Minggu, 19 September 2021

Ragam

Oleh : Laily Alfath



"Dunia akan selalu menyuguhkan ketidakjelasan. Tugasmu bukan memperjelas, tapi belajar bijak dalam memaknai semesta dengan keanehannya. -Laily- Alfath-"


      Jika dalam rumus matematika 1 + 1 = 2, maka tidak dengan rumus dunia. Nalar manusia tidak selamanya dinilai benar oleh semesta. Hal yang awalnya menurut kita buruk, belum tentu ujungnya buruk. Hal yang awalnya indah, belum tentu ujungnya bahagia. Kenapa? Karena dunia memang menyuguhkan banyak hal dengan ketidakjelasannya. Kenapa tidak jelas? Karena nalar manusia serba berbatas dalam memaknainya. Namun sayangnya, makhluk berlabel "manusia" ini sering terlalu percaya diri berbekal akal dan perasaanya sehingga menuhankan Maha Benar persepsinya.

      Tidak suka bukan berarti tidak bisa. Tidak suka bukan berarti hal itu dinilai absolut salah. Tidak suka bukan berarti ujungnya akan selalu buram. Tidak suka versimu belum tentu sama dengan versi mereka. Setiap orang punya kacamatanya masing-masing. Kacamata yang dibentuk berbekal pola asuh dari orang tua, lingkungan sekitar, dan pengalaman yang telah dicicipinya.

      Dunia memang hadir dengan segala ketidakjelasannya. Ketidakjelasan itulah  seringnya melahirkan khawatir yang menghantui makhluk berlabel "manusia". Padahal khawatir itu mahal. Setiap khawatir yang dilahirkan, dibayar mahal dengan atau tanpa sadar. Kenapa? Karena setiap kekhawatiran akan menyita banyak energi untuk memikirkannya, menyita banyak waktu yang tidak bisa ditarik lagi, menyita emosi yang mampu mengurasnya hingga habis tak tersisa, dan bahkan bisa juga turut membayar dengan uang saking khawatirnya. Khawatir itu wajar jika tidak berlebihan.


      Seringnya tatkala khawatir mengelabuhi, ekspektasi berjarak jauh dari realita, ujungnya kecewa dan marah. Setiap manusia boleh marah. Karena itu adalah salah satu bentuk perasaan yang lahir dalam merespon keadaan. Tapi label "wajar " tidak lantas membenarkan "tindakan marah yang berlebihan". Setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah. Marah berlebihan yang dituruti, hanya akan menghancurkan dan bisa berujung penyesalan.


      Manusia itu lucu. Ia paham bahwa makhluk Allah yang bernama "Hati" adalah makhluk yang mudah dibolak-balikkan oleh Sang Pencipta. Akal adalah makhluk penyeimbang (hati) yang dititipkan Allah pada manusia. Semengecewakan apapun dunia terhadap kita, cobalah menyimak kode semesta secara lebih luas. Karena Allah tidak pernah ingin menghancurkan hamba-Nya. Semua manusia memang dibekalkan hati dan akal. Tapi persepsi "benar dan salah" bisa dimaknai subjektif bagi setiap manusia. 


      Setiap hal yang kamu lakukan, akan bisa dimaknai dengan ragam warna oleh manusia. Penilaian itu adalah hak mereka. Kamu tidak bertanggung jawab pada pemikiran mereka. Tanggung jawabmu hanyalah pada Tuhan mengenai hal yang sudah kamu lakukan. Setiap orang berhak berpendapat. Sementara kita juga berhak untuk mengabaikannya. Selain Tuhan, kamu adalah satu-satunya sosok yang membersamai prosesmu, mengerti niatmu, dan memahami perasaanmu. Sementara persepsi orang lain adalah kacamata tambahan dalam memandang dunia. Kamu boleh memakainya, juga boleh mengabaikannya. Hal yang penting adalah, bijaklah dalam menentukan kacamata yang hendak kamu pakai. Karena persepsi yang telah kamu pilih, akan berimbas pada perasaan dan keputusan yang akan kamu putuskan selanjutnya.

Rabu, 08 September 2021

Terra

Oleh : Laily Alfath




"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-


      Hay Terra! Terima kasih sudah kuat menjadi tempat berpijak ribuan keturunan anak Adam yang sering tidak tahu diri ini. Kami tahu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sangat luas. Bahkan sangat luas, hingga tidak semua manusia saling mengenal, padahal nenek moyang mereka sama. Bahkan sangat luas, hingga munculah ragam adat dan norma yang turut mewarnai pertumbuhan mereka. Bahkan sangat luas, hingga semua manusia mendapatkan kelas kehidupan beragam yang tak satupun sama persis. Bahkan sangat luas, hingga masih mampu menampung rentetan bualan dan keegoisan manusia. Hay Terra, luasmu seolah hendak mengajarkan manusia betapa keluasan hati itu menunjukkan level sesungguhnya kapasitas manusia. Namun tidak semua manusia paham dan berkenan. 


      Terra diciptakan dengan sangat luas, hingga menyuguhkan beragam pelajaran untuk Adam dan keturunannya. Pelajaran yang tanpa sadar membentuk kapasitas setiap manusia. Entah itu hanya seluas cangkir kecil, mug, botol minum, ember, bak, kolam, danau, hingga samudera. Pada pelajaran di sekolah kita diajarkan dulu konsepnya barulah kita menghadapai ujian. Sementara pada pelajaran kehidupan, kita diuji dulu barulah kita paham konsep kehidupan. Pada ujian itulah kita bertumbuh dan dibentuk secara perlahan. Setiap ujian memang tidak pernah mudah, dan akan terus naik level kesulitannya. Tapi di sanalah kapasitas kita dibentuk semakin luas.


      Kapasitas kita dalam menghadapai ujian sangatlah berperan penting. Anggaplah ujian ini berwujud dua buah jeruk lemon. Masing-masing lemon diperas dan dikucurkan ke cangkir kecil dan samudera. Menurutmu lebih pekat mana rasa lemonnya antara air lemon di cangkir kecil atau di dalam samudera? Yap! Tentu rasa lemon itu lebih pekat yang berada di dalam cangkir kecil. Hal ini sama dengan kapasitas kita. Tatkala hati kita tetap kita pertahankan dengan kapasitas yang kecil, apapun masalah yang hadir akan terasa asam seperti air lemon di dalam cangkir. Namun tatkala hati kita seluas samudera, seberapapun air lemon yang dimasukkan tidak akan mampu mendominasi air di samudera.


      Semua butuh proses. Setiap manusia tengah berjuang pada track nya masing-masing. Kapasitas setiap orang memang berbeda. Beruntunglah tatkala kamu merasa kapasitasmu kian hari semakin luas. Tapi itu bukan berarti menjadi ajang pamer untuk merasa paling hebat karena merasa sudah lulus ujian dengan kapasitas yang semakin luas. Setiap orang tentu ingin menjadi versi terbaik dirinya. Sementara versi terbaik mereka belum tentu sama dengan versi terbaikmu. Mereka yang berbeda denganmu tidak selamanya salah dan kalah.  Proses kalian berbeda. Jika kamu terjebak pada ajang pamer dan merasa mulai menuhankan kapasitasmu yang paling luas, hati-hati! Justru saat itulah menunjukkan bahwa kamu hanya haus apresiasi dan sedang ditipu oleh dirimu sendiri (kapasitasmu tidak seluas yang kamu pikirkan). Laut tidak perlu menjelaskan seberapa dalam ia. Langit tidak perlu menjelaskan seberapa tinggi ia. Bintang tidak perlu menjelaskan seberapa bercahayanya ia. Apresiasi memang salah 1 kebutuhan manusia. Tapi jangan jadikan dirimu menjadi budak apresiasi orang lain. Karena perihal apresiasi orang lain adalah hal di luar kontrol kita. Semakin banyak kita berharap pada hal-hal di luar kontrol kita. Semakin banyak benih kecewa yang kita tanam dan berujung panen. 



      Kamu adalah sosok yang hanya satu di dunia. Prosesmu menentukan level kapasitasmu. Tidak akan ada ujian yang mudah. Setiap ujian sangat mungkin untuk menyuguhkan kecewa, air mata, bahkan duka. Hancur atau bertumbuh adalah dua pilihan yang disuguhkan dalam menghadapinya. Keputusanmu itulah yang akan menentukan kapasitasmu selanjutnya. Tuhan tak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya selagi ia masih mau datang. Setiap doamu akan dijawab dengan cara-Nya, sekalipun menurutmu tidak seketika.

Kamis, 02 September 2021

Jouska

 

(Dyah Santoso)


"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"

 

Entah sudah berapa kali tangan ini bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah, ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?

'Memulai' adalah langkah awal, akan ada banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai. Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai. Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.

Setelah kita memulai, lantas bagaimana menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin, maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat, yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")

Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri, apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab (butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track menuju apa yang mau kita capai.

Flashback ketika memutuskan untuk menulis di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful. Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi kenyataan".


#selfreminder