Senin, 15 Maret 2021

How's Your Day?

 (Laily Alfath)

 


 'Hari ini-mu' akan selalu berbeda dengan 'hari ini' orang lain. Karena ada skenario yang Tuhan ciptakan khusus hanya untukmu. -Laily Alfath

 

    How's your day? Bahagia, sedih, kecewa, haru, menjengkelkan, atau bagaimana? Jika hari ini-mu membuatmu puas atas upaya yang telah kamu lakukan, maka Scangkirteh turut berbahagia atas pencapaianmu hari ini. Selamat ya! Karena tidak semua orang seberuntung kamu untuk berkesempatan mendapatkan hari yang cerah dan bisa melakukan banyak hal hari ini. Semoga hal itu senantiasa memotivasimu untuk mengukir hari-hari cerahmu berikutnya. Namun jika hari ini-mu tidak menyenangkan, tenang saja! Masih ada hari esok untuk memulai kehidupan yang baru. Bukankah setiap pagi adalah kesempatan baru? Tinggal bagaimana kita memandang suatu kesempatan. Jika esok kamu masih dibangunkan oleh Tuhan, maka artinya Tuhan percaya kamu layak untuk hari-hari cerahmu berikutnya. Oiya setelah ngobrolin tentang 'hari ini-mu', sudahkah kamu tahu bagaimana 'hari ini' teman-temanmu yang kontaknya kamu simpan di WhatsApp atau yang kamu follow akun Intagram-nya? Ya, sekalipun kalian terpisah jauh bukankah biasanya kalian saling melihat postingan yang diunggah kemudian mempersepsikan seperti apa kehidupan temanmu di sana? Hayo ngaku, kamu pasti pernah seperti itukan? Atau masih sering melakukan hal tersebut? Hehehe. Tidak masalah jika kamu masih sering mempersepsikan kehidupan temanmu hanya berdasar story WhatsApp maupun story Instagram. Asalkan hal yang kamu lakukan tidak menumbuhkan perasaan insecure pada diri kamu. Inget hal yang udah ikta bahas di Artikel "Kompas Impresi"? Bahwa kamu bukan robot, kamu adalah pengendali atas perasaanmu sendiri. 

    Apapun perasaan yang muncul, kamu tetaplah pengendali perasaanmu. Jika seseorang gagal menguasai perasaannya, maka ia akan gagal menguasai keadaan (Wahyudi, 2020). Salah satu contoh orang yang gagal menguasai perasaannya adalah munculnya proses membandingkan kehidupan orang lain (yang dirasa jauh lebih baik) dengan kehidupannya sendiri, dan akhirnya menumbuhkan perasaan insecure pada diri sendiri. Padahal kita sama-sama tahu bahwa "kamu" dan "dia" berbeda dalam banyak hal. Itu artinya Tuhan telah mempersiapkan skenario khusus yang hanya ditujukan untukmu, yang akan berbeda dengan orang lain. Jika kamu sempat berpikir bahwa, "banyak orang yang jauh lebih baik dan lebih sukses dariku", maka itu benar. Karena seperti pepatah yang sering kita dengar bahwa, "di atas langit masih ada langit". Banyak orang yang jauh lebih baik dan lebih sukses darimu. Tapi dalam catatan sejarah, Tuhan hanya menciptakan satu makhluk sepertimu, dan hanya kamu. Setidak menyenangkan apapun kehidupanmu, kita tidak pernah tahu bagaimana orang lain menginginkan kehidupan kita. Layaknya kita menginginkan kehidupan orang lainyang telah diuggah di story. Seorang motivator dunia yang terlahir tanpa tangan dan kaki yang sempurna mengatakan bahwa, "Jika Tuhan tidak memperbaiki keadaanku, maka aku percaya bahwa Tuhan akan menggunakan hidupku untuk keajaiban bagi orang lain" (Vujicic, 2020). Tuhan tidak pernah menciptakan hal yang sia-sia dan tidak berharga, begitu pula denganmu. Kamu akan dipandang berharga jika kamu berada di lingkungan yang tepat, yang bisa menghargai dan menerima segala kurang serat lebihmu. Kamu berharga tatkala kamu bisa memahami dan menerima kurang serta lebihmu. Tapi bukan berarti ketika kamu merasa sudah mampu mengidentifikasi kekuranganmu lantas kamu hanya diam dan tidak melakukan apapun. Kamu akan menjadi jauh lebih berharga tatkala kamu terus bertumbuh untuk senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dibanding dirimu kemarin. 

    Jadi jangan bandingkan 'hari ini-mu' dengan 'hari ini orang lain'. Apalagi mengukurnya hanya berdasar cuplikan yang dilihat dari story. Karena kamu tidak akan pernah merasakan bahagia, ketika kamu masih terus membandingkan kehidupanmu dengan orang lain. Setiap pembandingan yang kamu ciptakan hanya kan mencuri kebahagiaanmu, pikiranmu, fokusmu, hari-harimu, dan mood-mu setiap saat. Karena hal itu hanya akan memberikan efek negatif sehingga kamu seolah stuck, merasa hancur,dan tertinggal jauh dari pencapaian teman-temanmu (Conrad, 2019). Satu-satunya yang boleh kamu bandingkan adalah diri kamu di masa lalu dengan diri kamu sekarang. Itulah yang paling adil. Pada kehidupan ini, manusia dibebaskan Tuhan dengan beragam pilihan yang telah disediakan. Kita bisa memilih untuk melakukan dan merasakan apapun yang kita inginkan. Setelah melihat pencapaian teman-teman kita yang diunggah di story, kita bebas memilih antara insecure atau termotivasi. Bahkan ketika kita memilih untuk tidak melakukan apapun, itu juga suatu pilihan. Tapi ingat akan selalu ada konsekuensi pada setiap pilihan yang kita ambil. Semakin kita menghakimi diri sendiri atas pencapaian orang lain, semakin lama kita akan terjebak pada pemikiran itu dan kita akan tetap berada di sana (Owen, 2013). Siapapun kamu, bagaimanapun latar belakang keluargamu, apapun badai yang telah kamu lalui, kamu tetaplah manusia yang berharga dan layak untuk hari-hari bahagia berikutnya. Tuhan memang menyuguhkan serentetan peristiwa, tapi kamu bertanggung jawab penuh atas perasaan dan tindakanmu dalam merespon serangkaian peristiwa yang disuguhkan. Bahagia dan berduka adalah pilihanmu.


Daftar Rujukan

Conrad, Ricky. 2019. Stop Bandingkan Diri Lo Sama Orang Lain. Ricky Conrad TV.

Owen, Andrea. 2013. Ways to Live A Kick-Ass Life.

Vujicic, Nick. 2020. Saya Tidak Memiliki Tangan dan Kaki, Apa Alasan Kalian?

Wahyudi, Josua Iwan. 2020. Emotional Intelligence Specialist  


 

 

0 comments:

Posting Komentar