Sabtu, 16 Oktober 2021

Amah

Oleh : Laily Alfath

 


"Jadilah pelayan Tuhan dengan sepenuh hati. Maka hadiah dari Tuhan akan datang tanpa henti. -Laily- Alfath-


      Sehebat apapun manusia, ada kalanya dia mempertanyakan pada dirinya sendiri lewat jouska. Berkontemplasi terkait : Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah jalan yang ditempuh sudah benar? Ke depannya mau gimana? Dan banyak pertanyaan random lain yang berkelebatan. Pernah atau sering nih kaya gitu? Hehehe... Kalau kamu pernah, nggak apa-apa itu normal kok. Bahkan menurutku semua manusia pernah mengalami jouska dengan topik mempertanyakan kapasitas dirinya. Apalagi setelah tersulut konten sosial media tentang pencapaian orang-orang yang ada di kontak WhatsApp atau following instagramnya 😂.

      Hidup ini laksana panggung parodi. Betapa hampir semua orang sibuk membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaiannya. Mungkin awalnya sebatas lihat untuk cambuk bertumbuh. Eh ternyata tanpa sadar perlahan menghakimi diri karena tidak bisa berdiri di titik yang orang lain capai. Padahal badai yang dilalui berbeda, peta yang dibawa berbeda, arah yang diambil berbeda, dan pulau yang hendak dituju juga berbeda. Lantas apa alasan menyamakannya? Setidak adil itukah kita pada sosok yang selalu menjadi support system terbaik pada kondisi apapun? Sosok yang berjuang sejauh ini melewati banyak badai, bangkit lagi setiap kali jatuh, memeluk diri sendiri tatkala dunia menutup mata dan telinga. Kita boleh terinspirasi dari jejak orang lain, tapi skenario yang mereka dapatkan dari Tuhan belum tentu sama dengan skenario yang bakalan Tuhan kasih ke kita.

      Setiap kita berharga dan layak bahagia sebagaimana orang di luar sana. Tapi bahagia versi Tuhan untuk mereka, belum tentu sama dengan versi Tuhan yang bakalan dikasih ke kita. Bahagia tidak selalu dikemas senyum merekah dari fajar hingga lahirnya malam. Bahkan bahagia bisa dikemas dengan air mata haru tanpa bisa berkata-kata. Bahagia bukan selalu tentang siapa yang tersenyum lebih awal atau lebih lama. Karena orang yang terluka hatinya juga bisa berpura-pura tersenyum ceria lebih lama untuk terlihat bahagia. Tapi bahagia adalah tentang pemaknaan amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sudahkah kita amanah dalam menjalankan tugas yang diberikan-Nya? Iya amanah dari Tuhan. Kamu nggak lagi salah baca kok. Maksud aku gini : kamu ditakdirkan untuk bertumbuh menjadi sosok anak dalam keluargamu, kamu ditakdirkan bekerja di salah satu instansi, kamu ditakdirkan bertumbuh di lingkunganmu sekarang, dan segala aspek kehidupanmu itu adalah bentuk "amanah" yang Tuhan titipkan hanya ke kamu. Karena Tuhan memilihmu, bukan orang lain. Sudahkah menunaikannya dengan sepenuh hati? Atau justru pingin komplain sama Tuhan karena ngerasa Tuhan nggak adil? Atau kita yang nggak kuat?

      Manusia itu berbatas, saking berbatasnya seringnya keburu menghakimi situasi yang barusan ia alami. Padahal bisa saja Tuhan menyelipkan hadiah besar dengan syarat kita harus mencecap duka di awal cerita. Tatkala manusia tengah dirundung duka, seringnya yang muncul adalah nasihat "sabar ya". Bagi beberapa orang nasihat "sabar ya" terdengar klise, tak berguna, tidak menyelesaikan masalah. Padahal bisa jadi dengan "sabar" Tuhan akan menggantinya dengan hadiah yang lebih mewah untuk kita. Who knows? Toh juga merutuki keadaan tidak akan bisa mengubah takdir. Hanya menghabiskan energi dan waktu yang nggak bisa diambil lagi kalau habis. 

      Ketika kehidupan kita tidak berubah, bukan berarti merutuki keadaan menjadi diwajarkan. Semua bergantung pada "bagaimana kita mempersepsi" segala takdir yang Tuhan berikan. Seseorang yang hidup dengan serba berkekurangan tapi syukurnya terhadap berkah sehat melangit ke angkasa, akan tetap bisa mencecap makna "bahagia". Orang yang bergelimang harta namun masih rakus menginginkan banyak hal tanpa mau berbagi, akan mengecap perasaan "was-was", merasa khawatir tersaingi oleh lainnya.

      Pada takdir yang tengah kamu jalani saat ini, sudahkah mengoptimalkan pesan Tuhan untuk bertumbuh dan bekal kembali? Kecewa itu wajar, tapi solusi butuh aksi. Manusia adalah pelayan Tuhan. Hiduplah berbekal apa yang Tuhan suka dan tidak suka, bukan berbekal apa yang kamu suka dan tidak suka. Selayaknya pelayan, tahu diri dalam mengemban tugas adalah bekal utama. Tapi tenang, Tuhan tidak sekejam jaman kerja romusha yang menewaskan dan menyengsarakan banyak orang. Karena setiap yang kita lakukan demi kebaikan di jalan Tuhan, bakalan diganjar berlipat lipat oleh Tuhan. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Eitssss tapi begitu pula sebaliknya.


Minggu, 19 September 2021

Ragam

Oleh : Laily Alfath



"Dunia akan selalu menyuguhkan ketidakjelasan. Tugasmu bukan memperjelas, tapi belajar bijak dalam memaknai semesta dengan keanehannya. -Laily- Alfath-"


      Jika dalam rumus matematika 1 + 1 = 2, maka tidak dengan rumus dunia. Nalar manusia tidak selamanya dinilai benar oleh semesta. Hal yang awalnya menurut kita buruk, belum tentu ujungnya buruk. Hal yang awalnya indah, belum tentu ujungnya bahagia. Kenapa? Karena dunia memang menyuguhkan banyak hal dengan ketidakjelasannya. Kenapa tidak jelas? Karena nalar manusia serba berbatas dalam memaknainya. Namun sayangnya, makhluk berlabel "manusia" ini sering terlalu percaya diri berbekal akal dan perasaanya sehingga menuhankan Maha Benar persepsinya.

      Tidak suka bukan berarti tidak bisa. Tidak suka bukan berarti hal itu dinilai absolut salah. Tidak suka bukan berarti ujungnya akan selalu buram. Tidak suka versimu belum tentu sama dengan versi mereka. Setiap orang punya kacamatanya masing-masing. Kacamata yang dibentuk berbekal pola asuh dari orang tua, lingkungan sekitar, dan pengalaman yang telah dicicipinya.

      Dunia memang hadir dengan segala ketidakjelasannya. Ketidakjelasan itulah  seringnya melahirkan khawatir yang menghantui makhluk berlabel "manusia". Padahal khawatir itu mahal. Setiap khawatir yang dilahirkan, dibayar mahal dengan atau tanpa sadar. Kenapa? Karena setiap kekhawatiran akan menyita banyak energi untuk memikirkannya, menyita banyak waktu yang tidak bisa ditarik lagi, menyita emosi yang mampu mengurasnya hingga habis tak tersisa, dan bahkan bisa juga turut membayar dengan uang saking khawatirnya. Khawatir itu wajar jika tidak berlebihan.


      Seringnya tatkala khawatir mengelabuhi, ekspektasi berjarak jauh dari realita, ujungnya kecewa dan marah. Setiap manusia boleh marah. Karena itu adalah salah satu bentuk perasaan yang lahir dalam merespon keadaan. Tapi label "wajar " tidak lantas membenarkan "tindakan marah yang berlebihan". Setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah. Marah berlebihan yang dituruti, hanya akan menghancurkan dan bisa berujung penyesalan.


      Manusia itu lucu. Ia paham bahwa makhluk Allah yang bernama "Hati" adalah makhluk yang mudah dibolak-balikkan oleh Sang Pencipta. Akal adalah makhluk penyeimbang (hati) yang dititipkan Allah pada manusia. Semengecewakan apapun dunia terhadap kita, cobalah menyimak kode semesta secara lebih luas. Karena Allah tidak pernah ingin menghancurkan hamba-Nya. Semua manusia memang dibekalkan hati dan akal. Tapi persepsi "benar dan salah" bisa dimaknai subjektif bagi setiap manusia. 


      Setiap hal yang kamu lakukan, akan bisa dimaknai dengan ragam warna oleh manusia. Penilaian itu adalah hak mereka. Kamu tidak bertanggung jawab pada pemikiran mereka. Tanggung jawabmu hanyalah pada Tuhan mengenai hal yang sudah kamu lakukan. Setiap orang berhak berpendapat. Sementara kita juga berhak untuk mengabaikannya. Selain Tuhan, kamu adalah satu-satunya sosok yang membersamai prosesmu, mengerti niatmu, dan memahami perasaanmu. Sementara persepsi orang lain adalah kacamata tambahan dalam memandang dunia. Kamu boleh memakainya, juga boleh mengabaikannya. Hal yang penting adalah, bijaklah dalam menentukan kacamata yang hendak kamu pakai. Karena persepsi yang telah kamu pilih, akan berimbas pada perasaan dan keputusan yang akan kamu putuskan selanjutnya.

Rabu, 08 September 2021

Terra

Oleh : Laily Alfath




"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-


      Hay Terra! Terima kasih sudah kuat menjadi tempat berpijak ribuan keturunan anak Adam yang sering tidak tahu diri ini. Kami tahu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sangat luas. Bahkan sangat luas, hingga tidak semua manusia saling mengenal, padahal nenek moyang mereka sama. Bahkan sangat luas, hingga munculah ragam adat dan norma yang turut mewarnai pertumbuhan mereka. Bahkan sangat luas, hingga semua manusia mendapatkan kelas kehidupan beragam yang tak satupun sama persis. Bahkan sangat luas, hingga masih mampu menampung rentetan bualan dan keegoisan manusia. Hay Terra, luasmu seolah hendak mengajarkan manusia betapa keluasan hati itu menunjukkan level sesungguhnya kapasitas manusia. Namun tidak semua manusia paham dan berkenan. 


      Terra diciptakan dengan sangat luas, hingga menyuguhkan beragam pelajaran untuk Adam dan keturunannya. Pelajaran yang tanpa sadar membentuk kapasitas setiap manusia. Entah itu hanya seluas cangkir kecil, mug, botol minum, ember, bak, kolam, danau, hingga samudera. Pada pelajaran di sekolah kita diajarkan dulu konsepnya barulah kita menghadapai ujian. Sementara pada pelajaran kehidupan, kita diuji dulu barulah kita paham konsep kehidupan. Pada ujian itulah kita bertumbuh dan dibentuk secara perlahan. Setiap ujian memang tidak pernah mudah, dan akan terus naik level kesulitannya. Tapi di sanalah kapasitas kita dibentuk semakin luas.


      Kapasitas kita dalam menghadapai ujian sangatlah berperan penting. Anggaplah ujian ini berwujud dua buah jeruk lemon. Masing-masing lemon diperas dan dikucurkan ke cangkir kecil dan samudera. Menurutmu lebih pekat mana rasa lemonnya antara air lemon di cangkir kecil atau di dalam samudera? Yap! Tentu rasa lemon itu lebih pekat yang berada di dalam cangkir kecil. Hal ini sama dengan kapasitas kita. Tatkala hati kita tetap kita pertahankan dengan kapasitas yang kecil, apapun masalah yang hadir akan terasa asam seperti air lemon di dalam cangkir. Namun tatkala hati kita seluas samudera, seberapapun air lemon yang dimasukkan tidak akan mampu mendominasi air di samudera.


      Semua butuh proses. Setiap manusia tengah berjuang pada track nya masing-masing. Kapasitas setiap orang memang berbeda. Beruntunglah tatkala kamu merasa kapasitasmu kian hari semakin luas. Tapi itu bukan berarti menjadi ajang pamer untuk merasa paling hebat karena merasa sudah lulus ujian dengan kapasitas yang semakin luas. Setiap orang tentu ingin menjadi versi terbaik dirinya. Sementara versi terbaik mereka belum tentu sama dengan versi terbaikmu. Mereka yang berbeda denganmu tidak selamanya salah dan kalah.  Proses kalian berbeda. Jika kamu terjebak pada ajang pamer dan merasa mulai menuhankan kapasitasmu yang paling luas, hati-hati! Justru saat itulah menunjukkan bahwa kamu hanya haus apresiasi dan sedang ditipu oleh dirimu sendiri (kapasitasmu tidak seluas yang kamu pikirkan). Laut tidak perlu menjelaskan seberapa dalam ia. Langit tidak perlu menjelaskan seberapa tinggi ia. Bintang tidak perlu menjelaskan seberapa bercahayanya ia. Apresiasi memang salah 1 kebutuhan manusia. Tapi jangan jadikan dirimu menjadi budak apresiasi orang lain. Karena perihal apresiasi orang lain adalah hal di luar kontrol kita. Semakin banyak kita berharap pada hal-hal di luar kontrol kita. Semakin banyak benih kecewa yang kita tanam dan berujung panen. 



      Kamu adalah sosok yang hanya satu di dunia. Prosesmu menentukan level kapasitasmu. Tidak akan ada ujian yang mudah. Setiap ujian sangat mungkin untuk menyuguhkan kecewa, air mata, bahkan duka. Hancur atau bertumbuh adalah dua pilihan yang disuguhkan dalam menghadapinya. Keputusanmu itulah yang akan menentukan kapasitasmu selanjutnya. Tuhan tak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya selagi ia masih mau datang. Setiap doamu akan dijawab dengan cara-Nya, sekalipun menurutmu tidak seketika.

Kamis, 02 September 2021

Jouska

 

(Dyah Santoso)


"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"

 

Entah sudah berapa kali tangan ini bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah, ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?

'Memulai' adalah langkah awal, akan ada banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai. Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai. Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.

Setelah kita memulai, lantas bagaimana menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin, maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat, yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")

Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri, apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab (butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track menuju apa yang mau kita capai.

Flashback ketika memutuskan untuk menulis di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful. Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi kenyataan".


#selfreminder 

Jumat, 27 Agustus 2021

Cinta Pertama Anak Perempuan

 (Dyah Santoso)




Aroma ini menyetel ulang memori silam.

Udara saat itu bahkan terasa nyata di dermis.

Masih terekam jelas gurat wajahmu dalam temaram.

Aroma paling manis tentangmu, jagung rebus di kala gerimis. 


Ah, aku masih hafal betul suara tawamu.

Cerita masa kecilku masih jadi favoritmu.

Sorot matamu tetap hangat meski suhu udara kian turun.

Aku saja yang kurang belajar, terlalu cepat membeku tanpa sempat mengembun.


Dulu,

Aku mungkin pernah tidak menyukaimu, tapi aku tidak pernah membencimu.

Kau masih jadi lelaki pertama.

Dan kini, segala tentangmu tak lagi ada yang kedua.

Kau bukan lagi embun yang bisa kusentuh.

Kau telah menguap, tak lagi bisa kurengkuh.

Tapi kau tetap tersimpan di sini, di hati dan memori.

Kamis, 26 Agustus 2021

Skenario Manusia

Oleh : Laily Alfath

"Mereka belum tentu salah, bisa jadi kacamatamu yang berdebu dalam memandangnya. -Laily Alfath"

 

      Bumi ini bukan surga. Setiap yang kita inginkan tidak seketika disuguhkan di depan mata. Bumi ini bukan surga, tempat di mana ego tidak pernah bersaing untuk saling mengenyangkan. Bumi ini bukan surga, tempat di mana dosa tak pernah diterima. Bumi ini bukan surga, tempat di mana semuanya serba mewah dan indah. Kita adalah manusia yang masih singgah di rumah sementara. Sebuah planet biru yang Tuhan utus sebagai rumah singgah semua manusia yang mendapatkan surat izin kehidupan. Sebuah planet yang penuh dengan suguhan hanya untuk manusia. Sebuah planet indah yang sudah dilengkapi dengan beragam fasilitas untuk kenyamanan manusia. Sebuah planet yang patuh terhadap titah Tuhannya. Sayang, tak semua manusia cukup tahu diri atas posisinya. Mereka berlaga bak seorang raja pada wilayahnya. Andai bumi ini bisa berteriak, mungkin ia akan berteriak mengeluh sesak. Sesak dengan beragam karakter manusia yang sering berseberangan. Sesak dipenuhi rentetan keinginan manusia tanpa batas. Sesak dengan rentetan ego yang terus dikenangkan, dan berakhir menyakiti sesama manusia. Bumi ini memang bukan surga!

      Sepanjang usiamu sampai saat ini sudah berapa macam karakter manusia yang telah kamu temukan?Apakah semuanya menyenangkan? Atau ada juga yang menyebalkan? Jika kamu perah bertemu dengan sosok yang menyebalkan, menjengkelkan, mengecewakan atau hal yang menurutmu tidak menyenangkan, tinggal ingat saja bahwa "bumi ini memang bukan surga!". Hahahaha.... Setiap perantau akan selalu merindukan rumahnya. Karena sesederhana apapun sebuah rumah, ia adalah tempat terindah untuk pulang dan mengurai lelah. Bumi bukanlah rumah abadi yang menjadi tujuan. Tapi surga adalah rumah abadi untuk berpulang. Tempat yang hanya dipenuhi oleh sukacita, dan tempat segala pengharapan pasti dikabulkan.

      Tapi mari kita kembali sadar pada kehidupan sekarang. Kita adalah manusi yang telah mendapatkan surat izin untuk mencicipi kehidupan sepanjang ini, sebelum kelak akhirnya berpulang. Pada proses kehidupan kita tentu ada banyak hal yang telah diajarkan oleh Tuhan melalui lingkungan sekitar. Entah itu dari orang tua, saudara, sahabat, teman, guru, maupun oleh orang-orang yang belum pernah kita kenal secara langsung. Secara sadar maupun tidak sadar, rentetan pelajaran kehidupan itulah yang ahirnya terakumulasi dan membentuk karakter kita dalam bersikap. Entah itu sikap yang ramah, cuek, bertanggung jawab, abai, mandiri, manja, jujur, bohong, maupun sikap lainnya. Pada kehidupan ini memang setiap orang akan menanggung resiko atas sikap yang ia tunjukkan. Misal : jika si A adalah orang yang ramah, maka si A harus siap menerima resiko jika banyak orang yang akan menyita waktunya untuk mengajaknya berkomunikasi. Sementara si B adalah orang yang cuek, maka si B harus siap menerima resiko bahwa ia tidak akan mempunyai banyak teman.

      Namun naasnya kehidupan di bumi ini cukup lucu. Betapa hampir semua orang hanya memandang suatu kejadian hanya dari satu sudut kacamata. Aku yakin sepanjang usiamu tentu kamu pernah menemukan seseorang yang bersikap kasar. Entah itu secara langsung, mendapat cerita dari orang lain tentang sikap kasar seseorang, atau mendapati netizen kasar di media sosial. Jika menemui orang yang seperti itu, apa yang kamu lakukan? Ngedumel dalam hati? Frontal membalas mereka dengan sikap yang menyebalkan juga? Bersikap bodo amat dan meninggalkan mereka? Atau bagaimana? Tapi apapun responmu, percayalah bahwa hal itu akan sangat berpengaruh terhadap psikismu dan orang yang tengah kamu hadapi. Seseorang yang pada kesehariannya terdengar dengan lontaran kalimat-kalimat kasar, secara singkat akan langsung dilabeli sebagai orang yang "tidak terpelajar", "menyebalkan", kasar", dan serangkaian label buruk lainnya. Secara norma, kalimat kasar memang tidak bisa dibenarkan. Tapi pernahkah kita berpikir panjang tentang "kelas keidupan seperti apa yang telah ia dapatkan sehingga ia bisa bersikap demikian?".

      Seringnya ketka kita sebal dengan seseorang, kita hanya memepedulikan "perasaan" kita, dan auto judgment atas hal yang mereka lakukan ‒tanpa tahu penyebab dari sikap yang mereka munculkan‒. Padahal sikap yang dimunculkan oleh manusia adalah manifestasi dari jiwanya. Setiap orang selalu punya pemicu kuat atas setiap sikap yang ia munculkan. Entah hal itu dibentuk dari masa lalunya, pola didikan, orang tuanya, kebiasaannya, maupun doktrin yang kurang tepat yang tanpa sengaja ia dapatkan. Seseorang yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter, cenderung akan tumbuh menjadi orang yang otoriter juga. Seseorang yang terbiasa segalanya serba disiapkan, maka akan cenderung tumbuh sebagai pribadi yang bergantung pada orang lain ‒tidak mandiri. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan kasar, juga akan cenderung bertumbuh menjadi pribadi yang kasar. Hasil pembelajaran itulah yang akhirnya terakumulasi dan membentuk suatu sikap yang tumbuh dalam dirinya. Seringnya kita tidak tahu atau bahkan tidak peduli atas badai panjang yang telah mereka lalui sehingga mereka bertumbuh dengan sikap seperti itu. Kita hanya peduli atas ‒perasaan kita. 

      Aku percaya bahwa Tuhan sejatinya mecipatakan semua manusia berhati baik tanpa ingin saling menyakiti. Tapi tidak semua manusia berksemepatan mendapatkan kelas kehidupan yang baik dan benar. Tidak semua manusia berkesempatan bertumbuh pada lingkungan yang tepat. Ketika mereka tidak mendapatkan kesempatan itu, apakah cukup bijak jika serta-merta menuntut mereka berperilau pada hal yang tidak pernah diajarkan dengan baik kepada mereka? Misal: seorang anak SD yang tidak pernah diajarkan pidato, bijakkah kita jika kita menuntutnya pandai berpidato? Tidak! Namun sayangnya perihal kehidupan ini menjadi hal yang cukup pelik untuk ditoleransi. Kita boleh tidak sepakat dengan sikap orang lain. Tapi bukan berarti kita merendahkannya. Setiap orang berkesempatan sama untuk bertumbuh di bumi ini. Jika menurutmu itu salah, pikirkanlah: hal apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu memperbaikinya? Bukankah kita semua hanyalah kumpulan tamu di bumi ini? Lantas kenapa tidak saling membantu? Bukankah kita semua ini sama-sama tamu? Lantas kenapa harus saling membandingkan merasa lebih tinggi? Manusia hanyalah seonggok daging yang diberi kesempatan nyawa untuk mencicipi dunia sementara. Tatkala nyawa itu dicabut, segala kehendak tidak akan pernah sampai.


Inspiring By :

Syahid, Muhammad. 2018. Egosentris.Yogyakarta : Gradien Mediatama.