(Laily Alfath)
“Mulailah menerima dengan
lapang hati apapun yang terjadi. Karena kita mau menerima atau menolaknya, dia
tetap terjadi. Karena takdir tidak pernah bertanya tentang: Bagaimana perasaan
kita? Apakah kita bahagia? Apakah kita tidak suka?” –Tere Liye-
Apa
pendapatmu pertama kali jika membaca “garis tangan Tuhan”? Takdir! Yap betul.
Pada seluruh sektor kehidupan kita, akan selalu lekat dengan campur tangan
Tuhan. Karena setuju atau pun tidak, kita adalah produk dari Tuhan yang setiap
ketentuannya kalau kata ajaran Islam udah ditulis di Lauhul Mahfudz sebelum
semua makhluk diciptakan. Garis tangan Tuhan lebih umum disebut “takdir” oleh
masyarakat, atau simpelnya bisa juga disebut ketetapan Tuhan. Contoh beberapa
takdir : dari ibu yang mana kita dilahirkan, jenis kelamin yang kita dapatkan,
usia, jodoh, dan banyak hal lainnya.
Pernah nggak kalian ngerasa sulit
menerima takdir? Pernah melakukan semacam protes, entah dalam hati atau bahkan
mengumpat Tuhan beserta takdir-Nya dengan sumpah serapah karena kalian saking
kecewanya? Hehehe... Kalau pernah, ya itu artinya kalian manusia. Karena
manusia biasa tidak akan pernah luput dari yang namanya salah dan kecewa. Pada
proses kehidupan ini, terkadang ada banyak hal yang belum kita mengerti maksud
dari keputusan Tuhan saat ini maupun oada beberapa hari kemarin. Bahkan karena
kita belum paham maksud dari keputusan Tuhan, beberapa kali pertanyaan kita
lemparkan ke langit tapi seolah tanpa jawaban.
Kadang kita udah usaha maksimal, udah meminta
berkali-kali, tapi seolah tak didengar karena realita tak sesuai dengan
keinginan. Menyakitkan? Ya, terkadang! Tapi kalau kalian masih ngerasa sakit,
kecewa, sedih itu artinya kalian belum percaya sama kuasa Tuhan. Kalau kita
sakit, kita periksa ke dokter dan percaya bakalan sembuh. Sekelas dokter, yang
tarafnya adalah makhluk Tuhan aja bisa kita percaya segitunya. Gimana dengan
Sang Pencipta Alam? Masih meragukan? Hey, coba simak ini baik-baik! Coba lihat
salah satu telapak tanganmu. Kemudian, coba genggam atau kepalkan. Apakah semua
garis tangan yang ada di telapak tanganmu itu semuanya turut tergenggam? Aku
yakin tidak. Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu atau bisa kita
sebut itu hak Tuhan yang menentukan. Lakukan apa yang bisa kamu lakukan,
sisanya apa yang menjadi di luar kendalimu adalah urusan Tuhan.
Ada yang bilang padaku bahwa, "menjalani hidup adalah soal menentukan pilihan, sementara takdir hanyalah hasil akhir dari kecermatanmu menentukan pilihan-pilihan". Aku sepakat dengannya, karena manusia adalah makhluk yang berdaya dan bisa
berusaha. Ingat! Kita masih tetap dianggap makhluk yang sempurna oleh seluruh
alam dibanding makhluk ciptaan Tuhan lainnya, sekalipun kita masih ngerasa
punya banyak kekurangan. Kalau katanya Bang Agus Fitriandi salah satu orang
hebat dari ITB, "hidup itu pilihan, dan takdir adalah ketika engkau tak
memiliki pilihan atau tak bisa menghindar dari suatu pilihan". Aku sepakat
dengan hal itu, tapi bukan berarti ketika kita tidak bisa menghindar dari suatu
takdir yang dirasa kurang menguntungkan, lantas kita tersungkur dan menyalahan
keadaan. Ingat! Datangnya masalah justru akan menunjukkan jati diri seseorang.
Karena ketika seseorang didera badai masalah atau takdir yang dirasa kurang
menyenangkan, hanya akan ada dua tipe manusia: menguat berkat masalah, atau
justru terkapar dan mengenaskan.
Takdir memang tak selamanya sepakat
dengan ingin yang sempat kau panjatkan. Takdir memang tak selamanya menyambut
hangat, atas setiap pinta yang kau langitkan. Takdir pun juga terkadang seolah
tak berpihak, akan setiap kondisi yang semakin carut marut tak karuan. Tapi
ingat, Tuhan tak pernah salah memperhitungkan. Tuhan tak pernah abai atas
setiap proposal keinginan yang kau ajukan. Tuhan pun tak pernah absen dari
memberikan limpahan sayang-Nya pada semua umat. Tuhan tak pernah berhutang atas
setiap proses yang kau kerjakan. Semua hanya perihal waktu, dan esensi dari
permintaan yang kau langitkan.

