(Dyah Santoso)
“Karya berkelas diakui karena warnanya yang khas serta lahir dari komitmen menjaga kualitas dan identitas”
Kamu mungkin pernah mendengar seseorang berkata kepada temannya
yang sedang dirundung kebimbangan, “Hidup ini pilihan. Pilih dan lakukan apa
yang kamu yakini benar”. Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada suatu pilihan
yang membingungkan. Pilihan muncul dalam berbagai aktivitas, mulai dari sekadar
pilihan menu sarapan, pilihan sekolah untuk studi lanjut, pilihan pekerjaan,
sampai pilihan untuk keputusan besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sadar
maupun tidak sadar, memilih adalah rutinitas yang setiap saat kita lakukan. Meskipun
demikian, memilih bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Sekalipun dihadapkan
pada pilihan yang sama, pertimbangan dan proses pemilihannya akan berbeda. Pilihan
membutuhkan pertimbangan lebih ketika efeknya jangka panjang dan berdampak pada
banyak orang. Pilihan yang kita ambil sangat dipengaruhi oleh nilai yang kita yakini.
Tidak heran jika proses pendewasaan cukup membuat stres, sebab ada pergolakan
nilai dan skala prioritas. Dan itu memunculkan pilihan-pilihan baru yang tidak
terpikirkan sebelumnya.
Pilihan semakin beragam dan berkembang sesuai dengan pengalaman. Tidak
jarang semakin banyak pilihan justru semakin sulit mengambil keputusan, ada
banyak pertimbangan dan perbandingan. Setiap pilihan punya konsekuensi
masing-masing. Memilih artinya menyiapkan diri untuk menerima konsekuensi atas
pilihan tersebut. Ketika kita sudah menentukan pilihan dan bertekad untuk hidup
dengan pilihan itu, pilihan lain muncul. Pilihan baru bisa sejalan, bisa juga
berlawanan dengan pilihan yang sudah ada. Di sinilah kita perlu menentukan
skala prioritas. Bisa jadi pilihan itu muncul bukan dari keadaan, melainkan
dari ego dan keingginan. Pilihan dari keadaan sering kali muncul tanpa memberi
kelonggaran waktu, sedangkan pilihan dari ego dan keingingan bisa datang
sewaktu-waktu. Skala prioritas membantu kita untuk memfilter apa yang perlu dan
kurang perlu untuk dilakukan. Terlalu banyak pilihan bisa memperlambat atau
bahkan menghambat kita sampai tujuan. Sebagian besar pilihan, kita yang
ciptakan─atas dasar angan-angan. Pilihan akan selalu membingungkan jika kita
tidak tegas menentukan skala prioritas.
Tidak masalah jika pilihan itu lahir dari keinginan. Mungkin dari
keinginanlah kita dapat suntikan energi dan daya juang. Kita ingin pintar,
sukses dan terkenal. Lalu kita memilih jalan menjadi seorang musisi misalnya.
Pilihan pertama telah diambil, selanjutnya apa genre musik kita? Siapa sasaran
musik kita? Kapan kita memulai debut? Di mana kita belajar musik? Bagaimana
kita meniti karir musik?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memunculkan
banyak pilihan dalam prosesnya. Ingat bahwa setiap pilihan punya konsekuensi,
memilih banyak berarti melibatkan diri pada banyak hal pula. Kita sadar sekeras
apapun kita berusaha, kita tidak akan bisa menjadi mahir dalam berbagai bidang.
Seorang guru pernah menasihati saya, ‘kamu bisa survive ketika kamu
memiliki kemampuan bahasa dan satu softskill yang mempuni’. Cukup satu,
jika terasah dan terampil, efeknya bisa sangat luar biasa. Memilih dan fokus
pada satu inilah yang tidak mudah dilakukan, kita masih sering terdistraksi
oleh sekeliling.
Tidak semua yang ditawarkan harus dipilih bukan?. Kapasitas kita
terbatas, dengan hanya memilih dan memperhatikan apa yang menjadi prioritas,
kita bisa mengoptimalkan daya yang kita miliki. Sama halnya dengan komputer,
ketika kita memilih banyak aplikasi untuk bekerja dalam satu waktu, yang
terjadi adalah kinerjanya menjadi lambat atau bahkan hang. Tentu kita
tidak ingin hal semacam ini terjadi pada diri kita. Persoalannya bukan pada
banyaknya pilihan yang ada, tapi pada cara kita memilih pilihan tersebut.
Banyak pilihan itu indah, kita bisa melihat berbagai warna dan corak. Keindahan
itu bisa dinikmati karena setiap warna fokus menampilkan satu warnanya, bukan
bercampur menjadi satu. Satu warna menunjukkan identitas yang jelas─merah,
kuning, hijau, biru. Dua warna bercampur, masih bisa menjadi perpaduan warna
yang unik─ungu, jingga. Tiga warna bercampur, kita mulai kesulitan mengenali
warnanya. Identitas warna menjadi hilang, tidak ada yang diunggulkan. Jika itu
terjadi pada kita, maka krisis identitas tidak bisa dihindari.
Ketika kita memutuskan untuk memilih A, secara otomatis kita
mengabaikan sesuatu yang bertentangan dengan A. Pilihan sering disandingkan
dengan sesuatu yang berkebalikan─meskipun tidak selalu demikian. Tapi yang
jelas, jika ada yang terpilih, tentu ada yang tertolak. Jika kita ingin menjadi
musisi sukses, maka hal-hal yang menghalangi tujuan tersebut harus kita minimalisir.
Konsekuensi dari pilihan tersebut, kita akan lebih memilih menulis lirik lagu
daripada melamun di kafe, berlatih lebih giat, dan meluangkan waktu lebih
banyak untuk bermusik daripada aktivitas lain. Konsistensi kita dalam menjalani
pilihan menentukan keberhasilan tersebut. Orang-orang yang saat ini menikmati
buah usahanya, tentu punya disiplin tinggi terhadap prioritas pilihan mereka.
Seorang blogger kenamaan Amerika, Mark Manson, mengatakan dalam
bukunya[1] “kita
ditentukan oleh apa yang kita tolak. Dan jika kita tidak menolak sesuatu pun,
pada dasarnya kita tidak punya identitas sama sekali”. Kita punya kebebasan
untuk memilih dan menolak apa yang penting dan tidak penting dalam hidup kita. Diri
kita adalah aset kita yang paling berharga, maka sudah sepantasnya kita
menggunakannya dengan bijak. Pilih yang baik, pilah yang buruk. Dengan
kemampuan filter ini, kita tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal di luar
prioritas kita. Ibarat sebuah komputer yang digunakan secara efisien, kinerjanya
akan baik. Ketika merasa performa diri sedang tidak baik, tengok kembali skala
prioritas kita, jangan-jangan kita terjebak dalam krisis identitas.
0 comments:
Posting Komentar