Kamis, 26 Mei 2022
Jumat, 05 November 2021
Harmoni
"Akar jati bisa bernilai tinggi sekalipun tak muncul di permukaan.
Daun jati juga tetap rendah hati, tak segan gugur ketika diperlukan"
~Dyah Santoso
Dulu ketika
sekolah atau kuliah pernah nggak kepikiran “kok ada ya anak yang rela bolos
pelajaran demi ikut organisasi?”. Atau sebaliknya “ada ya anak yang jadi singa di kelas, tapi pas keluar kelas
taringnya hilang?”. Ketika di tempat kerja pun demikian, kita mendapati
berbagai karakter yang terkesan bertolak belakang. Ada yang lebih suka bekerja
tanpa banyak aturan karena merasa bisa mengeksplor kemampuannya. Ada yang
justru kebingungan ketika diberi pekerjaan tanpa aturan khusus karena merasa
tidak ada yang bisa jadi acuan. Kalau diperhatikan karakter orang-orang
tersebut memang terlihat bertolak belakang, tapi keduanya justru saling
melengkapi.
Ada
banyak hal yang tidak sama di dunia ini, tapi tetap bisa berjalan beriringan.
Kita butuh orang yang punya loyalitas tinggi dengan organisasinya, sebab organisasi
itu harus tetap hidup dan perannya masih dibutuhkan anggotanya. Kita juga butuh
orang yang rajin masuk kelas selagi sebagian teman berorganisasi, karena guru atau
dosen patut dihargai dedikasinya. Beberapa jenis pekerjaan butuh orang yang kreatif, tanpa banyak
arahan. Tapi di beberapa pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, perlu
orang-orang yang bisa beradaptasi dengan banyak tuntutan profesionalitas.
Masing-masing karakter manusia punya peran, meski terkadang tampak kontras namun saling menjaga keseimbangan.
Dunia
ini dihuni oleh berbagai macam rupa, karakter, latar belakang, maupun pola
pikir. Keberagaman itu yang membuat kita berkembang. Kita jadi tahu bahwa ada
lebih dari satu cara berjalan, melihat, dan bertumbuh. Cara kita tidak selalu
yang paling tepat. Satu cara yang berhasil pada kita, belum tentu berhasil pula
pada orang lain, pun sebaliknya. Keberagaman itu membuat kita terkoneksi satu
sama lain, saling mengisi, dan melengkapi potongan puzzle yang hilang. Kita
punya kekurangan dan prioritas yang membuat kita tidak bisa melakukan banyak
hal secara bersamaan. Kita butuh orang lain, dan oleh karenanya setiap orang memiliki
peran.
Ibarat sebuah pohon, setiap bagian memiliki peran masing-masing. Jika kita melihatnya lebih luas, tidak ada satu bagian yang lebih unggul atau lebih rendah perannya dari yang lain. Akar yang tidak tampak di permukaan, justru adalah penyokong pohon hingga mampu berdiri kokoh. Bahkan daun yang sudah gugurpun bisa menjadi kompos untuk pohon itu sendiri. Kita hanya berbeda tanggung jawab, tapi sama-sama berperan. Yang di atas bukan berarti lebih tinggi, pun sebaliknya. Pada tingkatan orang-orang yang mampu menerapkan hal ini pada dirinya, maka orang-semacam ini tidak mudah terbang ketika disanjung dan tidak patah ketika jatuh.
Sedikit atau banyak, peran kita berdampak untuk orang lain dan sekitar. Jangan dikira bungkus permen yang kita buang sembarangan tidak dapat memicu banjir. Bungkus permen tadi bisa jadi "provokator" bagi orang lain untuk ikut membuang sampah sembarangan. Jika ada sedekah jariyah, bukan tidak mungkin ada dosa jariyah kan? Layaknya sebuah film, ada protagonis dan antagonis. Seorang protagonis bukan yang selalu benar tanpa celah, dia juga bisa salah. Hanya saja dia punya lebih banyak scene cerita baik. Seorang antagonis juga bukan yang selalu salah, dia bisa punya sisi kebajikan sekalipun tidak sebanyak protagonis.
Tulisan ini bukan mengajak kita untuk menilai baik buruknya seseorang, melainkan sebagai reminder untuk diri sendiri (khususnya) dan para pembaca (pada umumnya). Jika saat ini posisi kita sedang di bawah, semoga itu tidak menjadikan kita lemah dan rendah. Kita bisa meyakinkan diri bahwa kita punya peran sekalipun tidak terlihat. Posisi kita yang di bawah juga bukan alasan untuk merasa pantas dikasihani dan dimaklumi. Kita punya kesempatan yang sama seperti mereka selagi ada kemauan untuk tumbuh. Dan jika saat ini posisi kita sedang di atas, semoga itu tidak menjadikan kita sombong dan lalai. Kita tidak mungkin berada di atas kalau tidak ada yang menyokong dari bawah atau menarik dari atas. Artinya posisi kita saat ini juga ada andil dari orang lain. Kita tidak mudah melabeli buruk seseorang hanya karena kita di sisi yang lebih baik. Kita tahu bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi baik maupun menjadi buruk. Ini hanya pengingat untuk menggunakan kacamata yang tepat dalam melihat. Kapan kita menggunakan kacamata "cembung" dan kapan kita menggunakan kacamata "cekung".
Sabtu, 16 Oktober 2021
Amah
Oleh : Laily Alfath
"Jadilah pelayan Tuhan dengan sepenuh hati. Maka hadiah dari Tuhan akan datang tanpa henti. -Laily- Alfath-
Sehebat apapun manusia, ada kalanya dia mempertanyakan pada dirinya sendiri lewat jouska. Berkontemplasi terkait : Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah jalan yang ditempuh sudah benar? Ke depannya mau gimana? Dan banyak pertanyaan random lain yang berkelebatan. Pernah atau sering nih kaya gitu? Hehehe... Kalau kamu pernah, nggak apa-apa itu normal kok. Bahkan menurutku semua manusia pernah mengalami jouska dengan topik mempertanyakan kapasitas dirinya. Apalagi setelah tersulut konten sosial media tentang pencapaian orang-orang yang ada di kontak WhatsApp atau following instagramnya 😂.
Hidup ini laksana panggung parodi. Betapa hampir semua orang sibuk membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaiannya. Mungkin awalnya sebatas lihat untuk cambuk bertumbuh. Eh ternyata tanpa sadar perlahan menghakimi diri karena tidak bisa berdiri di titik yang orang lain capai. Padahal badai yang dilalui berbeda, peta yang dibawa berbeda, arah yang diambil berbeda, dan pulau yang hendak dituju juga berbeda. Lantas apa alasan menyamakannya? Setidak adil itukah kita pada sosok yang selalu menjadi support system terbaik pada kondisi apapun? Sosok yang berjuang sejauh ini melewati banyak badai, bangkit lagi setiap kali jatuh, memeluk diri sendiri tatkala dunia menutup mata dan telinga. Kita boleh terinspirasi dari jejak orang lain, tapi skenario yang mereka dapatkan dari Tuhan belum tentu sama dengan skenario yang bakalan Tuhan kasih ke kita.
Setiap kita berharga dan layak bahagia sebagaimana orang di luar sana. Tapi bahagia versi Tuhan untuk mereka, belum tentu sama dengan versi Tuhan yang bakalan dikasih ke kita. Bahagia tidak selalu dikemas senyum merekah dari fajar hingga lahirnya malam. Bahkan bahagia bisa dikemas dengan air mata haru tanpa bisa berkata-kata. Bahagia bukan selalu tentang siapa yang tersenyum lebih awal atau lebih lama. Karena orang yang terluka hatinya juga bisa berpura-pura tersenyum ceria lebih lama untuk terlihat bahagia. Tapi bahagia adalah tentang pemaknaan amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sudahkah kita amanah dalam menjalankan tugas yang diberikan-Nya? Iya amanah dari Tuhan. Kamu nggak lagi salah baca kok. Maksud aku gini : kamu ditakdirkan untuk bertumbuh menjadi sosok anak dalam keluargamu, kamu ditakdirkan bekerja di salah satu instansi, kamu ditakdirkan bertumbuh di lingkunganmu sekarang, dan segala aspek kehidupanmu itu adalah bentuk "amanah" yang Tuhan titipkan hanya ke kamu. Karena Tuhan memilihmu, bukan orang lain. Sudahkah menunaikannya dengan sepenuh hati? Atau justru pingin komplain sama Tuhan karena ngerasa Tuhan nggak adil? Atau kita yang nggak kuat?
Manusia itu berbatas, saking berbatasnya seringnya keburu menghakimi situasi yang barusan ia alami. Padahal bisa saja Tuhan menyelipkan hadiah besar dengan syarat kita harus mencecap duka di awal cerita. Tatkala manusia tengah dirundung duka, seringnya yang muncul adalah nasihat "sabar ya". Bagi beberapa orang nasihat "sabar ya" terdengar klise, tak berguna, tidak menyelesaikan masalah. Padahal bisa jadi dengan "sabar" Tuhan akan menggantinya dengan hadiah yang lebih mewah untuk kita. Who knows? Toh juga merutuki keadaan tidak akan bisa mengubah takdir. Hanya menghabiskan energi dan waktu yang nggak bisa diambil lagi kalau habis.
Ketika kehidupan kita tidak berubah, bukan berarti merutuki keadaan menjadi diwajarkan. Semua bergantung pada "bagaimana kita mempersepsi" segala takdir yang Tuhan berikan. Seseorang yang hidup dengan serba berkekurangan tapi syukurnya terhadap berkah sehat melangit ke angkasa, akan tetap bisa mencecap makna "bahagia". Orang yang bergelimang harta namun masih rakus menginginkan banyak hal tanpa mau berbagi, akan mengecap perasaan "was-was", merasa khawatir tersaingi oleh lainnya.
Pada takdir yang tengah kamu jalani saat ini, sudahkah mengoptimalkan pesan Tuhan untuk bertumbuh dan bekal kembali? Kecewa itu wajar, tapi solusi butuh aksi. Manusia adalah pelayan Tuhan. Hiduplah berbekal apa yang Tuhan suka dan tidak suka, bukan berbekal apa yang kamu suka dan tidak suka. Selayaknya pelayan, tahu diri dalam mengemban tugas adalah bekal utama. Tapi tenang, Tuhan tidak sekejam jaman kerja romusha yang menewaskan dan menyengsarakan banyak orang. Karena setiap yang kita lakukan demi kebaikan di jalan Tuhan, bakalan diganjar berlipat lipat oleh Tuhan. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Eitssss tapi begitu pula sebaliknya.
Minggu, 19 September 2021
Ragam
Rabu, 08 September 2021
Terra
"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-
Kamis, 02 September 2021
Jouska
(Dyah Santoso)
"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"
Entah sudah berapa kali tangan ini
bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf
tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah,
ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai
kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka
tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan
sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai
sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk
memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?
'Memulai' adalah langkah awal, akan ada
banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai
tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai.
Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak
mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah
memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini
butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita
sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan
puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di
awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai
bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar
bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.
Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana
seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa
jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan
motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai.
Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik
ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak
ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu
bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru
menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu
menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.
Setelah kita memulai, lantas bagaimana
menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari
pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin,
maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan
orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk
menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa
yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan
hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat
membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat,
yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan
tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")
Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga
komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang
tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk
promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri,
apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab
(butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa
ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang
sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah
dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track
menuju apa yang mau kita capai.
Flashback ketika memutuskan untuk menulis
di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan
di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk
membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian
diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis
dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful.
Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya
untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha
menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita
mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang
bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita
sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita
yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup
yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras
dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi
kenyataan".
#selfreminder





