Rabu, 21 Agustus 2024

Titip Rindu (3)

 (Dyah Santoso)




Sebelumnya Titip Rindu (2).


Logam, belenggu rasa ini hingga rindu tak lagi menyapanya. Udara, bumbungkan rasa ini hingga rindu tak lagi menggapainya. Air, tenggelamkan rasa ini hingga rindu tak lagi memancingnya. Namun cinta, kau enggan bersekutu. Tulusmu melelehkan logam, memuaikan udara dan merapatkan kisi air. Ketika rindu bersua cinta, hanya hati tulus yang mampu menyambut kehadirannya.

***

 

Ratna memainkan sedotan di gelas smoothies-nya dengan malas. Membiarkan dirinya berkontemplasi, duduk sendirian di kafe karena Mas Adhi sudah pulang duluan. Ya, ini bukan salah Mas Adhi. Siapa juga yang mau ayahnya masuk rumah sakit? Tapi tetap saja rasa kecewa tidak bisa dihindari. Apalagi melihat usahanya yang memperhatikan setiap detil penampilannya hari ini. Ratna yang biasa memakai atasan berbahan kaos dan celana jeans kini memilih memakai terusan ungu muda bermotif bunga dengan cardigan putih polos. Tak lupa OOTD senada, sepatu kets dan tas selempang putih. Casual dan tampak anggun. Bahkan pagi tadi dia sempat menghias kukunya dengan kutek ungu pastel, warna kesukaannya.

 Matahari mulai menuju peraduannya. Ratna yang berada di area outdoor bisa melihat jelas sepuhan langit jingga. Kafe ini memutar lagu "lantas" Juicy Luicy. Lagu yang mengingatkannya pada seseorang, lagu yang mewakili perasaannya yang temaram seperti suasana sore ini. Rasa kecewanya perlahan membaik, mungkin memang tidak seharusnya dia pergi dengan Mas Adhi sedangkan pikirannya tertuju pada orang lain. Mas Adhi tidak pantas menjadi pelampiasan perasaannya. Temaram itu harus disudahi, beralih pada yang lebih terang. Terkadang temaram melindungi ketidakpercayaan diri kita. Tapi jika ini terus berlanjut, kita jadi sulit melihat mana yang tulus dan mana yang sekadar ambisius. Anehnya, meskipun Ratna tahu bahwa temaram ini menyiksa, dia tetap enggan beranjak.

“Sendirian aja?” tanya seseorang yang mengembalikan kesadaran Ratna. Ratna sedikit gugup mendapati orang di hadapannya.

“Boleh gabung?” Irwan menarik dan menduduki kursi di hadapan Ratna tanpa menunggu jawaban.

Irwan menyapu pandangan ke sekeliling, memastikan kemungkinan Ratna bersama sahabat atau rekan kantornya. Sedangkan Ratna masih mencerna momen ini, Irwan seperti bayangan yang tiba-tiba keluar dari pikirannya.

“Kamu kok bisa di sini?” pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulut Ratna.

“Tadi habis nganterin tante fitting baju pengantin. Setelah itu malah ditinggal jalan-jalan sama keluarga calonnya. Iseng mampir sini deh daripada gabut. Kasihan banget ya aku?” kelakar Irwan.

“Kamu sendiri ngapain?” Irwan balik bertanya.

“Ah, aku sebenernya pergi sama Mas Adhi tadi. Tapi Mas Adhi balik duluan karena ayahnya masuk rumah sakit”.

Ekspresi Irwan seketika berubah, entah disadari Ratna atau tidak. Pandangan Irwan beralih pada terusan yang Ratna kenakan hingga membuat yang dipandang tidak nyaman.

“Kenapa ngelihatin kayak gitu?”

“Tumben pake dress?”

“Pengen aja. Nggak boleh?”.

“Kamu ngedate ya sama Mas Adhi?”

“Apaan sih” Ratna kembali sibuk mengaduk-aduk smoothies-nya.

Irwan tersenyum. “Nggak nyangka gue, ternyata lo udah nggak jomblo”.

Ratna melempar Irwan dengan tissue di genggamannya. “Siapa juga yang jadian? Awas ya kalau di kantor kesebar gosip nggak bener!”. Irwan justru semakin tertawa.

Ratna jadi kesal sendiri dengan kelakuan Irwan. Padahal Irwanlah alasan Ratna tidak bisa menerima Mas Adhi. Ya, Mas Adhi sudah pernah menyataan perasaannya, tapi Ratna tidak memberi respon apa-apa. Mas Adhi cukup dewasa menyikapi itu, dia tidak menuntut jawaban. Gelagat Ratna sudah cukup menjawab. Selain itu, yang membuat Ratna semakin kesal adalah Irwan kembali menggunakan kata ‘lo-gue’. Ini pertama kalinya setelah perkenalan pertama mereka dulu.  Ratna satu-satunya teman perempuan yang dipanggil ‘aku-kamu’ oleh Irwan, bukan karena spesial, melainkan segan. Ratna yang masih terbawa asal daerahnya memanggil semua temannya dengan ‘aku-kamu’, tidak peduli perempuan ataupun laki-laki. Alhasil beberapa teman menjadi segan dan ikut menyebut demikian, termasuk Irwan.

“Jadi masih jomblo? Syukur deh” Irwan tidak bisa menahan tawanya.

 

***

     Ungkapan ‘biarkan waktu yang menjawab’ kini sangat tepat digunakan, pasalnya rumor yang beredar beberapa minggu terakhir tentang Irwan yang akan menjadi menantu bos menemui titik terang. Lebih tepatnya, Irwan adalah calon keponakan pak Rinaldi, bosnya. Tante yang diantar Irwan fitting baju ternyata calon mama sambung Rania. Itu artinya kedekatan Rania dan Irwan selama ini sebatas kedekatan sebagai sepupu. Kenyataan ini sedikit membuat Ratna lega.

      Malam ini pesta pernikahan pak Rinaldi digelar, cukup meriah dengan dihadiri kerabat dan kolega. Beberapa karyawan juga mendapat undangan, termasuk Ratna. Mas Adhi menawarkan diri untuk menjemput Ratna, tapi Ratna memilih pergi bersama teman sedivisinya. Ratna memadukan blouse hijau pastel dengan rok batik berwarna senada. Awalnya Ratna sempat mempertimbangkan pesan Irwan untuk mengenakan bolero batik pemberiannya, tapi dia tidak menemukan dress yang cocok untuk dipadukan. Ratna bukan seseorang yang fashionable, tapi keserasian adalah detil yang sangat dia perhatikan.

       Ratna dan teman-temannya tiba di lokasi pesta. Tidak butuh waktu lama untuk membaur dengan tamu yang lain, karena pak Rinaldi sengaja mengatur jam undangan sesuai relasinya. Ratna menyapu pandang, hingga netranya mendapati Mas Adhi yang melambaikan tangan ke arahnya. Jika saja saat itu Mas Adhi sedang tidak bersama pak Rinaldi, Ratna akan memilih untuk tidak menghampirinya. Irwan yang juga berada di sana memperhatikan Ratna dan Mas Adhi bergantian.

    “Jadi udah resmi sekarang?” Irwan mengucapkannya lirih, cenderung berbisik tepat di sebelah Ratna.

Ratna menoleh memastikan bahwa yang diajak bicara adalah dirinya. Irwan mengisyaratkan dagunya pada Mas Adhi. Ratna masih belum paham apa yang dimaksud Irwan sampai kemudian Rania menyeletuk “Mbak Ratna sama Mas Adhi couple-an ya bajunya!”. Sontak segerombolan orang yang ada di situ memandang dua orang yang disebut Rania tadi. Ratna dan Mas Adhi saling melempar pandang, suatu ketidaksengajaan mereka memakai baju dengan warna senada. Suasana berubah canggung bagi mereka berdua.

“Iya ya, kebetulan samaan. Padahal nggak janjian” Mas Adhi menjelaskan.

“Iya, kebetulan aja” Ratna menimpali sambil melirik ke arah Irwan. Alangkah terkejutnya Ratna ketika sadar bahwa batik yang dikenakan Irwan saat ini sama persis motifnya dengan hadiah bolero yang dia terima.

Irwan yang sadar diperhatikan Ratna, hanya melempar senyum tipis. Sedangkan Ratna bingung mengartikan senyuman itu, tapi yang lebih membuat Rania bingung adalah batik yang dikenakan Irwan. ‘Kenapa kemarin Irwan menyarankannya untuk mengenakan bolero pemberiannya? Apa Irwan berniat couple-an dengannya?’ pertanyaan-pertanyaan itu kini berkelebat di benak Ratna.

 

Bersambung.


0 comments:

Posting Komentar