Jumat, 19 Februari 2021

Kisah Sebongkah Intan

 

(Dyah Santoso)

 


“Jika diberi pilihan antara sebongkah intan atau sebongkah arang? Mana yang kamu pilih?”.

Sebagian orang akan langsung memilih tanpa pikir panjang,  sebagian yang lain mungkin malah mempertanyakan ‘pertanyaan’ tersebut. Ya, pertanyaan macam apa yang membandingkan intan dan arang. Dua benda yang secara fisik maupun kegunaan sangat berbeda. Beberapa bongkah arang memang berguna bagi penjual sate atau jagung bakar, tapi apa yang bisa dilakukan dengan sebongkah arang?.

Pertanyaan di atas terdengar aneh secara umum, tapi coba kita lihat dengan pendekatan lain. Ternyata intan dan arang termasuk alotrop karbon, di mana material penyusunnya sama-sama dari atom karbon tetapi bentuk struktur atau kerangkanya berbeda. Perbedaan struktur ini terjadi karena proses pembentukan yang berbeda pula. Intan terbentuk di kedalaman bumi dengan tekanan dan temperatur tinggi serta waktu yang cukup lama, sedangkan arang seperti yang kita ketahui terbentuk dari proses yang jauh lebih mudah dan cepat dibandingkan intan. Kita dapat melihat sudut pandang yang berbeda dari sebongkah intan dan arang, tidak hanya secara nilai fisik saja tapi juga secara historis. Semesta adalah sekolah terbesar sepanjang masa yang menyimpan banyak rahasia dan kisah penuh makna. Tinggal kita yang mau atau tidak menyibak rahasia dan memaknai kisah tersebut.

Tuhan menciptakan manusia dengan potensi yang sama. Proses yang kita jalanilah yang menentukan hasil akhirnya. Sering kali kita hanya fokus pada hasil tanpa memperhatikan proses. Kita melihat Cristiano Ronaldo sebagai pesepak bola hebat, tanpa tahu berapa banyak waktu yang dia habiskan untuk berlatih. Kita melihat J.K. Rowling sebagai penulis sukses tanpa memahami kesulitannya di awal karir kepenulisan. Bahkan mungkin, kita hanya melihat dan iri pada prestasi teman tanpa mau tahu apa yang sudah dia alami sehingga sampai pada titik itu. Kita ingin seindah intan, tetapi usaha kita masih sebatas arang. Ini persoalan klise banyak orang, tak terkecuali mereka yang kita anggap hebat sekalipun. Bedanya, mereka segera bergerak ketika sadar bahwa proses seperti arang tidak akan menghasilkan intan.

Lalu sebagian dari kita menyangkal “Kita tahu kok, bahwa untuk sukses harus dibarengi usaha dan kerja keras. Kita sudah berusaha, tapi tetap tidak seindah intan, tidak sehebat Cristiano Ronaldo, tidak sesukses J.K. Rowling dan bahkan tidak lebih baik dari anak tetangga sebelah”. Kerja bagus kawan, kamu hebat. Tidak banyak orang yang sadar kemudian tergugah untuk berusaha. Ragamu pasti lelah karena telah bekerja keras, tapi jangan biarkan hati dan pikiranmu juga ikut lelah. Prosesmu, kamu yang menjalaninya. Hasilmu, kamu yang akan menikmatinya. Yang perlu disaingi adalah egomu, bukan mereka ataupun anak tetangga. Tentukan standar yang tepat. Kamu adalah kamu. Kamu bisa sukses dengan cara dan standarmu sendiri. Membandingkan kesuksesan dengan standar orang lain hanya akan menyiksa diri sendiri. Kamu tidak akan punya waktu istirahat, sebab kamu tidak tahu berapa banyak bintang yang bersinar di langit.

            Kamu bisa menjadi salah satu bintang yang bersinar tanpa harus berusaha lebih terang dari yang lain. Setiap orang punya potensi dan pesonanya masing-masing. Gelar dan penghargaan yang diberikan masyarakat adalah bonus. Jika kamu sudah berusaha dan bekerja dengan baik, hasilnya juga akan baik. Tidak harus berpengaruh besar pada masyarakat luas, bisa dari orang-orang sekitar, atau setidaknya diri sendiri yang merasakan nilai positif itu. Mungkin terdengar kontradiktif, bahwa manusia punya potensi yang sama, tetapi kapasitas yang berbeda. Kita analogikan dengan kerja bakti pembangunan mushalla. Setiap warga memiliki potensi untuk membantu dengan kapasitasnya masing-masing. Ada yang berdonasi untuk bahan material, ada yang bersedia tenaga, ada yang suka rela menyiapkan konsumsi untuk para pekerja. Setiap peran memiliki kontribusi yang sama-sama baik. Ketika mushalla itu rampung dibangun, setiap peran tadi merasakan kesan dan pengalaman batin yang berbeda tentunya.

Itu artinya tidak semua orang bisa menjadi intan?. Tentu saja, bahkan arang yang diperlakukan sama seperti intan belum tentu menjadi intan. Kita melihat intan sebagai permata yang indah, kita tahu bahwa untuk menjadi indah ada proses yang tidak mudah. Kita sering mendengar kalimat bijak “Man jadda wajada”, “temen tinemu”, siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan mendapatkan (keberhasilan). Itu mempertegas bahwa dunia ini penuh tantangan dan yang tak memiliki daya juang akan tertinggal. Intan kita asumsikan sebagai simbol keindahan, kesuksesan, dan keberhasilan atas usaha dan kerja keras. Tetapi menjadi seperti intan bukanlah standar pencapaian. Kita memang harus berusaha, sebisa dan semampu kita tanpa harus menyamakan pencapaian dengan orang lain. Fokus pada tujuan adalah baik, tetapi menikmati setiap proses akan jauh lebih menarik. Tetap berusaha dan yakin bahwa Tuhan menilai proses dan perjuangan.

0 comments:

Posting Komentar