Sabtu, 31 Juli 2021

Katai

 (Dyah)


Jika benda-benda langit sedang overthinking, mungkin dialog yang terjadi seperti ini:

Luna.

Dunia terlalu besar, hingga luput memperhatikan hal-hal kecil.

Aku, sudah sering terabaikan.

Padahal aku juga mengorbit seperti yang lain.

Tapi tak pernah dianggap oleh surya.

Aku selalu disebut pengikut Terra.

Eris.

Keberadaanku antara dianggap dan tak dianggap.

Entahlah, namaku bahkan tak dikenal.

Mereka yang melibatkanku, mereka pula yang membuangku.

134340, kurasa kita senasib.

Universum.

Apakah kalian hanya melihat sang surya dan kedelapan anaknya?

Tidakkah kau melihat penduduk Terra, Luna?

Mereka memuja dan mengagumi sorotmu.

Tidakkah kau melihat Dysnomia, Eris?

Dia setia membersamaimu.


Dunia memang besar dan akan tampak semakin besar ketika kita mengerdilkan diri. Jika kita kesulitan menyamai dunia yang besar ini, menciptakan dunia kita sendiri mungkin bisa menjadi alternatif agar fokus pada hal-hal yang menjadi prioritas dan orientasi kita. Sehingga kita tidak salah memakai kacamata dalam melihat dunia. Terkadang tanpa sadar kita sibuk menjadi seperti orang lain, menggunakan pencapaian orang lain sebagai standar yang justru membuat kita semakin tampak kerdil. Pepatah Jawa mengatakan hidup ini 'sawang-sinawang'. Kita hanya tahu apa yang tampak dari kehidupan orang lain, padahal apa yang sebenarnya mereka alami tidak mereka umbar begitu saja. Yakinlah, ada lebih banyak hal yang bisa disyukuri daripada yang dipertanyakan atau dikeluhkan.

Kita sering merasa menjadi medioker, merasa tidak punya sesuatu yang spesial. Kita lantas menafikan nikmat dan anugerah yang telah diberikan Tuhan pada kita. Padahal di luar sana, ada banyak orang yang ingin menjalani kehidupan seperti kita. Mungkin kita adalah Luna, yang sinarnya selalu dinanti penduduk bumi, yang indah, dan menenangkan. Atau mungkin kita adalah Eris, yang memiliki keluarga atau sahabat seperti Dysnomia, yang tidak pernah meninggalkan Eris sendirian. Jangan sampai kita menyesal karena terlambat menyadari itu. Rasa syukur harus selalu dihadirkan dalam setiap momen hidup kita[1].  



Rujukan:

[1] Gunadi, Kurniawan. 2020. Bising. Yogyakarta: Bentang Pustaka.





0 comments:

Posting Komentar