Kamis, 26 Mei 2022

Panggu

Oleh : Laily Alfath




"Andai semua hal diperbolehkan untuk memaksa Tuhan, maka alam semesta akan kacau balau karena ulah manusia. -Laily Alfath-


          Kita paham bahwa Tuhan memegang andil setiap lini kehidupan manusia. Kita paham bahwa selain dari tangan kita, ada kekuasaan Tuhan yang lebih agung dalam menentukan. Kita paham bahwa Tuhan maha mengetahui dibanding manusia sekalipun sekelas sosok professor terkenal di dunia. Kita juga paham bahwa ada ranah yang tidak bisa terjamah oleh manusia.

          Setiap manusia bertumbuh, melangkah maju menuju arah kematiannya. Setiap manusia belajar, untuk mengais bekal sebelum menghadap Tuhannya. Setiap manusia tanpa sengaja terpeleset, ada yang setelahnya sadar, ada juga yang terlena. Setiap manusia punya catatannya masing-masing, namun banyak juga yang menginginkan bahkan sampai usil pada cerita orang lain. Berawal dari saudara, meluaslah menjadi miliaran orang asing dengan nasab masing-masing. Berawal dari purba, katanya menuju modernisasi dengan segala kecanggihan yang pongah. 

          Setiap bayi yang terlahir akan menjadi korban percobaan pola asuh orang tuanya. Bahkan hal ini didukung dengan statement, "Setiap anak tidak bisa memilih orang tuanya. Tapi sosok ibu bisa memilihkan sosok ayah yang baik untuk anaknya". Statement serupa sering berseliweran di beranda sosial media. Tapi pernah nggak kamu kepikiran bahwa, "sepasang orang tua juga nggak bisa milih anak-anak yang dilahirkannya". Sekalipun setiap orang tua sudah mengupayakan dengan segala jerih payahnya dengan mencoba melengkapi kebutuhan secara materi dan kasih sayang ala mereka masing-masing, nyatanya itu nggak menjamin setiap anak yang dibesarkannya dengan banting tulang bisa jadi anak yang minimal berbakti kepada mereka.

          Kata John Lock anak ibarat kertas putih dan yang mewarnainya adalah orang tua. Apakah ketika seorang anak tumbuh beringas, maka itu murni kesalahan orang tua? Jika setiap orang tua membesarkan anaknya dengan balutan kasih sayang, bukankah semestinya tidak pernah ada seorang bajinganpun yang tersebar di dunia? Namun nyatanya yang terjadi adalah setiap orang tua membesarkan putra putrinya penuh dengan kasih sayang tapi ketika mereka sudah tumbuh dewasa, hal yang telah ditanam oleh orang tuanya belum tentu dapat dipanen oleh mereka.


          Setiap orang tua punya pola asuhnya masing-masing. Sekalipun tidak semua orang tua berkesempatan mengenyam bangku pendidikan yang tinggi, tapi naluri orang tua selalu mengupayakan yang terbaik untuk anaknya. Sekalipun orang tua tidak 100% benar dalam segala hal, tapi orang tua memberikan hasil evaluasi kehidupan agar manisnya dapat dinikmati anaknya. Sekalipun tidak semua orang tua mampu mengeluarkan kata-kata bijak untuk mendamaikan batin anaknya, tapi setiap kehadirannya berharap mampu bisa menguatkan putra-putrinya.


          Setiap detak jantungnya tidak akan lepas dari memikiran putra putrinya. Setiap tarikan nafas hanya untuk putra putrinya. Andai urusan usia ini bisa dinego, mungkin tidak ada orang tua yang menginginkan wafat ketika putra-putrinya belum tumbuh dewasa dan siap menghadapi kehidupan. Andai urusan anak bisa di-request, belum tentu sosok mereka akan menginginkan kita menjadi putra-putrinya. Andai segala kepayahan dan rasa sakit bisa dialihkan, mungkin semua orang tua akan meminta semua itu ditimpakan kepadanya agar anaknya bisa menjalani hari tanpa duka.


          Orang tua tetaplah manusia. Sekalipun usia dan pengalamannya jauh lebih banyak, mereka bukan Tuhan yang Maha Benar. Begitu pula dengan seorang anak. Mereka juga manusia. Sekalipun usia dan pengalaman jauh dari orang tua, tapi mereka juga terus belajar dari sekitar yang ia lihat. Setiap manusia ingin dipahami, tapi tidak semua manusia mau mencoba saling memahami. Tatkala lagi bejo ketemu orang yang enggan memahami, hal itu justru menjadi kelas belajar untuk lebih legowo dalam urusan sesama manusia. Bahkan tidak hanya tentang urusan sesama manusia, tapi juga menjadi ujian dan penilaian oleh Tuhan.

Jumat, 05 November 2021

Harmoni


(Dyah Santoso)



"Akar jati bisa bernilai tinggi sekalipun tak muncul di permukaan.

Daun jati juga tetap rendah hati, tak segan gugur ketika diperlukan"

~Dyah Santoso


Dulu ketika sekolah atau kuliah pernah nggak kepikiran “kok ada ya anak yang rela bolos pelajaran demi ikut organisasi?”. Atau sebaliknya “ada ya anak yang jadi singa di kelas, tapi pas keluar kelas taringnya hilang?”. Ketika di tempat kerja pun demikian, kita mendapati berbagai karakter yang terkesan bertolak belakang. Ada yang lebih suka bekerja tanpa banyak aturan karena merasa bisa mengeksplor kemampuannya. Ada yang justru kebingungan ketika diberi pekerjaan tanpa aturan khusus karena merasa tidak ada yang bisa jadi acuan. Kalau diperhatikan karakter orang-orang tersebut memang terlihat bertolak belakang, tapi keduanya justru saling melengkapi.

Ada banyak hal yang tidak sama di dunia ini, tapi tetap bisa berjalan beriringan. Kita butuh orang yang punya loyalitas tinggi dengan organisasinya, sebab organisasi itu harus tetap hidup dan perannya masih dibutuhkan anggotanya. Kita juga butuh orang yang rajin masuk kelas selagi sebagian teman berorganisasi, karena guru atau dosen patut dihargai dedikasinya. Beberapa jenis pekerjaan butuh orang yang kreatif, tanpa banyak arahan. Tapi di beberapa pekerjaan yang membutuhkan keteraturan, perlu orang-orang yang bisa beradaptasi dengan banyak tuntutan profesionalitas. Masing-masing karakter manusia punya peran, meski terkadang tampak kontras namun saling menjaga keseimbangan.

Dunia ini dihuni oleh berbagai macam rupa, karakter, latar belakang, maupun pola pikir. Keberagaman itu yang membuat kita berkembang. Kita jadi tahu bahwa ada lebih dari satu cara berjalan, melihat, dan bertumbuh. Cara kita tidak selalu yang paling tepat. Satu cara yang berhasil pada kita, belum tentu berhasil pula pada orang lain, pun sebaliknya. Keberagaman itu membuat kita terkoneksi satu sama lain, saling mengisi, dan melengkapi potongan puzzle yang hilang. Kita punya kekurangan dan prioritas yang membuat kita tidak bisa melakukan banyak hal secara bersamaan. Kita butuh orang lain, dan oleh karenanya setiap orang memiliki peran.

Ibarat sebuah pohon, setiap bagian memiliki peran masing-masing. Jika kita melihatnya lebih luas, tidak ada satu bagian yang lebih unggul atau lebih rendah perannya dari yang lain. Akar yang tidak tampak di permukaan, justru adalah penyokong pohon hingga mampu berdiri kokoh. Bahkan daun yang sudah gugurpun bisa menjadi kompos untuk pohon itu sendiri. Kita hanya berbeda tanggung jawab, tapi sama-sama berperan. Yang di atas bukan berarti lebih tinggi, pun sebaliknya. Pada tingkatan orang-orang yang mampu menerapkan hal ini pada dirinya, maka orang-semacam ini tidak mudah terbang ketika disanjung dan tidak patah ketika jatuh.

Sedikit atau banyak, peran kita berdampak untuk orang lain dan sekitar. Jangan dikira bungkus permen yang kita buang sembarangan tidak dapat memicu banjir. Bungkus permen tadi bisa jadi "provokator" bagi orang lain untuk ikut membuang sampah sembarangan. Jika ada sedekah jariyah, bukan tidak mungkin ada dosa jariyah kan? Layaknya sebuah film, ada protagonis dan antagonis. Seorang protagonis bukan yang selalu benar tanpa celah, dia juga bisa salah. Hanya saja dia punya lebih banyak scene cerita baik. Seorang antagonis juga bukan yang selalu salah, dia bisa punya sisi kebajikan sekalipun tidak sebanyak protagonis. 

Tulisan ini bukan mengajak kita untuk menilai baik buruknya seseorang, melainkan sebagai reminder untuk diri sendiri (khususnya) dan para pembaca (pada umumnya). Jika saat ini posisi kita sedang di bawah, semoga itu tidak menjadikan kita lemah dan rendah. Kita bisa meyakinkan diri bahwa kita punya peran sekalipun tidak terlihat. Posisi kita yang di bawah juga bukan alasan untuk merasa pantas dikasihani dan dimaklumi. Kita punya kesempatan yang sama seperti mereka selagi ada kemauan untuk tumbuh. Dan jika saat ini posisi kita sedang di atas, semoga itu tidak menjadikan kita sombong dan lalai. Kita tidak mungkin berada di atas kalau tidak ada yang menyokong dari bawah atau menarik dari atas. Artinya posisi kita saat ini juga ada andil dari orang lain. Kita tidak mudah melabeli buruk seseorang hanya karena kita di sisi yang lebih baik. Kita tahu bahwa setiap orang punya potensi untuk menjadi baik maupun menjadi buruk. Ini hanya pengingat untuk menggunakan kacamata yang tepat dalam melihat. Kapan kita menggunakan kacamata "cembung" dan kapan kita menggunakan kacamata "cekung".





Sabtu, 16 Oktober 2021

Amah

Oleh : Laily Alfath

 


"Jadilah pelayan Tuhan dengan sepenuh hati. Maka hadiah dari Tuhan akan datang tanpa henti. -Laily- Alfath-


      Sehebat apapun manusia, ada kalanya dia mempertanyakan pada dirinya sendiri lewat jouska. Berkontemplasi terkait : Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah jalan yang ditempuh sudah benar? Ke depannya mau gimana? Dan banyak pertanyaan random lain yang berkelebatan. Pernah atau sering nih kaya gitu? Hehehe... Kalau kamu pernah, nggak apa-apa itu normal kok. Bahkan menurutku semua manusia pernah mengalami jouska dengan topik mempertanyakan kapasitas dirinya. Apalagi setelah tersulut konten sosial media tentang pencapaian orang-orang yang ada di kontak WhatsApp atau following instagramnya 😂.

      Hidup ini laksana panggung parodi. Betapa hampir semua orang sibuk membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaiannya. Mungkin awalnya sebatas lihat untuk cambuk bertumbuh. Eh ternyata tanpa sadar perlahan menghakimi diri karena tidak bisa berdiri di titik yang orang lain capai. Padahal badai yang dilalui berbeda, peta yang dibawa berbeda, arah yang diambil berbeda, dan pulau yang hendak dituju juga berbeda. Lantas apa alasan menyamakannya? Setidak adil itukah kita pada sosok yang selalu menjadi support system terbaik pada kondisi apapun? Sosok yang berjuang sejauh ini melewati banyak badai, bangkit lagi setiap kali jatuh, memeluk diri sendiri tatkala dunia menutup mata dan telinga. Kita boleh terinspirasi dari jejak orang lain, tapi skenario yang mereka dapatkan dari Tuhan belum tentu sama dengan skenario yang bakalan Tuhan kasih ke kita.

      Setiap kita berharga dan layak bahagia sebagaimana orang di luar sana. Tapi bahagia versi Tuhan untuk mereka, belum tentu sama dengan versi Tuhan yang bakalan dikasih ke kita. Bahagia tidak selalu dikemas senyum merekah dari fajar hingga lahirnya malam. Bahkan bahagia bisa dikemas dengan air mata haru tanpa bisa berkata-kata. Bahagia bukan selalu tentang siapa yang tersenyum lebih awal atau lebih lama. Karena orang yang terluka hatinya juga bisa berpura-pura tersenyum ceria lebih lama untuk terlihat bahagia. Tapi bahagia adalah tentang pemaknaan amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sudahkah kita amanah dalam menjalankan tugas yang diberikan-Nya? Iya amanah dari Tuhan. Kamu nggak lagi salah baca kok. Maksud aku gini : kamu ditakdirkan untuk bertumbuh menjadi sosok anak dalam keluargamu, kamu ditakdirkan bekerja di salah satu instansi, kamu ditakdirkan bertumbuh di lingkunganmu sekarang, dan segala aspek kehidupanmu itu adalah bentuk "amanah" yang Tuhan titipkan hanya ke kamu. Karena Tuhan memilihmu, bukan orang lain. Sudahkah menunaikannya dengan sepenuh hati? Atau justru pingin komplain sama Tuhan karena ngerasa Tuhan nggak adil? Atau kita yang nggak kuat?

      Manusia itu berbatas, saking berbatasnya seringnya keburu menghakimi situasi yang barusan ia alami. Padahal bisa saja Tuhan menyelipkan hadiah besar dengan syarat kita harus mencecap duka di awal cerita. Tatkala manusia tengah dirundung duka, seringnya yang muncul adalah nasihat "sabar ya". Bagi beberapa orang nasihat "sabar ya" terdengar klise, tak berguna, tidak menyelesaikan masalah. Padahal bisa jadi dengan "sabar" Tuhan akan menggantinya dengan hadiah yang lebih mewah untuk kita. Who knows? Toh juga merutuki keadaan tidak akan bisa mengubah takdir. Hanya menghabiskan energi dan waktu yang nggak bisa diambil lagi kalau habis. 

      Ketika kehidupan kita tidak berubah, bukan berarti merutuki keadaan menjadi diwajarkan. Semua bergantung pada "bagaimana kita mempersepsi" segala takdir yang Tuhan berikan. Seseorang yang hidup dengan serba berkekurangan tapi syukurnya terhadap berkah sehat melangit ke angkasa, akan tetap bisa mencecap makna "bahagia". Orang yang bergelimang harta namun masih rakus menginginkan banyak hal tanpa mau berbagi, akan mengecap perasaan "was-was", merasa khawatir tersaingi oleh lainnya.

      Pada takdir yang tengah kamu jalani saat ini, sudahkah mengoptimalkan pesan Tuhan untuk bertumbuh dan bekal kembali? Kecewa itu wajar, tapi solusi butuh aksi. Manusia adalah pelayan Tuhan. Hiduplah berbekal apa yang Tuhan suka dan tidak suka, bukan berbekal apa yang kamu suka dan tidak suka. Selayaknya pelayan, tahu diri dalam mengemban tugas adalah bekal utama. Tapi tenang, Tuhan tidak sekejam jaman kerja romusha yang menewaskan dan menyengsarakan banyak orang. Karena setiap yang kita lakukan demi kebaikan di jalan Tuhan, bakalan diganjar berlipat lipat oleh Tuhan. Tinggal tunggu aja tanggal mainnya. Eitssss tapi begitu pula sebaliknya.


Minggu, 19 September 2021

Ragam

Oleh : Laily Alfath



"Dunia akan selalu menyuguhkan ketidakjelasan. Tugasmu bukan memperjelas, tapi belajar bijak dalam memaknai semesta dengan keanehannya. -Laily- Alfath-"


      Jika dalam rumus matematika 1 + 1 = 2, maka tidak dengan rumus dunia. Nalar manusia tidak selamanya dinilai benar oleh semesta. Hal yang awalnya menurut kita buruk, belum tentu ujungnya buruk. Hal yang awalnya indah, belum tentu ujungnya bahagia. Kenapa? Karena dunia memang menyuguhkan banyak hal dengan ketidakjelasannya. Kenapa tidak jelas? Karena nalar manusia serba berbatas dalam memaknainya. Namun sayangnya, makhluk berlabel "manusia" ini sering terlalu percaya diri berbekal akal dan perasaanya sehingga menuhankan Maha Benar persepsinya.

      Tidak suka bukan berarti tidak bisa. Tidak suka bukan berarti hal itu dinilai absolut salah. Tidak suka bukan berarti ujungnya akan selalu buram. Tidak suka versimu belum tentu sama dengan versi mereka. Setiap orang punya kacamatanya masing-masing. Kacamata yang dibentuk berbekal pola asuh dari orang tua, lingkungan sekitar, dan pengalaman yang telah dicicipinya.

      Dunia memang hadir dengan segala ketidakjelasannya. Ketidakjelasan itulah  seringnya melahirkan khawatir yang menghantui makhluk berlabel "manusia". Padahal khawatir itu mahal. Setiap khawatir yang dilahirkan, dibayar mahal dengan atau tanpa sadar. Kenapa? Karena setiap kekhawatiran akan menyita banyak energi untuk memikirkannya, menyita banyak waktu yang tidak bisa ditarik lagi, menyita emosi yang mampu mengurasnya hingga habis tak tersisa, dan bahkan bisa juga turut membayar dengan uang saking khawatirnya. Khawatir itu wajar jika tidak berlebihan.


      Seringnya tatkala khawatir mengelabuhi, ekspektasi berjarak jauh dari realita, ujungnya kecewa dan marah. Setiap manusia boleh marah. Karena itu adalah salah satu bentuk perasaan yang lahir dalam merespon keadaan. Tapi label "wajar " tidak lantas membenarkan "tindakan marah yang berlebihan". Setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah. Marah berlebihan yang dituruti, hanya akan menghancurkan dan bisa berujung penyesalan.


      Manusia itu lucu. Ia paham bahwa makhluk Allah yang bernama "Hati" adalah makhluk yang mudah dibolak-balikkan oleh Sang Pencipta. Akal adalah makhluk penyeimbang (hati) yang dititipkan Allah pada manusia. Semengecewakan apapun dunia terhadap kita, cobalah menyimak kode semesta secara lebih luas. Karena Allah tidak pernah ingin menghancurkan hamba-Nya. Semua manusia memang dibekalkan hati dan akal. Tapi persepsi "benar dan salah" bisa dimaknai subjektif bagi setiap manusia. 


      Setiap hal yang kamu lakukan, akan bisa dimaknai dengan ragam warna oleh manusia. Penilaian itu adalah hak mereka. Kamu tidak bertanggung jawab pada pemikiran mereka. Tanggung jawabmu hanyalah pada Tuhan mengenai hal yang sudah kamu lakukan. Setiap orang berhak berpendapat. Sementara kita juga berhak untuk mengabaikannya. Selain Tuhan, kamu adalah satu-satunya sosok yang membersamai prosesmu, mengerti niatmu, dan memahami perasaanmu. Sementara persepsi orang lain adalah kacamata tambahan dalam memandang dunia. Kamu boleh memakainya, juga boleh mengabaikannya. Hal yang penting adalah, bijaklah dalam menentukan kacamata yang hendak kamu pakai. Karena persepsi yang telah kamu pilih, akan berimbas pada perasaan dan keputusan yang akan kamu putuskan selanjutnya.

Rabu, 08 September 2021

Terra

Oleh : Laily Alfath




"Jadilah pemenang yang anggun dalam prosesmu. Pemenang tanpa merasa paling tinggi dan tanpa merendahkan orang lain." -Laily- Alfath-


      Hay Terra! Terima kasih sudah kuat menjadi tempat berpijak ribuan keturunan anak Adam yang sering tidak tahu diri ini. Kami tahu bahwa Tuhan menciptakanmu dengan sangat luas. Bahkan sangat luas, hingga tidak semua manusia saling mengenal, padahal nenek moyang mereka sama. Bahkan sangat luas, hingga munculah ragam adat dan norma yang turut mewarnai pertumbuhan mereka. Bahkan sangat luas, hingga semua manusia mendapatkan kelas kehidupan beragam yang tak satupun sama persis. Bahkan sangat luas, hingga masih mampu menampung rentetan bualan dan keegoisan manusia. Hay Terra, luasmu seolah hendak mengajarkan manusia betapa keluasan hati itu menunjukkan level sesungguhnya kapasitas manusia. Namun tidak semua manusia paham dan berkenan. 


      Terra diciptakan dengan sangat luas, hingga menyuguhkan beragam pelajaran untuk Adam dan keturunannya. Pelajaran yang tanpa sadar membentuk kapasitas setiap manusia. Entah itu hanya seluas cangkir kecil, mug, botol minum, ember, bak, kolam, danau, hingga samudera. Pada pelajaran di sekolah kita diajarkan dulu konsepnya barulah kita menghadapai ujian. Sementara pada pelajaran kehidupan, kita diuji dulu barulah kita paham konsep kehidupan. Pada ujian itulah kita bertumbuh dan dibentuk secara perlahan. Setiap ujian memang tidak pernah mudah, dan akan terus naik level kesulitannya. Tapi di sanalah kapasitas kita dibentuk semakin luas.


      Kapasitas kita dalam menghadapai ujian sangatlah berperan penting. Anggaplah ujian ini berwujud dua buah jeruk lemon. Masing-masing lemon diperas dan dikucurkan ke cangkir kecil dan samudera. Menurutmu lebih pekat mana rasa lemonnya antara air lemon di cangkir kecil atau di dalam samudera? Yap! Tentu rasa lemon itu lebih pekat yang berada di dalam cangkir kecil. Hal ini sama dengan kapasitas kita. Tatkala hati kita tetap kita pertahankan dengan kapasitas yang kecil, apapun masalah yang hadir akan terasa asam seperti air lemon di dalam cangkir. Namun tatkala hati kita seluas samudera, seberapapun air lemon yang dimasukkan tidak akan mampu mendominasi air di samudera.


      Semua butuh proses. Setiap manusia tengah berjuang pada track nya masing-masing. Kapasitas setiap orang memang berbeda. Beruntunglah tatkala kamu merasa kapasitasmu kian hari semakin luas. Tapi itu bukan berarti menjadi ajang pamer untuk merasa paling hebat karena merasa sudah lulus ujian dengan kapasitas yang semakin luas. Setiap orang tentu ingin menjadi versi terbaik dirinya. Sementara versi terbaik mereka belum tentu sama dengan versi terbaikmu. Mereka yang berbeda denganmu tidak selamanya salah dan kalah.  Proses kalian berbeda. Jika kamu terjebak pada ajang pamer dan merasa mulai menuhankan kapasitasmu yang paling luas, hati-hati! Justru saat itulah menunjukkan bahwa kamu hanya haus apresiasi dan sedang ditipu oleh dirimu sendiri (kapasitasmu tidak seluas yang kamu pikirkan). Laut tidak perlu menjelaskan seberapa dalam ia. Langit tidak perlu menjelaskan seberapa tinggi ia. Bintang tidak perlu menjelaskan seberapa bercahayanya ia. Apresiasi memang salah 1 kebutuhan manusia. Tapi jangan jadikan dirimu menjadi budak apresiasi orang lain. Karena perihal apresiasi orang lain adalah hal di luar kontrol kita. Semakin banyak kita berharap pada hal-hal di luar kontrol kita. Semakin banyak benih kecewa yang kita tanam dan berujung panen. 



      Kamu adalah sosok yang hanya satu di dunia. Prosesmu menentukan level kapasitasmu. Tidak akan ada ujian yang mudah. Setiap ujian sangat mungkin untuk menyuguhkan kecewa, air mata, bahkan duka. Hancur atau bertumbuh adalah dua pilihan yang disuguhkan dalam menghadapinya. Keputusanmu itulah yang akan menentukan kapasitasmu selanjutnya. Tuhan tak pernah berniat menghancurkan hamba-Nya selagi ia masih mau datang. Setiap doamu akan dijawab dengan cara-Nya, sekalipun menurutmu tidak seketika.

Kamis, 02 September 2021

Jouska

 

(Dyah Santoso)


"Tidak ada yang lebih setia menemanimu dalam suka maupun duka, melainkan dirimu sendiri"

 

Entah sudah berapa kali tangan ini bergonta-ganti dari bolpoin dan kertas, kemudian gawai, lalu beralih ke draf tulisan ini. Sudah berapa kali pula kalimat pembuka tulisan ini berubah-ubah, ketik-hapus-ketik-hapus. Mengawali sesuatu—baik untuk pertama kali atau memulai kembali—memang tidak mudah. Alhasil kalimat curhat ini yang menjadi pembuka tulisan kali ini. :") Tapi dari kebingungan itu saya jadi memikirkan sesuatu. Bagaimana seseorang punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Bagaimana dia berusaha memegang komitmen setelah memutuskan untuk memulai? Bagaimana dia bisa yakin bahwa dia telah memulai sesuatu yang benar?

'Memulai' adalah langkah awal, akan ada banyak jalan dan proses yang ditempuh untuk bisa sampai tujuan. Sebelum memulai tentunya kita sudah mengumpulkan niat dan memikirkan apa yang akan dimulai. Setelah niat terkumpul, ternyata memulai masih saja menjadi sesuatu yang tidak mudah. Contoh yang mungkin sering kita—khususnya ibu rumah tangga—alami adalah memulai menyeterika pakaian. Entah mengapa mengawali kegiatan 'perseterikaan' ini butuh usaha luar biasa—kalian juga mengalaminya bukan? Padahal ketika kita sudah memulainya, bisa jadi satu atau dua jam pun kita sanggup merampungkan puluhan helai pakaian. Sesuatu yang bukan kebiasaan, selalu terasa berat di awal. Begitu juga dengan memulai kegiatan belajar, memulai menulis, memulai bisnis, dan mengawali kegiatan lainnya. 'Memulai' menjadi syarat mutlak agar bisa sampai ke tujuan dan mencapai sesuatu.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana seseorang bisa punya kemauan dan keberanian untuk memulai sesuatu? Kurasa jawabannya bergantung pada pribadi masing-masing. Seberapa besar keinginan dan motivasi dia mencapai tujuannya, sebesar itu pula energi dia untuk memulai. Kalau kita sudah memutuskan untuk mengambil sebuah pilihan, tapi sampai detik ini kita belum juga memulai, kita perlu meninjaunya ulang. Jangan-jangan tidak ada alasan yang membuat kita benar-benar harus melakukannya atau jangan-jangan itu bukan tujuan yang mau kita capai. Alhasil bukannya memulai, kita justru menundanya, terus berada di belakang garis start, dan selamanya itu menjadi keinginan yang tidak pernah kesampaian.

Setelah kita memulai, lantas bagaimana menjaga komitmen sekaligus menyesuaikan diri dengan segala konsekuensi dari pilihan yang kita buat? Jika kita ingin pakaian kita selalu rapi dan licin, maka kita punya pilihan menyetrika pakaian itu sendiri atau meminta bantuan orang lain. Konsekuensinya kita harus menyediakan waktu dan tenaga untuk menyetrika atau membayar biaya laundry. Sebenarnya kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, hanya saja terkadang kita mudah terdistraksi dengan hal-hal di luar tujuan. Untuk ini, saya masih sering mengalaminya. Berniat membuka gawai untuk searching ide, ketika ada notifikasi chat, yang dibuka akhirnya WhatsApp kemudian lanjut ke media sosial lain yang bukan tujuan awal. Apa kalian juga sama? :")

Ada yang sudah memulai, berusaha menjaga komitmen, tapi masih sering bingung dan ragu di tengah jalan. Ada juga yang tidak percaya diri dengan kemampuannya. Mau memulai usaha, tapi gengsi untuk promosi. Mau belajar nulis, tapi malas baca buku. Coba tanyakan ke diri sendiri, apa ini benar-benar yang diperlukan dan diinginkan? Kita adalah makhluk asbab (butuh sebab-akibat), apa yang kita alami tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada yang menyebabkan. Tidak ada orang pintar tanpa belajar, tidak ada orang sukses tanpa berusaha. Jadi langkah nyata untuk mencapai tujuan kita adalah dengan memulainya. Tapi sebelum itu, pastikan bahwa kita sudah berada di track menuju apa yang mau kita capai.

Flashback ketika memutuskan untuk menulis di @scangkirteh, saya masih sering ragu. Apa bisa kontinu menulis? Apa tulisan di scangkirteh ini layak dibaca? Sering merasa tidak percaya diri untuk membagikan tulisan scangkirteh ke media sosial atau teman-teman. Kemudian diingatkan kembali bahwa tujuan scangkirteh adalah untuk media belajar menulis dan berbagi. Tidak ada keharusan tulisan scangkirteh harus sempurna atau insightful. Di sini saya belajar dan meyakini bahwa setiap prosesnya bernilai, setidaknya untuk diri saya pribadi. Scangkirteh adalah salah satu jalan yang saya ambil. Ketika sudah memutuskan memulai, selanjutnya adalah terus belajar dan berusaha menjaga komitmen agar tidak redup. Apapun dan bagaimanapun caranya kita mengambil pilihan, baik pilihan sendiri atau saran orang lain, tetap kita yang bertanggung jawab menjalaninya. Kita bertanggung jawab penuh atas diri kita sendiri. Mau memulai atau tetap berada di belakang garis start, kita yang tentukan. Jika masih ragu untuk memulai, ingat pesan Sutan Syahrir "hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan". Selaras dengan ini, "impian yang tidak pernah dimulai, tidak akan pernah jadi kenyataan".


#selfreminder