Rabu, 08 November 2023

Titip Rindu (2)


(Dyah Santoso)



Sebelumnya Titip Rindu (1)


Jika rasa ini dapat dititipkan, biarkan angin membawanya berkelana tanpa muara. Biarkan ombak menghempasnya hingga hancur. Biarkan sang surya membakarnya hingga lebur. Namun rindu ini telah mengakar, tumbuh semakin kuat terpupuk seulas senyum simpulnya. Irwan, laki-laki yang disukai Ratna sejak di bangku kuliah telah kembali dari Bandung. Kepulangan Irwan justru membuat hatinya semakin terluka. Pasalnya, putri bosnya itu semakin sering mengunjunginya di kantor. Ratna berusaha biasa, namun kenyataan dan rumor yang beredar tak sanggup lagi dia tampikan.

 

Mentari begitu terik, seolah mampu memanggang apa saja yang terkena radiasinya. Ratna menggerutu dan berulang kali melirik jam tangannya, ojek online yang dipesannya tak kunjung datang. Ujung heelsnya terus mengetuk-ngetuk trotoar dengan gusar. Satu jam lagi dia harus bertemu klien. Desain yang dibuatnya berhari-hari bisa tak ada harganya jika terlambat.

Sebuah motor berhenti di depan Ratna. Si pengendara membuka kaca helmnya, menampakkan wajah yang Ratna kenali.

“Mau kemana siang-siang begini?” tanya Irwan.

“Ketemu klien” Jawab Ratna singkat.

“Di mana?” Irwan bertanya kembali.

Cempaka Residence” Ratna mengira Irwan akan memberinya tumpangan, tapi dugaannya keliru. Irwan hanya mengeluarkan ponsel di sakunya dan mengetik sesuatu.

Ratna tak mau terlalu berharap, dia mengalihkan pandangannya dari Irwan. Dari kejauhan tampak taksi melaju ke arahnya. Ratna memberikan tanda. Ratna kecewa mendapati ada penumpang di dalamnya. Tapi taksi itu mundur kembali, berhenti tak jauh dari posisinya berdiri. Kaca mobilnya terbuka.

“Butuh tumpangan?” tanya penumpang taksi sedikit mengeluarkan kepalanya.

“Mas Adhi?” kata Ratna setelah mengenalinya.

“Butuh tumpangan?” Mas Adhi mengulang pertanyaannya.

“Eh? Emang Mas Adhi nggak lagi buru-buru?”

Udah, ayo! Kasihan tuh udah ditunggu” Mas Adhi menunjuk drafting tube di punggung Ratna.

Tanpa pikir panjang Ratna menerima tawaran itu.

“Aku duluan ya!” Ratna melambaikan tangan kepada Irwan.

 

***

Pagi ini Ratna merasa sangat bahagia. Desainnya disukai klien. Meski itu berarti dia akan sangat sibuk akhir-akhir ini, tapi itulah pekerjaannya. Dia membawa dua kotak muffin brownies. Satu kotak besar untuk rekan kantornya dan satu kotak kecil untuk Mas Adhi. Ratna tak tahu apa jadinya jika kemarin Mas Adhi tak memberinya tumpangan.

Pintu lift yang Ratna naiki hampir saja merapat, namun terbuka kembali. Seseorang masuk ke dalam.

“Pagi” sapanya.

Ratna hanya membalas dengan senyuman. Memorinya masih merekam jelas kejadian kemarin siang.

Eits, tunggupintu lift terbuka kembali. Seorang gadis berseragam SMA masuk.

Ratna menghela napas. ‘Mengapa harus bertemu dengan dua orang ini? Mengacaukan suasana hati saja’ pikir Ratna.

“Oh iya, makasih Mas. Hadiahnya lucu, Rania suka” Rania mengeluarkan liontin dari kerah seragam sekolahnya.                                 

Ratna melihatnya sekilas, liontin dengan huruf ‘R’.

Irwan melirik Ratna, Ratna cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Ting. Mereka telah sampai di lantai lima. Pintu lift terbuka. Ratna ingin segera keluar dari situasi ini. “Mari, duluan ya!” Ratna mempercepat langkahnya meninggalkan mereka berdua.

‘Huft’. Sampai kapan Ratna akan lari dari kenyataan. Kenyataan bahwa Irwan tak pernah melihatnya. Kenyataan bahwa hanya ada Rania. Kenyataan bahwa mereka.... Ratna tercekat. Matanya memanas. Ratna mengatur napasnya. Menata ulang kepingan hatinya yang tersisa. Dia melangkahkan kaki ke dalam ruang kerjanya.

“Pagi semuanya” sapanya kepada semua rekan kerjanya dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Wah wah, ada yang mau traktiran nih” Ari berdiri dari mejanya.

“Makan malam di mana ya nanti?” sahut Karin.

Nggak ada makan malam. Sekarang sarapan aja dulu” Ratna mengangkat kotak di tangannya. “Eh” Ratna terkejut. Seseorang dari belakang menyambar kotaknya.

“Lumayanlah, daripada nggak dapat apa-apa” rekan-rekannya mendekat ke Irwan, lebih tepatnya ke kotak makan yang baru saja direbut dari tangan Ratna.

“Eh, jangan yang itu!” Ratna menunjuk kotak kecil yang akan dibuka Irwan.

“Kenapa?”

“Itu buat Mas Adhi” jawab Ratna lirih.

Ratna mengambil kotak dari Irwan dan meletakkannya di kubikel miliknya.

Selamat makan!kata Ratna sebelum berlalu meninggalkan rekan-rekannya.

Entah apa yang membuatnya ingin keluar dari ruangan itu. Yang jelas untuk saat ini dia enggan melihat Irwan ataupun Rania.

“Ratna tunggu!”

‘Oh Tuhan. Apa lagi ini’. Ratna berbalik menghadap sumber suara.

“Iya?”.

“Emm, soal kemarin siang. Aku bukannya nggak mau ngasih tumpangan, tapi....”

“Santai aja! Aku nggak masalah. Lagian kemarin udah ada Mas Adhi” Ratna tak ingin mendengarkan penjelasan yang nantinya akan membuatnya semakin sakit.

“Soal Mas Adhi, apa kalian punya hubungan?”

“Hmm?” 

“Apa kalian pacaran atau semacamnya?”

“Hah?”

Ratna benar-benar tak habis pikir dengan Irwan. Peduli apa dia dengannya? Selama ini juga Ratna tak pernah mempertanyakan hubungan Irwan dengan siapapun.

Cuma nanya aja, soalnya kalian kelihatan akrab. Kalau itu privasi, nggak perlu dijawab” Irwan menahan diri meski sebenarnya penasaran.

“Oiya, hadiah kemarin udah dibuka?Irwan mengalihkan topik pembicaraan karena melihat raut muka Rania tak nyaman dengan pertanyaannya tadi.

“Ya ampun, hadiah itu” Ratna menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Sebelumnya makasih banget ya, tapi maaf aku kelupaan, jadi belum sempet buka. Sorry banget ya” Ratna benar-benar tidak enak dengan Irwan.

“Oke, nggak masalah. Aku harap kamu suka”

Ternyata Mas Irwan di sini sama mbak Ratna” Rania muncul dari arah ruangan Bos.

Rania menghampiri Irwan dan membisikkan sesuatu.

“Mas, Papa minta kita buat test food

“Mas mana ngerti soal makanan. Buat Mas makanan itu cuma ada enak sama enak banget. Standar rasa Mas buruk”

“Ih, parah banget. Ya udah anterin aku aja”

Karena jarak mereka yang cukup dekat, Ratna bisa mendengar pembicaaran mereka dengan pikiran penuh pertanyaan. Test food untuk acara apa?

Ratna berdehem, merasa tak nyaman mendengarkan obrolan mereka.

“Mbak Ratna tolong rahasiain ini dulu ya sampai undangannya tersebar” Rania meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.

Deg. Kalimat Rania benar-benar menghantam tajam ulu hatinya.

“Oke” Ratna memberi isyarat dengan telunjuk dan ibu jarinya. “Semoga acaranya lancar”

Ratna berusaha memasang senyum termanisnya, meninggalkan mereka berdua yang masih asyik ngobrol.

 

***

Ratna teringat oleh-oleh dari Irwan yang belum sempat dia buka tiga hari lalu. Dia menarik laci meja riasnya, mengambil tas ungu itu. ‘Teruntuk perempuan termanis yang pernah ku kenal’ itu yang tertera di kartu ucapannya. Ratna tersenyum kecut.

Ratna menarik napas panjang, membuka tas itu dan melihat isinya. ‘Bolero batik’ batinnya. Ratna mendengus kesal mengingat liontin berbentuk huruf R yang diberikan Irwan ke Rania. ‘Cukup Ratna, lupakan! Kamu berhak bahagia’ Ratna menyemangati dirinya.

Bip. Pesan masuk pada ponselnya.

‘Jadikan kita nonton sore ini?’

’Jadi dong, Mas Adhi’ Ratna menekan tombol kirim pada layar HPnya sebelum merapikan meja dan bersiap-siap mandi.

 

Bersambung.


Berikutnya Titip Rindu 3.