Senin, 04 Mei 2020

Harapan atau Tuntutan Belaka


(Dyah Santoso)


Manusia dapat bertahan hidup 40 hari tanpa makan, 
sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, 
tapi bisa mati hanya 1 detik tanpa harapan. 
~Hal Lindsey

Sewaktu kecil ada yang pernah memaksakan diri makan sayuran yang tidak disukai, sebagai imbalannya orang tua memberikan barang atau mainan yang diinginkan. Kemudian ketika remaja, ada yang pernah menahan keinginan jalan-jalan supaya bisa menabung, hasilnya untuk tambahan beli gawai baru. Seiring bertambahnya usia, semakin banyak tindakan yang dipaksakan dan ego yang ditekan. Mengapa demikian? Karena ada harapan. Seorang petarung tak akan giat berlatih tanpa ada harapan menang. Seorang pekerja tak akan giat bekerja tanpa harapan sukses. Pun seorang pemimpi tak akan bangun dari tidurnya tanpa harapan.

Merujuk pada ucapan Hal Lindsey, benarkah manusia tak bisa bertahan hidup tanpa harapan?. Sejatinya hidup bukan hanya perkara lahiriyah, namun juga bathiniyah. Bukan hanya perkara bernapas, bergerak atau berkembang biak, namun bagaimana menghargai setiap tarikan dan hembusan napas yang tersisa, bagaimana menciptakan pergerakan yang bermakna, dan bagaimana melahirkan keturunan yang digdaya akan muslihat semesta. Hidup begitu kompleks untuk dipahami secara komprehensif. Manusia mungkin bisa tetap hidup tanpa harapan, tapi dia tak punya kehidupan.

Harapan adalah memantik api kehidupan. Selayaknya api, hidup tak akan menyala tanpa harapan dan tak akan membara tanpa semangat. Jika kita tak punya harapan, kita tak akan tergerak melakukan atau mencapai sesuatu. Ketika harapan sudah tak ditemukan di jiwa seseorang, sangat mungkin orang itu memilih untuk mengakhiri hidupnya. Mungkin ini maksud dari pernyataan Hal Lindsey. Tak heran jika ada istilah mayat hidup. Gabungan kata yang kontradiktif, disebut hidup karena masih memiliki ciri makhluk hidup, tapi tak ada aktivitas kehidupan yang dilakukan. 

Sejauh ini, benarkan yang menggerakkan kita adalah harapan? Apakah kita benar-benar giat belajar agar pintar? Bukan karena khawatir dianggap bodoh oleh masyarakat karena tak lulus sekolah? Apakah kita benar-benar beribadah untuk mencari ridho-Nya? Bukan karena takut Dia murka dan memasukkan kita ke neraka? Jangan-jangan selama ini kita menjalani kehidupan bukan karena harapan yang sesungguhnya, melainkan karena tuntutan belaka. Melakukan A karena tak mau dianggap B, melakukan C karena tak mampu melakukan D, atau bahkan melakukan harapan tetangga?.

Apapun alasan kita bergerak, entah karena dorongan hati nurani, himpitan ekonomi, atau keinginan orang yang disayangi, sama saja. Kita sedang menorehkan cat pada kanvas kehidupan. Walaupun tidak semua lukisan diapresiasi baik, setidaknya kita menjadikan kanvas yang semula hampa menjadi lebih menarik. Kanvas yang tadinya kosong, menjadi lebih berwarna. Selayaknya hidup yang lebih bermakna. Apapun alasan kita bergerak, harapan itu harus ada. Manusia hanya sebatas menanam asa, memupuknya dengan doa serta menyiraminya dengan usaha. Hasilnya kita serahkan pada yang maha kuasa. Biarkan pupuk dan air siraman itu bekerja. 

0 comments:

Posting Komentar