuang maksimal untuk persiapan tes TOEFL. Sesederhana itu misalnya, pernah? Atau pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi justru lebih banyak warning kata "tapi" yang mengisi kepalamu? Misal : "aku pingin ngerjain tugas, tapi masih lama waktunya, tapi sulit, tapi lainnya juga belum ngerjain, tapi males dan alasan tapi lainnya". Akhirnya karena ada banyak "alasan tapi" yang terpikirkan, kamu nggak jadi bertindak dan mengurungkan impianmu, pernah? Atau bahkan karena rentetan pemikiran "tapi" tersebut, akhirnya kamu tidak optimal dalam proses dan berujung kecewa, pernah?
Kalau kamu pernah, maka kamu tidak sendirian. Akupun juga pernah. Akhirnya aku terjebak dengan pikiranku sendiri dan berakhir stuck. Parahnya sekalipun stuck, tenaga, waktu, dan pikiranku tetap habis karena lelah memikirkan rentetan "alasan tapi" yang meracuni isi kepala. Bertindak memang butuh rencana yang harus ditimbang, tapi bukan berarti melakukan sabotase kepada diri sendiri tanpa sadar. Menurut pengalaman aku nih, kita tidak akan pernah tahu limit kita sebelum kita berjuang mati-matian. Bahkan seorang Dokter Spesialis Jiwa, dr. Jiemie Ardian, S.pKJ menyatakan bahwa self sabotage atau yang lebih dikenal dengan mental block adalah upaya seseorang menghalangi keberhasilan diri sendiri dengan berbagai macam mekanisme pertahanan diri (Ardian, 2021). Logikanya dalam kerangka nalar yang sadar, setiap orang tentu tidak ingin menghalangi hal yang menjadi keinginannya. Namun dalam pemikiran mode tidak sadar, sering kali kita menghambat upaya kita menuju hal yang kita inginkan (mensabotase diri sendiri). Parahnya diri kita adalah sosok yang sangat mengerti kurang dan lebihnya diri ini. Imbasnya adalah tatkala diri kita yang melakukan sabotase terhadap hal yang kita inginkan, seringnya efeknya akan jauh lebih manjur dibandingkan jika dilakukan oleh orang lain.
Kata penghubung "tapi" adalah kata penghubung yang melahirkan makna kontradiktif dari kalimat sebelumnya. Parahnya kalimat yang disampaikan setelah kata "tapi", bisa secara tidak sadar menggugurkan kalimat sebelum kata "tapi". Bahkan kesan dominan lebih terasa pada kalimat setelah kata "tapi" (Ardian, 2021). Misal : aku ingin jadi juara kelas, tapi pelajarannya susah. Pada kalimat tersebut seolah-olah poin penting yang ingin disampaikan adalah "pelajarannya susah". Pada kalimat tersebut dijelaskan seolah-olah sifat "aku ingin jadi juara kelas" menjadi tidak penting atau kehilangan kekuatannya, atau bahkan mustahil karena "pelajarannya susah". Hal inilah yang membahayakan. Pikiran kita hanya fokus ke rentetan alasan dan lupa mengenai hal yang sebenarnya ingin kita capai. Sehingga kebanyakan dari kita juga berakhir stuck.
Imbas dari "pemikiran tapi" yang dituruti, selain stuck juga ada yang berimbas pada penundaan pekerjaan dalam melakukan suatu hal. Pernahkan kamu ingin melakukan sesuatu namun karena banyak "pemikiran tapi" yang berseliweran di kepala, akhirnya kamu menunda untuk melakukan hal yang semestinya kamu lakukan? Jika pernah juga, maka kita sama. Hahaha. Aku rasa hampir semua orang di dunia ini pernah menjadi seorang prokrastinator dengan berbagai alasan. Prokrastinator adalah orang yang menunda-nunda pekerjaannya. Sementara prokrastinasi adalah istilah untuk menjelaskan sifat menunda-nunda pekerjaan. Sebagian orang berpikir bahwa prokrastinasi terjadi karena seseorang malas dalam melakukan aktifitas tersebut. Namun ternyata berdasarkan informasi pada channel Satu Persen menyatakan bahwa ada dua alasan seseorang melakukan prokrastinasi, yaitu manajemen pengelolaan emosi yang kurang baik dan manajemen waktu yang kurang baik (Satu Persen, 2021).
Pikiran ibarat raja dalam tubuh kita. Hal yang kita pikirkan akan sangat mempengaruhi, bahkan menggiring kita dalam melakukan suatu hal. Tatkala pemikiran-pemikiran toxic yang kita masukkan, maka tindakan yang akan keluar juga tidak akan jauh berbeda dan begitu pula sebaliknya. Manusia punya waktu 24 jam dalam satu hari. Tapi manusia juga memiliki serentetan kegiatan yang harus dilakukan. Setiap orang punya 24 jam yang sama dalam satu hari. Tapi tidak semua orang mampu mengoptimalkannya dengan baik. Jika kita menyadari bahwa suatu hal harus dikerjakan namun kita memilih untuk menundanya, itu tidak akan menghilangkannya dari kenyataan bahwa ia akan tetap harus kita kerjakan. Semakin kita menunda, maka kesempatan waktu untuk menyelesaikannya akan semakin sempit. Aku tidak akan membandingkan antara orang SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan orang yang tanggap langsung menyelesaikan pekerjaannya setelah mendapatkan tugas. Tapi poin penting di sini adalah tentang bagaimana kita mengelola emosi kita dalam menghadapi rentetan tugas apapun. Ketika kita berpikir sebuah tugas adalah beban, maka itu akan sangat membebankan dan otomatis telah menyedot banyak energi kita sebelum kita mencicipi untuk mengerjakannya, Namun tatkala kita mempersepsikan bahwa sebuah tugas adalah bentuk pelajaran baru yang akan membuat kita semakin bertumbuh, hal itu akan secara otomatis meningkatkan stock semangat kita berlipat-lipat sehingga pekerjaan akan lekas selesai.
Pada dasarnya di dunia ini tidak semua hal dapat diwakilkan. Salah satunya adalah tentang prosesmu. Semenyakitkan apapun itu, kamu adalah orang yang akan menjalaninya sendiri. Orang lain mungkin bisa menyemangatimu, tapi perihal selesai atau tidaknya dalam proses itu bergantung pada diri kita masing-masing. Sama halnya dengan seorang balita yang tengah belajar berjalan. Ibunya hanya bisa melatihnya, menyemangatinya, dan berusaha menopangnya tatkala ia hendak terjatuh, Tapi perihal untuk bisa kokoh berjalan sendiri, semua ada pada keinginan dan usaha sang balita. Takdir memang milik Tuhan, namun usaha dan doa adalah milik manusia.
Daftar Rujukan
Ardian, Jiemi. 2021. Self Sabotage, Ternyata Saya Mensabotase Keberhasilan Saya Sendiri! Kenali Mental Blockmu! (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=72sqTlxxmg8)
Satu Persen. 2021. Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan?(Hubungan Antara Kerja Otak dan Prokrastinasi). (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=CWGHpFEX1ss)


