"Luka memang menyakitkan, bahkan kita tidak tahu apakah luka itu bisa disembuhkan. Tapi ketika luka itu sembuh, imunitas kita tak lagi sama seperti awal terluka."
Ada pernyataan seorang penulis yang cukup menggelitik hati dan
logika, “Sia-sia patah hati kalau enggak jadi royalti”. Ini adalah
respon Bernard Batubara ketika ditanya tentang kekuatan terbesarnya setelah
patah hati[1]. Mungkin sedikit terdengar seperti bualan atau
dalih agar tidak terlihat menyedihkan. Tapi jika kita renungi lebih dalam,
pernyataan tersebut ada benarnya. Ketika patah hati, perasaan kita mungkin
sedang tidak baik, tapi sadar atau tidak kreativitas kita justru meningkat. Orang
patah hati terkadang memiliki ide atau inspirasi yang tidak terpikirkan
sebelumnya─ketika suasana hati baik-baik saja. Banyak karya lahir dilatarbelakangi
oleh pengalaman patah hati baik itu berupa buku, puisi, lagu, atau lukisan. Mereka
menyalurkan energi patah hatinya ke dalam sebuah karya, seperti Bang Bara
(sapaan Bernard Batubara). Bang Bara mengubah kesedihannya menjadi tulisan dan
menikmati hasil melalui royalti.
Selaras dengan hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh Prof.
Modupe Akinola menunjukkan bahwa kesedihan mampu membuat kreativitas berada di
puncak[2]. Penelitian
ini meminta partisipan untuk memaparkan
pekerjaan impian mereka di hadapan interviewer. Secara acak interviewer
memberikan respon positif atau negatif berupa ucapan maupun tindakan seperti
senyuman, anggukan, cemberut atau gelengan kepala. Setelah itu para partisipan
diminta untuk membuat kolase dari bahan-bahan yang disediakan. Sebagai data pendukung,
juga dilakukan perhitungan hormon DHEAS (dehydroepiandrosterone),
yaitu hormon yang dapat memberi efek
semangat. Jika kadar hormon DHEAS rendah, maka yang terjadi adalah kecemasan,
depresi, dan kesedihan. Hasilnya─berdasarkan
penilaian kolase dan jumlah hormon DHEAS─cukup mengejutkan, orang yang diberi
respon negatif memiliki nilai kreativitas lebih tinggi dibandingkan orang yang
diberi respon positif dan orang yang tidak diberi respon sama sekali. Siapa
sangka di balik kesedihan ternyata ada potensi luar biasa.
Setiap orang pasti pernah merasakan sedih, baik itu karena kehilangan,
patah hati, ataupun kecewa. Jadi jika kamu sedih, kamu tidak sendiri, ada
milyaran manusia yang juga pernah mengalaminya. Sedih dan kecewa itu wajar,
selama tidak berkepanjangan. Kita boleh patah hati, asal tidak kehilangan
harapan. Ketika kita gagal mencapai satu hal, bukan berarti semua harapan kita
padam dan hidup kita jadi suram. Kita masih punya harapan lain, yang bisa kita
jaga nyalanya. Saat momen sedih terjadi, penolakan dan amarah mungkin
mendominasi perasaan. Kita merenungkan bagaimana peristiwa itu bisa terjadi.
Kita terus mempertanyakan dan mengandai-andai kemungkinan lain. Semakin kita
mengingkarinya, semakin kita dibuat tersiksa. Kita terus merutuk keadaan,
terjerat jaring-jaring yang kita pintal sendiri. Mengobati luka hati pada
dasarnya sama seperti mengobati luka fisik. Pahami dulu penyebab dan kondisi
luka itu, dengan begitu kita bisa merawatnya dengan tepat.
Kita bertanggung jawab
penuh untuk mengontrol perasaan kita (re: Kompas Impresi)[3],
jadi yang mampu mengobati luka hati kita, ya diri kita sendiri. Tinggal kita
mau berusaha untuk sembuh atau tidak. Perasaan sedih pasti selalu ada, dan
tidak bisa dipungkiri karena itu naluriah. Hidup ini dinamis, ada suka juga duka
yang datang silih berganti. Kalau kata iklan Chitato, “life is never flat”. Tapi
dinamisme hidup ini justru yang membuat kita belajar dan berkembang. Setiap
peristiwa yang kita alami tentu punya pesan, tidak terkecuali patah hati. Bisa
jadi patah hati itu adalah titik balik hidup kita. Kita jadi punya pengalaman
baru dan cara pandang baru, selama kita mau berusaha untuk bangkit. Emosi dan
energi patah hati ini besar, mau kita salurkan kemana potensi ini? Apakah untuk
balas dendam? Apakah untuk pembuktian? Atau dibiarkan menguap begitu saja? Ini
kembali pada kontrol diri kita.
Bercermin dari kisah mutiara, si perhiasan
indah yang ternyata terbentuk dari proses penyembuhan luka. Kerang mutiara
tidak serta-merta menghasilkan mutiara jika tidak ada pasir atau benda asing
yang masuk dan melukai mantelnya─lapisan pelindung organ moluska. Untuk melindungi dirinya dari iritasi, kerang
mutiara menyelimuti benda asing tersebut dengan nacre, yaitu lapisan utama
pembentuk mutiara atau biasa disebut induk mutiara[4].
Kerang mutiara tidak diam saja atas lukanya, melainkan berupaya menutup luka
itu agar tidak menyakitinya lebih dalam. Jadi mutiara cantik yang selama ini
dikagumi banyak orang, terbentuk dari luka yang sebenarnya tidak diinginkan. Jika
Bang Bara dan kerang mutiara bisa mengubah patah hati serta luka menjadi
royalti dan mutiara, kita pun harusnya bisa. Kita bisa menemukan mutiara
berharga dari luka atau mendapat royalti dari patah hati, asal kita tidak putus
asa dan tetap berusaha.
Patah hati bukan hanya tentang asmara, dan royalti juga tidak
selalu soal materi. Tidak harus menghasilkan mutiara atau karya untuk mengobati
luka. Hal yang tidak kalah penting dari penyembuhan luka adalah prosesnya. Jika
hidup ini mulus seperti yang yang kita inginkan, lantas dari mana kita bisa
belajar ikhtiar dan tawakal? Terkadang kita juga perlu semacam galat dalam
hidup, agar kita bisa menghargai proses, agar kita tahu bahwa ada banyak hal di
luar kendali kita, dan agar kita tidak lalai akan jati diri sebagai seorang
hamba. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa kita petik dari patah hati,
terutama nilai spiritual. Pada dasarnya baik suka atau duka, kemudahan atau
kesusahan, sama-sama merupakan ujian dari Allah. Apapun galat yang nanti akan
kita temui, yakin bahwa Allah juga
memberikan jalan keluarnya. Janji Allah jelas, “sesungguhnya beserta
kesulitan ada kemudahan” (Q.S Asy-Syarh: 6).
[1]
Batubara, Bernard. (2016, 30 Juni). Twitter. Diakses pada 30 April 2021 dari https://twitter.com/benzbara_/status/748216952833773568
[2]
Akinola, M. dan Wendy, B.M. 2008. The Dark Side of Creativity: Biological
Vulnerability and Negative Emotions Lead to Greater Artistic Creativity. Personality
and Social Psychology Bulletin, 34(12), 1677-1686.
[3]
Alfath, Laily. (2021, 26 Februari). Kompas Impresi. Diakses pada 30 April 2021
dari https://scangkirteh.blogspot.com/2021/02/kompas-impresi.html
[4]
Kaleb, Y., N. Gustaf F. M., dan Desy M. H. M. 2015. Pembentukan Lapisan Mutiara
Blister Pteria Penguin dalam Sembilan Bulan Perkembangan. Jurnal Pesisir dan
Laut Tropis, 2(1): 15-22.

0 comments:
Posting Komentar