Kamis, 02 September 2021

Jouska

 

(Dyah Santoso)


"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"

 

Entah sudah berapa kali tangan ini bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah, ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?

'Memulai' adalah langkah awal, akan ada banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai. Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai. Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.

Setelah kita memulai, lantas bagaimana menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin, maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat, yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")

Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri, apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab (butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track menuju apa yang mau kita capai.

Flashback ketika memutuskan untuk menulis di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful. Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi kenyataan".


#selfreminder 

0 comments:

Posting Komentar