Rabu, 08 September 2021

Terra

Oleh : Laily Alfath




"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-


      Hay Terra! Terima kasih sudah kuat menjadi tempat berpijak ribuan keturunan anak Adam yang sering tidak tahu diri ini. Kami tahu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sangat luas. Bahkan sangat luas, hingga tidak semua manusia saling mengenal, padahal nenek moyang mereka sama. Bahkan sangat luas, hingga munculah ragam adat dan norma yang turut mewarnai pertumbuhan mereka. Bahkan sangat luas, hingga semua manusia mendapatkan kelas kehidupan beragam yang tak satupun sama persis. Bahkan sangat luas, hingga masih mampu menampung rentetan bualan dan keegoisan manusia. Hay Terra, luasmu seolah hendak mengajarkan manusia betapa keluasan hati itu menunjukkan level sesungguhnya kapasitas manusia. Namun tidak semua manusia paham dan berkenan. 


      Terra diciptakan dengan sangat luas, hingga menyuguhkan beragam pelajaran untuk Adam dan keturunannya. Pelajaran yang tanpa sadar membentuk kapasitas setiap manusia. Entah itu hanya seluas cangkir kecil, mug, botol minum, ember, bak, kolam, danau, hingga samudera. Pada pelajaran di sekolah kita diajarkan dulu konsepnya barulah kita menghadapai ujian. Sementara pada pelajaran kehidupan, kita diuji dulu barulah kita paham konsep kehidupan. Pada ujian itulah kita bertumbuh dan dibentuk secara perlahan. Setiap ujian memang tidak pernah mudah, dan akan terus naik level kesulitannya. Tapi di sanalah kapasitas kita dibentuk semakin luas.


      Kapasitas kita dalam menghadapai ujian sangatlah berperan penting. Anggaplah ujian ini berwujud dua buah jeruk lemon. Masing-masing lemon diperas dan dikucurkan ke cangkir kecil dan samudera. Menurutmu lebih pekat mana rasa lemonnya antara air lemon di cangkir kecil atau di dalam samudera? Yap! Tentu rasa lemon itu lebih pekat yang berada di dalam cangkir kecil. Hal ini sama dengan kapasitas kita. Tatkala hati kita tetap kita pertahankan dengan kapasitas yang kecil, apapun masalah yang hadir akan terasa asam seperti air lemon di dalam cangkir. Namun tatkala hati kita seluas samudera, seberapapun air lemon yang dimasukkan tidak akan mampu mendominasi air di samudera.


      Semua butuh proses. Setiap manusia tengah berjuang pada track nya masing-masing. Kapasitas setiap orang memang berbeda. Beruntunglah tatkala kamu merasa kapasitasmu kian hari semakin luas. Tapi itu bukan berarti menjadi ajang pamer untuk merasa paling hebat karena merasa sudah lulus ujian dengan kapasitas yang semakin luas. Setiap orang tentu ingin menjadi versi terbaik dirinya. Sementara versi terbaik mereka belum tentu sama dengan versi terbaikmu. Mereka yang berbeda denganmu tidak selamanya salah dan kalah.  Proses kalian berbeda. Jika kamu terjebak pada ajang pamer dan merasa mulai menuhankan kapasitasmu yang paling luas, hati-hati! Justru saat itulah menunjukkan bahwa kamu hanya haus apresiasi dan sedang ditipu oleh dirimu sendiri (kapasitasmu tidak seluas yang kamu pikirkan). Laut tidak perlu menjelaskan seberapa dalam ia. Langit tidak perlu menjelaskan seberapa tinggi ia. Bintang tidak perlu menjelaskan seberapa bercahayanya ia. Apresiasi memang salah 1 kebutuhan manusia. Tapi jangan jadikan dirimu menjadi budak apresiasi orang lain. Karena perihal apresiasi orang lain adalah hal di luar kontrol kita. Semakin banyak kita berharap pada hal-hal di luar kontrol kita. Semakin banyak benih kecewa yang kita tanam dan berujung panen. 



      Kamu adalah sosok yang hanya satu di dunia. Prosesmu menentukan level kapasitasmu. Tidak akan ada ujian yang mudah. Setiap ujian sangat mungkin untuk menyuguhkan kecewa, air mata, bahkan duka. Hancur atau bertumbuh adalah dua pilihan yang disuguhkan dalam menghadapinya. Keputusanmu itulah yang akan menentukan kapasitasmu selanjutnya. Tuhan tak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya selagi ia masih mau datang. Setiap doamu akan dijawab dengan cara-Nya, sekalipun menurutmu tidak seketika.

0 comments:

Posting Komentar