Rabu, 14 April 2021

Air Kehidupan

  (Laily Alfath)

 

 

 

""Pemaknaan sederhana dalam kehidupan akan melahirkan kebahagiaan yang mahal. -Laily Alfath-"

 

        Setiap makhluk hidup membutuhkan air. Tanpa air kehidupan tidak akan dapat berlangsung lama. Sama halnya dengan "kebahagiaan". Setiap makhluk hidup membutuhkan "kebahagiaan", tak terkecuali manusia. Setiap tingkah laku manusia berujung pada keinginan pemenuhan kebahagiaan. Namun sayangnya tidak semua orang berpikir mengambil jalan yang tepat untuk memenuhi kebahagiaannya. Setiap orang punya caranya tersendiri untuk bahagia. Ada yang bahagia cukup dengan berkumpul bersama orang-orang yang disayang, ada yang bahagia dengan cara travelling, ada yang bahagia dengan cara nge-game, ada yang bahagia dengan cara makan ice cream, ada yang bahagia dengan cara menikmati senja di atap atau balkon rumah, dan masih banyak lainnya. Kalau kamu terbiasa melakukan hal apa untuk bahagia?

        Setiap orang punya cara bahagia yang berbeda, mulai dari cara bahagia seorang presiden, pejabat negara, CEO , rakyat biasa, bahkan seorang filsuf terkenal. Kamu pernah dengar Aristoteles? Yap benar! Aristoteles filsuf Romawi yang sangat terkenal. Aristoteles juga punya cara tersendiri untuk bahagia. Bagi Aristoteles, hakikat kebahagiaan bersumber dari dalam diri sendiri. Karena menurutnya sumber kebahagiaan yang didapatkan dari luar dirinya, tidak akan memberikan makna kebahagiaan itu tersendiri. Bahkan tatkala kita mengharapkan kebahagiaan yang bersumber dari luar, hal itu hanya akan menuai kekecewaan atau bahkan penderitaan. Aristoteles menyebut konsep itu dengan sebutan "Eudaimonia". Eudaimonia berasal dari Bahasa Yunani yang berarti kebahagiaan atau kesejahteraan1. Eudaimonia dapat diartikan sebagai tindakan rasional untuk mendapatkan hal yang membuat kita "bahagia". Salah satu tindakan rasional untuk mendapatkan kebahagiaan adalah dengan melakukan suatu kebaikan. Proses dalam melakukan kebaikan ini dilandaskan berdasarkan landasan moral. Pada konsep Eudiamologi ini, Aristoteles memperkenalkan adanya 5 prinsip untuk mencapai kebahagiaan di antaranya: 1) perkembangan diri, 2) penerimaan diri (self acceptance), 3) tujuan hidup, 4) penguasaan kita terhadap sesuatu, dan 5) hubungan yang positif dengan diri kita. Jika kita mengejar standar sosial untuk menjadikan barometer kebahagiaan kita, itu bukanlah suatu kebahagiaan namun bisa jadi itu adalah penderitaan. Jalani kehidupan kita sesuai dengan jalan pemikiran kita. Selain ke-lima prinsip tersebut, Aristoteles juga menjelaskan ada tiga cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan diantaranya: 1) kenalilah diri kita secara mendalam, 2) kembangkan potensi unik yang ada pada diri kita, dan 3) gunakan potensi unik yang kita miliki untuk mencapai tujuan hidup kita. Berdasarkan konsep Eudiamologi tersebut point penting dari suatu kebahagiaan adalah bersumber dari dalam diri kita sendiri.

        Sejalan dengan konsep Eudiamologi yang diciptakan oleh Aristoteles, pernah kah kamu mendengar salah satu kisah pewayangan tentang perjalanan Bima mencari air kehidupan? Yap, betul banget Bima si pangeran kedua dari Pandhawa atau sering juga disebut dengan nama Werkudara. Pada kisah pewayangan tersebut dikisahkan bahwa Bima diutus oleh Guru Drona untuk mencari air kehidupan ke dasar samudra. Sang guru menyampaikan bahwa jika Bima berhasil mendapatkan air kehidupan itu, Bima akan mendapatkan kebahagiaan dan kejayaan di kehidupannya. Keempat saudaranya sebenarnya telah melarang Bima untuk pergi ke dasar samudra. Namun karena ketakdziman seorang Bima terhadap gurunya, ia tetap pergi demi memenuhi titah sang guru. Padahal titah itu hanyalah kamuflase dari sang guru dengan niat untuk melenyapkan Bima. Bima pun berangkat menuju samudra, sesampainya di sana Bima dililit oleh seekor naga. Pertarungan keduanya tak terelakkan, hingga akhirnya berkat aji-aji kuku Pancanaka Bima berhasil mengalahkan naga tersebut dan akhirnya sang naga tewas di tangan Bima. Setelah tewasnya sang naga, Bima bertemu dengan seorang Dewa yang tubuhnya tidak lebih tinggi dari telapak tangan Bima. Dewa tersebut adalah Dewa Ruci. Dewa Ruci mengutus Bima untuk masuk ke dalam telinganya. Berkat kesaktian sang dewa, Bima bisa masuk ke dalam telinga sang dewa. Ketika Bima berada di dalam telinga sang dewa, ia melihat kehidupan yang sangat luas. Tak berselang lama munculah suara yang mengatakan, "air kehidupan yang kau cari itu tidak akan kau temukan di manapun. Kebahagiaan itu terletak dari dalam dirimu sendiri"2

        Berdasarkan prinsip Eudiamologi dan petuah dari Dewa Ruci, kita seolah kembali diingatkan bahwa kebahagiaan bukan untuk dicari tapi diciptakan dari dalam diri sendiri. Setiap kita berhak untuk bahagia tanpa mengusik kehidupan orang lain. Setiap kita mampu untuk menciptakan kebahagiaan dari dan untuk diri kita sendiri. Semua bergantung pada penyusunan mindset kita dalam memaknai kebahagiaan dalam hidup. Standar kebahagiaan kita bukan terletak pada standar orang lain. Kita adalah penentu kebahagiaan kita sendiri.

 

Daftar Rujukan

1Satu Persen-Indonesian Life School. (2021, 7 April).  Cara Bahagia Ala Tokoh Filsafat Aristoteles (Apa itu Eudaimonia?) Diakses 10 April 2021, dari https://www.youtube.com/watch?v=bbzqC5jL-I0

2https://id.wikipedia.org/wiki/Dewa_Ruci

 

 


 

0 comments:

Posting Komentar