Sabtu, 31 Juli 2021

Sabotase Diri

( Laily Alfath)





"Pikiran kita adalah musuh terbesar diri sendiri. -Laily Alfath-"


            Pada masa pandemi ini, banyak kabar duka yang disebarkan lewat media. Semua orang tengah berjuang pada track masing-masing. Aku yakin, begitu juga dengan kamu. Apapun yang tengah kamu usahakan sekarang, semoga bahumu senantiasa kuat untuk terus bangkit setiap kali terjatuh. Apapun impianmu, itu layak untuk diwujudkan asalkan tidak merugikan orang lain. Karena setiap orang berhak untuk hidup layak sesuai impian yang dia harapkan. Tuhan tidak pernah pandang bulu dalam mengabulkan doa-doa yang dilayangkan. Itu artinya setiap manusia berkesempatan untuk dikabulkan doanya oleh Tuhan.

            Tapi impian tidak akan pernah menjadi nyata tatkala hal yang kita lakukan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan. Pernahkah kamu menginginkan sesuatu namun hal yang sedang kamu usahakan berlawanan arah atau bahkan mengurai jarak yang semakin jauh dari impian? Maksudku usaha ini berkaitan dengan hal yang ada di bawah kontrol diri. Misal : kamu ingin mendapatkan beasiswa S2, tapi kamu tidak berjuang maksimal untuk persiapan tes TOEFL. Sesederhana itu misalnya, pernah? Atau pernahkah kamu menginginkan sesuatu tapi justru lebih banyak warning kata "tapi" yang mengisi kepalamu? Misal : "aku pingin ngerjain tugas, tapi masih lama waktunya, tapi sulit, tapi lainnya juga belum ngerjain, tapi males dan alasan tapi lainnya". Akhirnya karena ada banyak "alasan tapi" yang terpikirkan, kamu nggak jadi bertindak dan mengurungkan impianmu, pernah? Atau bahkan karena rentetan pemikiran "tapi" tersebut, akhirnya kamu tidak optimal dalam proses dan  berujung kecewa, pernah?

              Kalau kamu pernah, maka kamu tidak sendirian. Akupun juga pernah. Akhirnya aku terjebak dengan pikiranku sendiri dan berakhir stuck. Parahnya sekalipun stuck, tenaga, waktu, dan pikiranku  tetap habis karena lelah memikirkan rentetan "alasan tapi" yang meracuni isi kepala. Bertindak memang butuh rencana yang harus ditimbang, tapi bukan berarti melakukan sabotase kepada diri sendiri tanpa sadar. Menurut pengalaman aku nih, kita tidak akan pernah tahu limit kita sebelum kita berjuang mati-matian. Bahkan seorang Dokter Spesialis Jiwa, dr. Jiemie Ardian, S.pKJ menyatakan bahwa self sabotage atau yang lebih dikenal dengan mental block adalah upaya seseorang menghalangi keberhasilan diri sendiri dengan berbagai macam mekanisme pertahanan diri (Ardian, 2021). Logikanya dalam kerangka nalar yang sadar, setiap orang tentu tidak ingin menghalangi hal yang menjadi keinginannya. Namun dalam pemikiran mode tidak sadar, sering kali kita menghambat upaya kita menuju hal yang kita inginkan (mensabotase diri sendiri). Parahnya diri kita adalah sosok yang sangat mengerti kurang dan lebihnya diri ini. Imbasnya adalah tatkala diri kita yang melakukan sabotase terhadap hal yang kita inginkan, seringnya efeknya akan jauh lebih manjur dibandingkan jika dilakukan oleh orang lain. 

                   Kata penghubung "tapi" adalah kata penghubung yang melahirkan makna kontradiktif dari kalimat sebelumnya. Parahnya kalimat yang disampaikan setelah kata "tapi", bisa secara tidak sadar menggugurkan kalimat sebelum kata "tapi". Bahkan kesan dominan lebih terasa pada kalimat setelah kata "tapi" (Ardian, 2021). Misal : aku ingin jadi juara kelas, tapi pelajarannya susah. Pada kalimat tersebut seolah-olah poin penting yang ingin disampaikan adalah "pelajarannya susah". Pada kalimat tersebut dijelaskan seolah-olah sifat "aku ingin jadi juara kelas" menjadi tidak penting atau kehilangan kekuatannya, atau bahkan mustahil karena "pelajarannya susah". Hal inilah yang membahayakan. Pikiran kita hanya fokus ke rentetan alasan dan lupa mengenai hal yang sebenarnya ingin kita capai. Sehingga kebanyakan dari kita juga berakhir stuck.

              Imbas dari "pemikiran tapi" yang dituruti, selain stuck juga ada yang berimbas pada penundaan pekerjaan dalam melakukan suatu hal. Pernahkan kamu ingin melakukan sesuatu namun karena banyak "pemikiran tapi" yang berseliweran di kepala, akhirnya kamu menunda untuk melakukan hal yang semestinya kamu lakukan? Jika pernah juga, maka kita sama. Hahaha. Aku rasa hampir semua orang di dunia ini pernah menjadi seorang prokrastinator dengan berbagai alasan. Prokrastinator adalah orang yang menunda-nunda pekerjaannya. Sementara prokrastinasi adalah istilah untuk menjelaskan sifat menunda-nunda pekerjaan. Sebagian orang berpikir bahwa prokrastinasi terjadi karena seseorang malas dalam melakukan aktifitas tersebut. Namun ternyata berdasarkan informasi pada channel Satu Persen menyatakan bahwa ada dua alasan seseorang melakukan prokrastinasi, yaitu  manajemen pengelolaan emosi yang kurang baik dan manajemen waktu yang kurang baik (Satu Persen, 2021).

              Pikiran ibarat raja dalam tubuh kita. Hal yang kita pikirkan akan sangat mempengaruhi, bahkan menggiring kita dalam melakukan suatu hal. Tatkala pemikiran-pemikiran toxic yang kita masukkan, maka tindakan yang akan keluar juga tidak akan jauh berbeda dan begitu pula sebaliknya. Manusia punya waktu 24 jam dalam satu hari. Tapi manusia juga memiliki serentetan kegiatan yang harus dilakukan. Setiap orang punya 24 jam yang sama dalam satu hari. Tapi tidak semua orang mampu mengoptimalkannya dengan baik. Jika kita menyadari bahwa suatu hal harus dikerjakan namun kita memilih untuk menundanya, itu tidak akan menghilangkannya dari kenyataan bahwa ia akan tetap harus kita kerjakan. Semakin kita menunda, maka kesempatan waktu untuk menyelesaikannya akan semakin sempit. Aku tidak akan membandingkan antara orang SKS (Sistem Kebut Semalam) dengan orang yang tanggap langsung menyelesaikan pekerjaannya setelah mendapatkan tugas. Tapi poin penting di sini adalah tentang bagaimana kita mengelola emosi kita dalam menghadapi rentetan tugas apapun. Ketika kita berpikir sebuah tugas adalah beban, maka itu akan sangat membebankan dan otomatis telah menyedot banyak energi kita sebelum kita mencicipi untuk mengerjakannya, Namun tatkala kita mempersepsikan bahwa sebuah tugas adalah bentuk pelajaran baru yang akan membuat kita semakin bertumbuh, hal itu akan secara otomatis meningkatkan stock semangat kita berlipat-lipat sehingga pekerjaan akan lekas selesai.

           Pada dasarnya di dunia ini tidak semua hal dapat diwakilkan. Salah satunya adalah tentang prosesmu. Semenyakitkan apapun itu, kamu adalah orang yang akan menjalaninya sendiri. Orang lain mungkin bisa menyemangatimu, tapi perihal selesai atau tidaknya dalam proses itu bergantung pada diri kita masing-masing. Sama halnya dengan seorang balita yang tengah belajar berjalan. Ibunya hanya bisa melatihnya, menyemangatinya, dan berusaha menopangnya tatkala ia hendak terjatuh, Tapi perihal untuk bisa kokoh berjalan sendiri, semua ada pada keinginan dan usaha sang balita. Takdir memang milik Tuhan, namun usaha dan doa adalah milik manusia.


Daftar Rujukan

Ardian, Jiemi. 2021. Self Sabotage, Ternyata Saya Mensabotase Keberhasilan Saya Sendiri! Kenali Mental Blockmu! (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=72sqTlxxmg8)


Satu Persen. 2021. Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan?(Hubungan Antara Kerja Otak dan Prokrastinasi). (Online), diakses 20 Juli 2021 pada (https://www.youtube.com/watch?v=CWGHpFEX1ss)




Katai

 (Dyah)


Jika benda-benda langit sedang overthinking, mungkin dialog yang terjadi seperti ini:

Luna.

Dunia terlalu besar, hingga luput memperhatikan hal-hal kecil.

Aku, sudah sering terabaikan.

Padahal aku juga mengorbit seperti yang lain.

Tapi tak pernah dianggap oleh surya.

Aku selalu disebut pengikut Terra.

Eris.

Keberadaanku antara dianggap dan tak dianggap.

Entahlah, namaku bahkan tak dikenal.

Mereka yang melibatkanku, mereka pula yang membuangku.

134340, kurasa kita senasib.

Universum.

Apakah kalian hanya melihat sang surya dan kedelapan anaknya?

Tidakkah kau melihat penduduk Terra, Luna?

Mereka memuja dan mengagumi sorotmu.

Tidakkah kau melihat Dysnomia, Eris?

Dia setia membersamaimu.


Dunia memang besar dan akan tampak semakin besar ketika kita mengerdilkan diri. Jika kita kesulitan menyamai dunia yang besar ini, menciptakan dunia kita sendiri mungkin bisa menjadi alternatif agar fokus pada hal-hal yang menjadi prioritas dan orientasi kita. Sehingga kita tidak salah memakai kacamata dalam melihat dunia. Terkadang tanpa sadar kita sibuk menjadi seperti orang lain, menggunakan pencapaian orang lain sebagai standar yang justru membuat kita semakin tampak kerdil. Pepatah Jawa mengatakan hidup ini 'sawang-sinawang'. Kita hanya tahu apa yang tampak dari kehidupan orang lain, padahal apa yang sebenarnya mereka alami tidak mereka umbar begitu saja. Yakinlah, ada lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada yang dipertanyakan atau dikeluhkan.

Kita sering merasa menjadi medioker, merasa tidak punya sesuatu yang spesial. Kita lantas menafikan nikmat dan anugerah yang telah diberikan Tuhan pada kita. Padahal di luar sana, ada banyak orang yang ingin menjalani kehidupan seperti kita. Mungkin kita adalah Luna, yang sinarnya selalu dinanti penduduk bumi, yang indah, dan menenangkan. Atau mungkin kita adalah Eris, yang memiliki keluarga atau sahabat seperti Dysnomia, yang tidak pernah meninggalkan Eris sendirian. Jangan sampai kita menyesal karena terlambat menyadari itu. Rasa syukur harus selalu dihadirkan dalam setiap momen hidup kita[1].  



Rujukan:

[1] Gunadi, Kurniawan. 2020. Bising. Yogyakarta: Bentang Pustaka.





Minggu, 18 Juli 2021

Bayangmu

Oleh : Laily Alfath





Dunia tumbuh dinamis
Menyuguhkan beragam kisah menggelitik
Dipertemukan beragam tokoh unik
Serta disodorkan sederet pelajaran menarik


Beragam alunan nada sudah kudengar
Namun tawa dan suaramu masih menjadi yang terindah
Beragam tempat telah kujajaki
Tapi kenangan selalu berhasil membuatku berhenti di salah satu kedai kopi


Kedai ini menyuguhkan beragam menu
Tapi cappucino selalu menjadi pilihanku
Karena di setiap kepulan aromanya aku menemukanmu
Musisi kedai ini menyanyikan rentetan playlist terbaru
Tapi lagu just the way you're selalu menjadi lagu wajib yang kupesan setiap di situ


Aku tahu bahwa kita hanya potongan masa lalu
Semestinya aku telah tutup buku
Tapi izinkan aku mengenangmu
Aku hanya butuh waktu untuk mengurai rasaku