Minggu, 19 September 2021
Rabu, 08 September 2021
Terra
"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-
Kamis, 02 September 2021
Jouska
(Dyah Santoso)
"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"
Entah sudah berapa kali tangan ini
bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf
tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah,
ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai
kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka
tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan
sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai
sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk
memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?
'Memulai' adalah langkah awal, akan ada
banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai
tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai.
Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak
mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah
memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini
butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita
sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan
puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di
awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai
bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar
bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana
seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa
jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan
motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai.
Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik
ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak
ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu
bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru
menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu
menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.
Setelah kita memulai, lantas bagaimana
menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari
pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin,
maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan
orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk
menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa
yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan
hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat
membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat,
yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan
tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")
Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga
komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang
tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk
promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri,
apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab
(butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa
ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang
sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah
dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track
menuju apa yang mau kita capai.
Flashback ketika memutuskan untuk menulis
di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan
di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk
membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian
diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis
dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful.
Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya
untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha
menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita
mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang
bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita
sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita
yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup
yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras
dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi
kenyataan".
#selfreminder


