Oleh : Laily Alfath
"Mereka belum tentu salah, bisa jadi kacamatamu yang berdebu dalam memandangnya. -Laily Alfath"
Bumi ini bukan surga. Setiap yang kita inginkan tidak seketika disuguhkan di depan mata. Bumi ini bukan surga, tempat di mana ego tidak pernah bersaing untuk saling mengenyangkan. Bumi ini bukan surga, tempat di mana dosa tak pernah diterima. Bumi ini bukan surga, tempat di mana semuanya serba mewah dan indah. Kita adalah manusia yang masih singgah di rumah sementara. Sebuah planet biru yang Tuhan utus sebagai rumah singgah semua manusia yang mendapatkan surat izin kehidupan. Sebuah planet yang penuh dengan suguhan hanya untuk manusia. Sebuah planet indah yang sudah dilengkapi dengan beragam fasilitas untuk kenyamanan manusia. Sebuah planet yang patuh terhadap titah Tuhannya. Sayang, tak semua manusia cukup tahu diri atas posisinya. Mereka berlaga bak seorang raja pada wilayahnya. Andai bumi ini bisa berteriak, mungkin ia akan berteriak mengeluh sesak. Sesak dengan beragam karakter manusia yang sering berseberangan. Sesak dipenuhi rentetan keinginan manusia tanpa batas. Sesak dengan rentetan ego yang terus dikenangkan, dan berakhir menyakiti sesama manusia. Bumi ini memang bukan surga!
Sepanjang usiamu sampai saat ini sudah berapa macam karakter manusia yang telah kamu temukan?Apakah semuanya menyenangkan? Atau ada juga yang menyebalkan? Jika kamu perah bertemu dengan sosok yang menyebalkan, menjengkelkan, mengecewakan atau hal yang menurutmu tidak menyenangkan, tinggal ingat saja bahwa "bumi ini memang bukan surga!". Hahahaha.... Setiap perantau akan selalu merindukan rumahnya. Karena sesederhana apapun sebuah rumah, ia adalah tempat terindah untuk pulang dan mengurai lelah. Bumi bukanlah rumah abadi yang menjadi tujuan. Tapi surga adalah rumah abadi untuk berpulang. Tempat yang hanya dipenuhi oleh sukacita, dan tempat segala pengharapan pasti dikabulkan.
Tapi mari kita kembali sadar pada kehidupan sekarang. Kita adalah manusi yang telah mendapatkan surat izin untuk mencicipi kehidupan sepanjang ini, sebelum kelak akhirnya berpulang. Pada proses kehidupan kita tentu ada banyak hal yang telah diajarkan oleh Tuhan melalui lingkungan sekitar. Entah itu dari orang tua, saudara, sahabat, teman, guru, maupun oleh orang-orang yang belum pernah kita kenal secara langsung. Secara sadar maupun tidak sadar, rentetan pelajaran kehidupan itulah yang ahirnya terakumulasi dan membentuk karakter kita dalam bersikap. Entah itu sikap yang ramah, cuek, bertanggung jawab, abai, mandiri, manja, jujur, bohong, maupun sikap lainnya. Pada kehidupan ini memang setiap orang akan menanggung resiko atas sikap yang ia tunjukkan. Misal : jika si A adalah orang yang ramah, maka si A harus siap menerima resiko jika banyak orang yang akan menyita waktunya untuk mengajaknya berkomunikasi. Sementara si B adalah orang yang cuek, maka si B harus siap menerima resiko bahwa ia tidak akan mempunyai banyak teman.
Namun naasnya kehidupan di bumi ini cukup lucu. Betapa hampir semua orang hanya memandang suatu kejadian hanya dari satu sudut kacamata. Aku yakin sepanjang usiamu tentu kamu pernah menemukan seseorang yang bersikap kasar. Entah itu secara langsung, mendapat cerita dari orang lain tentang sikap kasar seseorang, atau mendapati netizen kasar di media sosial. Jika menemui orang yang seperti itu, apa yang kamu lakukan? Ngedumel dalam hati? Frontal membalas mereka dengan sikap yang menyebalkan juga? Bersikap bodo amat dan meninggalkan mereka? Atau bagaimana? Tapi apapun responmu, percayalah bahwa hal itu akan sangat berpengaruh terhadap psikismu dan orang yang tengah kamu hadapi. Seseorang yang pada kesehariannya terdengar dengan lontaran kalimat-kalimat kasar, secara singkat akan langsung dilabeli sebagai orang yang "tidak terpelajar", "menyebalkan", kasar", dan serangkaian label buruk lainnya. Secara norma, kalimat kasar memang tidak bisa dibenarkan. Tapi pernahkah kita berpikir panjang tentang "kelas keidupan seperti apa yang telah ia dapatkan sehingga ia bisa bersikap demikian?".
Seringnya ketka kita sebal dengan seseorang, kita hanya memepedulikan "perasaan" kita, dan auto judgment atas hal yang mereka lakukan ‒tanpa tahu penyebab dari sikap yang mereka munculkan‒. Padahal sikap yang dimunculkan oleh manusia adalah manifestasi dari jiwanya. Setiap orang selalu punya pemicu kuat atas setiap sikap yang ia munculkan. Entah hal itu dibentuk dari masa lalunya, pola didikan, orang tuanya, kebiasaannya, maupun doktrin yang kurang tepat yang tanpa sengaja ia dapatkan. Seseorang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter, cenderung akan tumbuh menjadi orang yang otoriter juga. Seseorang yang terbiasa segalanya serba disiapkan, maka akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang bergantung pada orang lain ‒tidak mandiri. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan kasar, juga akan cenderung bertumbuh menjadi pribadi yang kasar. Hasil pembelajaran itulah yang akhirnya terakumulasi dan membentuk suatu sikap yang tumbuh dalam dirinya. Seringnya kita tidak tahu atau bahkan tidak peduli atas badai panjang yang telah mereka lalui sehingga mereka bertumbuh dengan sikap seperti itu. Kita hanya peduli atas ‒perasaan kita.
Aku percaya bahwa Tuhan sejatinya mecipatakan semua manusia berhati baik tanpa ingin saling menyakiti. Tapi tidak semua manusia berksemepatan mendapatkan kelas kehidupan yang baik dan benar. Tidak semua manusia berkesempatan bertumbuh pada lingkungan yang tepat. Ketika mereka tidak mendapatkan kesempatan itu, apakah cukup bijak jika serta-merta menuntut mereka berperilau pada hal yang tidak pernah diajarkan dengan baik kepada mereka? Misal: seorang anak SD yang tidak pernah diajarkan pidato, bijakkah kita jika kita menuntutnya pandai berpidato? Tidak! Namun sayangnya perihal kehidupan ini menjadi hal yang cukup pelik untuk ditoleransi.
Kita boleh tidak sepakat dengan sikap orang lain. Tapi bukan berarti kita merendahkannya. Setiap orang berkesempatan sama untuk bertumbuh di bumi ini. Jika menurutmu itu salah, pikirkanlah: hal apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu memperbaikinya? Bukankah kita semua hanyalah kumpulan tamu di bumi ini? Lantas kenapa tidak saling membantu? Bukankah kita semua ini sama-sama tamu? Lantas kenapa harus saling membandingkan merasa lebih tinggi? Manusia hanyalah seonggok daging yang diberi kesempatan nyawa untuk mencicipi dunia sementara. Tatkala nyawa itu dicabut, segala kehendak tidak akan pernah sampai.
Inspiring By :
Syahid, Muhammad. 2018. Egosentris.Yogyakarta : Gradien Mediatama.

0 comments:
Posting Komentar