Minggu, 21 Maret 2021

Dumbledore's Pensieve

 

(Dyah Santoso)



“Mereka yang hadirnya menguatkanmu, yang netranya mampu melihat bias hatimu, adalah salah satu karunia terindah yang Tuhan titipkan padamu.”

 

Setiap orang tidak luput dari mendapati masalah. Ketika idealitas berbenturan dengan realitas, itu adalah masalah. Sejak kecil kita dihadapkan dengan situasi yang─sering kali─tidak terduga. Situasi ini memunculkan beragam reaksi dari masing-masing individu, dan normalnya seseorang akan bereaksi ketika kenyamanannya terusik. Reaksi dan respon yang kita berikan terhadap suatu masalah sebanding dengan impuls yang kita terima. Semakin berat masalah yang dihadapi, tentunya membutuhkan energi, pikiran, dan waktu yang tidak kalah besar untuk menyelesaikannya. Semakin kita dewasa dan terlibat dalam banyak hal, semakin membuat kita sadar bahwa masalah tidak pernah absen menyapa. Masalah akan selalu ada dalam setiap peristiwa dan masa, karena masalah adalah bagian dari kita. Manusia tumbuh dan berkembang bersama masalah. Peradaban dan perkembangan teknologi saat ini adalah produk dari permasalahan orang-orang terdahulu, bahkan solusi dari suatu masalah─pada perkembangannya─juga tetap memunculkan masalah lain.

Kesadaran bahwa masalah selalu menyertai kehidupan manusia tidak lantas membuat kita kebal dan siap untuk menghadapinya. Nyatanya masih banyak kasus depresi yang berujung pada hilangnya nyawa. Diri kita yang memilih bagaimana berinteraksi dengan masalah, apakah tidak melakukan apa-apa? apakah menghadapinya sembari mencari solusi? atau menghindari satu masalah untuk bertemu masalah yang lain?. Saya teringat kisah garam, gelas, dan danau. Masalah diibaratkan sebagai garam sementara kelapangan hati kita adalah gelas dan danau. Segenggam garam yang dimasukkan ke dalam segelas air tentu terasa asin. Sedangkan segenggam garam yang ditabur di danau tidak serta-merta mengubah rasa airnya menjadi asin. Mereka yang dikalahkan oleh masalah mungkin saja hatinya tidak selapang danau. Tapi menyiapkan hati seluas danau bukanlah perkara mudah, perlu latihan dan proses yang tidak singkat. Lingkungan juga ikut andil dalam pembentukan danau ini. Bagaimana danau luas bisa terbentuk jika masyarakat sekitarnya terus-menerus membuat urugan?. Bagaimana hati bisa lapang jika orang-orang sekeliling terus-menerus mengerdilkan mental?.

Bukan tidak mungkin jika masih ada orang yang tetap tenang, tetap berusaha tegak, dan berusaha menurunkan sensitivitas terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang mengikis mentalnya. Memang masih ada orang kuat seperti ini, tapi berapa jumlahnya jika dibandingkan dengan populasi orang di muka bumi?. Sebagian besar dari kita adalah orang-orang yang hatinya seluas gelas, mungkin ada juga yang lebih luas─dari gelas, tapi tidak seluas danau. Hati kita adalah hati seperti kebanyakan orang. Sebagian dari kita ada yang reaktif dan sangat impulsif. Sebagian yang lain perlu waktu mengendapkan emosinya untuk kembali jernih. Sedangkan sebagian lainnya terpaksa mengakumulasi semua perasaan karena tidak tahu bagaimana menanganinya. Kita tentu ingin punya hati yang lapang dan tetap bisa tenang menjalani beragam putaran kehidupan. Namun proses ini perlu banyak latihan dan pembiasaan. Sembari belajar melapangkan hati, kita bisa berbagi. Berbagi tidak hanya tentang materi, melainkan juga berbagi rasa─suka, duka, ataupun kecewa.

Seberat apapun masalah kita, ketika kita punya sandaran untuk sekadar meratap atau mengutarakan isi hati, itu akan sangat membantu. Kita tidak bisa menganggap sama orang-orang, hanya karena mereka punya punya masalah yang sama. Kembali pada fakta bahwa masing-masing individu berbeda. Ada yang cukup mengadukan keresahannya kepada Tuhan dan sudah merasa mengisi ulang energinya. Namun tidak sedikit orang yang butuh bantuan orang lain untuk bisa bangkit. Kita sebagai makhluk sosial membutuhkan komunikasi dan dukungan sosial. Kita butuh teman untuk menegaskan bahwa kita tidak sendiri. Mereka yang depresi umumnya karena orang-orang di sekitar mereka tidak bisa memberikan rasa aman dan nyaman baginya. Mereka merasa tertekan dengan lingkungan mereka sendiri. Segelas air yang berisi garam tadi, ketika dapat membagi garamnya dengan gelas yang lain, bukankah rasa asinnya bisa sedikit berkurang?. Sama halnya dengan permasalahan kita, ketika kita punya teman untuk berbagi cerita─sekalipun dia hanya mendengarkan tanpa memberi saran─setidaknya itu sedikit meringankan beban psikis yang kita alami.

Bagi penggemar serial Harry Potter, tentu tidak asing dengan istilah “pensieve, cawan yang biasa digunakan Albus Dumbledore untuk menyimpan dan melihat memori. Febriani Eka Puteri[1] menyatakan bahwa pensieve merupakan kebutuhan dasar manusia. Ada unsur melepaskan─memori, ada unsur kepercayaan bahwa memori tersebut akan terjaga dengan baik─kerahasiaannya, dan ada unsur kembali (memori dapat dilacak ulang)─dengan memasukkan kepala ke dalam cawan. Peran pensieve dalam dunia nyata ini dapat dilakukan oleh orang-orang sekitar kita. Mereka yang memandang derita kita juga bagian dari mereka dan menganggap senyum kita adalah bagian dari kebahagiaan mereka. Mereka yang bersedia mendengarkan cerita kita tanpa menghakimi, yang kita percayai bahwa cerita kita aman bersama mereka, termasuk yang dapat kita mintai nasihat ketika kita membutuhkan. Mereka adalah orang-orang istimewa yang Tuhan titipkan kepada kita. Bersyukurlah jika kita punya mereka, kita akan mendapat energi tambahan untuk menghadapi masalah pelik sekalipun. Ada perasaan yang menenangkan, bahkan jika kita terjatuh, ada mereka yang bersedia mengobati luka kita.

Ada banyak cara orang merespon masalah, cara kita adalah pilihan kita. Kita yang lebih berhak memilih dan menentukan mana yang termasuk masalah bagi kita dan mana yang bukan (ulasan lengkapnya di Color Palette). Namun tidak bisa dipungkiri bahwa lingkungan turut mewarnai hidup kita. Masalah dan pilihan akan selalu menyertai setiap langkah. Berbagi merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk melepaskan sedikit emosi, kepenatan, atau  masalah yang membebani psikis. Jika kita punya seseorang yang mampu berperan sebagai pensieve, ucapkan terima kasih dan lakukan hal yang sama. Kita telah menemukan support system yang merupakan modal penting untuk bisa survive di dunia yang penuh hal tak terduga ini. Seberat dan sepelik apapun masalah yang kita hadapi, ketika kita punya pensieve, pikiran kita menstimulus untuk mengatakan ‘masalah tidak sesulit itu jika dilalui bersama’.

 



Rujukan:

[1] Febriani Eka Puteri. 2018. Mind Traveler. Jatinangor : Spektrum Unpad.

0 comments:

Posting Komentar