Minggu, 09 Mei 2021

Galat


 (Dyah Santoso)


"Luka memang menyakitkan, bahkan kita tidak tahu apakah luka itu bisa disembuhkan. Tapi ketika luka itu sembuh, imunitas kita tak lagi sama seperti awal terluka."

 

Ada pernyataan seorang penulis yang cukup menggelitik hati dan logika, “Sia-sia patah hati kalau enggak jadi royalti”. Ini adalah respon Bernard Batubara ketika ditanya tentang kekuatan terbesarnya setelah patah hati[1]. Mungkin sedikit terdengar seperti bualan atau dalih agar tidak terlihat menyedihkan. Tapi jika kita renungi lebih dalam, pernyataan tersebut ada benarnya. Ketika patah hati, perasaan kita mungkin sedang tidak baik, tapi sadar atau tidak kreativitas kita justru meningkat. Orang patah hati terkadang memiliki ide atau inspirasi yang tidak terpikirkan sebelumnya─ketika suasana hati baik-baik saja. Banyak karya lahir dilatarbelakangi oleh pengalaman patah hati baik itu berupa buku, puisi, lagu, atau lukisan. Mereka menyalurkan energi patah hatinya ke dalam sebuah karya, seperti Bang Bara (sapaan Bernard Batubara). Bang Bara mengubah kesedihannya menjadi tulisan dan menikmati hasil melalui royalti.

Selaras dengan hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof. Modupe Akinola menunjukkan bahwa kesedihan mampu membuat kreativitas berada di puncak[2]. Penelitian ini  meminta partisipan untuk memaparkan pekerjaan impian mereka di hadapan interviewer. Secara acak interviewer memberikan respon positif atau negatif berupa ucapan maupun tindakan seperti senyuman, anggukan, cemberut atau gelengan kepala. Setelah itu para partisipan diminta untuk membuat kolase dari bahan-bahan yang disediakan. Sebagai data pendukung, juga dilakukan perhitungan hormon DHEAS (dehydroepiandrosterone), yaitu hormon yang dapat memberi efek semangat. Jika kadar hormon DHEAS rendah, maka yang terjadi adalah kecemasan, depresi, dan kesedihan. Hasilnya─berdasarkan penilaian kolase dan jumlah hormon DHEAS─cukup mengejutkan, orang yang diberi respon negatif memiliki nilai kreativitas lebih tinggi dibandingkan orang yang diberi respon positif dan orang yang tidak diberi respon sama sekali. Siapa sangka di balik kesedihan ternyata ada potensi luar biasa.

Setiap orang pasti pernah merasakan sedih, baik itu karena kehilangan, patah hati, ataupun kecewa. Jadi jika kamu sedih, kamu tidak sendiri, ada milyaran manusia yang juga pernah mengalaminya. Sedih dan kecewa itu wajar, selama tidak berkepanjangan. Kita boleh patah hati, asal tidak kehilangan harapan. Ketika kita gagal mencapai satu hal, bukan berarti semua harapan kita padam dan hidup kita jadi suram. Kita masih punya harapan lain, yang bisa kita jaga nyalanya. Saat momen sedih terjadi, penolakan dan amarah mungkin mendominasi perasaan. Kita merenungkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Kita terus mempertanyakan dan mengandai-andai kemungkinan lain. Semakin kita mengingkarinya, semakin kita dibuat tersiksa. Kita terus merutuk keadaan, terjerat jaring-jaring yang kita pintal sendiri. Mengobati luka hati pada dasarnya sama seperti mengobati luka fisik. Pahami dulu penyebab dan kondisi luka itu, dengan begitu kita bisa merawatnya dengan tepat.

Kita bertanggung jawab penuh untuk mengontrol perasaan kita (re: Kompas Impresi)[3], jadi yang mampu mengobati luka hati kita, ya diri kita sendiri. Tinggal kita mau berusaha untuk sembuh atau tidak. Perasaan sedih pasti selalu ada, dan tidak bisa dipungkiri karena itu naluriah. Hidup ini dinamis, ada suka juga duka yang datang silih berganti. Kalau kata iklan Chitato, “life is never flat”. Tapi dinamisme hidup ini justru yang membuat kita belajar dan berkembang. Setiap peristiwa yang kita alami tentu punya pesan, tidak terkecuali patah hati. Bisa jadi patah hati itu adalah titik balik hidup kita. Kita jadi punya pengalaman baru dan cara pandang baru, selama kita mau berusaha untuk bangkit. Emosi dan energi patah hati ini besar, mau kita salurkan kemana potensi ini? Apakah untuk balas dendam? Apakah untuk pembuktian? Atau dibiarkan menguap begitu saja? Ini kembali pada kontrol diri kita.

Bercermin dari kisah mutiara, si perhiasan indah yang ternyata terbentuk dari proses penyembuhan luka. Kerang mutiara tidak serta-merta menghasilkan mutiara jika tidak ada pasir atau benda asing yang masuk dan melukai mantelnya─lapisan pelindung organ moluska.  Untuk melindungi dirinya dari iritasi, kerang mutiara menyelimuti benda asing tersebut dengan nacre, yaitu lapisan utama pembentuk mutiara atau biasa disebut induk mutiara[4]. Kerang mutiara tidak diam saja atas lukanya, melainkan berupaya menutup luka itu agar tidak menyakitinya lebih dalam. Jadi mutiara cantik yang selama ini dikagumi banyak orang, terbentuk dari luka yang sebenarnya tidak diinginkan. Jika Bang Bara dan kerang mutiara bisa mengubah patah hati serta luka menjadi royalti dan mutiara, kita pun harusnya bisa. Kita bisa menemukan mutiara berharga dari luka atau mendapat royalti dari patah hati, asal kita tidak putus asa dan tetap berusaha.

Patah hati bukan hanya tentang asmara, dan royalti juga tidak selalu soal materi. Tidak harus menghasilkan mutiara atau karya untuk mengobati luka. Hal yang tidak kalah penting dari penyembuhan luka adalah prosesnya. Jika hidup ini mulus seperti yang yang kita inginkan, lantas dari mana kita bisa belajar ikhtiar dan tawakal? Terkadang kita juga perlu semacam galat dalam hidup, agar kita bisa menghargai proses, agar kita tahu bahwa ada banyak hal di luar kendali kita, dan agar kita tidak lalai akan jati diri sebagai seorang hamba. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik dari patah hati, terutama nilai spiritual. Pada dasarnya baik suka atau duka, kemudahan atau kesusahan, sama-sama merupakan ujian dari Allah. Apapun galat yang nanti akan kita temui, yakin bahwa Allah juga memberikan jalan keluarnya. Janji Allah jelas, “sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan” (Q.S Asy-Syarh: 6).

 



Rujukan :

 

[1] Batubara, Bernard. (2016, 30 Juni). Twitter. Diakses pada 30 April 2021 dari https://twitter.com/benzbara_/status/748216952833773568

[2] Akinola, M. dan Wendy, B.M. 2008. The Dark Side of Creativity: Biological Vulnerability and Negative Emotions Lead to Greater Artistic Creativity. Personality and Social Psychology Bulletin, 34(12), 1677-1686.

[3] Alfath, Laily. (2021, 26 Februari). Kompas Impresi. Diakses pada 30 April 2021 dari https://scangkirteh.blogspot.com/2021/02/kompas-impresi.html

[4] Kaleb, Y., N. Gustaf F. M., dan Desy M. H. M. 2015. Pembentukan Lapisan Mutiara Blister Pteria Penguin dalam Sembilan Bulan Perkembangan. Jurnal Pesisir dan Laut Tropis, 2(1): 15-22.

0 comments:

Posting Komentar