Selasa, 29 November 2022

Bahagia Ada KPI-nya?


(Laily Alfath)



"Jika bahagia harus sama, maka semesta hanyalah panggung monoton tanpa makna." -Laily Alfath-


Apakah Tuhan telah mengetuk palu KPI bahagia untuk semua hamba-Nya? Beberapa hari terakhir, "pemaknaan bahagia" menjadi topik yang sering kami obrolkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Perspektif mengenai makna bahagia bagi masing-masing orang sangat beragam. Ada yang bahagia ketika berhasil mencapai yang diinginkan. Ada yang bahagia ketika bisa mencukupi kebutuhannya sehingga layak untuk sejajar dengan lainnya. Ada yang bahagia ketika bisa membuat orang lain bahagia. Ada yang bahagia dengan mendapatkan hal yang tidak semua orang mampu mendapatkannya. Ada beragam rumus yang manusia ramu dalam mendefinisikan makna bahagia dalam hidup mereka. Menurut kamu, apa definisi bahagia? Apakah definisi bahagia adalah seputar alunan tawa renyah yang tak kunjung reda? Apakah definisi bahagia adalah senyum yang tak pernah pudar? Apakah definisi bahagia adalah tentang mata yang berbinar? Apakah bahagia adalah ketika hati bisa sampai pada titik perasaan puas? Atau tentang hati yang merasakan hangat dan terbit rasa damai? Pernah nggak kamu nanya sama diri kamu sendiri saat "me time" tentang, "sebenernya apa sih yang bisa buat aku bahagia? apa kehidupanku saat ini sudah cukup bahagia? apa yang bisa aku lakuin biar aku bisa bahagia?". 

Malam menjelang pergantian usiaku (dua pekan yang lalu), coach-ku melempar pertanyaan kepada kami, "hal apa yang bisa membuat kamu bahagia?". Pertanyaan sederhana yang membuat kami terdiam  beberapa detik untuk bertanya pada sang hati kecil. Temanku menyeletuk, "bahagia itu di saat aku bisa mengaktualisasikan diri, dan menjadi diriku sendiri". Coach menimpalinya dengan pertanyaan, "apakah jalan yang sudah kamu pilih saat ini adalah keputusan karena kebahagiaanmu atau karena keterbatasanmu?". Pertanyaan itu menampar kami semua dan membuat kami tertegun.

Tiba giliranku menjawab pertanyaan coach tentang makna bahagia. "Menurutku bahagiaku adalah ketika ada orang yang dengan kondisi sedang tidak baik-baik saja datang menghampiriku, kami mengobrol, dan setelah obrolan itu berakhir, sorot matanya mulai ada secerca harapan untuk lebih semangat dalam melanjutkan hidupnya", jawabku. "Kalau kamu punya kesempatan ngobrol sama diri kamu sendiri, nasihat apa yang bakalan kamu kasih ke diri kamu untuk bisa merasakan bahagia?", tanya coach kepadaku. Aku terdiam, mencoba mencari jawaban untuk bisa kusampaikan.

Coach meminta temanku lainnya menjawab makna bahagia menurut perspektif masing-masing. Temanku yang lain menjawab, "bahagia itu ketika kita ngerasa cukup. Ketika kita kekurangan, pasti ada keterbatasan untuk mencapai cukup. Tapi ketika kita sedang berlebih, tabiatnya manusia ngerasa was-was, kurang, dan terus mau nyoba lagi. Proses menyelaraskan sampai di titik ngerasa cukup itu yang susah, karena seringnya semakin dikejar semakin nggak akan ngerasa cukup". Jawabannya membuat semua mata kami kosong, seketika logika kami dihentak. Jawaban itu membuat nalar kami seketika melakukan instropeksi. Benakku dalam hati, "apakah selama ini aku terlalu serakah sehingga kurang bisa memaknai kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana?". Kalau kamu gimana? Apa hal mendasar yang bisa buat kamu bahagia?

Kemarin aku sempat nonton salah satu video YouTube yang narasumbernya (Dedy Vansophi alias Romo) bilang, "menjadi bahagia itu SOP-nya sangat sederhana, menjadi orang baik juga nggak perlu ngelakuin kebaikan-kebaikan yang luar biasa, cukup hal-hal sederhana aja". Statement ini selaras dengan salah satu wejangan Aristoteles (salah satu tokoh filsuf terkenal Yunani), "happiness depends on ourselves (kebahagiaan ditentukan oleh diri kita sendiri)". Rentetan perespektif mengenai makna bahagia itu membuatku tertegun, kembali menyelami pikiranku sendiri. Aku mencoba merangkai ulang makna bahagia yang bisa terasa lebih ringan untuk kuimani agar lebih ringan dalam mendefinisikan makna bahagia pada setiap hal yang aku temui ke depannya.

Seketika ingatan membawaku ke salah satu teori William Irvine yang dibahas dalam Buku Filosofi Teras mengenai "dichotomy of control" yang pernah kubaca. Pada kehidupan ini ada hal-hal yang ada di dalam kontrol (kendali) kita, dan ada hal-hal yang di luar kontrol. Jika kebahagiaan kita gantungkan pada hal-hal di luar kontrol, maka kita tidak akan menemukan makna bahagia yang sesungguhnya. Karena kita menggantungkan kebahagiaan pada hal yang tidak bisa kita kendalikan (bergantung pada orang lain). Ternyata selama ini perspektif definisi bahagiaku butuh diralat. Awalnya aku mendefinisikan bahwa bahagiaku adalah ketika aku bisa membuat orang yang hopeless jadi bisa berbinar matanya dan bersemangat menjalani hari berikutnya, hanya karena setelah kami ngobrol. Padahal tanggungjawab perasaan seseorang adalah urusan masing-masing orang yang tidak bisa sepenuhnya kita kendalikan. Kita mungkin bisa mengupayakan yang terbaik untuk bisa memberikan support pada orang lain, tapi kita sama sekali nggak punya kuasa atas perubahaan perasaan orang lain maupun aksi apapun yang akan dilakukan orang lain. Karena kita hanya menyumbangkan perspektif, bukan mengendalikan nalar dan perasaan orang lain.

Begitu pula dengan sikap orang lain terhadap kita, perasaan orang lain terhadap kita, perspektif orang lain terhadap kita, dan semua hal yang ada di luar tubuh kita adalah hal-hal absolut di luar kendali. Bukankah waktu kita di duna terbatas? Jika perumusan bahagia harus diambil dari hal-hal di luar kendali, lantas kapan kita bisa menyicip bahagia di tengah keterbatasan waktu yang kita miliki? Ada bahagia yang lebih ringan untuk didapatkan dan lebih dalam untuk dirasakan : "hal-hal yang bisa kamu upayakan tanpa mengharap balasan selain dari Tuhan". Banyak orang kecewa terhadap orang lain karena orang lain tidak mampu bersikap sesuai harapannya. Padahal tidak ada orang di dunia ini yang berkewajiban untuk membahagiakannya. Karena setiap kebahagiaan menjadi tanggungjawab masing-masing orang. Jika perspektif kita masih tanpa sadar menuntut orang lain membalas baik atas hal (yang menurut kita baik) yang telah kita berikan, jangan-jangan kebaikan yang kita  berikan itu sejatinya bukan kebaikan. Namun sebatas media pemuas nafsu, hanya untuk dipandang baik, dan mendapat balikan perhatian.

Berdasarkan Teori Hierarki Kebutuhan (Abraham Maslow) maupun Teori Realita (William Glasser), mendapatkan kasih sayang atau penerimaan dari sekitar memang menjadi salah satu kebutuhan manusia. Namun pilihlah dengan jalan dan lingkungan yang tepat. Karena hanya dengan bersama orang-orang yang tepatlah, kita akan mampu bertumbuh secara lebih damai dalam menjalani kehidupan. Bahkan sebaik apapun orang-orang di lingkungan sekitar kita, semestinya hal itu bukan menjadi satu-satunya KPI kebahagiaan kita. Karena setiap manusia akan sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada kalanya akan habis waktunya mereka membersamai langkah kita. Lantas jika hal itu terjadi, bukankah hidup kita akan seketika hancur jika satu-satunya KPI kebahagiaan kita adalah orang lain? Kalau kata Romo, "orang sekarang itu menjadi sulit bahagia karena KPI-nya terlalu panjang. Mereka memasukkan standard orang lain dalam perumusan SOP-nya". Sekarang coba kita refleksi ke diri kita masing-masing, "apakah porsi kebahagiaan kita masih banyak kita gantungkan pada orang lain?".

Sang jagat memang tak selamanya baik-baik saja. Adakalanya ia memihak, ada kalanya berseberangan. Ada kalanya secerah mentari pagi, ada kalanya badai petir silih berganti. Seburuk dan seberat apapun hari yang tengah kita hadapi, setiap pagi akan bertemu malam, setiap badai akan berganti reda, dan setiap tangis kelak akan berjumpa dengan tawa. It's okay to not be okay! Tapi hidup harus terus berjalan, sebagaimana mentari akan tetap terbit dan tenggelam tanpa pernah bertanya "apa kabarmu hari ini?". Tuhan senantiasa siap memelukmu kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kondisimu. Karena ia adalah rumah tempat terbaik untuk pulang mengadukan seberapa lelahnya menghadapi semesta dengan segala isinya.

0 comments:

Posting Komentar