Sabtu, 06 Maret 2021

Color Palette

 

(Dyah Santoso)


“Karya berkelas diakui karena warnanya yang khas serta lahir dari komitmen menjaga kualitas dan identitas”

 

Kamu mungkin pernah mendengar seseorang berkata kepada temannya yang sedang dirundung kebimbangan, “Hidup ini pilihan. Pilih dan lakukan apa yang kamu yakini benar”. Setiap orang pasti pernah dihadapkan pada suatu pilihan yang membingungkan. Pilihan muncul dalam berbagai aktivitas, mulai dari sekadar pilihan menu sarapan, pilihan sekolah untuk studi lanjut, pilihan pekerjaan, sampai pilihan untuk keputusan besar yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sadar maupun tidak sadar, memilih adalah rutinitas yang setiap saat kita lakukan. Meskipun demikian, memilih bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Sekalipun dihadapkan pada pilihan yang sama, pertimbangan dan proses pemilihannya akan berbeda. Pilihan membutuhkan pertimbangan lebih ketika efeknya jangka panjang dan berdampak pada banyak orang. Pilihan yang kita ambil sangat dipengaruhi oleh nilai yang kita yakini. Tidak heran jika proses pendewasaan cukup membuat stres, sebab ada pergolakan nilai dan skala prioritas. Dan itu memunculkan pilihan-pilihan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Pilihan semakin beragam dan berkembang sesuai dengan pengalaman. Tidak jarang semakin banyak pilihan justru semakin sulit mengambil keputusan, ada banyak pertimbangan dan perbandingan. Setiap pilihan punya konsekuensi masing-masing. Memilih artinya menyiapkan diri untuk menerima konsekuensi atas pilihan tersebut. Ketika kita sudah menentukan pilihan dan bertekad untuk hidup dengan pilihan itu, pilihan lain muncul. Pilihan baru bisa sejalan, bisa juga berlawanan dengan pilihan yang sudah ada. Di sinilah kita perlu menentukan skala prioritas. Bisa jadi pilihan itu muncul bukan dari keadaan, melainkan dari ego dan keingginan. Pilihan dari keadaan sering kali muncul tanpa memberi kelonggaran waktu, sedangkan pilihan dari ego dan keingingan bisa datang sewaktu-waktu. Skala prioritas membantu kita untuk memfilter apa yang perlu dan kurang perlu untuk dilakukan. Terlalu banyak pilihan bisa memperlambat atau bahkan menghambat kita sampai tujuan. Sebagian besar pilihan, kita yang ciptakan─atas dasar angan-angan. Pilihan akan selalu membingungkan jika kita tidak tegas menentukan skala prioritas.

Tidak masalah jika pilihan itu lahir dari keinginan. Mungkin dari keinginanlah kita dapat suntikan energi dan daya juang. Kita ingin pintar, sukses dan terkenal. Lalu kita memilih jalan menjadi seorang musisi misalnya. Pilihan pertama telah diambil, selanjutnya apa genre musik kita? Siapa sasaran musik kita? Kapan kita memulai debut? Di mana kita belajar musik? Bagaimana kita meniti karir musik?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan memunculkan banyak pilihan dalam prosesnya. Ingat bahwa setiap pilihan punya konsekuensi, memilih banyak berarti melibatkan diri pada banyak hal pula. Kita sadar sekeras apapun kita berusaha, kita tidak akan bisa menjadi mahir dalam berbagai bidang. Seorang guru pernah menasihati saya, ‘kamu bisa survive ketika kamu memiliki kemampuan bahasa dan satu softskill yang mempuni’. Cukup satu, jika terasah dan terampil, efeknya bisa sangat luar biasa. Memilih dan fokus pada satu inilah yang tidak mudah dilakukan, kita masih sering terdistraksi oleh sekeliling.

Tidak semua yang ditawarkan harus dipilih bukan?. Kapasitas kita terbatas, dengan hanya memilih dan memperhatikan apa yang menjadi prioritas, kita bisa mengoptimalkan daya yang kita miliki. Sama halnya dengan komputer, ketika kita memilih banyak aplikasi untuk bekerja dalam satu waktu, yang terjadi adalah kinerjanya menjadi lambat atau bahkan hang. Tentu kita tidak ingin hal semacam ini terjadi pada diri kita. Persoalannya bukan pada banyaknya pilihan yang ada, tapi pada cara kita memilih pilihan tersebut. Banyak pilihan itu indah, kita bisa melihat berbagai warna dan corak. Keindahan itu bisa dinikmati karena setiap warna fokus menampilkan satu warnanya, bukan bercampur menjadi satu. Satu warna menunjukkan identitas yang jelas─merah, kuning, hijau, biru. Dua warna bercampur, masih bisa menjadi perpaduan warna yang unik─ungu, jingga. Tiga warna bercampur, kita mulai kesulitan mengenali warnanya. Identitas warna menjadi hilang, tidak ada yang diunggulkan. Jika itu terjadi pada kita, maka krisis identitas tidak bisa dihindari.

Ketika kita memutuskan untuk memilih A, secara otomatis kita mengabaikan sesuatu yang bertentangan dengan A. Pilihan sering disandingkan dengan sesuatu yang berkebalikan─meskipun tidak selalu demikian. Tapi yang jelas, jika ada yang terpilih, tentu ada yang tertolak. Jika kita ingin menjadi musisi sukses, maka hal-hal yang menghalangi tujuan tersebut harus kita minimalisir. Konsekuensi dari pilihan tersebut, kita akan lebih memilih menulis lirik lagu daripada melamun di kafe, berlatih lebih giat, dan meluangkan waktu lebih banyak untuk bermusik daripada aktivitas lain. Konsistensi kita dalam menjalani pilihan menentukan keberhasilan tersebut. Orang-orang yang saat ini menikmati buah usahanya, tentu punya disiplin tinggi terhadap prioritas pilihan mereka.

Seorang blogger kenamaan Amerika, Mark Manson, mengatakan dalam bukunya[1] “kita ditentukan oleh apa yang kita tolak. Dan jika kita tidak menolak sesuatu pun, pada dasarnya kita tidak punya identitas sama sekali”. Kita punya kebebasan untuk memilih dan menolak apa yang penting dan tidak penting dalam hidup kita. Diri kita adalah aset kita yang paling berharga, maka sudah sepantasnya kita menggunakannya dengan bijak. Pilih yang baik, pilah yang buruk. Dengan kemampuan filter ini, kita tidak mudah terdistraksi oleh hal-hal di luar prioritas kita. Ibarat sebuah komputer yang digunakan secara efisien, kinerjanya akan baik. Ketika merasa performa diri sedang tidak baik, tengok kembali skala prioritas kita, jangan-jangan kita terjebak dalam krisis identitas.

 



[1] Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat, 2018.

0 comments:

Posting Komentar