(Dyah Santoso)
“Jika
diberi pilihan antara sebongkah intan atau sebongkah arang? Mana yang kamu pilih?”.
Sebagian
orang akan langsung memilih tanpa pikir panjang, sebagian yang lain mungkin malah mempertanyakan
‘pertanyaan’ tersebut. Ya, pertanyaan macam apa yang membandingkan intan dan
arang. Dua benda yang secara fisik maupun kegunaan sangat berbeda. Beberapa
bongkah arang memang berguna bagi penjual sate atau jagung bakar, tapi apa yang
bisa dilakukan dengan sebongkah arang?.
Pertanyaan
di atas terdengar aneh secara umum, tapi coba kita lihat dengan pendekatan
lain. Ternyata intan dan arang termasuk alotrop karbon, di mana material
penyusunnya sama-sama dari atom karbon tetapi bentuk struktur atau kerangkanya
berbeda. Perbedaan struktur ini terjadi karena proses pembentukan yang berbeda
pula. Intan terbentuk di kedalaman bumi dengan tekanan dan temperatur tinggi serta
waktu yang cukup lama, sedangkan arang seperti yang kita ketahui terbentuk dari
proses yang jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan intan. Kita dapat melihat
sudut pandang yang berbeda dari sebongkah intan dan arang, tidak hanya secara
nilai fisik saja tapi juga secara historis. Semesta adalah sekolah terbesar
sepanjang masa yang menyimpan banyak rahasia dan kisah penuh makna. Tinggal
kita yang mau atau tidak menyibak rahasia dan memaknai kisah tersebut.
Tuhan
menciptakan manusia dengan potensi yang sama. Proses yang kita jalanilah yang
menentukan hasil akhirnya. Sering kali kita hanya fokus pada hasil tanpa
memperhatikan proses. Kita melihat Cristiano Ronaldo sebagai pesepak bola
hebat, tanpa tahu berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk berlatih. Kita
melihat J.K. Rowling sebagai penulis sukses tanpa memahami kesulitannya di awal
karir kepenulisan. Bahkan mungkin, kita hanya melihat dan iri pada prestasi
teman tanpa mau tahu apa yang sudah dia alami sehingga sampai pada titik itu.
Kita ingin seindah intan, tetapi usaha kita masih sebatas arang. Ini persoalan klise
banyak orang, tak terkecuali mereka yang kita anggap hebat sekalipun. Bedanya,
mereka segera bergerak ketika sadar bahwa proses seperti arang tidak akan
menghasilkan intan.
Lalu
sebagian dari kita menyangkal “Kita tahu kok, bahwa untuk sukses harus
dibarengi usaha dan kerja keras. Kita sudah berusaha, tapi tetap tidak seindah
intan, tidak sehebat Cristiano Ronaldo, tidak sesukses J.K. Rowling dan bahkan
tidak lebih baik dari anak tetangga sebelah”. Kerja bagus kawan, kamu hebat.
Tidak banyak orang yang sadar kemudian tergugah untuk berusaha. Ragamu pasti
lelah karena telah bekerja keras, tapi jangan biarkan hati dan pikiranmu juga
ikut lelah. Prosesmu, kamu yang menjalaninya. Hasilmu, kamu yang akan
menikmatinya. Yang perlu disaingi adalah egomu, bukan mereka ataupun anak
tetangga. Tentukan standar yang tepat. Kamu adalah kamu. Kamu bisa sukses
dengan cara dan standarmu sendiri. Membandingkan kesuksesan dengan standar
orang lain hanya akan menyiksa diri sendiri. Kamu tidak akan punya waktu
istirahat, sebab kamu tidak tahu berapa banyak bintang yang bersinar di langit.
Kamu bisa menjadi salah satu bintang
yang bersinar tanpa harus berusaha lebih terang dari yang lain. Setiap orang
punya potensi dan pesonanya masing-masing. Gelar dan penghargaan yang diberikan
masyarakat adalah bonus. Jika kamu sudah berusaha dan bekerja dengan baik,
hasilnya juga akan baik. Tidak harus berpengaruh besar pada masyarakat luas,
bisa dari orang-orang sekitar, atau setidaknya diri sendiri yang merasakan
nilai positif itu. Mungkin terdengar kontradiktif, bahwa manusia punya potensi
yang sama, tetapi kapasitas yang berbeda. Kita analogikan dengan kerja bakti
pembangunan mushalla. Setiap warga memiliki potensi untuk membantu dengan
kapasitasnya masing-masing. Ada yang berdonasi untuk bahan material, ada yang
bersedia tenaga, ada yang suka rela menyiapkan konsumsi untuk para pekerja.
Setiap peran memiliki kontribusi yang sama-sama baik. Ketika mushalla itu
rampung dibangun, setiap peran tadi merasakan kesan dan pengalaman batin yang
berbeda tentunya.
Itu artinya
tidak semua orang bisa menjadi intan?. Tentu saja, bahkan arang yang
diperlakukan sama seperti intan belum tentu menjadi intan. Kita melihat intan
sebagai permata yang indah, kita tahu bahwa untuk menjadi indah ada proses yang
tidak mudah. Kita sering mendengar kalimat bijak “Man jadda wajada”, “temen
tinemu”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan
(keberhasilan). Itu mempertegas bahwa dunia ini penuh tantangan dan yang tak
memiliki daya juang akan tertinggal. Intan kita asumsikan sebagai simbol
keindahan, kesuksesan, dan keberhasilan atas usaha dan kerja keras. Tetapi
menjadi seperti intan bukanlah standar pencapaian. Kita memang harus berusaha, sebisa
dan semampu kita tanpa harus menyamakan pencapaian dengan orang lain. Fokus
pada tujuan adalah baik, tetapi menikmati setiap proses akan jauh lebih
menarik. Tetap berusaha dan yakin bahwa Tuhan menilai proses dan perjuangan.

0 comments:
Posting Komentar